Update Sinopsis Drama Korea Terbaru

Sinopsis Because It’s The First Time Episode 1

0

Sinopsis Because It’s The First Time

=== Bab 1 – Ada gadis yang kusukai, tapi… ===

Han Song Yi sedang menyiram tanaman, Ji Ahn sedang menyiapkan makanan di atas meja kecil, dan Yoon Tae Oh keluar dari rumahnya yang berada di atap dengan membawa kamera di tangannya dan kemudian merekam Song Yi, menyuruhnya mengatakan sesuatu karena hari ini ia akan pergi kencan buta.

“Kencan buta? Lagi? Terserah. Aku tidak tertarik…”, ejek Song Yi dan melanjutkan kembali menyiram tanaman.

Tae Oh menyuruh Song Yi mengatakan sesuatu yang baik, tapi Song Yi pura-pura tidak mengerti maksud Tae Oh. Apa Tae Ho menginginkannya berkata seperti ‘Semoga kau bahagia selamanya setelah kencan butamu berhasil?’ Song Yi menggoda Tae Ho dengan menyiram air ke arah Tae Oh. Tae Oh berlari, menghindari Song Yi.

Lalu Tae Oh mendekati Ji Ahn, menyuruhnya mengatakan sesuatu juga. “Gadis yang cantik biasanya tidak pergi kencan buta”.

“Bahkan jika dia cantik, dia pasti bukan tipemu”, sahut Song Yi yang tiba-tiba bergabung dengan Ji Ahn.

Oh Ga In tiba dan menyapa semua temannya dengan gembira. Song Yi memberitahukan bahwa hari ini Tae Oh akan pergi kencan buta. Tae Oh menyuruh Ga In mengatakan sesuatu dan merekamnya juga. “Jangan pergi. Tinggallah di sini dan bermain bersama kami. Kau tau kan aku menyukaimu?”, sahut Ga In dan bergabung dengan Song Yi dan Ji Ahn di meja.

Song Yi ingin tau apa yang dibawa Ga In dan membuka tempat makanan yang dibawa Ga In. Song Yi ber-wahh ria. Tae Oh menanyakan dimana Hoon. Ji Ahn mengatakan Hoon diusir lagi oleh orang tuanya. “Hanya dengan celana dalam lagi”, sahut Song Yi. Tae Oh dan Ga In tidak percaya, mereka melihat Hoon tapi membiarkan Hoon begitu saja. Song Yi menganggukkan kepalanya.

“Pasti meyenangkan…”, seru Tae Oh senang. Yang lainnya tertawa, mentertawakan Hoon.

Lalu Song Yi mengatakan ia melihat Hoon di depan rumahnya ketika berangkat kerja tadi.

=== Flashback ===

Song Yi sedang berjalan di depan rumah Hoon. Dari balik tanaman, Hoon memanggil-manggil Song Yi. Awalnya Song Yi tidak dengar, karena Hoon memanggilnya pelan. Lalu Hoon mengeraskan suaranya dan Song Yi pun melihat Hoon. Hoon ingin meminjam ponsel karena ia diusir lagi. “Lihat aku!”, Hoon melompat dan terlihatlah ia hanya mengenakan celana dalam saja.

Song Yi menahan tawanya. Hoon menyuruh Song Yi menelpon Tae Oh dan menyuruh Tae Oh membawakan pakaian untuknya. Song Yi mengambil ponselnya. Ternyata Song Yi bukannya menelpon Tae Oh, melainkan polisi. Song Yi memberitahukan polisi lokasinya, mengatakan ada seseorang yang tidak mengenakan apa pun di sana dan menyuruh polisi menangkap orang itu. Song Yi berlari, menghindari kejaran Hoon yang marah.

Tapi sayangnya, Hoon malah berpapasan dengan tiga orang siswi dan ketiga siswi itu malah mengejarnya.

Aku melihatnya di depan toko kelontong – Ji Ahn.

Hoon mengendap-endap di depan toko kelontong, mengambil kardus dan memakainya untuk menutupi sedikit tubuhnya. Pemilik toko berteriak karena Hoon mengagetkannya. Hooon berlari melewati restoran mandoo, dan masuk ke toko laundry. Hoon memohon agar ibu pemilik toko laundry mau meminjamkan baju untuknya.

=== Flashback End ===

Tae Oh memutuskan kalau begitu sudah saatnya menelpon pemilik toko laundry. Dan kemudian, Hoon muncul di atap dengan mengunakan… BAJU PEREMPUAN!!! (Bhwaha…haha..) Teman-temannya menyoraki Hoon yang cocok dengan baju itu. Tae Ho merekam Hoon, menanyakan kenapa Hoon tidak mau pergi ke perguruan tinggi swasta. Hoon beralasan kuliah bukan segalanya dalam hidup.

“Itu bukan karena kau tidak bisa tapi karena kau tidak mau”, sahut Ji Ahn.

“Kalian tidak dengar? Dia rangking terakhir di kelas…”, sahut Song Yi. Hoon mengelak, ada seorang pegulat lagi di belakangnya. Tae Oh tertawa.

Ga In mengingatkan Tae Oh yang harus pergi kencan buta. Tae Oh terkejut dan cepat-cepat masuk ke dalam rumahnya, bersiap-siap memilih baju yang terbaik.

Ini kencan butaku yang kesepuluh. Dan aku merasa kali ini akan berjalan baik. Sempurna. Wanita idealku adalah Miranda Kerr dengan gelar sarjana literatur. – Tae Oh

Tae Oh melayangkan ciuman jauhnya pada poster Miranda Kerr yang ditempel di dinding kamarnya.

Tae Oh keluar dari rumah, Hoon mengomentari baju Tae Oh yang baru. Tae Oh tidak menggubris, dan berpesan pada teman-temannya setelah selesai mereka harus membereskannya dan mengunci pintu rumah. Khusus untuk Hoon, ia berpesan agar Hoon tidak memakai bajunya. Lalu Tae Oh pun pergi.

