Update Sinopsis Drama Korea Terbaru

Sinopsis Descendants Of The Sun Episode 9 Part 1

0

[Sinopsis Descendants Of The Sun Episode 8 Part 2]

 

Sinopsis Descendants Of The Sun Episode 9 Part 1

Mo Yeon segera berlari kembali ke tempat Daniel memperbaiki speaker, mengambil ponselnya sambil melirik Shi Jin yang ternyata juga ada di sana, dan lalu berlari keluar dari ruangan itu.

Shi Jin tersenyum jail plus senang melihat Mo Yeon yang pastinya sangat malu karena perasaannya diketahui tidak hanya oleh dirinya, tapi oleh semua orang yang ada di camp. Daniel berkomentar, mengatakan kalau musik benar-benar mengubah banyak hal. “Dan perubahan itu berpusat padaku…”, sahut Shi Jin dan kemudian berlari, melompat melalui jendela.

Sementara itu, Mo Yeon menuruni tangga sambil terus bergumam, merasa sangat malu pada semua orang, khususnya Shi Jin. Saat ia akan keluar dari bangunan itu, pada saat yang bersamaan Shi Jin membuka pintu dan masuk ke dalam. Mo Yeon sangat kaget, tidak mengerti bagaimana Shi Jin bisa ada di depannya, padahal tadi Shi Jin ada di atas.

Shi Jin sangat senang, mengatakan saat ini ia sedang merasa di atas angin. Sedangkan Mo Yeon sangat kesal karena merasa Shi Jin dengan sengaja mendengar rekaman dari ponselnya. Shi Jin membantah, ia hanya tidak sengaja mendengarkannya. “Kalau tidak sengaja, kenapa kau tidak menutup telingamu?”, tuntut Mo Yeon, kesal.

Shi Jin mendekati Mo Yeon, membuat Mo Yeon melangkah mundur. Shi Jin mengatakan Mo Yeon itu sungguh imut, saat merasa akan mati, Mo Yeon mengakui perasaannya, tapi di saat sudah selamat, Mo Yeon mengubah pikirannya. “Suara itu suaramu, kan?”, tanya Shi Jin.

“Bukan suaraku”, bantah Mo Yeon.

“Tapi itu ponselmu..”.

“Bukan… ini bukan ponselku…”, bantah Mo Yeon lagi. Kemudian ia terpaksa memarahi dirinya sendiri karena terlalu banyak bicara. Shi Jin mengatakan ia merasa terhormat bisa masuk dalam surat wasiatnya Mo Yeon.

Mo Yeon ingin pergi karena tidak mau berdebat lagi dengan Shi Jin. Ia menipu Shi Jin dengan menunjuk ke belakang Shi Jin seolah-olah ada sesuatu. Namun Shi Jin mengatakan ia tidak akan tertipu lagi oleh Mo Yeon dan sekarang ia ingin mendengar sendiri dari Mo Yeon apakah itu pengakuan Mo Yeon atau bukan, sambil memegang lengan Mo Yeon.

“Baiklah. Aku akan mengatakan padamu. Jadi lepaskan aku…”, ucap Mo Yeon. Shi Jin menatap Mo Yeon, tidak percaya. “Aku akan memberitahukanmu”, ucap Mo Yeon lagi.

“Benarkan?”, Shi Jin masih belum percaya. Tapi akhirnya Shi Jin melepaskan tangan Mo Yeon. Dan sedetik kemudian, Mo Yeon berbalik dan kaburrrrr…. 😛

Shi Jin merasa tidak habis pikir dengan sikap Mo Yeon tapi kemudian ia tertawa kecil, merasa sikap Mo Yeon itu sungguh imut.

Ja Ae dan Sang Hyun sedang jalan berdua, sambil membicarakan tentang Mo Yeon dan Shi Jin. Ja Ae berpikir, pepatah orang yang mengatakan bunga bahkan tumbuh di saat perang ada benarnya juga, orang-orang bermesraan bahkan setelah gempa terjadi.

