Update Sinopsis Drama Korea Terbaru

Sinopsis Madame Antoine Episode 6 Part 1

0

[Sinopsis Madame Antoine Episode 5 Part 2]

 

Sinopsis Madame Antoine Episode 6 Part 1

Seung Chan baru sampai di depan klinik dan kebetulan melihat Profesor Bae juga baru tiba di klinik. Karena lantai batu yang licin, Profesor Bae terpeleset dan berusaha mempertahankan keseimbangannya. Seung Chan melihat Profesor Bae kesusahan dan cepat-cepat membantunya. Seung Chan meminta Profesor Bae memegang lengannya. Awalnya Profesor Bae terlihat agak sungkan tapi Seung Chan membujuknya dan Profesor Bae pun menuruti keinginan Seung Chan.

Baru saja beberapa langkah, Profesor Bae kembali oleng dan kali ini ia terjatuh di atas Seung Chan. Profesor Bae merasa sangat tidak enak dan ingin memberikan syal bunga-bunganya pada Seung Chan, supaya Seung Chan bisa menutupi belakang celananya yang kotor. Seung Chan menolak dengan halus, karena ia merasa lebih malu lagi jika memakai syal bunga-bunga milik Profesor Bae. Profesor Bae memaklumi dan mengajak Seung Chan ke kantornya untuk mencuci celana Seung Chan yang kotor.

Profesor Bae sudah mencuci celana Seung Chan yang kotor dan menjemurnya di atas alat pemanas supaya lekas kering. Ia sangat bersyukur karena Seung Chan ternyata menyimpan celana cadangan. Profesor Bae juga dengan baik hatinya menawarkan lotion tangan pada Seung Chan supaya tangan Seung Chan tidak kering. Dan dengan senang hati juga, Seung Chan mengambil lotion itu dan memencetnya di telapak tangannya.

Seung Chan agak kaget karena ternyata ia memencet terlalu keras sehingga lotionnya terlalu banyak. Seung Chan menawarkan berbagi lotion dengan Profesor Bae. Bahkan Seung Chan sendiri yang mengoleskan lotion itu di tangan Profesor Bae. Profesor Bae sangat senang dan terlihat sedikit merona.

Lalu Profesor Bae meminta Seung Chan membantunya berolahraga. Awalnya Seung Chan berpikir maksud Profesor Bae adalah olahraga yang ringan tapi ternyata Profesor Bae ingin diantar membeli alat olahraga. Seung Chan menawarkan untuk membeli secara online, nanti ia yang akan memilihkan untuk Profesor Bae. Tapi Profesor Bae mengatakan ia ingin melihatnya secara langsung. Seung Chan akhirnya setuju menemani Profesor Bae dan menawarkan untuk pergi di hari Sabtu.

Profesor Bae merasa tidak masalah dengan apa pun waktu pilihan Seung Chan karena kapanpun ia bisa. Profesor Bae mengatakan ia yang akan menyesuaikan jadwalnya dengan waktu yang dipilih Seung Chan. Belum sempat selesai menyepakati waktu belanja mereka, tiba-tiba Ji Ho masuk ke ruang Profesor Bae, memberitahukan bahwa Soo Hyun mencari Profesor Bae.

Sebelum pergi ke ruang Soo Hyun, Profesor Bae berpesan sekali lagi agar Seung Chan memberitahukan padanya kapan waktu yang cocok untuk Seung Chan.

Ternyata Soo Hyun mencari Profesor Bae untuk sama-sama mengamati dan berdiskusi hasil rekaman Sung Oh saat mabuk di kafe beberapa hari yang lalu. Di dalam rekaman itu, Sung Oh terlihat sudah sangat mabuk sedangkan Soo Hyun tidak begitu terlihat karena Soo Hyun membelakangi kamera.

Soo Hyun bertanya apakah Sung Oh adalah murid yang pintar saat di sekolah dan pelajaran apa yang disukai oleh Sung Oh. Soo Hyun menghentikan rekaman dan mengomentari Sung Oh yang berkedip sesaat sebelum menjawab.

Sung Oh tidak memberi jawaban atas pertanyaan Soo Hyun, ia hanya ber’hmm’ saja. Menurut pendapat Profesor Bae, dari perilaku Sung Oh, terlihat Sung Oh seperti teringat sesuatu.

Lalu Soo Hyun melanjutkan lagi memutar rekaman. Kali ini Soo Hyun bertanya tentang kebiasaan sehari-hari yang dilakukan oleh Sung Oh, seperti jam berapa Sung Oh bangun pagi. Sung Oh hanya menjawab, pagi-pagi sekali. Profesor Bae merasa aneh mendengar jawaban dari Sung Oh dan menurut Soo Hyun, saat menjawab pertanyaannya itu, Sung Oh terlihat menyentuh pergelangan tangannya sendiri dan terlihat gelisah seperti merasa tidak nyaman atas pertanyaan itu.