Pada saat itu, ada seorang gadis yang membuatku peduli. Cuma… gadis yang kukenal. Sebenarnya… dia teman masa kecilku. Sebenarnya… – Tae Oh

Tae Oh merasa geli sendiri. Tiba-tiba Song Yi muncul dari tangga dan meminta Tae Oh membawanya juga karena ia harus pergi kerja.

“Kemana?”

“Ke coffee shop yang sama dengan yang akan kau datangi”, sahut Song Yi. Tae Oh agak keberatan tapi Song Yi menyuruhnya cepat. Song Yi membonceng motor dan memegang erat pinggang Tae Oh. Tae Oh sih agak canggung tapi Song Yi terlihat biasa saja.

Tae Oh melihat ke arah tangan Song Yi yang memeluk pinggangnya.

Sebenarnya… cinta pertamaku… – Tae Oh

Mereka melewati rumah Song Yi yang lama.

=== Flashback ===

Tae Oh remaja berdiri di depan rumah Song Yi. Seorang pria dan wanita bergegas masuk ke dalam rumah Song Yi dan mencemaskan Song Yi dan adik Song Yi. Hari itu ayah Song Yi meninggal. Tae Oh mengintip dari balik pagar dan melihat Song Yi tidak bersemangat.

Semuanya dimulai begitu saja… – Tae Oh

Tae Oh duduk di samping Song Yi dan memberikan sebuah amplop yang berisi formulir pendaftaran. Ia memberitahukan besok adalah hari terakhir pengembalian dan ia akan menunggu Song Yi. Song Yi bertanya kemana Tae Oh akan pergi, Tae Oh mengatakan ke tempat yang dekat dengan rumahnya, anak-anak yang lain juga sama (Uhm… sepertinya yang dimaksud adalah sekolah, tapi tidak disebutkan dengan jelas…)

Song Yi memutuskan ia akan pergi ke sekolah yang sama minta dan meminta pulpen pada Tae Oh. Tae Oh merasa tidak tau apa yang harus ia lakukan untuk membuat Song Yi lebih nyaman, tapi Song Yi menyuruhnya melupakan itu, ia meminta Tae Oh menjaga adiknya sebentar. Tae Oh mendekati Song Ah dan bermain dengannya sambil sesekali melihat ke arah Song Yi.

Tae Oh membantu Song Yi pindah rumah. Tidak banyak barang yang diangkat ke dalam truk. “Oke. Ini yang terakhir. Aku sudah membersihkan seluruh rumah untukmu”, ucap Tae Oh sambil tersenyum.

“Bagaimana kau bisa tersenyum di saat seperti ini. Keluargaku harus pindah karena bangkut dan kau tersenyum”, ucap Song Yi sedih.

Senyum Tae Oh langsung menghilang, “Aku tidak akan senyum lagi”.

Song Yi menyuruh Tae Oh tidak tersenyum kecuali ia menyuruhnya. Tae Oh juga menyuruh Song Yi tidak menangis kecuali ia yang menyuruhnya. Lalu Tae Oh mengajak Song Yi berangkat. Song Yi bukannya turun dari truk, tapi malah duduk lebih dalam di bak truk sambil memeluk kakinya. Melihat Song Yi hanya diam saja, Tae Oh memutukan duduk di sampaing Song Yi, menanyakan apa yang dipikirkan Song Yi.

Song Yi tidak menjawab, ia mengambil notes kecil dari dalam tasnya pura-pura membacanya. “Ayo lihat bersama-sama”, ucap Tae Oh dan duduk lebih dekat dengan Song Yi. Tae Oh melihat tetesan air mata terlihat jatuh di kertas notes Song Yi dan mengalihkannya dengan mengatakan hujan mulai turun. Ia mengatakan ini adalah pertanda baik, karena Song Yi pindah rumah bertepatan dengan turunnya hujan, restoran kimbab Song Yi pasti akan berjalan dengan baik…

Song Yi memukul kepala Tae Oh, menyuruhnya diam karena ia sedang berpikir. “Tapi kau bilang kau tidak sedang memikirkan apa pun”, bantah Tae Oh. Song Yi tetap menyuruh Tae Oh diam. Tae Oh kembali berkomentar bahwa hari ini benar-benar hujan, tangan Song Yi jadi basah, begitu juga mata Song Yi. Lalu Tae Oh mengambil payung yang ada di kardus dekatnya dan memayungi mereka berdua.

Tae Oh mengatakan ayah Song Yi dan ibunya meninggal pada hari yang sama. Song Yi membantahnya, tidak sama, beda tiga tahun, mereka hanya memiliki tanggal perayaan kematian yang sama. Tapi yang dimaksud Tae Ho adalah dengan berjalannya waktu Song Yi akan terbiasa setelah melewati satu tahun, walaupun Song Yi tidak memiliki ayah lagi tapi Song Yi memiliki dirinya, jadi Song Yi akan baik-baik saja. Song Yi hanya menanggapinya dengan menyebutkan Tae Oh sudah gila. Tae Oh memuji Song Yi yangg cantik pada saat tersenyum.

Tae Oh, Song Yi, dan sahabatnya yang lain berada di satu kelas dan duduk di jejeran yang sama (Uhm… bener g ya istilahnya 😛 ). Song Yi di ujung yang satu, sementara Tae Oh di ujung yang lainnya. Hari itu pelajaran bahasa inggris, dan hanya Tae Oh yang tidak mendengarkan dan tertidur. Ketika Pak Guru menghadap ke papan tulis, Song Yi memasukkan secarik kertas ke dalam bola kecil dan mengulirkannya melalui tabung plastik ke arah Tae Oh. Karena Tae Oh cukup jauh, tabung plastik itu disambungkan oleh tiga sahabat mereka yang lain.