Sang Hyun juga berpendapat sama. Setelah melalui bencana yang besar, ia berharap Ja Ae juga mau bertindak seperti yang lainnya. Tapi Ja Ae tidak mau. Sang Hyun menggoda Ja Ae dengan menyinggung tentang wasiat yang ia katakan pada Ja Ae malam kemarin, tentang folder itu.

Ja Ae langsung marah-marah dan menyuruh Sang Hyun segera menghapus folder itu. Ja Ae mengasihati folder itu karena harus berisi file-file rahasia Sang Hyun. Ja Ae yang kesal, langsung pergi meninggalkan Sang Hyun.

Di balik sebuah bangunan, tiga tentara yang lain, Sersan Choi, Sersan Lim, dan Sersan Kong, juga sedang membicarakan tentang Shi Jin dan Mo Yeon. Sepertinya mereka bertaruh dan Sersan Lim yang menang. Sersan Choi seharusnya membayar sejumlah uang untuk Sersan Lim, tapi Sersan Choi terus bicara dan menunda-nunda memberikan uang pada Sersan Lim. Sersan Lim yang sudah mengulurkan tangannya berkali-kali, tidak berhasil mendapatkan uangnya.

Sersan Kong berpikir, sepertinya sekarang mereka harus memanggil Dr. Kang dengan sebutan ‘kakak ipar’. Sersan Choi langsung protes, karena menurutnya, Dr. Kang dan Kapten mereka harus menikah terlebih dahulu, baru bisa Dr. Kang dipanggil dengan ‘kakak ipar’. Sersan Choi juga kesal karena ia tidak menyukai Mo Yeon dan tidak percaya seorang dokter yang cantik dan mendapatkan bayaran yang tinggi mau berkencan dengan tentara.

Menurut Sersan Choi, Dr. Kang menyukai Shi Jin hanya karena saat ini Dr. Kang berada jauh dari Korea. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan Dr. Kang akan berubah pikiran. “Coba pikir, apa pendapatnya setelah tahu apa pekerjaan kita. Dia pasti akan memintanya untuk pindah tugas, ataupun berhenti menjadi tentara. Kalian tak mengerti?”, ucap Sersan Choi lagi.

Melihat kedua temannya hanya bengong, Sersan Choi kesal sendiri, mengatakan kalau kedua temannya itu tidak akan mengerti. Lalu Sersan Choi pergi begitu saja sambil memasukkan kembali uangnya ke dalam sakunya.

Sersan Kong menanyakan tentang istri Sersan Choi pada Sersan Lim. Sersan Lim mengatakan istri Sersan Choi persis seperti Dr. Kang, memiliki pendapatan yang bagus karena tokonya berjalan dengan baik dan juga cantik. Sersan Kong tidak mengerti, jika istri Sersan Choi miri[ dengan Dr. Kang, tapi kenapa Sersan Choi tidak menyukai Dr. Kang?

Sersan Lim tidak menjawab, karena ia baru sadar uang yang seharusnya menjadi miliknya malah dibawa lagi oleh Sersan Choi. Ia berdiri dan mengejar Sersan Choi.

Mo Yeon memimpin rapat dengan tim medis. Mo Yeon membicarakan tentang persediaan obat, tapi Sang Hyun menyela, menggoda Mo Yeon dengan menebak kalau Mo Yeon yang ‘menembak’ Shi Jin lebih dulu. Ja Ae menyahut, menebak kebalikan dari Sang Hyun, Shi Jin lebih dulu yang ‘menembak’ Mo Yeon. Semua tim medis menyoraki Mo Yeon.

Mo Yeon mengatakan mereka adalah orang yang berpendidikan jadi ia meminta mereka membicarakan masalah itu di belakangnya saja. Lalu Mo Yeon kembali pada rapat dan meminta teman-temannya untuk fokus. Mo Yeon ingin berbicara tentang tim medis yang akan kembali ke Korea besok.