Profesor Bae setuju dengan Soo Hyun. Mereka sudah menemukan dua kata kunci, pagi-pagi sekali dan kenangan yang tidak menyenangkan.

Soo Hyun kembali melanjutkan memutar video rekaman. Kali ini Soo Hyun mananyakan hobi Sung Oh. “Ya, aku tidak tahu… Aku suka menonton film dan …”.

Di dalam rekaman itu, tiba-tiba terlihat kepala Soo Hyun terjatuh di atas meja.

Profesor Bae jelas kaget dan bertanya apa yang terjadi. Dengan wajah tak bersalah, Soo Hyun hanya mengatakan ia tertidur… 😛

Hye Rim dibawa oleh pegawai Kakek ke rumah peristirahatannya. Kakek ingin bertemu dengan Hye Rim di sana.

Sepertinya Kakek kembali menanyakan tentang eksperimen Soo Hyun dan Hye Rim menceritakan eksperimen tentang tiga orang pria mendekati satu orang wanita. Kakek tertawa, merasa lucu dengan eksperimen yang dilakukan Soo Hyun kali ini.

Hye Rim sedikit kesal karena kakek tertawa. Kakek menanyakan siapa yang dipilih oleh wanita itu, apa ada salah satu pria yang sebaya dengannya dalam eksperimen itu?

“Wanita itu memilih pria sukses di usia 30-an”, jawab Hye Rim. Hye Rim merasa eksperimen seperti itu tidak pantas karena mempertimbangkan masalah etika. Tapi kakek tidak sependapat dengan Hye Rim, ia tidak peduli tentang etika. Menurutnya, kemanusiaan itu sendiri adalah sebuah masalah.

Lalu kakek mamastikan bahwa video yang tim mereka analisis adalah video yang sama dengan eksperimen yang dimaksud oleh Hye Rim. Sekretaris kakek membenarkan. Dari eksperimen Soo Hyun itu, mereka bisa memanfaatkannya untuk bisnis kosmetik mereka. Dengan mengetahui perilaku dan kecenderungan wanita maka mereka dapat mengetahui produk kosmetik apa yang sesuai dengan wanita berdasarkan demografi idealnya… (Hahaha… jangan tanya ini apa. Sy jg ga ngerti… :-D)

Sekretaris itu yakin eksperimen yang diceritakan Hye Rim adalah Eksperimen AB, eksperimen yang perusahaan kakek pernah investasikan. Hye Rim sedikit senang mendengarnya, ia merasa dengan begitu, artinya Soo Hyun tidak akan melakukan eksperimen itu untuk kedua kalinya.

Tapi kakek merasa tidak seperti itu, Soo Hyun adalah orang yang teliti, mungkin saja Soo Hyun melakukan Eksperimen AB bagian kedua. Hye Rim agak panik mendengarnya, karena itu berarti bisa saja saat ini Soo Hyun melakukan eksperimen yang sama.

“Betul”, sahut kakek.

Hye Rim ingin tau apakah kakek ingin tau kalau saat ini Soo Hyun memang benar-benar sedang melakukan eksperimen itu. Tapi kakek merasa itu tidak perlu karena yang ingin ia ketahui saat ini adalah tentang eskperimen itu sendiri.

Lalu kakek memerintahkan sekretarisnya untuk mencari model make up baru untuk pria usia 30-an dan mempersiapkan investasi baru untuk eksperimen Soo Hyun. Kakek sangat berterima kasih atas bantuan Hye Rim dan memerintahkan sekretarisnya untuk mentransfer uang 50 juta won yang ia janjikan untuk Hye Rim.

Saat berjalan keluar, Hye Rim terlihat marah, ia teringat bagaimana kerasnya Soo Hyun membantah saat ia menuduh Soo Hyun sedang melakukan eksperimen padanya. Lalu Hye Rim juga teringat ucapan kakek yang mengatakan ia tidak yakin Soo Hyun tidak melakukannya, karena Soo Hyun adalah orang yang teliti dan bisa jadi Soo Hyun melakukan ekperimen bagian kedua.

“Apa ini? Apa dia berbohong padaku???”, marah Hye Rim dalam hati.