Pak guru tiba-tiba berbalik, cepat-cepat mereka menyembunyikan lagi tabung itu dan Ji Ahn berhasil menangkap bola itu dan melemparkannya pada Tae Oh. Tae Oh terbangun dan membuka pesan Song Yi. Song Yi menyuruhnya membelikan roti sosis untuknya karena ia lapar. Refleks tanpa sadar, Tae Oh langsung berdiri dan berteriak, “Baik. Aku mengerti!”. 😀 Tae Oh kena hukuman duduk di koridor sambil menganggkat kursi di atas kepalanya.

Begitu bel istirahat berbunyi, Tae Oh langsung berlari keluar, Pak guru hanya bisa kesal melihat kelakukan ajaib Tae Oh. Di luar sekelompok siswi menghentikan Tae Oh. Salah satu dari mereka bertanya apakah Tae Ho si anak yang baru masuk itu. Tae Oh membenarkannya. Mereka mengatakan ada teman mereka yang ingin bicara dengan Tae Oh, temannya itu adalah siswi tercantik di sekolah itu, bernama Im Yoon Ah dari kelas senior.

Dan gadis yang dari tadi memunggungi Tae Oh berbalik, tersenyum manis pada Tae Oh. Tae Oh melongo melihat Yoon Ah yang tampak bersinar. Yoon Ah bertanya apakah malam ini Tae Oh kosong. “Kenapa?”, tanya Tae Oh pura-pura polos. Yoon Ah mengajak Tae Oh nonton bioskop bersamanya. Tae Oh tidak mau. Teman Yoon Ah menegur Tae Oh karena tidak mempedulikan seorang senior yang mengajaknya berkencan. Tapi Tae Oh benar-benar tidak peduli dan mengatakan ia harus pergi untuk membelikan roti sosis. Roti itu adalah roti yang paling digemari, jika ia tidak cepat, roti itu akan habis. “Maaf”, ucap Tae Oh yang langsung berlari, tidak sengaja menyenggol bahu Yoon Ah. Yoon Ah sangat marah dan mengipasi wajahnya karena merasa dipermalukan, Tae Oh menyuekinya untuk sebuah roti sosis. Tae Oh berhasil membelikan Song Yi roti sosis. Ia duduk kelelahan sambil menunggui Song Yi makan roti sosis dengan lahap.

=== Flasback End ===

Seorang pria tidak akan melupakan cinta pertamanya? Aku, Yoon Tae Oh, berbeda dengan pria-pria sepele itu. – Tae Oh

Tae Oh tiba di lampu merah dan melihat iklan Yoon Ah yang diputar di layar lebar di atas sebuah gedung, cewek yang dulu ditolaknya sekarang bertambah cantik dan menjadi model iklan. Tae Oh menghela nafasnya.

Aku menghancurkan hidupku hanya karena Han Song Yi. Sekali saja sudah cukup. – Tae Oh

Tae Oh memukul-mukul kepalanya sendiri, kesal. Kemudian mereka tiba di depan kafe dan Song Yi turun, mengembalikan helm Tae Oh, dan pergi tanpa mengucapkan terima kasih pada Tae Oh. Tae Oh tidak mempermasalahkannya, ia terlihat senang dan optimis.

Dunia ini luas dan ada banyak wanita. Aku baru 20 tahun. – Tae Oh

Tae Oh menepuk dadanya, menyemangati diri sendiri dan kemudian masuk ke dalam kafe. Melihat ke sekeliling kafe.

Wanita cantik… Wanita seksi… Wanita imut… Wanita, wanita, wanita. Clingin hanya pada wanita cinta pertamamu di saat banyak wanita lain di dunia ini, benar-benar menggelikan. Sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal. Bye, Song Yi. – Tae Oh

Tae Oh melihat ke arah Song Yi, dan Song Yi memonyongkan bibirnya, seolah-olah bertanya apa. Tae Oh hanya tersenyum saja. Lalu Tae Oh mencari wanita teman kencan butanya. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat seorang wanita cantik, memakai rok pendek, sedang minum kopi sambil serius menatap ke arah laptop yang ada di depannya. Tae Oh langsung tersenyum senang dan mendekati wanita itu. Song Yi memperhatikan Tae Oh yang berjalan ke arah wanita itu.

Di depan wanita itu, Tae Oh menelan air liurnya :-P. Tae Oh meminta maaf karena terlambat. Wanita itu tidak menjawab dan melihat Tae Oh. Tae Oh langsung duduk dan memuji wanita itu sangat cantik. Tae Oh benar-benar mengagumi wanita itu. Dari counter, Song Yi hanya mengawasi Tae Oh.

=== Bab 2 – Ketika Usiamu 20 Tahun ===

Song Yi mendengar Tae Oh memuji wanita itu sanagt cantik. Tapi perhatiannya beralih karena ada pelanggan yang datang.

Tae Oh memuji wanita itu berasal dari jurusan literatur yang mirip dengan Miranda Kerr. Menurutnya, wanita itu tidak mirip Miranda Kerr tapi lebih cantik dari Miranda Kerr. TAe Oh mengulurkan tangannya dan memperkenal dirinya, Yoon Tae Oh dari jurusan Ekonomi. Wanita itu hanya diam, memandang tangan Tae Oh. Tae Oh cuek aja dan terus nyerocos, “Oh, kita sudah kenal nama masing-masing, kan? Kau sudah menerima fotoku, kan?”. Sambil tertawa-tawa malu, Tae Oh kembali memuji kecantikan wanita itu.

“Apa kau biasa jujur seperti ini?”, tanya wanita itu.

“Aku? Ya, aku memang jujur. Kenapa? Kau tidak suka?”

“Bukan. Bukan begitu…”.

