Sinopsis Madame Antoine Episode 4 Part 1

1

[Sinopsis Madame Antoine Episode 3 Part 2]

 

Sinopsis Madame Antoine Episode 4 Part 1

Sebagai gambaran untuk Seung Chan, Ji Ho memperlihatkan foto Benedict Cumberbatch, aktor favorit Hye Rim dan Hye Rim pun tersenyum saat melihat foto aktor kesukaannya itu.

Di saat yang bersamaan, terjadi perubahan warna di dalam gambar potongan otak Hye Rim, terlihat warna merah yang semakin terang.

Setelah Seung Chan mengerti, Soo Hyun pun memulai simulasi yang sebenarnya.

Foto pertama yang diperlihatkan pada Hye Rim adalah foto Seung Chan.

Warna merah yang tadinya sangat terang, perlahan semakin meredup. Soo Hyun tersenyum sinis.

Seung Chan tampak sedikit lega karena hasil untuknya adalah 43 persen. Seung Chan lumayan senang.

Selanjutnya, giliran foto Ji Ho. Warna kemerahan semakin meredup dan Ji Ho terlihat kecewa. Hasil untuk Ji Ho… hanya 18 persen.

Dan terakhir, giliran foto Soo Hyun. Seung Chan protes karena Soo Hyun hanya memakai foto yang kurang menarik. “Kau terlalu percaya diri ya?”, ucap Seung Chan.

Soo Hyun hanya tersenyum sinis.

Dan hasilnya…. hanya sedikiiiiitttt warna merah. 6 persen saja. Sudut bibir Soo Hyun berkedut marah. Bhuahaha.haha..

Seung Chan dan Ji Ho menertawakan Soo Hyun. “Bagaimana ini… sepertinya dia jatuh cinta padaku… “, ucap Seung Chan.

“Profesor, kau diurutan terakhir…”, ucap Ji Ho, senang karena tadi sempat berpikir berada di urutan paling akhir.

“Kurang dari lima persen harus keluar, kan? Kau hampir saja tidak lulus…”, seru Seung Chan, menggoda hyungnya. Sudut bibir Soo Hyun semakin berkedut, menahan marah… Bhuahaha…

Seung Chan dan Ji Ho masih saja menertawakan Soo Hyun. “Apa gunanya juga ‘memberinya permen’?, ucap Seung Chan pada Ji Ho.

Soo Hyun berhasil mengatasi emosinya dan memuji semuanya telah bekerja keras. Sebelum pergi, Soo Hyun mengatakan pada Seung Chan dan Ji Ho bahwa Hye Rim adalah seorang wanita yang keras kepala.

Seung Chan dan Ji Ho semakin tertawa geli, menertawakan Soo Hyun…

Soo Hyun mendatangi ruangan pemeriksaan saat Hye Rim dikeluarkan dari alat MRI. Dengan nada sedikit kesal Soo Hyun bertanya apa ia pernah berbuat salah pada Hye Rim.

“Tidak”, sahut Hye Rim singkat.

“Atau aku pernah marah padamu?”.

“Uhm.. tidak. Tidak juga”.

“Lalu kenapa kau lakukan ini padaku?”, tanya Soo Hyun marah.

“Apa?”, Hye Rim kebingungan sendiri, tidak mengerti dengan yang dibicarakan Soo Hyun. Soo Hyun diam dan keluar dari ruangan, ngambek… Bhuahaha…

Ditinggal begitu saja membuat Hye Rim berpikir. Ia teringat sesaat sebelum masuk ke dalam alat MRI, Soo Hyun dengan sangat manisnya, mengikat tali belakang baju periksa yang ia pakai. Lalu Hye Rim juga teringat Soo Hyun pernah mengatakan padanya bahwa eksperimen ini adalah tentang sosok ideal Hye Rim dan sisitem kekebalan Hye Rim terhadap pria idealnya itu.

Di dalam hati Hye Rim bertanya-tanya, apakah benar eksperimen itu untuk mencari pria idealnya. Hye Rim merasa akan sangat bahaya jika perasaannya ketahuan, Hre Rim takut jika perasaannya itu lebih besar daripada perasaan Soo Hyun padanya, karena itu akan membuatnya seperti pecundang.

Dan apa yang dilakukan Hye Rim saat diperlihatkan foto Soo Hyun? Hye Rim menutup matanya rapat-rapat dan bernyanyi. Itulah sebabnya, mengapa hasil warna hanya menunjukkan 6 persen.

Hingga malam hari, SOo Hyun masih kesal dengan hasil MRI dan masih melihat hasil print-annya. Seung Chan masuk untuk membawakan kopi untuk Soo Hyun dan senyam senyum melihat Soo Hyun yang masih melihat hasil pemeriksaan mereka tadi.

Soo Hyun meminum kopinya dan langsung meletakkan kembali cangkirnya. Marah karena Seung Chan menaruh gula di dalam kopinya padahal ia tidak suka itu. Soo Hyun mengomeli Seung Chan yang terus minta posisi pekerjaan padanya padahal hanya membuatkan kopi saja, Seung Chan tidak beres.

“Buatkan lagi!”, marah Soo Hyun.