Tapi lagi-lagi Sang Hyun menyela, menebak kalau hari jadian Mo Yeon dan Shi Jin hari ini. Ja Ae membantah, mengatakan kalau besok adalah hari jadiannya. Lalu giliran Min Ji yang menyela, membenarkan ucapan Sang Hyun, kalau normalnya, hari ini adalah hari jadiannya.

Mo Yeon kesal dan menyuruh teman-temannya berhenti membicarakan itu. Tapi saat memulai kembali rapat, ia malah salah bicara. “Orang yang mulai jadian hari ini— aduh sial”. Teman-teman Mo Yeon menertawakan Mo Yeon, yakin kalau Mo Yeon sudah jadian.

“Kenapa kalian semuanya tidak kembali saja ke Korea sana?”, kesal Mo Yeon. Teman-teman Mo Yeon semakin puas menertawakan Mo Yeon.

Chi Hoon hendak memeriksa tekanan darah Min Jae. Tapi karena kejadian kemarin, Chi Hoon masih belum bisa menghadapi Min Jae, tangannya gemetar dan kepercayaan dirinya hilang.

Min Jae kesal dan berteriak pada Sang Hyun yang sedang memeriksa pasien lain, ia meminta dokter lain yang memeriksanya. “Kenapa? Dia adalah orang yang pertama menemukanmu…”, ucap Sang Hyun.

“Karena itulah… Aku merasa mau gila jika mengingat kejadian itu lagi. Dan tangannya terus gemetar…”, protes Min Jae.

Sang Hyun mendekati Min Jae, bertanya sama siapa Min Jae ingin diobati. Dr Daniel? Kau tak bisa berbahasa Inggris. Atau Jang Joon Hyuk? Tapi, dia sudah mati. Bagaimana ini? Kami tak punya dokter lain lagi…”, ucap Sang Hyun.

Sang Hyun mengatakan kalau dokter bukanlah sebuah channel TV yang bisa diganti semau Min Jae. Jadi ia meminta Min Jae untuk membiarkan Chi Hoon mengobati Min Jae jika Min Jae memang mau sembuh. Sebelum pergi, Sang Hyun juga berpesan pada Chi Hoon untuk mengobati Min Jae dengan baik.

Sang Hyun pindah ke pasien yang lain yang tidak jauh dari Min Jae. Diam-diam Sang Hyun melirik ke arah Chi Hoon, memperhatikan tingkah laku antara Chi Hoon dan Min Jae.

Mo Yeon keluar dari medicube dan saat ada tentara yang lewat, ia berpura-pura merenggangkan ototnya dan membelakangi mereka. Saat tentara itu menjauh, Mo Yeon baru bisa bernafas lega dan memilih jalan yang lain. Tapi sebelum itu, Mo Yeon mengintip dari balik dinding dan setelah memastikan keadaan aman, ia baru keluar. Tapi baru saja dua langkah, ternyata, ada lagi tentara yang lewat.

Mo Yeon langsung berbalik dan kaget saat melihat Myeong Ju ada di depannya. Myeong Ju bertanya apa yang sedang dilakukan Mo Yeon. “Aku tidak sedang melakukan apa-apa”, sahut Mo Yeon singkat.

“Tapi sepertinya kau sedang melakukan sesuatu. Kau mencoba bersembunyi dari rasa malumu”, ucap Myeong Ju. Mo Yeon tidak memabntah, tapi ia menyuruh Myeong Ju mengurus urusannya sendiri saja. “Ternyata kau berani juga ya? Bagaimana kau bisa berpikir berkencan dengan Big Boss Tim Alpha?”, tanya Myeong Ju.