Lalu Tae Oh melihat ada kamera di atas meja, bertanya apa wanita itu suka motret. Wanita itu menjawab kamera itu untuk merekam, bukan memotret. Ia suka merekam apa saja. Tae Oh langsung menyahut, ia juga suka melakukan hal yang sama, ternyata mereka ada kesamaan. Lalu Tae Oh menanyakan dimana wanita itu tinggal.

“Buahmdong”.

Tae Oh kaget sekaligus senang, mereka tinggal di lingkungan yang sama, dunia benar-benar sempit. “Kita benar-benar takdir…”, ucap Tae Oh.

Tapi wanita itu merasa aneh dengan sikap Tae Oh. Jika Tae Oh bukan playboy, maka Tae Oh pria yang bodoh, begitu komentarnya. Tae Oh tertawa dan berkata ia bukan playboy, tapi memang sedikit bodoh apalagi saat bahagia. Wanita itu menawarkan kopi, tapi Tae Oh menyuruhnya duduk saja, ia akan memesannya sendiri.

Tae Oh mendekati counter dan memesan satu Americano. Song Yi langsung mengatakan wanita itu tidak terlihat begitu hebat. “Urus saja urusanmu sendiri”, sahut Tae Oh cuek. “Dia terlihat tua”, ucap Song Yi lagi. Tae Oh tersenyum dan melihat ke arah teman kencannya dan menyuruh Song Yi mengurus urusan Song Yi sendiri dan cepat buatkan kopi untuknya.

Song Yi agak merengut dan mulai membuatkan kopi untuk Tae Oh. Saat Song Yi menyiapkan kopi, Tae Oh mendengar pembicaraan Song Yi dengan manager/owner kafe. Pria itu menanyakan apakah Song Yi sudah melakukan apa yang ia suruh. Song Yi diam saja. Pria itu kesal, mereka adalah rekan kerja, jadi seharusnya mereka saling membantu. Tapi Song Yi merasa sedikit keberatan, rasanya tidak benar jika ia yang mengerjakan tugas paper pacar pria itu. Ia bahkan sudah mengerjakan tugas kuliah rekan kerjanya itu kemarin.

Tae Oh kesal mendengarnya. Apalagi setelah mendengar rekan kerja Song Yi mulai mengancam akan memecat Song Yi karena bersikap seperti itu. Song Yi tidak mengubris pria itu (pemilik cafe memang seorang pria dan pacarnya juga pria, jadi… Ya gitu deh :-P) dan memberikan kopi pada Tae Oh. Tae Oh yang akan pergi kembali mendengar pemilik kafe mulai mengungkit kesalahan Song Yi. Mulai Song Yi yang lupa membuang sampah kemarin malam dan dapur menjadi berantakan setiap kali Song Yi bekerja di dapur…

“Kau… benar-benar mati”, ucap Tae Oh dalam hati.

Song Yi menghela nafasnya dan tersenyum pada pemilik kafe, “Berapa halaman yang harus aku kerjakan?”.

Tae Oh terkejut. Song Yi berjanji akan menyelesaikannya di akhir minggu. Namun sekarang pemilik kafe malah menolak, katanya ada orang lain yang mau melakukannya. Tae Oh mengetuk meja counter, dan pemilik kafe yang tadinya marah-marah langsung berubah centil. Menggeser Song Yi ke belakang dan berjalan mendekati Tae Oh. Tae Oh memberi isyarat supaya pemilik itu semakin dekat.

Pemilik kafe itu jadi bertambah centil dan kegeeran… dan begitu dekat Tae Oh langsung menjedugkan kepalanya ke kepala pemilik kafe itu. Wanita teman kencan Tae Oh melihat keributan yang dilakukan Tae Oh. Pemilik kafe itu melihat hidungnya berdarah dan berteriak menyerang Tae Oh, “Kau siapa!”. Song Yi langsung berlari, berusaha menjauhkan Tae Oh dari pemilik kafe.

Tae Oh tidak peduli, ia memukul pemilik kafe sambil memarahi pemilik kafe karena memanfaatkan Song Yi, padahal Song Yi hanya pekerja part time, yang harus dilakukan Song Yi hanyalah fokus pada pekerjaannya saja, berani-beraninya ia menyuruh Song Yi mengerjakan tugas paper pacarnya. Seorang yang lain datang menarik pemilik kafe agar menjauh dari Tae Oh.

Pemilik kafe itu berteriak bertanya siapa Tae Oh, apa Tae Oh pacar Song Yi atau apa lah… “Benar! Aku pacar Han Song Yi”, teriak Tae Oh. Song Yi terkejut dan meminta maaf pada semuanya, termasuk pada pemilik kafe dan kemudian mendorong Tae Oh keluar dari kafe.

“Hei, Han Song Yi! Kembali ke sini! Kau dipecat!”, teriak pemilik kafe marah.

Sampai di luar kafe, Tae Oh masih esmosi, ingin masuk lagi ke dalam. Song Yi mendorong Tae Oh, memarahinya karena ikut campur, seharusnya Tae Oh fokus saja pada kencan butanya. Tae Oh baru sadar dan melihat wanita itu sudah tidak ada lagi di dalam kafe.

“Di sudah pergi. Waktu kau bilang ‘Benar! Aku pacar Han Song Yi'”, beritahu Song Yi kesal.

Tae Oh ikut kesal, merengek, “Bukan… Aku bukan pacar mu… Aku benar-benar menyukainya”. Tae Oh dan Song Yi terus bertengkat di depan kafe, dari kejauhan wanita teman kencan buta Tae Oh memperhatikan.

Di dalam kafe, Song Yi menemui pemilik kafe dan mengembalikan apronnya. Pemilik kafe itu mengambil nametag Song Yi, melemparnya ke lantai dan menginjak-injaknya geram. Song Yi hanya bisa pasrah.