Tiba-tiba Hye Rim melihat seorang wanita yang dipapah menaiki tangga oleh seorang pelayan. Hye Rim sempat melihat sekilas wajah wanita itu saat ia berbelok di bordes tangga. Karena penasaran, Hye Rim bertanya pada sekretaris kakek, tapi sekretaris kakek mengatakan itu sesuatu yang tidak perlu diketahui oleh Hye Rim.

Hye Rim melihat kembali ke belakang, ia melihat bayangan seorang wanita yang berdiri di balik jendela lantai atas.

Ji Ho menceritakan kejadian kemarin pada Seung Chan. Ia menceritakan Hye Rim marah dan memukul meja dengan sepatunya. Seung Chan kaget, “Jadi sekarang dia tahu kita sedang melakukan eksperimen padanya?”.

“Tidak. Dokter berbohong padanya”, ucap Ji Ho. Walaupun demikian, Ji Ho merasa dokter (maksudnya Soo Hyun ya…) juga merasa berat terutama saat Hye Rim mengancam jika Soo Hyun melakukan eksperimen seperti itu padanya, ia akan mengutuk Soo Hyun sampai mati. Ji Ho menceritakan sejak itu wajah Soo Hyun menjadi muram dan menjadi khawatir sampai-sampai tidak selera makan malam.

Tentu saja Seung Chan heran sekaligus tidak percaya mendengar cerita Ji Ho.

Soo Hyun pulang ke rumahnya dan mendapati Seung Chan duduk termenung di dalam gelap. Soo Hyun menanyakan apa yang dilakukan Seung Chan di dalam gelap.

Seung Chan mengatakan, ia memohon agar Soo Hyun bersikap baik pada Hye Rim terlepas dari eksperimen yang sedang Soo Hyun lakukan pada Hye Rim. Soo Hyun bingung mendengar permohonan Seung Chan dan memutuskan untuk duduk dan mendengarkan Seung Chan dengan serius.

Seung Chan menceritakan bahwa ia mendengar dari Yoo Rim kalau Hye Rim menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Mata Soo Hyun berkedip-kedip cepat.

“Penyakit itu… umm…”, Seung Chan menyalakan ponselnya, “idiopathic pulmonary fibrosis, dan sepertinya itu fatal”.

Soo Hyun tertawa, tidak percaya dengan ucapan Seung Chan. Tadi pagi ia juga bertemu dengan Yoo Rim dan Yoo Rim tidak mengatakan apa pun padanya. Seung Chan mengatakan itu karena Yoo Rim tidak ingin Hye Rim khawatir, Yoo Rim hanya ingin kakaknya menjalani hidup bahagia sebelum meninggal. Seung Chan mengatakan ia juga setuju dengan Yoo Rim, menurutnya sangat penting bagi Hye Rim menikmati sisa umurnya.

Soo Hyun tersenyum, menyuruh Seung Chan berhenti bercanda. Jika Seung Chan ingin menipunya dengan cara seperti itu…

Seung Chan memotong ucapan Soo Hyun, jika memang Soo Hyun tidak percaya, silahkan saja, yang ia lakukan hanya mengatakan yang sebenarnya, ucap Seung Chan, lalu kemudian pergi.

Soo Hyun langsung berdiri dari kursinya dan menahan Seung Chan, menanyakan sekali lagi nama penyakit Hye Rim. Seung Chan menyalakan lagi ponselnya, kemudian baru menjawab, “idiopathic pulmonary fibrosis”. Setelah mengatakan itu, Seung Chan pun pergi, meninggalkan Soo Hyun yang sibuk dengan pikirannya sendiri.

Soo Hyun masuk ke dalam kamarnya dan duduk di meja belajarnya. Lagi-lagi Soo Hyun berpikir dan kemudian menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan ucapan Seung Chan. Tapi sesaat kemudian, ia malah membuka dan menyalakan laptopnya, mencari informasi tentang penyakit Hye Rim.

Soo Hyun mengambil ponselnya dan mencari nama ‘Go Hye Rim’, sesaat kemudian ia baru ingat, nama Hye Rim yang ia tulis di Contact-nya adalah ‘Subjek Tes’. Soo Hyun pun menelpon Hye Rim.

Soo Hyun meminta Hye Rim mengirimkan nomor ponsel Yoo Rim untuknya. Hye Rim berjanji akan mengirimkannya melalui pesan teks, tapi menurutnya akan sulit bagi Soo Hyun untuk bisa menghubungi Yoo Rim karena saat ini Yoo Rim sedang ada di pedesaan untuk syuting.

Soo Hyun mengerti, lalu ia bertanya tentang kondisi tubuh Hye Rim, apakah akhir-akhir ini kondisi tubuh Hye Rim baik-baik saja. Tentu saja Hye Rim bingung dan balik bertanya, kenapa Soo Hyun tiba-tiba menanyakan itu.