Seung Chan mengulum senyumnya, mengambil cangkir dan meletakkan lagi cangkirnya di atas meja. Seung Chan mengulang ucapan yang pernah dikatakan oleh Soo Hyun beberapa waktu lalu tapi sedikit mengubahnya, kali ini Seung Chan mengumpamakan Soo Hyun sebagai ikannya. “Katakanlah disini tempat memancing. Ikan tidak tertangkap di sini, tidak peduli apa pun musimnya. Dan kemudian, salah satu ikan tertangkap dan ikan tersebut sangat mesum. Ia berbohong mengatakan talinya kendor sebelum melakukan scan dan memeluknya. Kau pikir bagaimana perasaan pelangan lainnya? Mereka semua akan pergi dan tempat pemancingan itu akan bangkrut. Apa yang akan kita lakukan sekarang?”.

Masih dengan nada kesal, Soo Hyun mengatakan ia tidak pernah melakukan hal yang diluar batas.

“Itu yang kau pikirkan…”, sahut Seung Chan. Sebelum keluar sambil membawa kembali cangkir kopi, Seung Chan berpesan supaya Soo Hyun berusaha lebih keras karena pemeriksaan akan dilakukan sebulan lagi, sebelum ia benar-benar merebut hati Hye Rim.

Soo Hyun hanya bisa memandang kesal pada Seung Chan yang menghilang di balik pintu. Soo Hyun berpikir dengan keras sambil menegetuk-ngetuk meja dengan cepat. Soo Hyun membuka kembali file eksperimennya dan membaca biodatanya sendiri. Di dalamnya tertulis, ia adalah sosok yang kaya dan dihormati.

Soo Hyun berpikir untuk menggunakan kelebihannya itu.

Hye Rim turun ke bawah dari tempat tinggalnya di lantai 3 dan melihat klinik yang kosong, tidak ada siapa pun di sana. Hye Rim merasa memiliki kesempatan dan mendekati komputer yang biasa dipakai Seung Chan.

Hye Rim mencari folder ‘burung kukuk’ yang pernah ia lihat di desktop tapi folder itu tidak ada lagi di sana. Belum sempat mencari lebih jauh, Hye Rim dikejutkan dengan suara pesan dari ponselnya sendiri.

Pesan dari Soo Hyun yang mengajaknya pergi ke suatu tempat jam 4 sore ini.

Hye Rim memenuhi ajakan Soo Hyun dan ternyata tempat itu adalah sebuah butik mahal. Hye Rim kebingungan sendiri saat penjaga butik bertanya padanya tapi ternyata Soo Hyun sudah datang lebih dulu dan menunggunya.

Dengan saaangat manis dan lembut, Soo Hyun menyuruh Hye rim memilih apa pun yang Hye Rim suka.

“Kenapa aku harus melakukannya?”, tanya Hye Rim yang langsung curiga.

“Karena aku akan membelikannya untukmu. Jadi silahkan pilih”.

Hye Rim menatap Soo Hyun, tidak percaya. Namun kemudian ia berkeliling juga di dalam butik, melihat-lihat semua tas mahal di pajangan. Di dalam hati, Hye Rim menginginkan semua tas itu tapi…

Hye Rim menoleh pada Soo Hyun yang berjalan di belakangnya. Soo Hyun pura-pura cuek. “Lihat ekspresinya. Kalau aku memilih, dia pasti akan tertawa terbahak-bahak. Aku tidak mau terlihat seperti wanita murahan… Haruskah aku menyuruhnya pergi?”, ucap Hye Rim di dalam hati.

Hye Rim kembali meliihat ke tas-tas yang dipajang dan berpikir untul tidak mempedulikan dengan reaksi Soo Hyun dan memilih satu tas saja. Hye Rim terus ragu-ragu.

Soo Hyun mengingatkan Hye Rim untuk tidak ragu dan memilih yang Hye Rim suka karena ia tidak akan menganggap Hye Rim materialistis.

Hye Rim langsung marah, menanyakan apa maksud Soo Hyun, memanggilnya ke butik, menyuruhnya memilih dan mengungkit masalah materialistik.

Soo Hyun menyuruh penjaga butik meninggalkan mereka berdua dan kemudian mendekati Hye Rim. “Nona Go Hye Rim, kau suka padaku, kan?”

“Pertanyaan macam apa itu?”, sahut Hye Rim marah.

Soo Hyun sedikit mengomeli Hye Rim, meminta Hye Rim tidak mengubah pembicaraan terus sehingga membuatnya bingung karena ia tidak suka dengan wanita yang plin plan.

Hye Rim menatap Soo Hyun hingga membuat Soo Hyun agak canggung dan mengubah cara berdirinya. Hye Rim menebak ada sesuatu yang terjadi pada Soo Hyun. Ada suatu alasan yang membuat Soo Hyun harus mendapatkannya atau ada sesuatu yang belum bisa Soo Hyun pecahkan sehingga membuat Soo Hyun terburu-buru dan mencari jalan pintas, yaitu dengan membelikan barang mewah. Hye Rim meminta Soo Hyun jujur padanya dan mengatakan dengan baik-baik, karena dengan begitu mungkin ia akan mau membantu.