Dari empat kerja part timeku, aku harus berhenti salah satunya. Aku dipecat… – Song Yi

Tae Oh masih menunggu Song Yi di depan kafe ketika Song Yi keluar dengan wajah yang sedih. Tae Oh memberikan helm pada Song Yi dan Song Yi mengambilnya, akan melemparkannya pada Tae Oh. Tae Oh refleks menunduk. Lalu Song Yi mengembalikan helm itu pada Tae Oh dan beranjak pergi. Tae Oh mengikuti Song Yi, bertanya apa Song Yi benar-benar dipecat, apa Song Yi tidak boleh datang lagi besok, dst…

Song Yi sama sekali tidak menjawab. Lalu Tae Oh bertanya kemana Song Yi akan pergi, ia akan mengantarkannya. Song Yi melihat ke arah Tae Oh yang tersenyum. “Jangan tersenyum”, ucap Song Yi. Tae Oh langsung mingkem… Song Yi hanya menatap Tae Oh, Tae Oh akhirnya mengerti dan tidak memaksa lagi.

“Aku ingin berbagi makan siang denganmu”, gumam Tae Oh saat melihat Song Yi yang berjalan menjauh.

Sampai malam, Song Yi masih berjalan. Saat melewati sebuah butik, ia melihat sepatu heel yang berwarna jingga dan kemudian beralih melihat sepatu yang dikenakannya. Hanya sepasang sneaker butut. Wajah Song Yi menjadi sedih dan kemudian melanjutkan jalannya.

Aku selalu ingin memakai sepatu high heel sejak umurku 20 tahun. Dan memakai baju cantik yang cocok dengan sepatu itu. Aku ingin berjalan dalam cerahnya sinar matahari. – Song Yi

Song Yi membayangkan dirinya memakai heel yang dipajang di toko tadi dan juga baju yang cantik. Kemudian ia kembali ke kafe tadi untuk mengerjai pemilik kafe. Song Yi mengerjai pemilik kafe itu, terus mengubah pesanannya sampai pemilik kafe itu kesal. Ketika pemilik kafe akan mengambil kartu kredit Song Yi, Song Yi menahannya kuat-kuat dan kemudian mangatakan akan membayar dengan tunai saja. Pemilik toko itu menghela nafas kesal dan terpaksa melepaskan kartu kredit Song Yi…

Aku ingin pergi berkencan di hari yang indah sama seperti yang lainnya. Aku berpikir akan lebih baik jika orang itu adalah Ji Ahn. Tidak. Bagaimanapun harus Ji Ahn.

Tapi bekerja adalah kenyataanku. – Song Yi

Ternyata Song Yi masih harus bekerja di tempat lain, menjadi pelayan di bar dan juga di supermarket. Dan di tengah malam, ia bekerja di pom bensin. Wajah Song Yi terlihat kelelahan.

Kerja. Kerja. Kerja. Kerja. Kerja. Aku sangat letih. – Song Yi

Song Yi sedang berada di salon Ga In, sepertinya salon Ga In itu ada di rumahnya sendiri. Melihat Song Yi menghela nafasnya, Tae Oh yang duduk di sebelah Song Yi berkata seharusnya Song Yi berterima kasih padanya karena sudah menghilangkan satu pekerjaan untuk Song Yi. Song Yi marah dan hampir mengacak wajah Tae Oh. Tae Oh langsung kabur. Lalu Ga In bertanya apa yang Song Yi ingin ia lakukan.

Hoon yang juga ada di sana menyahut, memberi saran, lalu kemudian malah menyuruh Ga In mencukur habis rambut Song Yi, menjadi botak. Ga In dan Song Yi serentak berbalik, membentak Hoon, menyuruhnya pulang saja ke rumah. Tapi Hoon berkata ini bukan pertama kalinya ia diusir dari rumah, jadi ia sudah mengenal sistemnya. Jika pulang di hari pertama, mereka 100% pasti akan mengusirnya kembali. Jika ia pulang di hari kedua, aku akan dipukul. Dan mereka tidak akan mengusirnya ataupun memukulnya jika ia pulang di hari ketiga. Hoon memutuskan akan pulang ke rumah besok saja.

Tae Oh memukul Hoon, menyuruhnya tidak datang ke tempatnya. Ga In dan Song Yi juga kompak mengatakan hal yang sama. Hoon memutuskan ia akan ke rumah Ji Ahn saja. Tiba-tiba Ji Ahn datang dan mengatakan Hoon juga tidak boleh menginap di rumahnya. Ji Ahn membawakan sekantung plaatik ayam goreng dan memberikannya pada Ga In, menyuruh Ga In memberikan ayam goreng itu pada ayah Ga In karena ayah Ga In menyukainya. Ga In mengucapkan terima kasih pada Ji Ahn.

Song Yi menatap Ji Ahn dengan tatapan berbeda.

Aku belum bilang pada Ji Ahn bahwa aku menyukainya. – Song Yi

Ji Ahn menyapa Song Yi, bertanya apa Song Yi akan memotong rambutnya. Song Yi membenarkan, hanya saja ia belum yakin akan memakai gaya apa. “Tidak perlu lakukan apa pun. Kau sudah cantik kok… “, ucap Ji Ahn.

Song Yi langsung senang. Teman-temannya yang lain kaget mendengarnya. “Dia sama sekali tidak cantik. Aku sudah mengenalnya 15 tahun dan sama sekali tidak melihat dia canti”, sahut Tae Oh. Song Yi memandang marah pada Tae Oh, memberi isyarat supaya Tae Oh diam. Tapi Ji Ahn tidak mempedulikan ucapan Te Oh, menurutnya Song Yi memang cantik. Lalu Ji Ahn pamit karena masih harus mengantarkan ayam goreng.