“Karena sepertinya akhir-akhir ini kau terlihat kurang sehat. Bagaimana perasaanmu?”, tanya Soo Hyun lagi.

“Ya. Aku tidak tahu… Aku merasa sakit di seluruh tubuhku sejak memasuki usia 30-an”.

“Dimana yang sakit?”, tanya Soo Hyun lagi.

“Aku merasa seperti tidak bisa mencerna sebaik sebelumnya, dan aku menjadi sering sakit kepala, dan kadang-kadang batuk…”.

Soo Hyun mengecek gejala yang diceritakan Hye Rim dengan gejala penyakit idiopathic pulmonary fibrosis yang disebut di dalam internet.

“Apa kau sering merasa seperti itu?”, tanya Soo Hyun, menjadi khawatir.

“Ya. Kalau aku pergi ke tempat yang udaranya tercemar, batukku semakin parah”, jelas Hye Rim lagi.

“Apa kau mempunyai masalah pernafasan?”

“Entahlah… Kalau aku naik tangga, nafasku menjadi sesak”. Hye Rim heran dan bertanya ada apa dengan Soo Hyun, Soo Hyun terlihat aneh. Tapi Soo Hyun mengatakan ia tidak kenapa-napa dan mengatakan akan menutup telponnya.

Tak lama, sebuah pesan teks masuk ke ponsel Soo Hyun dan Soo Hyun mencoba menghubungi Yoo Rim. Sayangnya seperti yang sudah dikatakan oleh Hye Rim, telpon Soo Hyun tidak tersambung.

Soo Hyun kembali berpikir dan berusaha meyakinkan diri sendiri kalau Seung Chan hanya bermain-main dengannya. Tapi sesaat kemudian, wajah Soo Hyun berubah serius lagi, dan memutuskan untuk menghubungi entah siapa, mungkin juga dokter yang ia kenal, menanyakan tentang detail penyakit idiopathic pulmonary fibrosis, tentang obat yang ternyata belum ditemukan, tentang hanya transplantasi paru-paru satu-satunya jalan saat ini, lalu tentang rentang waktu yang dimiliki oleh penderita idiopathic pulmonary fibrosis, dan penyebab kematian yang umum terjadi pada penderita idiopathic pulmonary fibrosis.

Soo Hyun langsung ke kamar Seung Chan dan membangunkan Seung Chan yang sedang tidur. Soo Hyun memberitahukan bahwa ia sudah menemukan pengobatan yang sedang diujicoba untuk penyakit Hye Rim di Eropa.

“Penyakit apa?”, Seung Chan sendiri lupa… 😛

Soo Hyun mengatakan ada obat yang bisa memperlambat efek dari penyakit Hye Rim dan ia ingin Seung Chan memberitahukan itu pada Yoo Rim. Seung Chan mendengus, menertawakan Soo Hyun yang sampai tidak tidur karena mencari informasi tentang penyakit Hye Rim.

Soo Hyun membantah, menurutnya yang aneh adalah Seung Chan. Di saat seperti ini, Seung Chan masih bisa tidur, padahal Seung Chan menyukai Hye Rim.

Seung Chan akhirnya bangun dan berbicara serius pada Soo Hyun. “Lihat? Kau mengerti sekarang? Itu membuktikan seberapa banyak kau menyukainya..”.

Soo Hyun merasa itu bukan hal yang penting dibicarakan saat ini. Seung Chan tersenyum dan meminta maaf karena ia sudah membohongi Soo Hyun.

Soo Hyun terdiam sesaat, namun kemudian ia mencari-cari sesuatu dan menemukan tongkat pemukul bisbol, siap mengayunkannya ke Seung Chan. Seun Chan cepat-cepat mencegah Soo Hyun dan meminta maaf lagi, ia melakukan ini karena ia ingin tau perasaan Soo Hyun yang sebenarnya. “Dan sekarang, kau menyadari bagaimana perasaanmu padanya, kan?”.

Soo Hyun terdiam dan menurunkan tongkat pemukul bisbol. Seung Chan meminta Soo Hyun untuk menghentikan eksperimen itu karena eksperimen itu dengan sendirinya hancur di saat Soo Hyun memiliki perasaan pada Hye Rim.

“Tidak. Aku tidak bisa melakukannya”, putus Soo Hyun dan kemudian keluar dari kamar Seung Chan.