Mo Yeon meminta izin menanyakan satu hal pada Myeong Ju. Ia ingin tahu apakah memiliki pacar seorang tentara tidak mengganggu Myeong Ju. “Tidakkah kau takut ia akan mati atau terluka? Karena sepengetahuanku, pekerjaan Sersan Seo sama berbahayanya dengan Kapten Yoo”, ucap Mo Yeon.

“Lebih tepatnya, dia menembus wilayah musuh… untuk mengintai perang gerilya, mengumpulkan informasi, menyelamatkan sandera, menghancurkan musuh, dengan taruhan nyawanya. Tapi aku tidak takut dengan pekerjaannya. Aku hanya takut berada jauh darinya. Jadi, aku tidak merasa khawatir lagi sekarang karena kami sama-sama bertugas di sini…Sederhananya, tidak ada yang kutakuti saat ini. Begitulah yang kurasa”, ucap Myeong Ju, panjang lebar.

Mo Yeon tertegun memikirkan jawaban Myeong Ju.

Shi Jin duduk di tangga di depan kantor komandonya sambil menatap batu putih dan melempar-lempar dan menangkap kembali batu itu.

Seseorang menangkap batu itu, dan orang itu adalah Myeong Ju. Myeong bertanya kenapa Shi Jin duduk sendirian di sana. “Aku hanya sedang sedih memikirkan sesuatu. btw, boleh aku bertanya satu hal padamu? Apakah tidak mengganggumu memiliki pacar seorang tentara? “, tanya Shi Jin.

Myeong Ju mengomel sendiri, kesal karena banyak yang menanyakan pertanyaan yang sama padanya malam itu. Myeong Ju menyuruh Shi Jin berbicara pada Mo Yeon karena tadi Mo Yeon juga menanyakan pertanyaan yang sama padanya.

Shi Jin ingin tahu apa yang Myeong Ju katakan pada Mo Yeon. Tapi Mo Yeon tidak mau memberitahukan Shi Jin, ia menyuruh Shi Jin menanyakan langsung pada Mo Yeon. Myeong Ju menantang Shi Jin untuk berani bicara langsung pada Mo Yeon.

Lalu Myeong Ju teringat dengan batu yang masih ia pegang dan bertanya untuk apa batu itu. Kau mau melempari siapa?, tanya Myeong Ju. Shi Jin meminta batunya kembali karena ia sedang memikirkannya.

Myeong Ju menolak memberikannya dan menantang Shi Jin untuk mengambilnya sendiri. Myeong Ju mulai berjalan mundur. “Jangan lakukan sesuatu yang akan kau sesali”, ucap Shi Jin.

Dan ternyata, Myeong Ju malah menabrak seseorang dibelakangnya… dan itu Dae Young. Myeong Ju masih marah dan berniat pergi, tapi Dae Young menahannya dan membuat Myeong Ju berdiri di depannya. “Sudah kubilang kau akan menyesal…”, ucap Shi Jin, menggoda Myeong Ju. Dae Young mengomentari Shi Jin dan Myeong Ju yang kelihatannya sedang bahagia.

“Kau bicara apa, sih? Memangnya aku tidak boleh berteman dengan pria lain?”, sahut Myeong Ju, kesal. Dae Young mengomentari Myeong Ju yang sepertinya masih marah padanya. “Siapa yang tidak marah? Memangnya aku memintanya tiga kali dalam sehari setiap habis makan. Bagaimana bisa kau melarikan diri saat aku memintanya. Pergi dan lakukan hukuman berguling untuk seumur hidupmu…”, marah Myeong Ju.

Shi Jin berdiri dari tangga dan mendekati Myeong Ju dan Dae Young, menggoda Myeong Ju yang meminta sesuatu tentang pria dan wanita. Myeong Ju membantahnya, mengatakan kalau yang ia inginkan hanya Dae Young memegang tangannya dan memeluknya saja. “Tapi dia selalu saja seperti itu. Bukannya memegang tanganku, tapi hanya memegang bahuku atau lenganku saja…Ahh..benar-benar bodoh”.