Setelah Ji Ahn pergi, Tae Oh mengajak Hoon ke atas untuk makan ayam goreng. Ga In lalu menanyakan kembali apa yang Song Yi ingin ia lakukan. Dengan tegas Song Yi menjawab tidak, ia tidak ingin memotong rambutnya. Song Yi pun tersenyum senang.

Ji Ahn mengatakan aku cantik…. dan aku tidak perlu melakukan apa pun. Ji Ahn bilang aku cantik dengan apa adanya. – Song Yi

Song Yi merapikan rambutnya dan pipinya memerah. Sementara itu, Ji Ahn tersenyum senang sambil mengantarkan ayam gorengnya.

=== Bab 3 – Masa Muda? Apa itu? ===

Tae Oh menelpon teman kencannya, menjelaskan bahwa ada kesalahpahaman. Gadis yang di kafe kemarin bukan pacarnya, hanya temannya saja. Ia menanyakan kenapa teman kencannya itu tidak mengangkat telpon darinya bahkan tidak membalas pesannya…

Tae Oh tiba-tiba kaget karena Ga In dan Ji Ahn sudah ada di sana, sementara di hanya memakai celana boksernya saja. Tae Oh terkejut dan malu, ia langsung menarik sweaternya ke bawah, berusaha menutupi celana boksernya dan kemudian cepat-cepat mengambil celana yang ada di jemuran dan memakainya. Tae Oh protes karena malu apalagi ada Ga In di sana.

Tapi Ga In merasa tidak masalah. Ia biasa melihat Hoon seperti itu. “Lihat itu”, ucap Ga In. Dan Hoon pun muncul di atap hanya dengan menggunakan celana bokser lagi. Hoon langsung mengambil baju dan celana Tae Oh yang dijemur dan memakainya, tidak menggubris protes Tae Oh. Mereka tidak habis pikir, Hoon diusir, lagi dan lagi-lagi hanya memakai celana dalam. Ga In bertanya kenapa ibu Hoon selalu begitu. “Karena ibuku selalu mengusirku saat aku baru bangun tidur…”, sahut Hoon.

“Apa hubungannya?”, tanya Ga In tidak paham.

“Dia selalu tidur dengan celana dalam”, sahut Tae Oh.

“Kadang-kadang ia melepasnya di malam hari”, sahut Ji Ahn lagi.

Tapi Hoon merasa ada seseorang yang melepaskannya. “Kau sendiri, tau…”, sahut Tae Oh dan Ji Ahn bersamaan. Lalu dengan pedenya, Hoon merasa semua orang di lingkungan ini tidak tau celana itu adalah celana dalam, mereka hanya menganggap celana itu hanyalah celana pendek biasa. Ga In langsung menyahut, pemilik toko kelontong tau.

=== Flashback ===

Pemilik toko kelontong pernah datang ke salonnya dan menanyakan apakah Ga In berteman baik dengan putra Profesor Choi. “Ya. Kami berteman sejak tk”, sahut Ga In. Wanita itu menyuruh Ga In memberitahukan Hoon agar berhenti berlari ke sana ke sini hanya dengan menggunakan celana dalam saja. Anak-anaknya bahkan memotret Hoon.

=== Flashback End ===

Wajah Hoon langsung hopeless… :-D.

“Ayahku juga tau”, ucap Ji Ahn.

=== Flashback ===

Ji Ahn bertanya pada ayahnya apakah ayahnya membeli celana dalam baru. Ayahnya merasa itu adalah celana Hoon. Ayah Ji Ahn memperlihatkan celana dalam Hoon yang ada gambar kucingnya pada Ji Ahn

=== Flashback End ===

“Bahkan Ibu tiriku juga tau”, sahut Tae Oh lagi.

=== Flashback ===

Ibu tiri Tae Oh datang ke rumah Tae Oh. Ia memegang celana dalam Hoon yang bergambar kucing dan bertanya, “Bukankah ini celana dalam Hoon?”.

=== Flashback End ===

Hoon semakin kaget. Dengan serempak, mereka bertiga memberitahukan Hoon bahwa seluruh tetangga tau. Tae Oh meralatnya, bukan cuma seluruh tetangga mereka tapi seluruh dunia. Hoon tidak mengerti maksud Tae Oh. Tae Oh memperlihatkan wall FB seseorang pada Hoon. Hoon melihat fotonya hanya dengan memakai celana dalam bergamabr kucingnya. “Apa ini? Buahmdong’ panty man? Ya! Wall siapa ini? “, Hoon marah.

“Ini? Wall aku…”, goda Tae Oh. Hoon langsung menarik Tae Oh, menyuruh Tae Oh menghapus fotonya itu. Mereka jadi rebutan ponsel, Ji Ahn dan Ga In tertawa-tawa. Tiba-tiba Song Yi datang, dengan membawa koper. Tae Oh langsung membantu Song Yi dan menanyakan apakah Song Yi akan berlibur. Song Yi tidak menjawab, ia mengambil kaleng minuman dan meneguknya. Teman-temannya berkomentar Song Yi yang tau bagaimana caranya minum.

Lalu Song Yi bertanya apa ibunya berhutang pada orang tua mereka. Tae Oh dan teman-temannya terdiam.

Aku tidak tau kenapa aku memiliki perasaan pada gadis ini. – Tae Oh

Song Yi memberitahukan bahwa ibunya kabur. Teman-temannya kaget dan Ji Ah berkata sepertinya ibu Song Yi memberitahukan Song Yi bahwa ia kabur karena Song Yi tau mengenai hal itu. Lalu Song Yi mengambil sebuah surat dan bertanya siapa diantara teman-temannya yang bisa membaca huruf Korea.

Semuanya langsung mengangkat tangannya. Tapi Hoon yang langsung mengambil surat itu dari tangan Song Yi dan membacanya. Isinya : ‘Song Yi, aku ingin kau menganggap aku tidak ada. Tagihan rumah di belakang, jadi tidak ada yang bisa kau lakukan selain pergi dari rumah itu dan tidak ada juga barang yang bisa kau jual. Bibimu akan mengurus adikmu, jadi antarkan adikmu ke Daechidong.’