Soo Hyun terus memikirkan ucapan Seung Chan tadi. Soo Hyun teringat saat Hye Rim menangis di depan istri mantan suaminya saat ia harus merelakan Do Kyung tinggal bersama keluarga mantan suaminya… lalu saat mereka berdua nonton film di luar kafe, lalu saat ia menghapus sisa saos yang menempel di bibir Hye Rim dan lalu saat ia menyentuh wajah Hye Rim yang sedang tidur di dalam sel penjara.

Akhirnya Soo Hyun terpaksa mengakui bahwa ucapan Seung Chan tadi memang benar. Ia memang mulai memiliki perasaan pada Hye Rim. Dan Soo Hyun memutuskan mudur dari eksperimennya. Di dalam catatan eksperimennya, ia menuliskan tentang mulai timbulnya sinyal berbahaya di dalam otaknya, hormon mengerikan yang akan mengahncurkan eksperimen sudah mulai diproduksi dan ia sudah kehilangan haknya sebagai Subjek Pria A, oleh sebab itu, ia tidak akan menjadi bagian dari eksperimen lagi.

Di dalam catatannya, Soo Hyun juga menuliskan tentang perubahan perannya menjadi pengawas eksperimen, yang walaupun terlambat tapi ia tetap harus melakukannya demi menjaga reputasinya sebagai psikolog.

Di dalam catatannya itu, Soo Hyun juga menuliskan bahwa ia akan menjauh dari Go Hye Rim, tidak akan melihat wajah Hye Rim lagi. Out of Sight, out of mind, hanya itu jalan keluarnya, tutup Soo Hyun dalam catatannya.

Keesokan harinya, Soo Hyun datang ke klinik dan meminta Seung Chan dan Ji Ho mengikutinya. Soo Hyun mengatakan di dalam eksperimen kadang terjadi sesuatu yang tidak terduga dan eksperimennya harus diulang kembali. Soo Hyun memberitahukan bahwa ia keluar dari eksperimen itu.

Ji Ho dan Seung Chan kaget. Seung Chan terlihat senang dengan keputusan Soo Hyun. Menurutnya, ekperimen akan berjalan baik-baik saja walaupun hanya dengan ia dan Ji Ho saja. Tapi Soo Hyun tidak berpikir seperti itu, ia meminta Ji Ho mencari kandidat Subjek Pria A yang lain untuk menggantikannya.

Seung Chan ingin protes, tapi Soo Hyun tidak mau menanggapinya. Ia hanya minta dipanggilkan Hye Rim ke ruangannya.

Soo Hyun langsung menyodorkan surat pemberhentian kontrak Hye Rim di klinik. Hye Rim tentu saja bingung. Soo Hyun mengatakan ia ingin Hye Rim berhenti menjadi konsultan di kliniknya. Hye Rim masih belum mengerti, kenapa ia harus melakukan itu.

Soo Hyun beralasan karena ia sudah menerima proyek yang lain sejak sebulan yang lalu dan kemudian Soo Hyun berusaha menggambarkan betapa sibuknya ia di dalam proyek barunya itu. Mendengar itu, Hye Rim menganggap, itu artinya Soo Hyun akan semakin sibuk dan apa yang akan terjadi pada klinik jika ia juga berhenti.

Soo Hyun beralasan ia memerlukan konsentrasi dalam bekerja. Setelah konseling Sung Oh selesai, ia berencana menutup klinik, jadi ia tidak membutuhkan karyawan lagi.

“Kalau begitu, dimana kau akan bekerja?”, tanya Hye Rim, masih bingung dan shock.

“Aku akan membuka kantor baru…”, sahut Soo Hyun, mencoba santai.

Hye Rim berusaha membujuk Soo Hyun untuk tetap berkantor di sana tapi Soo Hyun beralasan ia perlu tempat yang tenang dan keadaan itu tidak bisa ia dapatkan dengan adanya kafe di lantai 1. “Apa kafeku seberisik itu?”, tanya Hye rim lagi, mulai marah.

Soo Hyun kembali beralasan ia butuh ketenangan dan kondisi psikis yang stabil sangat penting baginya dalam menjalankan proyeknya, ia tidak ingin ada interaksi dengan yang lainnya.

“Siapa sebenarnya ‘yang lain’?”, tanya Hye Rim lagi. Hye Rim menduga yang dimaksud ‘yang lain’ dan ‘berisik’ itu adalah dirinya. “Apa aku pengganggu bagimu?”, tanya Hye Rim lagi. Soo Hyun mengatakan Hye Rim mulai menjadi pengganggu untuknya mulai sekarang.

Tentu saja Hye Rim tidak terima dituduh seperti itu. Menurutnya, Soo Hyun lah yang pertama kali mengganggunya bekerja, Selalu mengajaknya pergi membeli makanan dan tas saat ia sedang bekerja. Soo Hyun beralasan itu terjadi sebelum ia terlibat di proyeknya yang baru.