Myeong Ju mengembalikan batu itu pada Shi Jin dan menyuruh Shi Jin untuk melemparkan batu itu pada Dae Young saja. dan setelah mengatakan itu, Myeong Ju pun pergi. Shi Jin tertawa geli dan menggoda Dae Young. Dae Young menyuruh Shi Jin berhenti karena kalau Shi Jin terus seperti itu, tidak tahu apa yang akan ia lakukan pada Shi Jin.

“Kenapa? Apa kau akan memegang bahuku juga?”, goda Shi Jin. Shi Jin berbalik masuk ke dalam kantor, sambil mengatai Dae Young yang kaku dan bodoh. Dae Young menghela nafasnya dan berpaling, melihat Myeong Ju yang berjalan menjauh. Myeong Ju terlihat masih marah dan menendang batu yang ada di depannya.

Keesokan paginya, seperti biasa, para tentara berlari di sekeliling camp tanpa mengenakan baju. Mo Yeon, Min Ji, dan Ja Ae menikmati pemandangan itu. Min Ji dengan usilnya menipu Mo Yeon dengan mengatakan, “Kapten Yoo, Annyeong haseyo…”. Mo Yeon langsung kaget. Tanpa menoleh kebelakang untuk memastikan, Mo Yeon langsung kabur. Min Ji heran melihat tingkah Mo Yeon dan berkomentar, Mo Yeon itu gampang sekali dikibuli.

Mo Yeon berlari hingga ke dekat kantor Shi Jin dan beristirahat di bawah jendela, tanpa menyadari Shi Jin sedang duduk melamun di sana. Mo Yeon kaget setengah mati saat melihat Shi Jin yang tersenyum senang melihatnya. Mo Yeon heran kenapa Shi Jin bisa ada di sana.

“Aku memang ada di sini dari tadi…”, sahut Shi Jin. Mo Yeon baru sadar kalau ia dikerjai oleh Min Ji dan menjadi kesal sendiri. “Kenpa? Apa mereka menggodamu lagi?”, tanya Shi Jin.

“Semua gara-gara kamu!”, kesal Mo Yeon, Mo Yeon kaget sendiri dengan jawaban spontannya itu dan Shi Jin makin senang mendengarnya. Mo Yeon mengatakan kalau ia sibuk dan akan pergi rapat. Mo Yeon akan pergi tapi Shi Jin menahan Mo Yeon. Shi Jin mengajak Mo Yeon pergi bersamanya karena ia juga harus ke sana. Mo Yeon menolak, mengatakan akan pergi sendiri. “Bagaimana kalau kau berada dalam bahaya lagi?”, desak Shi Jin.

“Aku akan menghubungimu jika itu terjadi”, sahut Mo Yeon. Shi Jin bertanya kenapa Mo Yeon terus menghindarinya. “Kau menghindariku saat aku mengakui perasaanku padamu. Dan sekarang kau juga menghindariku, setelah kau menyebut namaku di dalam wasiatmu itu…”, ucap Shi Jin.

“Itu bukan wasiatku..”, ucap Mo Yeon.

“Bukannya kau bilang hatimu merasa bahagia?”

“Itu bukan suaraku”, bantah Mo Yeon. Shi Jin mengatakan ia tidak meminta Mo Yeon mengakui perasaan Mo Yeon yang sebenarnya. Shi Jin meminta Mo Yeon untuk tidak malu karena ia mengetahui perasaan Mo Yeon karena itu tidak mengubah kenyataan kalau dirinya lebih menyukai Mo Yeon.

Shi Jin memuji Mo Yeon yang terlihat cantik pagi itu. Mau tidak mau Mo Yeon tersenyum, tersipu malu. Shi Jin melihat Dae Young yang muncul di belakangnya, lalu ia berpesan akan menemui Mo Yeon di gerbang depan 10 menit lagi. Lalu, Shi Jin menutup jendela dan kembali ke dalam.