Teman-temannya ingin tau apa yang akan dilakukan oleh Song Yi. Song Yi berkata ia punya rencana. Sebelum pergi, ia menitipkan kopernya di rumah Tae Oh dan akan mengambilnya nanti malam. Hoon berteriak menyemangati Song Yi, menyuruh Song Yi mengambil positifnya saja, dalam semua hal ada baik dan buruk. Ga In memukul Hoon supaya diam. Tae Oh berlari menyusul Song Yi dan berpesan pada temannya untuk mengunci pintu rumah.

Tae Oh bertanya kemana Song Yi akan pergi. “Mengantarkan adikku ke rumah bibiku”, jawab Song Yi. Lalu Song Yi berbalik, menatap Tae Oh, menanyakan kenapa tae Oh mengikutinya. Tae Oh pura-pura beralasan ia memiliki teman yang tinggal di Daechidong. Song Yi tidak berkomentar lagi dan melanjutkan langkahnya. Tae Oh mengekor di belakang.

Di dalam bus, Tae Oh duduk terpisah dari Song Yi, karena Song Yi duduk dengan adiknya. Tae Oh duduk sambil memangku sebuah tas yang lumayan besar.

Inilah alasannya kenapa aku tidak ingin menyukai Song Yi. Sesuatu yang buruk pasti terjadi setiap saat aku terlibat dengannya. Aku merasa buruk sekali dan dia selalu menyeretku bersamanya. tapi yang membuatku bertambah marah adalah tidak ada gunanya aku menolongnya. Dia tidak pernah berterima kasih. – Tae Oh

Dua orang wanita seksi naik ke dalam bus.

Ada banyak wanita cantik di dunia ini. Aku benar-benar sudah gila… – Tae Oh

Tae Oh membentur-benturkan kepalanya ke dinding bus dan kemudian mengusap-usap kepalanya yang sakit dan menoleh pada Song Yi. Ia melihat wajah Song Yi terlihat sedih dan menahan tangis. Song Ah menggenggam tangan Song Yi dan tersenyum pada Song Yi. Song Yi benar-benar hampir menangis saat melihat adiknya yang tersenyum padanya dan mengalihkannya dengan melihat ke arah lain. Dan Tae Oh memperhatikan itu.

Suami bibinya membawa masuk Song Ah ke dalam apartemen. Bibi menarik Song Yi, menjauh dari pintu masuk gedung apartemen untuk memarahi Song Yi, kebetulan Tae Oh ada tidak jauh dari sana. Tae Oh langsung berbalik, supaya tidak terlihat oleh Song Yi. Bibi Song Yi bertanya apakah Song Yi akan berkeras ingin kuliah, dari mana ia akan dapat uang. Seharusnya Song Yi lebih bertanggung jawab dan tidak memikirkan diri sendiri tapi memikirkan ibunya yang tidak dewasa dan adiknya dan mulai mencari pekerjaan. Song Yi hanya diam, lalu bibi bertanya kapan Song Yi akan menjemput Song Ah. Dengan terbata-bata, Song Yi menjawab segera. Jawaban Song Yi benar-benar membuat bibi kesal dan masuk ke dalam gedung apartemen.

Tae Oh diam-diam berjalan mengikuti Song Yi. Song Yi berhenti dan berbalik, menatap Tae Oh. Tae Oh melihat ekspresi wajah Song Yi saat ini mirip dengan ekspresi Song Yi ketika ayah Song Yi meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan itu membuat Tae Oh tertegun. Song Yi kembali menanyakan kenapa Tae Oh mengikutinya. Tae Oh tergagap dan memberi alasan yang sama, temannya tinggal di sana dan tidak menjawab telponnya. Song Yi tidak begitu percaya, ia mengenal semua teman Tae Oh, jadi siapa nama teman Tae Oh itu. Jika Tae Oh mengikutinya karena mengkhawatirkannya, cukup belikan saja makanan untuknya. Song Yi pun melanjutkan kembali langkahnya.

Tae Oh menyusul Song Yo, menanyakan apa yang ingin dimakan Song Yi. “Apa aja…”, jawab Song Yi tidak bersemangat. Tae Oh menyuruh Song Yi makan nasi, ia yakin hari ini Song Yi belum makan apa pun.

Di sebuah kedai makanan, Tae Oh menyendokkan sup kimchi untuk Song Yi dan mengatakan ia yakin Song Ah akan baik-baik saja dan makan dengan baik karena Song Ah adalah anak yang kuat. Song Yi bertanya apa ibunya juga berhutang pada ayah Ji Ahn. Tae Oh keceplosan dan menjawab tentu saja. Lalu ia tersadar dan langsung menutup mulutnya. Mendengar itu, Song Yi bertambah tidak semangat.

Di kedainya, Ji Ahn menanyakan apa benar ibu Song Yi berhutang pada ayahnya. Ayahnya mengatakan ibu Song Yi meminjam 1.000.000 won dan mengembalikannya, lalu meminjam 500.00 won dan mengembalikannya juga, tapi ia tidak begitu yakin ibu Song Yi akan mengembalikan hutang terakhirnya. Ia ingin tau kenapa Ji Ahn menanyakan itu. Ji Ahn tidak menjelaskan keadaan sebenarnya, hanya saja ia meminta ayahnya tidak memberitahukan Song Yi masalah itu jika Song Yi datang ke rumah mereka.

Tae Oh baru selesai mandi dan melihat koper Song Yi masih ada di rumahnya, Song Yi belum datang mengambilnya. Lalu ia menelpon Song Yi tapi walaupun Song Yi tau ada yang menelponnya, Song Yi tidak mengangkatnya. Saat itu Song Yi sedang bekerja di pom bensin. Tae Oh memutuskan untuk mencari Song Yi, tapi sudah berkeliling kemana-mana, Song Yi tidak ada.