Soo Hyun tidak berkutik dan akhirnya langsung meminta penjaga butik untuk membawakan tas paling mahal. Dan Soo Hyun langsung membayarnya tanpa mempedulikan protes Hye Rim.

Belum apa-apa, Soo Hyun tiba-tiba malah mengembalikan tas itu dan minta uangnya dikembalikan dalam bentuk tunai. Penjaga butik memberitahukan SOo Hyun bahwa ia akan mendapatkan potongan jika ingin dikembalikan dalam tunai, menjadi hanya 3,5 juta won.

Tidak masalah, ucap Soo Hyun. Soo Hyun meminta uang itu disumbangkan untuk pusat kesejahteraan anak atas nama Go Hye Rim. Hye Rim bengong melihat kelakukan Soo Hyun.

Lalu Soo Hyun berbalik pada Hye Rim, memberitahukan Hye Rim bahwa sekarang ia sudah membelikan Hye Rim tas dan Hye Rim sudah melakukan sesuatu yang hebat. Jadi beres, kan?, ucap Soo Hyun.

Hye Rim terdiam sesaat lalu berkata, “Tapi aku tidak mendapatkan tasnya…”. Lalu Hye Rim menunjuk sebuah tas, dan Soo Hyun setuju membelikannya. Tidak hanya itu, Hye Rim menunjuk satu tas lain dan dua gaun lagi.

Soo Hyun sedikit keberatan. Namun saat melihat Hye Rim, ia membayangkan 6 persennya dan akhirnya dengan berat hati, terpaksa setuju membelikan semuanya untuk Hye Rim.

Dan mereka pun pulang dengan mobil yang lumayan dipenuhi oleh tas belanjaan. Hye Rim sangat senang dan berterima kasih pada Soo Hyun.

Soo Hyun agak kesal, ia berpikir akan membelikan seluruh barang yang ada di toko. Hye Rim setuju, mengajak Soo Hyun mampir di toko yang lain.

Saat asik berbicara tentang toko, Soo Hyun malah bertanya apakah sekarang persennya sudah naik. Hye Rim tidak menegrti maksud Soo Hyun.

“Saat kami melakukan pemeriksaan tipe idealmu, aku mendapatkan enam… puluh dua persen. Sekarang sudah naik kan?”, Soo Hyun berbohong tentang persen yang didapatnya.

Hye Rim tidak mengerti kenapa Soo Hyun begitu memikirkan tentang persen itu, padahal pemeriksaan itu hanya untuk mencari pria idealnya. “Karena itu sedikit menyakiti harga diriku. Lagipula, kita sudah sama-sama berjuang untuk itu, kan?”, ucap Soo Hyun.

Hye Rim semakin curiga ada sesuatu yang lebih dari sekedar mencari tipe idealnya. Tapi Soo Hyun berkeras, itu hanya menyangkut harga dirinya dan ia meminta Hye Rim menyelamatkan harga dirinya.

Hye Rim setuju untuk membantu Soo Hyun. Untuk setiap barang yang dibelikan Soo Hyun tadi, ia akan menambahkan satu persen. Soo Hyun tiba-tiba marah dan meminggirkan mobilnya. “Kenapa menaikkan? Kenapa tidak diturunkan saja?”, tanya SOo Hyun.

“Kau marah sekarang? Baiklah, aku naikkan 10 persen. Setuju?”, ucap Hye Rim.

Saat tiba di klinik, Soo Hyun masih terlihat kesal. Ia mengambil semua tas belanjaan dari dalam mobil sedikit geram. Tapi apa kata Hye Rim. “Tidak apa-apa. Aku tidak butuh semua itu. Alasan aku melakukan itu karena aku penasaran kenapa kau menghabiskan banyak uang untukku. Jadi…”.

Soo Hyun tidak mengerti dan tidak tau apa yang akan ia lakukan dengan semua belanjaan itu.

“Sumbangkan saja. Atas namamu sendiri”, ucap Hye Rim santai. Lalu Hye Rim memberitahukan cara agar persentase Soo Hyun bisa naik. Ia ingin Soo Hyun mengajarkannya psikologi. Karena sebagai konsultan di klinik, ia sama sekali tidak tau dasar-dasar psikologi.

Soo Hyun sedikit keberatan, tapi jika Hye Rim bisa belajar cepat, ia mau menerima Hye Rim sebagai muridnya.

Hye Rim terlihat senang, dan berterima kasih atas jalan-jalan dan shopping hari ini, walaupun akhirnya cuma window shopping saja.

PAgi harinya, saat membuka pintu untuk membuang sampah, Hye Rim menemukan satu tas belanjaan yang digantung di pintu. Di tas itu ada sebuah pesan : Setidaknya terima gaunnya. Hye Rim mendesah, senang.

Ji Ho mencari-cari Hye Rim di kafe, tapi kata penjaga kafe, Hye Rim belum turun dari tadi. Dan Ji Ho mencari Hye Rim ke lantai 3. Kebetulan pintu tempat tinggal Hye Rim terbuka dan Ji Ho langsung masuk saja.