Mo Yeon menutup daun jendela yang bagian luar (jendela itu punya dua lapis daun jendela) dan pada saat yang bersamaan, Myeong Ju muncul dan terlihat heran kenapa Mo Yeon bisa ada di sana, tapi Myeong Ju tidak bertanya apa pun pada Mo Yeon.

Setelah Mo Yeon pergi, Myeong Ju yang penasaran membuka kembali daun jendela itu dan pada saat yang bersamaan, Dae Young juga membuka daun jendela yang satunya lagi. Myeong Ju kaget tapi sesaat kemudian wajahnya berubah, Myeong Ju masih kesal pada Dae Young. Myeong Ju cepat-cepat berlalu dari sana. 😛

Gi Beom sedang membaca buku untuk ujian kelulusan smu dan Ye Hwa sedang membantu mengobatinya dengan metode akupuntur. Gi Beom adalah orang pertama yang mendapatkan perawatannya, Ye Hwa menusukkan beberapa jarum di punggung Gi Beom. Gi Beom memuji Ye Hwa yang seorang suster tapi pintar akupuntur. Gi Beom bertanya apakah Ye Hwa juga belajar pengobatan cina.

Ye Hwa mengatakan kalau ia tidak pernah belajar, ia hanya melihatnya dari ayahnya yang seorang dokter pengobatan cina. Gi Beom sangat kaget, khawatir pengobatan Ye Hwa itu malah membuat kondisinya buruk. Gi Beom berniat untuk berdiri, tapi Ye Hwa memarahi Gi Beom. Terpaksa Gi Beom kembali berbaring.

Lalu Gi Beom bertanya darimana asal Ye Hwa karena aksen bicara Ye Hwa agak sedikit berbeda. “Aku orang goryeo..”, jawab Ye Hwa. Gi Beom langsung kaget, berpikir kalau Ye Hwa benar-benar dari Goryeo. Teman Gi Beom melemparkan bajunya pada Gi Beom, kesal karena Gi Beom tidak tahu tentang hal itu saja. Ye Hwa berkomentar kalau Gi Beom tidak akan lulus ujian.

Shi Jin dan Mo Yeon dalam perjalanan selesai dari rapat dengan para staf PBB. Mo Yeon mengometari rapat yang sama sekali tidak terkesan kaku. Ia tidak pernah menyangka kalau staf PBB itu orang-orangnya sangat menyenangkan. “Mereka hanya bertemu di saat-saat darurat, jadi humor itu adalah suatu keharusan….”, ujar Shi Jin.

Mo Yeon merasa kondisi itu mirip dengan Shi Jin. Shi Jin selalu bercanda di dalam keadaan yang tidak tepat. Tapi menurut Shi Jin, bersikap serius dalan keadaan serius hanya akan memperburuk keadaan. Mo Yeon ingin tahu bagaimana perasaan Shi Jin saat harus melakukan sesuatu yang harus dilakukan. “Apa kau merasa bangga?”, tanya Mo Yeon.

“Sudah pasti mustahil untuk mendapatkan pacar…”, sahut Shi Jin. Mo yeon tertawa. Lalu Shi Jin bertanya berapa banyak pacar yang sudah dimiliki oleh Mo Yeon. Mo Yeon tertawa, tidak percaya Shi Jin bertanya tentang itu padanya. Namun Shi Jin mendesak, siapa lagi yang bisa menanyakan itu pada Mo Yeon.

Mo Yeon tertawa dan berpikir jawaban yang akan ia berikan pada Shi Jin. Pada saat itu, tiba-tiba sesuatu meledak di bawah mobil yang mereka naiki dan mobil menjadi sulit dikendalikan. Mobil menabrak sesuatu dan akhirnya berhenti.