“Jadi, saat kau tidak sedang sibuk kau bebas mengganggu orang lain? Dan saat kau sedang sibuk kau bebas melempar dan meninggalkan orang lain begitu saja? Aku tau kau tipe orang yang melakukan sesukamu tapi aku tidak berpikir kau separah ini…”, omel Hye Rim.

Soo Hyun berusaha memberi alasan lagi tapi Hye Rim kembali memotong, menuntut penjelasan sejelas-jelasnya dari Soo Hyun. Hye Rim bahkan mengungkit tentang Soo Hyun yang dengan sengaja merusak scooter Seung Chan agar bisa masuk penjara bersamanya.

Soo Hyun terdiam, tak berkutik, kalah berdebat dengan Hye Rim. Hye Rim meminta Soo Hyun berhenti menjadikan proyek sebagai alasan, ia ingin Soo Hyun mengatakan alasan yang sejujurnya. Hye Rim bahkan meminta Soo Hyun menatap matanya dan berbicara.

Soo Hyun menatap Hye Rim sesaat dan mengalihkan pandangannya lagi. Soo Hyun tetap pada alasannya yang sebelumnya, ia mengatakan itu hanya caranya bekerja, ia tidak ingin berinteraksi dengan orang lain.

Soo Hyun tidak ingin meneruskan perdebatannya dengan Hye Rim dan cepat-cepat mengambil pulpen, menyuruh Hye Rim menandatangani surat pemberhentian kontrak. Tapi Hye Rim tetap menolak, ia merasa Soo Hyun tidak berhak memecatnya karena orang yang sebenarnya memberikan pekerjaan itu adalah Ketua Kim dan ia menerimanya juga atas keinginannya sendiri. Hye Rim mengatakan ia akan keluar jika ia merasa waktunya sudah tepat dan disaat Soo Hyun benar-benar tidak membutuhkannya lagi.

Sebelum keluar dari ruangan Soo Hyun, Hye Rim teringat sesuatu dan menyinggung tentang Soo Hyun yang pernah bilang kalau Soo Hyun menyukainya. Soo Hyun hanya diam saja, tidak berkomentar.

Melihat Soo Hyun hanya diam, Hye Rim menduga semua ucapan Soo Hyun itu hanyalah kebohongan belaka. Lagi-lagi Soo Hyun tidak mengatakan apa pun dan berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Hye Rim.

Soo Hyu mengatakan, baginya Hye Rim adalah partner kerja yang hebat. Dan Soo Hyun pun mengulurkan tangannya, mengajak Hye Rim bersalaman. Hye Rim membenarkan ucapan Soo Hyun, mereka memang hanya partner kerja semata, mereka tidak memiliki hubungan apa pun. Hye Rim menjabat tangan Soo Hyun dan mengucapkan selamat tinggal pada Soo Hyun, tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk bertemu.

Setelah berada di luar ruangan Soo Hyun, Hye Rim mengumpat Soo Hyun bajingan.

Yoo Rim dan Ji Ho sedang berada di tempat sauna. Sepertinya Yoo Rim pergi membeli minuman sebentar dan saat kembali, ia melihat Ji Ho sudah tertidur. Yoo Rim mengawasi sekelilingnya dan mendekatkan wajahnya pada Ji Ho, memberi kecupan singkat untuk Ji Ho.

Ji Ho langsung membuka matanya. Tentu saja Yoo Rim sangat kaget dan langsung mundur ke belakang. Dengan wajah tanpa ekspresi, Ji Ho bertanya apa yang dilakukan Yo Rim, apa Yoo Rim sedang berusaha mempengaruhinya?

Yoo Rim ingin menjelaskan, tapi belum sempat mengatakan apa pun, Ji Ho malah menyuruhnya melakukan sekali lagi, karena tadi ia setengah tertidur, yang ia rasakan 20 persen lembut, 30 persen lembab, dan tidak tahu sisanya apa. Ia ingin tau sisanya itu apa, karena kalau tidak ia jadi penasaran dan akalau penasaran, ia tidak akan bisa tidur.

Yoo Rim setuju melakukannya lagi dan menyuruh Ji Ho menutup mata. “Kenapa tutup mata, bukannya kau melakukan dengan mulutmu?”, tanya Ji Ho polos.

Yoo Rim mengatakan itu untuk membangun ‘suasana hati’. Dengan begitu Ji Ho akan mengetahui 50 persen sisanya itu apa. Ji Ho setuju dan menutup matanya.