Ji Ho sangat kaget dan refleks mundur saat melihat Hye Rim ternyata sedang membuka bajunya, Hye Rim memakai naju dalam yang agak panjang. Sesaat Ji Ho mematung tapi kemudian ia maju dan mengintip Hye Rim. Kali ini Hye Rim sudah memakai baju yang diberikan oleh Soo Hyun. Dasar Ji Hoooo… 😛

Wajah Ji Ho jadi berubah lembut atau mungkin pasrah ya… saat menatap Hye Rim. Hye Rim sendiri sibuk mematut-matut diri di depan cermin, tidak tau kalau Ji Ho sedang mengintipnya.

Ji Ho duduk di bangku di luar kafe dan melempar satu kotak coklat… O… sepertinya Ji Ho ingin memberikan coklat untuk Hye Rim tapi ternyata keduluan dari Soo Hyun. Dan sepertinya Ji Ho tau, gaun yang dipakai Hye Rim adalah dari Soo Hyun. Ji Ho pasrah, merasa kalah karena Soo Hyun bahkan memberi hadiah yang lebih mahal darinya… 😛

Si artis, Ju Ni datang ke klinik dan melihat Ji Ho duduk melamun di luar kafe. Ju Ni senyam senyum sendiri ga karuan dan mendekati Ji Ho.

Ju Ni menyapa Ji Ho dan langsung duduk di samping Ji Ho. “Walaupun cuma satu minggu tidak ke klinik, tapi rasanya lama sekali tidak melihatmu”.

Ji Ho menyuruh Ju Ni langsung ke klinik jika ia memang datang untuk konsultasi. Ji Ho mengatakannya tanpa melihat pada Ju Ni. Ju Ni melihat kotak coklat dan bertanya apa boleh ia memakan coklatnya.

“Makan saja”, sahut Ji Ho masih tidak melihat Ju Ni.

Ju Ni seperti tidak mempedulikan respon Ji Ho yang ogah bicara dengannya. Ju Ni bahkan minta disuapkan coklat ke dalam mulutnya. “Ahhh…”, Ju Ni membuka mulutnya lebar-lebar.

“Kalau gitu jangan makan”, sahut Ji Ho tidak peduli dan langsung pergi masuk ke dalam kafe. Meninggalkan Ju Ni yang sangat marah.

Ju Ni masuk ke dalam klinik dan kebetulan Seung Chan menyambutnya di depan meja respsionis.

Lagi-lagi Ju Ni melakukan hal yang aneh. Ju Ni membuka jubahnya, menyibak rambutnya, dan menyodorkan punggungnya pada Seung Chan. Meminta Seung Chan mengancingkan bajunya.

Seung Chan bingung sendiri dan ragu melakukannya. Kemudian ia memutuskan untuk tidak menuruti keinginan Ju Ni dan menyuruh Ju Ni pergi ke kamar mandi dan mengancingnya sendiri. Hehe…

Lagi-lagi Ju Ni dibuat kesal…

Tak lama, Hye Rim turun dari atas dan Ju Ni melihatnya. Ju Ni tidak bisa tidak mengganggu Hye Rim. Ia bertanya apa rambut Hye Rim masih utuh, karena waktu itu ia menarik cukup banyak rambut Hye Rim. “Bukankah harusnya kau menaruh penumbuh rambut atau apa?”.

Hye Rim tidak peduli dan menyuruh Ju Ni pergi konsultasi saja. Senyum Ju Ni langsung pudar. Dengan kesal, Hye Rim berbalik dan masuk ke ruang Soo Hyun.

Di dalam ruang konsultasi, Ju Ni mendesah kesal beberapa kali. Lalu mengeluh pada Soo Hyun bahwa semua orang yang bekerja di klinik tidak ada yang menyenangkan. Seperti konsultasi yang lalu, Ju Ni lagi-lagi melakukan gerakan seksi di depan Soo Hyun, ia menyibakkan rambut dan mengangkat rambutnya ke atas.

Hye Rim melihat dari ruang cermin satu arah. Hye Rim sangat kesal melihat kelakukan Ju Ni. Sekeras apa pun ia mencoba, ia tidak bisa menganggap Ju Ni sebagai orang yang baik…

Soo Hyun tidak menanggapi keluhan Ju Ni dan membicarakan tentang kecelakaan yang dialami oleh Ju Ni. Soo Hyun merasa Ju Ni mengalami cukup banyak kecelakaan tahun lalu, hingga 3 kecelakaan. “Jika kau sibuk sepertiku, hal seperti itu biasa terjadi”, sahut Ju Ni santai. Ju Ni mengubah cara duduknya, mengganti kakinya.

Hye Rim mendesah, lagi-lagi Ju Ni melakukan gerakan seksi di depan Soo Hyun.

Soo Hyun tidak terpengaruh. Soo Hyun masih membicarakan tentang kecelakaan, khususnya di bulan November, di kecelakaan itu, Ju Ni kehilangan managernya. “Apa itu tidak berat bagimu?”.

“Tidak apa-apa… berkat kejadian itu aku bisa istirahat dan bahkan pergi ke luar negeri untuk berlibur”, sahut Ju Ni lagi.

Hye Rim mendesah, tidak percaya Ju Ni bisa begitu tidak peduli saat seseorang meninggal dan bahkan pergi berlibur ke luar negeri. Lalu Seung Chan datang memanggil Hye Rim dan mengajak Hye Rim pergi.