Mo Yeon bertanya pada Shi Jin, apa yang terjadi. Shi Jin menyuruh Mo Yeon diam di tempat dan mengatakan akan memeriksanya. Shi Jin mengambil batu dan melempar ke arah belakang mobil, tidak terjadi apa-apa. Shi Jin mengatakan pada Mo Yeon, jika ia tidak salah, pasti ada ranjau di sana.

Lalu Shi Jin mengambil suatu benda yang lebih besar dari dalam mobil dan melempar dengan jarak lebih jauh dan terjadi ledakan. “Apa itu benar ranjau? Apa kita tadi melewatinya?”, tanya Mo Yeon panik.

“Benar. Sepertinya gempa sudah membuat ranjau itu ke sini…”, ucap Shi Jin lagi. Shi Jin memperingatkan Mo Yeon untuk tidak pergi sendirian karena mereka dikelilingi oleh ranjau. Mo Yeon mencoba mengambil ponselnya, tapi tidak ada sinyal. Begitu juga dengan walkie talkie-nya Shi Jin.

Shi Jin mengambil tas dan bendera merah yng bertuliskan ‘MINE’ dan beberapa benda yang lain. Ia memberitahukan Mo Yeon bahwa mereka harus keluar dari sana sendiri. Ia mengingatkan Mo Yeon untuk menginjak tepat di tempat ia berpijak sebelumnya. Ia berjanji Mo Yeon tidak akan mati, jadi Mo Yeon tidak usah khawatir. Mo Yeon tersenyum.

Mo Yeon berjalan mengikuti Shi Jin yang terus memeriksa permukaan tanah. Mo Yeon bertanya apa yang terjadi jika seandainya mereka menginjak ranjau. “Tidak ada yang bisa dilakukan. Tidak seperti di film, jika kau menginjak ranjau, maka ranjau akan meledak…”, ujar Shi Jin.

Shi Jin menemukan satu ranjau dan meminta bendera merah pada Mo Yeon. Shi Jin mengatakan satu-satunya cara menghindari ranjau adalah dengan melangkah perlahan. “Jadi rileks saja dan nikmati pemandangan ‘seksi’ ini”, ucap Shi Jin lagi.

Mo Yeon tertawa kecil, mengatakan kalau humornya Shi Jin bermanfaat pada saat seperti sekarang. Shi Jin mengatakan itu bukan humor, tapi sebuah fakta. Mo yeon tertawa, mengatai Shi Jin yang narsis.

Mereka menemukan banyak ranjau di sana, banyak bendera yang sudah dipasang di sana. Shi Jin memasang sebuah papan dan meminta lipstik Mo Yeon sebagai tinta untuk menuliskan peringatan di sana. Mo Yeon menambahkan gambar tengkorak di sana, mengatakan kalau tidak semua orang mengerti bahasa inggris. Shi Jin tersenyum, setuju dengan ide Mo Yeon.

Shi Jin dan Mo Yeon terpaksa berjalan kaki pulang ke kamp. “Aku bukannya mau mengeluh. Hanya mau meluruskannya saja. Apa kita harus berjalan kaki kembali ke camp?”, tanya Mo Yeon.

“Untuk saat ini, sepertinya begitu. Mobil melaju dalam waktu 40 menit, dan 60 km per jam, jadi, kita harus berjalan sejauh 40 km. Kita akan sampai camp saat malam hari jika menggunakan kecepatan lariku, tapi, jika hanya dengan kecepatan ini, kita akan sampai besok pagi”, ucap Shi Jin.

Mo Yeon mendesah kecewa. Shi Jin mengatakan jika bosan berjalan kaki, mereka bisa berjalan sambil berpegangan tangan. “Tidak, terima kasih”, sahut Mo Yeon, spontan.

“Tapi kau menyebut namaku dalam rekaman wasiatmu itu…”.

“Itu bukan suaraku…”.

Shi Jin mengeluh, merasa tidak ada gunanya ia menyelamatkan Mo Yeon tadi. Sikap Mo Yeon sangat berbeda antara sebelum dan setelah bahaya terjadi, Mo Yeon berbeda saat pagi dan sore hari. “Aku? Memangnya aku seperti apa pada saat sore dan pagi hari?”.

