Sinopsis Madame Antoine Episode 6 Part 2

0

[Sinopsis Madame Antoine Episode 6 Part 1]

 

Sinopsis Madame Antoine Episode 6 Part 2

Sung Oh datang lagi ke klinik. Kali ini ia melakukan sesi konsultasi dengan Profesor Bae. Profesor Bae memberikan beberapa lembar kertas yang harus dijawab oleh Sung Oh. Profesor Bae memberikan contoh, ‘Teman sejati adalah…’. Profesor Bae menanyakan apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran Sung Oh.

“Jang Ki Hoon”, jawab Sung Oh. Sung Oh mengatakan itu adalah nama teman baiknya.

Profesor Bae membenarkan, tapi ia menambahkan, akan lebih baik jika Sung Oh mengisi dengan kata sifat atau perasaan Sung Oh daripada sebuah nama.

Selagi Sung Oh bersama dengan Profesor Bae, Soo Hyun memanfaatkan kesempatan itu untuk memeriksa rumah Sung Oh. Ia mengajak Ji Ho. Menurut Soo Hyun, melihat rumah seseorang sama seperti melihat jendela hati seseorang. Untuk menghadapi kasus seperti Sung Oh yang tidak mau banyak bicara, mengintip rumahnya akan sedikit membantu. Soo Hyun meminta Ji Ho memeriksa dengan teliti.

Sementara itu. Sung Oh membaca pertanyaan-pertanyaan di halaman pertama dan tidak menjawabnya satu pun. Sung Oh melewatinya dan pindah ke halaman ke dua. Profesor Bae memperhatikan Sung Oh, tapi tidak berkomentar.

Soo Hyun dan Ji Ho masuk ke kamar Sung Oh. Soo Hyun melihat banyak poster film di sana. Soo Hyun bertanya apa yang dipikirkan Ji Ho melihat poster-poster film itu. “Aku tidak tahu”, jawab Ji Ho jujur. Soo Hyun menyuruh Ji Ho belajar lebih banyak lagi…. Hahaha… Poor Ji Ho…

Di halaman kedua, setelah melewati banyak pertanyaan, Sung Ho mengisi pertanyaan yang menanyakan apa yang paling ingin dilakukan Sung Ho tidak peduli apa pun itu. Sung Ho menjawab, tidak ada.

Lalu pertanyaan selanjutnya, suatu kesalahan yang sepertinya pernah dilakukan Sung Ho waktu kecil, dan Sung Ho menjawab, tidak ada.

Sung Oh pindah ke halaman ke tiga, melewati beberapa pertanyaan dan tiba di pertanyaan, kenangan terkuat saat masih kecil. Sung Oh menatap Profesor Bae sejenak dan Profesor Bae tersenyum, mencoba menguatkan Sung Oh. Dan Sung Oh pun mengisi, Cahaya matahari yang bersinar melewati celah-celah pintu lemari.

Soo Hyun membuka lemari pakaian Sung Oh dan melihat ada sebuah bantal di sana. Soo Hyun menutup kembali pintu lemari. Lalu Soo Hyun memperhatikan karakter film yang dipajang di rak di kamar Sung Oh.

Tak lama, Profesor Bae menelpon dan mengatakan sesuatu, mungkin itu tentang lemari pakaian. Soo Hyun melihat ke arah lemari pakaian dan mengatakan ia mengerti.

Hye Rim turun dari lantai 3 dan kebetulan berpapasan dengan Ji Ho yang sedang membawa sebuah kardus kecil. Hye Rim menanyakan apa yang dilakukan Ji Ho. Ji Ho mengatakan Soo Hyun menyuruhnya mulai berkemas-kemas dan Soo Hyun memintanya untuk memindahkan barang-barang yang penting terlebih dahulu.

Hye Rim bertanya apa klinik benar-benar akan ditutup. Ji Ho membenarkan tapi ia meminta Hye Rim tidak khawatir karena ia akan sering datang untuk mengunjungi Hye Rim. Kemudian, Ji Ho pun turun ke lantai 1, meninggalkan Hye Rim yang tiba-tiba menjadi sedih sendiri.

Hye Rim menatap ke arah ruang kerja Soo Hyun, teringat saat pertama kalinya Soo Hyun mengatakan bahwa ia tertarik padanya, lalu teringat saat Soo Hyun nedorongnya ke dinding, saat Soo Hyun menyentuh tangannya ketika memberikan bluetooth ketika akan memberikan sesi konsultasi untuk Ma Ri, saat itu Soo Hyun juga mengatakan ia cantik.

Hye Rim mulai menangis dan menyalakan ponselnya, melihat foto Soo Hyun dengan ceker ayam di mulutnya… Bhuahaha…

Hye Rim tertawa pahit. Sesaat kemudian Hye Rim tersadar dan segera menghapus air matanya.