Hye Rim tidak mendengar lagi saat Ju Ni berkata terus terang bahwa sepetinya ia jatuh cinta pada Soo Hyun.

“Bagaimana bisa?”.

“Karena kau terus muncul dalam pikiranku… Kau keren, cerdas, dan juga lembut”, ucap Ju Ni sambil tersenyum manja.

“Itu benar, tapi aku takut aku tidak bisa menerima perasaanmu”.

Senyum Ju Ni langsung hilang. “Kenapa tidak?”.

Soo Hyun menanyakan bagaimana perasaan Ju Ni saat ia menolak perasaannya Ju Ni. Mata Ju Ni mulai memerah, seperti akan menangis, “rasanya seperti akan mati, aku akan mati!”, ucap Ju Ni sambil mencekik lehernya sendiri.

“Kalau mau, lakukan saja”, ucap Soo Hyun tidak peduli. Soo Hyun bahkan menawarkan pensil yang tajam, gelas kaca, dan pisau saku. Ia mempersilahkan Ju Ni menggunakan apa pun yang diinginkan Ju Ni. Ju Ni langsung berhenti mencekik dirinya sendiri… 😛

Soo Hyun memberitahukan Ju Ni bahwa Ju Ni tidak jatuh cinta padanya. Dan kalau pun iya, itu hanya karena ia sedang merawat Ju Ni…

Ju Ni membantah ucapan Soo Hyun. Menurutnya semua ini karena Go Hye Rim. Semua orang di klinik mencintai Hye Rim. “Dan kau juga diam-diam mencintanya, kan?”.

Soo Hyun mengatakan baginya Hye Rim hanyalah seorang manusia yang menjalani hidupnya dengan kurang sadar diri. “Jadi menurutmu aku bukan seorang manusia?”, sahut Ju Ni salah sangka… 😛

Bukan itu, beritahu Soo Hyun dengan sabar. Menurutnya, Ju Ni itu terlalu memikirkan pendapat orang lain terhadap dirinya. Namun Ju Ni merasa itu lumrah, karena ia adalah seorang selebriti.

“Lalu kalau kau bukan selebriti, apakah pendapat tentangmu juga penting?”, tanya Soo Hyun lagi.

“Bukan begitu… Aku hanya ingin semua orang mencintaiku”. Menurut Ju Ni, semua orang memang seperti itu.

Tapi menurut Soo Hyun tidak, ada orang yang menyukai Ju Ni dan ada yang tidak, membuat orang lain menyukai Ju Ni adalah sebuah perbuatan yang sia-sia dan pada akhirnya akan membuat hati Ju Ni semakin sakit.

Ju Ni menjadi sedih karena memikirkan ada orang yang membencinya, padahal ia berusaha keras agar dicintai. Soo Hyun ingin tau alasan kenapa Ju Ni melakukan usaha sekeras itu. Ju Ni tidak bisa menjawabnya.

“Apa itu karena kau orang yang mengerikan?”, tanya Soo Hyun, to the point.

Ju Ni sangat sedih, ternyata Soo Hyun juga melihat dirinya seperti itu. Ju Ni membenarkan tebakan Soo Hyun itu. Selama ini ia selalu merasa ketakutan kalau ketahuan. “Semuanya sangat menakutkan, dokter”, ucap Ju Ni, mulai menangis.

Soo Hyun sepertinya menceritakan sesi konsultasinya dengan Ju Ni. Profesor Bae merasa Soo Hyun berhasil membuat Ju Ni sadar bahwa ia memiliki rasa percaya diri yang rendah. Tapi Soo Hyun sepertinya tidak sepenuhnya sependapat dengan Profesor Bae.

Profesor Bae menanyakan kemungkinan hal tersebut timbul karena pengasuhan yang diterima Ju Ni dari ayahnya. Menurut Soo Hyun, sepertinya Ju Ni mendapatkan pengasuhan yang tidak konsisten oleh sebab itulah Ju Ni memperoleh harga diri melalui kriteria yang sangat bervariasi. Lalu Soo Hyun bertanya kemungkinan gangguan lain menurut pemeriksaan Profesor Bae.

Tapi menurut Profesor Bae, tidak ada yang terlihat serius. Ia melihat Ju Ni seperti depresi tapi ia tidak melihat gejalanya. Soo Hyun juga mengatakan ia belum mengetahui alasan gangguan John Denver dan kenapa Ju Ni tidak menyukai bulan november.

Profesor Bae merasa pasti ada sesuatu dibalik gangguan yang dialami Ju Ni itu. Lalu tiba-tiba Profesor Bae seperti mual dan akan muntah. Profesor Bae berusaha menekan rasa mualnya dan mengalihkannya dengan minum. Soo Hyun mengkhawatirkan Profesor Bae tapi Profesor mengatakan ia baik-baik saja.

Ternyata, Seung Chan mengajak Hye Rim mencari pohon natal dan dekorasi pohon natal. Saat asik berbicara, Hye Rim menyadari Seung Chan berbicara tidak formal padanya. Seung Chan beralasan itu karena mereka sudah cukup dekat.