Akhirnya Tae Oh duduk di depan kedai ayah Ji Ahn. Ji Ahn datang dan menanyakan apa yang dilakukan Tae Oh di sana. “Menunggu Song Yi”, jawab Tae Oh singkat. Ji Ahn tidak mengerti, bukannya tadi sore Tae Oh dan Song Yi pergi bersama-sama ke rumah bibi Song Yi.

Tae Oh menghela nafasnya dan mengatakan ia hanya melihat dari jauh saja, suasananya tidak mendukung. Tas Song Yi ada di rumahnya, Song Yi mengatakan ia akan mengambilnya dan sampai sekarang Song Yi belum datang ke rumahnya. Ji Ahn akan menelpon Song Yi, tapi Ta Oh mengatakan Song Yi tidak akan menjawabnya. Ji Ahn tidak jadi menelpn Song Yi dan merasa sepertinya Song Yi tidak ada di rumah Ga In ataupun Hoon. “Apa kau berpikir ia pulang ke rumahnya?”, tanya Ji Ahn.

Tapi Tae Oh yakin tidak. Song Yi harus membayar sewa sebentar lagi dan pemilik rumah terus mencarinya. Ada yang mengatakan agent properti sudah datang dan menempelkan banyak stiker di seluruh rumah. Tae Oh dan Ji Ahn sama-sama terlihat khawatir.

Sementara itu Song Yi masih berjalan tanpa tujuan. Ia mendapatkan pesan notifikasi yang memberitahukan tentang batas waktu pendaftaran Beasiswa Korea. Song Yi menghela nafasnya dan menyimpan kembali ponselnya. Ia tiba di atas sebuah jembatan dan melihat lampu-lampu yang otomatis menyala ketika melewatinya, menerangi tulisan-tulisan seperti ‘Apakah kau sudah makan?’, ‘Bagaimana harimu?’, Song Yi memukul kesal pada tulisan itu. Lalu ia melihat tanda ‘SOS Life line’, sepertinya box telpon itu khusus untuk orang yang akan bunuh diri, biasanya ‘kan banyak yang bunuh diri lompat dari jembatan.

Song Yi mengangkat gagang telpon dan menekan tombol berwarna hijau, suara seorang wanita menjawab telpon Song Yi. “Apa anda percaya ada cinta di dunia ini?”, tanya Song Yi. Wanita itu yang ternyata sudah cukup tua terkejut, meminta Song Yi terus berbicara, di sana Song Yi bebas mengatakan apa pun yang Song Yi inginkan.

“Apakah anda percaya dunia ini indah? Apakah harapan itu ada?”, tanya Song Yi lagi. Ahjumma itu menyuruh Song Yi menarik nafas dalam-dalam dan memandang ke langit. Song Yi melakukan apa yang diminta ahjumma itu dan mengatakan tidak ada apa-apa di langit, tidak ada harapan. Ahjumma itu menyuruh Song Yi menutup matanya dan memikirkan orang-orang yang Song Yi sayangi.

Song Yi terdiam dan membayangkan Song Ah yang menggenggam tangannya di dalam bus tadi. Ahjumma itu mengatakan lagi, ia yakin Song Yi pasti memiliki orang yang sangat Song Yi cintai. Song Yi masih tidak menjawab, di dalam hati ia merasa sedih, ia berhasil masuk kuliah tapi tidak satu orang pun bahagia untuknya, ia bekerja mati-matian untuk biaya kuliah satu semester tapi tidak seorang pun memujinya. Tadi pagi ibunya pergi meninggalkan ia dan adiknya, ia harus menitipkan adiknya di rumah bibinya dan sekarang ia tidak punya tempat tinggal.

Karena Song Yi cukup lama melamun, ahjumma di seberang telpon memanggil-manggil Song Yi. Song Yi tersadar dan ingin menanyakan satu hal pada ahjumma itu. Ahjumma itu mempersilahkan.

“Usiaku 20 tahun. Jika usiaku 20 tahun, artinya ini adalah masa mudaku, iya ‘kan?”.

Malam itu, Hoon menumpang di rumah Ga In. Ia bertanya apakah Ga In penasaran kenapa ia selalu diusir hanya dengan celana dalam. Ga In menganggukkan kepalanya, bahkan ia penasaran kenapa Hoon tidak mau pergi kuliah di unversitas swasta. Hoon senang Ga In seperti itu, hanya saja ia merasa sedih orang tuanya sendiri tidak pernah seperti itu, menanyakan apa yang diinginkannya atau apa cita-citanya. Hoon benar-benar tidak mengerti kenapa orang tuanya seperti itu.

Kembali lagi pada Song Yi. “Masa muda seperti apa ini? Aku benar-benar ingin bertanya…”. Song Yi memandang ke langit, berteriak pada langit, “Kenapa Kau melakukan ini padaku? Apa yang akan terjadi padaku mulai sekarang? Kau pasti punya rencana jika Ku membawaku ke dunia ini, kan? Kau tidak punya apa pun untuk dikatakan, ‘kan?”. Tanpa mempedulikan ahjumma yang terus mengatakan ‘Halo’ dari tadi, Song Yi menutup telpon itu. Song Yi menjerit melampiaskan kekesalannya. Tidak lama kemudian terdengar suara sirine mobil polisi, dan mobil polisi itu berhenti di dekatnya.

Song Yi berubah bingung, “Bagaimana ini… Mereka datang untuk menangkapku…”. Song Yi tersenyum canggung dan jongkok, mengambil posisi seperti terkena hukuman dengan mengangkat kedua tangannya ke atas…

Bersambung…

[Sinopsis Because It’s The First Time Episode 2 Part 1]

Leave A Reply

Your email address will not be published.