Sung Ho melakukan sesi konsultasi dengan Soo Hyun. Soo Hyun menanyakan tentang karakter yang ada di kamar Sung Oh, apa Sung Oh menyukai film Star Wars? Adegan apa yang paling disukai Sung Oh?

Semuanya, jawab Sung Oh..

Soo Hyun mengatakan adegan yang paling ia sukai dan alasan ia menyukai tokoh itu (mian.. agak kurang ngerti di sini karena sy sama sekali ga suka dan ga berniat nonton Star Wars..). Soo Hyun mengatakan ia menyukai saat Darth Vader membuka identitas aslinya, saat Darth Vader mengatakan ‘I am your father’.

Sung Oh mengatakan ia tidak menyukai Darth Vader karena Darth Vader itu jahat. Soo Hyun menyimpulkan karena itulah Sung Oh tidak memiliki karakter Darth Vader di pajangannya. Sung Oh diam saja.

Lalu Soo Hyun mengajak Sung Oh berpura-pura menjadi produser film Star Wars, menurut Sung Oh kira-kira kenapa Sung Oh membuat Darth Vader menjadi jahat. Sung Oh kembali diam, tidak mau menjawab pertanyaan Soo Hyun.

Soo Hyun tidak peduli dan tidak memaksa Sung Oh menjawab pertanyannya. Ia menyuruh Sung Oh melakukan yang Sung Oh suka. Karena sesi konsultasi belum selesai, Soo Hyun memilih untuk menghabiskannya dengan membaca buku.

Cukup lama Soo Hyun hanya membaca buku, kurang lebih 10 menit. Tepat jam 4 sore, Soo Hyun menutup bukunya dan mengatakan pada Sung Oh bahwa konsultasi mereka sudah selesai. Sung Oh bingung, Soo Hyun memebenarkan, sudah tepat satu jam. Soo Hyun menyuruh Sung Oh membayar biaya konsultasi di kasir sebesar 70.000 won sebelum Sung Oh pulang.

“Tapi kau tidak mengatakan apa pun…”, protes Sung Oh. Soo Hyun menjelaskan bahwa ia hanya orang yang mencoba membantu Sung Oh tapi kalau Sung Oh tidak mengatakan apa pun, ia tidak bisa membantu Sung Oh.

Saat Soo Hyun pamit pergi, Sung Oh baru mau bercerita. Dengan cepat, Soo Hyun kembali duduk di depan Sung Oh, sebelum Sung Oh berubah pikiran. Soo Hyun menatap Sung Oh serius.

Sung Oh menceritakan, ayahnya adalah seorang pemabuk berat. Setiap malam, ayahnya selalu pulang dalam keadaan mabuk berat dan membangunkan ia dan kakak-kakaknya, tidak peduli mereka sudah tidur. Kemudian ayahnya membariskan mereka dan mulai bertanya satu per satu, kelas apa yang mereka ikuti hari itu. Jika mereka ragu menjawabnya bahkan walaupun hanya satu detik, ayah langsung menampar mereka.

“Kakak laki-lakiku… kakak perempuanku… dan aku juga…”, cerita Sung Oh. “Setiap hari seperti mimpi buruk. Aku akan takut dan tidak bisa tidur, aku selalu bertanya-tanya kapan ayahku akan pulang, ketika pintu dibuka, kakiku langsung gemetar…”.

Sung Ho bercerita, ia mencoba bersembunyi di dalam lemari pakaian, tapi itu tidak ada gunanya karena ayahnya pasti akan mencari sampai dapat dan kemudian memukuli mereka. Jika ayah belum puas, ayah akan pergi ke dapur dan memukuli ibu, menyalahkan ibu karena mendidik mereka dengan buruk.

Sung Ho menangis dan mengatakan sejak saat itu ia menjadi benci pergi ke sekolah dan membenci kotak makan, ia bahkan membenci pertanyaan mata pelajaran yang ia suka. “Aku ingin membunuh ayahku…”, ucap Sung Oh.

Soo Hyun menatap Sung Oh penuh simpati. Sung Oh mengatakan lagi kalau ayahnya meninggalkan rumah tepat disaat usianya 20 tahun, ia sama sekali tidak bisa memaafkan ayahnya.

Sung Ho duduk sendirian di depan sebuah rumah sakit. Terdengar suara Soo Hyun yang menanyakan apakah Sung Oh ingin bertemu dengan ayahnya walaupun sekali saja. “Tidak”, sahut Sung Oh tegas. Soo Hyun mengatakan ia tidak meminta Sung Oh untuk memperbaiki hubungan Sung Oh dengan ayahnya, tapi ia ingin Sung Oh melakukan itu demi kebaikan Sung Oh sendiri. Jika Sung Ho tidak bertemu dengan ayahnya secara pribadi maka Sung Oh tidak akan mampu mengatasi traumanya itu. “Kau akan membawa beban berat ini seumur hidupmu”, ucap Soo Hyun lagi.