“Pagi hari, kau sangat cantik. Sore hari, kau super duper cantik…”, ucap Shi Jin. Mo Yeon tidak percaya pada Shi Jin. Ia meminta Shi Jin jujur padanya. “Kau pasti sudah mengencani banyak gadis, kan?”.

Shi Jin mengeluh kenapa wanita selalu menanyakan itu padanya. Mereka marah kalau ia bilang ya dan tidak percaya kalau ia bilang tidak. Mo Yeon bertanya siapa yang marah dan siapa yang tidak percaya.

Shi Jin tidak menjawab dan mengalihkan dengan mengatakan ada truk yang akan lewat. Mo Yeon berdiri di tengah jalan dan melambaikan tangannya. Tapi truk itu tidak mau berhenti dan Shi Jin sampai harus menarik Mo Yeon ke pinggir. “Sepertinya orang sini tidak menganggap kau cantik”, goda Shi Jin.

Mo Yeon merengut kesal dan untungnya kemudian ada truk lagi yang akan lewat. Shi Jin bertanya apa Mo Yeon mau mencegat truk itu dengan menggunakan pistol. Shi Jin mengeluarkan pistolnya, tapi Mo Yeon langsung mencegah Shi Jin, menyuruh Shi Jin diam di tempat. Mo Yeon melambai-lambaikan tangannya lagi ddan truk itu hanya melewati mereka.

“Aku setuju idemu. Ayo kita curi truknya…”., ucap Mo Yeon. Shi Jin menunjuk ke belakang dan ternyata truk itu berhenti dan sopirnya melambaikan tangan, mengajak Shi Jin dan Mo Yeon naik.

“Sepertinya, di negara manapun, petani itu pasti baik, ya?”, ucap Mo Yeon setelah mendapat tumpangan. Shi Jin berkomentar, Mo Yeon mengatakan hal berbeda saat sebelum dan sesudah mendapat tumpangan. Mo Yeon tersenyum, lalu berterima kasih karena Shi Jin menyelamatkan hidupnya lagi.

Shi Jin merasa ia malah jauh lebih aman saat Mo Yeon berada di belakangnya. Mo Yeon tersenyum lagi dan berkata mulai sekarang ia akan hidup dengan baik. “Dengan orang lain?”, tanya Shi Jin. “Kalau begitu aku tidak akan senang…”, ucapnya lagi.

Lalu Shi Jin bertanya tentang jawaban yang diberikan Myeong Ju saat Mo Yeon bertanya tentang perasaan memiliki pacar seorang tentara. Mo Yeon mengira Myeong Ju pasti mengadu pada Shi Jin, tapi Shi Jin mengatakan Myeong Ju menyuruhnya menanyakan langsung apa jawabannya pada Mo Yeon.

“Letnan Yoon bilang… berpisah dari kekasihnya jauh menakutkan daripada pekerjaan kekasihnya itu…”, ucap Mo Yeon. Shi Jin menanyakan bagaiman dengan mereka, apakah mereka akan segera berpisah. Shi Jin ingin tahu apakah nama Mo Yeon ada dalam daftar penumpang yang akan kembali ke Korea.

Mo Yeon mengatakan tidak. Namanya tidak ada dalam daftar itu karena Shi Jin. Ia ingin mengahbiskan waktu lebih lama dengan Shi Jin. Mo Yeon tersenyum, mengatakan kalau baru saja ia mengakui perasaannya pada Shi Jin. “Haruskan aku minta maaf?”, tanya Mo Yeon.

Shi Jin balik menanyakan pendapat Mo Yeon apa yang harus ia lakukan sekarang. Dan… begitulah…

Bersambung…

[Sinopsis Descendants Of The Sun Episode 9 Part 2]

Leave A Reply

Your email address will not be published.