Setelah selesai berbelanja, saat di dalam lift, lagi-lagi Seung Chan bicara tidak formal pada Hye Rim dan bahkan memanggil Go Hye Rim, bukan noona seperti biasanya. Hye Rim jelas protes, tapi Seung Chan mengatakan nooona adalah seorang wanita dan ia tidak bicara formal pada wanita.

Melihat Hye Rim hanya diam menatapnya, Seung Chan bertanya pendapat Hye Rim, apakah Hye Rim mau bicara dengan formal atau tidak formal. “Lakukan sesukamu”, sahut Hye Rim setelah terdiam cukup lama.

“OK. Go Hye Rim”.

Hye Rim merasa tiba-tiba kepanasan dan mengipas-ngipas tubuhnya sendiri. Seung Chan hanya senyam senyum saja melihat Hye Rim yang tiba-tiba kepanasan dan lalu berterima kasih untuk 43 persennya. “Aku di urutan teratas”, beritahu Seung Chan lagi.

Hye Rim sangat kaget dan bertanya tentang Soo Hyun. “6 persen. Urutan terakhir”, beritahu Seung Chan.

Hye Rim terdiam sesaat, teringat saat di mobil, Soo Hyun mengatakan padanya ia mendapat 62 persen. Hye Rim langsung tertawa sendiri, tapi ia tidak memberitahukan Seung Chan saat Seung Chan bertanya kenapa ia tertawa.

Hye Rim dan Seung Chan tiba di dalam kafe bersamaan dengan Soo hyun yang turun dari klinik. Begitu melihat Soo Hyun, Hye Rim langsung tertawa sendiri.

“Kenapa tertawa?”, tanya Soo Hyun.

“Tidak. Kau mau makan, kan? Mereka punya yuk (enam) gejang untuk 6.000 won di apartemen blok 6 di depan”, Hye Rim terus menerus menyebut angka 6. Soo Hyun sama sekali ga ngeh maksud Hye Rim. 😛

Seung Chan mengajak Hye Rim ikut makan. Mendengar Seung Chan memanggil Hye Rim hanya dengan nama, Soo Hyun langsung kaget. Hye Rim hanya tertawa dan menolak ikut dengan alasan kafe yang sibuk saat jam makan siang.

Setelah Soo Hyun dan Seung Chan pergi, Hye Rim teringat dengan tugasnya untuk mencari tau tentang eksperimen yang sedang dilakukan oleh Soo Hyun, entah itu karena perintah kakek atau karena ia juga penasaran sendiri dengan sikap Soo Hyun yang mencurigakan.

Hye Rim mengambil vacum cleaner dan mengecek ke semua ruangan. Semuanya kosong.

Hye Rim masuk ke dalam ruangan Soo Hyun sambil menyeret vacum cleaner.

Setelah selesai makan siang, Soo Hyun membayar makan di kasir sementara Seung Chan mendapatkan kabar dari temannya yang menawarkan pekerjaan sebagai pelatih basebal untuk SD. Tapi Seung Chan menolaknya.

Saat Seung Chan selesai menelpon dan berdiri di dekat Soo Hyun, Soo Hyun menanyakan tentang Seung Chan yang bicara informal pada Hye Rim.

“Ya. Lagipula kami sudah benar-benar dekat”, begitu alasan Seung Chan. “Kau tau kan bagaimana perasaan wanita yang lebih tua saat dipanggil seperti itu oleh pria yang lebih muda?”

Soo hyun mengejek Seung Chan, ia mengira selama ini Seung Chan hanya menggunakan ototnya saja untuk menarik perhatian Hye Rim. Seung Chan tertawa, dan bertanya apa rencana dibalik otak Soo Hyun yang pintar.

Soo Hyun menolak memberitahukan Seung Chan karena kalaupun diberitahu, Seung Chan tidak akan mengerti karena seluruh otak Seung Chan sudah berganti dengan otot… Bhuahaa.. #cieeyang panas karena cemburu… 😛

Sebelum pergi, Soo hyun mengingatkan Seung Chan untuk menjaga perilakunya karena Hye Rim hanya subjek dari eksperimen.

Seung Chan mendesah kesal.

Sementara itu, Hye Rim sibuk membuka-buka laci, mencari file yang diinginkan oleh kakek. Tapi tidak menemukan apa pun. Hye Rim sempat putus asa tapi ia teringat uang yang dijanjikan oleh kakek dan mulai mencari lagi.

Kali ini Hye Rim mencari di komputer. Mencari folder yang mungkin bernama ‘Eksperimen’, ‘Tes’, atau… Hye Rim melihat sebuah folder yang bernama ‘Study’ dan membukanya.

Sementara itu, Soo Hyun dan Seung Chan sudah tiba di klinik. Dan saat Soo Hyun membuka pintu ruang kerjanya, ternyata pintunya terkunci dari dalam. Soo Hyun menduga ada seseorang yang masuk ke ruangannya dan terus menerus mencoba membuka pintunya.