Ji Ho tersenyum senang setelah Yoo Rim melakukannya lagi dan kemudian mengatakan akan mencobanya pada Hye Rim. Ji Ho langsung pergi begitu saja, meninggalkan Yoo rim yang kesal sendiri… 😀

Hye Rim menemukan diari yang ditulis Soo Hyun di atas meja bar kafenya. Hye Rim membacanya, di salah satu halaman Soo Hyun menuliskan daftar yang harus dilakukan Hye Rim, seperti tidak boleh banyak bekerja, banyak beristirahat, minum teh sitrun minimal tiga cangkir sehari, mencuci tubuh bagian bawah, memakai pakaian yang hangat… Hye Rim tersenyum senang membacanya.

Lalu wajah Hye Rim berubah kesal, karena saat membalik halaman-halaman berikutnya, yang ia temukan hanyalah kertas kosong. Hye Rim melempar buku diari itu dan mengatai tulisan Soo Hyun yang jelek… 😀

Tiba-tiba Seung Chan turun dari klinik dan mengajak Hye Rim bermain basket. Dengan tidak semangat, Hye Rim menolak ajakan Seung Chan. Seung Chan berusaha membujuk Hye Rim, olahraga adalah hal yang terbaik dilakukan saat suasana hati sedang tidak baik.

Lagi-lagi Hye Rim menolak, ia merasa tidak akan bisa mengalahkan Seung Chan. Seung Chan bilang mereka tidak akan main serius, ia akan menghitung skor untuk Hye Rim jika Hye Rim bisa merebut bola darinya.

Hye Rim masih ogah-ogahan tapi Seung Chan sudah mulai mendribble bola. Hye Rim akhirnya tersenyum dan ikut bermain basket. Awalnya Hye Rim gagal merebut bola dari Seung Chan dan Seung Chan berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Hye Rim merebut bola dengan sedikit mendorong Seung Chan, Hye Rim tertawa senang. Hye Rim berusaha memasukkan bola ke dalam ring tapi gagal.

Seung Chan mengambil bola dan Hye Rim berhasil merebutnya kembali. Saat Hye Rim akan memasukkan bola ke dalam ring, Seung Chan mengangkat Hyye Rim sehingga Hye Rim bisa memasukkan bola dengan mudah ke dalam ring.

“Slam dunk!! Aku menang…”, teriak Hye Rim senang.

Selesai bermain basket, Seung Chan mencuci wajahnya di wastafel kamar mandi. Hye Rim datang dengan membawakan handuk. Sebagai ungkapan rasa terima kasih karena Seung Chan sudah membuat moodnya kembali gembira, Hye Rim membantu mengelap wajah Seung Chan. “Menyenangkan ‘kan rasanya tidak perlu memakai tanganmu?”, tanya Hye Rim.

Seung Chan mengangguk senang, ia bahkan menggoda Hye Rim, meminta Hye Rim mengambil alat cukur…

Setelah itu, mereka pergi ke tempat minum. Hye Rim minum sampai mabuk, tidak peduli Seung Chan yang menyuruhnya berhenti minum. Seung Chan merasa ini tidak akan baik dan memberitahukan Hye Rim kalau ia akan pergi ke apotik untuk membeli obat untuk Hye Rim.

Tak lama setelah Seung Chan pergi, ponsel Seung Chan bergetar. Di layar tertulis, ‘Kakak Brengsek’.

Hye Rim mengambil ponsel Seung Chan dan menebak-nebak siapa kakak brengsek yang dimaksud Seung Chan, apa itu Soo Hyun? Hye Rim mendadak kesal. “Suasana hatiku sudah membaik, kenapa kau malah menelpon?”, gerutu Hye Rim. Hye Rim pun mengangkat telpon itu.

“Kau bersama Go ye Rim, kan? Aku tahu kalian berdua pergi minum-minum”, semprot Sooo Hyun begitu mendengar telponnya diangkat.

“Benar. Memangnya apa hubungannya denganmu?”, jawab Hye Rim di seberang telpon. Wajah Soo Hyun langsung berubah kaku. Hye Rim memanggil Soo Hyun bajingan dan mengomeli Soo Hyun di telpon. Hye Rim menyuruh Soo Hyun mengganti namanya dari Choi Soo Hyun menjadi Choi Pertama. Karena Soo Hyun yang pertama mengatakan menyukainya, pertama kali mengajaknya makan, pertama kali mengajaknya ke tempat yang menyenangkan dan sekarang juga yang pertama kali mengucapkan selamat tinggal.