Di dalam, Hye Rim mulai panik. Saat folder ‘Study’ dibuka, ada banyak folder lagi di dalamnya, salah satunya bernama ‘Burung puyuh’. Hye Rim semakin bingung, dulu ‘Burung Kukuk’, sekarang ‘Burung Puyuh’…

Hye Rim membuka folder ‘Burung Puyuh’ dan menemukan satu folder lagi dan satu file video di dalamnya. Hye Rim melihat nama filenya ‘File Study’ dan memutuskan untuk meng-copy folder ‘Burung Puyuh’ tersebut.

Saat mengeluarkan flash disk dari sakunya, tidak sengaja, Hye Rim malah menjatuhkan earphonenya ke lantai dan saat akan mengambilnya, Hye Rim tidak sengaja menyenggol tempat sampah hingga terjatuh.

Bunyi tempat samapah yang terjatuh, terdengar hingga ke Soo Hyun dan Seung Chan. Mereka kaget dan Soo Hyun mengetuk-ngetuk pintu, sambil bertanya siapa di dalam.

Hye Rim cepat-cepat memasukkan flashdisk ke komputer dan mulai meng-copy folder ‘Study’.

Soo Hyun terus mengetuk dan Seung Chan menawarkan diri untuk mengambil kunci serap. Hye Rim semakin panik dan Soo Hyun mengancam akan memanggil security.

Seung Chan datang dengan kunci serap dan mencoba beberapa kunci untuk mencari kunci yang tepat. Sementara Soo Hyun menghubungi perusahaan security dan melaporkan ada yang seseorang yang masuk ke kantornya tanpa izin dan meminta security untuk datang.

Seung Chan belum berhasil menemukan kunci yang tepat. Hampir saja Soo Hyun kehilangan kesabaran, untungnya Seung Chan berhasil menemukannya sebelum Soo Hyun meledak.

Soo hyun segera membuka pintu dan begitu masuk, mereka langsung kaget, ternyata Hye Rim yang sedang di dalam dan sedang asik mem-vakum lantai. Hye Rim pura-pura tidak menyadari Soo Hyun dan Seung Chan masuk.

Soo Hyun berjalan mendekati Hye Rim dan mengetuk pundak Hye Rim dengan jarinya, membuat Hye Rim menoleh. Ternyata Hye Rim memakai earphone di telinganya. “Kenapa kau di sini? Kau bahkan mengunci pintunya…”

“Apa? Pintunya terkunci?”, Hye Rim pura-pura tidak tau. Soo Hyun jadi bingung sendiri… 😀

Hye Rim membereskan vacum cleaner dan berpesan agar Soo Hyun mengganti kunci pintunya karena hal yang sama juga terjadi saat terakhir ia membersihkan ruangan Soo Hyun.

Sebelum keluar, Hye Rim berpura-pura bertanya pada Seung Chan apa ia perlu membersihkan counter juga. Namun Soo Hyun menahannya, tapi tidak mengatakan apa pun. “Apa? Tidak peduli seberapa banyak kau menatapku, kecantikanku tidak akan berubah…”.

“Bagaimana kalau bukan hanya membersihkan?”, tuduh Soo Hyun dengan wajah serius.

Hye Rim merasa kesal dan curiga. Sikap Soo Hyun dan Seung Chan menunjukkan bahwa mereka menyembunyikan sesuatu di sana. Hye Rim mempersilahkan Soo Hyun untuk menggeladahnya tapi jika tidak menemukan apa-apa, ia mengancam akan melaporkan Soo Hyun ke polisi.

Soo Hyun terpaksa melepaskan pegangannya dan Hye Rim pun pergi.

Soo Hyun merasa ia harus meningkatkan keamanan di klinik dan meminta Seung Chan untuk menyerahkan semua file laporan padanya dan kemudian hapus semua file yang Seung Chan miliki.

Hye Rim melihat file video yang di-copy-nya tadi siang. Ternyata video itu adalah video wanita yang menyatakan perasaannya di atas pohon, yang ada di awal episode 1. (lupa namanya…)

Hye Rim mengeluh, tidak mengerti eksperimen apa yang dilakukan oleh Soo Hyun.

Seung Chan mencari Hye Rim di kafe dan melihat Hye Rim sedang mencuci piring. Diam-diam Seung Chan mendekati Hye Rim dan mengagetkan Hye Rim. Hye Rim sangat kaget dan mengatakan belum terbiasa dengan Seung Chan yang memanggilnya Go Hye Rim.

Seung Chan menggoda Hye Rim, memanggil-manggil Go Hye Rim beberapa kali. Hye Rim tertawa dan menyuruh Seung Chan berhenti melakukannya.

Seung Chan menyinggung tentang Hye Rim di ruang kerja Soo Hyun, apa benar Hye Rim hanya bersih-bersih di sana. Hye Rim membenarkan, bahkan menantang menunjukkan debu yang ia bersihkan di ruangan Soo Hyun.

Seung Chan hanya tertawa dan tidak memperpanjang lagi. Lalu Seung Chan menyinggung tentang tawaran pekerjaan melatih bisbol untuk anak SD. Hye Rim sangat senang mendengarnya dan bertanya kapan Seung Chan akan mulai bekerja.

Seung Chan mengatakan itu belum pasti karena akan ada wawancara dulu. Tapi Hye Rim yakin, Seung Chan akan lulus dengan mudah.

Namun Seung Chan mengatakan ia tidak akan mengambil pekerjaan itu. Menurutnya, sebagai pemain terbaik sepertinya tidak masuk akal mengambil pekerjaan seperti itu.

Tapi Hye Rim mengatakan pekerjaan itu sangat bagus karena itu sama saja dengan merawat masa depan Korea…

Ujung-ujungnya Hye Rim dan Seung Chan jadi bertengkar. Seung Cha berkeras menolak melakukan pekerjaan itu dengan menyodorkan berbagai alasan. Sedangkan Hye Rim mendesak Seung Chan untuk tidak menerima pekerjaan itu. Dan pertengkaran itu tidak sengaja didengar oleh Soo Hyun yang turun ke bawah karena ingin memberikan buku diarinya pada Hye Rim.

Soo Hyun ingin mendengar lebih jauh, dan bersembunyi di balik lemari yang ada di dekat pintu masuk kafe.

Lama kelamaan Seung Chan jadi kesal karena Hye Rim terkesan mengomeli dan memarahinya. Ia merasa Hye Rim bersikap seperti seorang noona padanya. “Benar. Aku memang lebih tua darimu jadi mulai sekarang panggil aku noona”, sahut Hye Rim yang ikut emosi.

“Baik. Akan kulakukan itu”, ucap Seung Chan marah dan pergi meninggalkan Hye Rim yang juga kesal karena terlalu sering bersikap lunak pada Seung Chan.

“Oke…”, ucap Soo Hyun dalam hati, sangat senang melihat Seung Chan bertengkar dengan Hye Rim. Soo Hyun berjalan kembali melewati meja kafe dan langsung sembunyi lagi saat Hye Rim menoleh ke arahnya.

Diam-diam Soo Hyun mengambil kembali buku diarinya dan langsung kembali ke klinik…

Dan diam-diam lagi, Soo Hyun meletakkan kembali buku diarinya di atas meja kafe yang di dalamnya sudah tertulis pesan agar Hye Rim pergi ke perpustakaan Joong Ang jam 1 siang, jika Hye Rim ingin belajar tentang psikologi.

Hye Rim datang ke perpustakaan dan bajunya berbeda dengan baju yang ia pakai saat di kafe tadi. Sepertinya sih Hye rim memakai baju yang Soo Hyun belikan untuknya.

Hye Rim berjalan menyusuri perpustakaan, mencari Soo Hyun (Uhmm… perpustakaan kan biasanya sepi. Tapi suara sepatu heel Hye Rim, menggema di dalam perpustakaan, apa ga mengganggu orang lain ya???)

Hye Rim menemukan Soo Hyun sedang berdiri di depan sebuah rak sambil membaca buku. “Ya ampun, seperti inilah penampilan seorang pria yang sedang melakukan pekerjaannya…”, ucap Hye Rim dalam hati, mengagumi penampilan Soo Hyun.

Soo Hyun melirik tidak kentara pada Hye Rim, “Kemeja putih yang menyilaukan dengan lengan digulung, dan dasi yang sedikit longgar…”, ucap Soo Hyun dalam hati, itulah rencana Soo Hyun untuk menarik perhatian Hye Rim dan cukup berhasil.

Soo Hyun pura-pura mencari dan kemudian melihat Hye Rim tidak jauh di depannya. Soo Hyun mengangkat tangannya, sedikit saja… mencoba bersikap sedikit casual. Sedangkan Hye Rim hanya menganggukkan kepalanya dengan sopan.

Hye Rim berjalan mendekati Soo Hyun. Lalu mereka saling menyindir. Soo Hyun mengomentari bentuk tubuh Hye Rim yang tidak jelek untuk ukuran seorang ahjumma yang tua. Hye Rim juga membalas, mengomentari Soo Hyun yang memiliki sedikit otot walaupun sudah tua.. 😀

“Jadi, apa kau akan mengajariku psikologi atau tidak?”

“Tidak sebelum aku mengetesmu apakah bisa mengikuti pelajaranku atau tidak”. Soo Hyun melihat-lihat ke arah meja, ternyata penuh semua dan mengajak Hye Rim duduk di lantai saja. Hye Rim terkejut, tidak menduga orang seperti Soo Hyun juga duduk di lantai.

“Aku juga berguling di lantai…” ucap Soo Hyun sambil lalu.

 

Soo Hyun duduk lebih dulu dan mengambil sapu tangannya sebagai alas duduk Hye Rim. Bahkan Soo Hyun memberikan jasnya untuk menutup kaki Hye Rim yang memakai rok pendek.

Hye Rim mengometari Soo Hyun yang bersikap seperti pria sejati hari ini. “Itu karena aku harus menaikkan persentaseku…”, sahut SOo Hyun.

Hye Rim refleks tertawa, “Benar. Kau memang harus menaikkan persentasemu. Saaaangat banyak!”. Soo Hyun menatap Hye Rim, clueless… Haha…

Bersambung…

[Sinopsis Madame Antoine Episode 4 part 2]

1 Comment
  1. mega cloudy says

    Gomawo sinopnya, fighting!! ^^

Leave A Reply

Your email address will not be published.