Hye Rim mengatai Soo Hyun egois dan tidak akan membiarkan Soo Hyun melakukannya lagi. Kali ini ia yang pertama mengatakan ia sibuk dan mengucapkan selamat tinggal pada Soo Hyun.

Setelah mengatakan semua itu, Hye Rim pun langsung memutuskan telponnya.

Seung Chan menggendong Hye Rim pulang ke klinik. Di sana Soo Hyun sudah menunggu mereka. Soo Hyun memarahi Seung Chan yang sudah membuat Hye Rim sangat mabuk. Seung Chan tidak mengerti bagaimana Soo Hyun bisa tahu. Soo Hyun mengatakan tadi ia menelpon dan Hye Rim yang sudah mabuk mengangkat telponnya. Ia berpikir Hye Rim tidak akan bisa pulang, jadi…

“Kau begitu khawatir, kau sangat menyukainya, kan?”, tukas Seung Chan.

Soo Hyun membantahnya, ia khawatir hanya karena Hye Rim itu mempunyai tingkat toletransi yang tinggi terhadap alkohol tapi Seung Chan bisa membuat Hye Rim sampai tidak sadar. Soo Hyun mengancam jika Seung Chan melakukan ini sekali lagi, ia berjanji akan mengeluarkan Seung Chan dari eksperimen.

Seung Chan tertawa, ia yakin Hye Rim akan baik-baik saja karena Hye Rim minum dalam suasana hati yang baik. Soo Hyun agak kaget dan seperti tidak percaya. “Jadi kau pikir dia akan menangisimu atau apa?”, tanya Seung Chan, menggoda kakaknya.

Seung Chan bahkan mengatakan mereka bermain 3-6-9 dan permainan kejujuran. Seung Chan mengatakan ia sangat senang, berkat permainan itu ia jadi tahu perasaan Hye Rim.

Soo Hyun langsung terlihat antusias dan penasaran, apa perasaan Hye Rim yang sebenarnya. “Itu rahasia. Tapi yang terpenting ia tidak peduli padamu”, sahut Seung Chan lagi.

Soo Hyun hanya menelan ludahnya. Seung Chan menyuruh Soo Hyun pulang duluan karena ia akan mengantar Hye Rim ke atas. Soo Hyun terlihat kesal… Hihihi…

Soo Hyun menambahkan lagi catatan di catatan eksperimennya, kali ini dengan wajah kesal. Ia menuliskan sudah satu hari sejak ia mengundurkan diri dari eksperimen dan sepertinya Hye Rim tidak terpengaruh dengan hal itu dan itu diluar perkiraannya. Dan yang paling mengesalkan adalah Seung Chan yang terlihat lebih bahagia dengan kenyataan itu.

Tiba-tiba Ji Ho masuk dan menyodorkan data kandidat pria yang akan menggantikan Soo Hyun.

Mereka pergi ke sebuah klub untuk melihat pria yang dimaksud oleh Ji Ho. Mereka melihat pria itu sedang memainkan piano di atas panggung kecil. Ji Ho menjelaskan bahwa pria yang dipilihnya itu berusia 35 tahun dan seorang dokter ahli bedah plastik, pria itu sering bermain piano di klub untuk mengisi waktu luangnya. Menurut Ji Ho, pria itu adalah sosok yang romantis dan bahkan ada tiga orang wanita yang selalu datang ke klub khusus untuk menonton pria itu bermain piano.

Ji Ho mengatakan pria itu terus saja menolak tapi ia hampir bisa meyakinkan pria itu.

Pria itu sudah selesai bermain piano dan menoleh ke arah tempat Ji Ho dan Soo Hyun duduk. Ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ji Ho membalasnya, sementara Soo Hyun hanya mengangguk sedikit dan tersenyum masam.

Soo Hyn menolak pilihan yang disodorkan Ji Ho. Menurutnya pria itu terlihat playboy, ditambah lagi dengan bisa bermain piano, kemampuan itu semakin menunjukkan bahwa pria itu jelas-jelas playboy. Ji Ho memberi alasan, pria itu sudah bermain piano sejak kecil dan karena memiliki klinik sendiri, pria itu memiliki waktu luang yang banyak untuk bermain piano…

Tapi Soo Hyun tetap pada keputusannya. Ia juga tidak suka dengan nama pria itu. Joon, seperti nama orang jaman 70-an. Soo Hyun juga tidak menyukai tingkah pria itu, yang menurutnya sok keren. “Apa dia pikir ini hanya permainan?”, gerutu Soo Hyun dan ngeloyor pergi.

Bersambung…

[Sinopsis Madame Antoine Episode 6 Part 2]

Leave A Reply

Your email address will not be published.