Sung Oh duduk di sana hingga malam hari. Soo Hyun datang menemui Sung Oh dan mereka bersama-sama menjenguk ayah Sung Oh.

Sung Oh melihat ayahnya ternyata sedang sakit berat. Sung Oh mulai terguncang apalagi di saat ia melihat ayahnya mulai batuk terus menerus dan sepertinya sesak nafas. Soo Hyun menekan bel dan tak lama seorang dokter dan suster masuk.

Saat dokter memeriksa kondisi ayahnya, Sung Oh sempat menanyakan pada dokter, kenapa ayahnya bisa seperti itu. Dokter hanya mengatakan kondisi ayah Sung Oh semakin memburuk dan meminta suster untuk terus mengawasi ayah Sung Oh. Dan kemudian dokter dan suster itu pun keluar.

Ayah Sung Oh perlahan mulai sedikit sadar dan bertanya apa itu Sung Oh. Ia meminta maaf pada Sung Oh. Sung Oh jadi emosi dan histeris, mempertanyakan kenapa ayahnya minta maaf. Sung Oh menyuruh ayahnya untuk tidak berakting menyedihkan di depannya, karena ia tetap tidak akan memaafkan ayahnya.

Ayah Sung Oh kembali terbatuk-batuk, kali ini bahkan mengeluarkan darah dari mulutnya. Sung Ho menangis, meraung-raung hingga terduduk di lantai, berteriak tidak akan pernah memaafkan ayahnya.

Hye Rim menonton film horor sendirian, dengan ekspresi marah. Yoo Rim datang dan langsung menanyakan apakah Ji Ho mencium Hye Rim. Hye Rim tidak menjawab dan hanya mendengus. Benarkah?”, tanya Yoo Rim, ingin memastikan lagi.

Hye Rim menyuruh Yoo Rim berhenti bicara hal yang konyol. Yoo Rim duduk di sampaing Hye Rim dan menanyakan perasaan Hye Rim pada Ji Ho. “Apa mungkin kau melihatnya sebagai seorang pria…”.

Hye Rim langsung mengambil bantal dan memukulkannya ke kepala Yoo Rim. “Kau bisa memakai kata-kata! Kenapa memukulku!”, marah Yoo Rim.

Yoo Rim pun pergi. Tapi sebelum itu, ia mengomentari Hye Rim yang tumben-tumbenan nonton film horor, biasanya Hye Rim takut dan hanya nonton film romantis. Tapi menurutnya ini lebih baik, daripada Hye Rim terus mengeluh saat nonton film romantis.

Hye Rim langsung emosi dan berteriak, “Kau bilang apa? Apa kejahatan menonton film romantis?”. Yoo Rim jadi ikut emosi, karena menurutnya reaksi Hye Rim terlalu berlebihan. Sebelum pergi, Yoo Rim kembali menyinggung tentang Ji Ho. Tapi belum selesai Yoo Rim bicara, Hye Rim sudah melemparnya lagi dengan bantal. Terpaksa Yoo Rim benar-benar pergi sekarang… πŸ˜›

Ji Ho menemukan seorang kandidat lain dan mengajak Soo Hyun menemui kandidat itu. Ji Ho menjelaskan bahwa kandidat kali ini adalah seorang CEO perusahaan game dan sudah mengembangkan game sejak umur 23 tahun. Ji Ho menduga pria itu memiliki banyak bangunan di Gangnam dan sangat kaya.

Soo Hyun tidak percaya. Menurutnya bisa jadi pria itu punya banyak hutang hipotek, seharusnya pria itu hanya fokus pada perusahaan saja, kenapa juga harus membeli bangunan…, gerutu Soo Hyun.

Saat bertemu dengan pria itu, pria itu langsung mengamati Soo Hyun dan menyamakan Soo Hyun dengan karakter elf. Soo Hyun yang dari tadi sudah tidak suka, semakin tidak suka, apalagi ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan pria itu.

Pria itu menebak Soo Hyun tidak pernah bermain game hingga tidak mengerti dengan apa yang dibicarakannya. Lalu ia menawarkan minuman dengan cangkir bergambar karakter yang sesuai dengan Soo Hyun. Soo Hyun mengatakan ia hanya tau Mickey Mouse saja… Bhuahaha.. Pria itu mengatakan selera Soo Hyun kuno dan memutuskan untuk memberikan cangkir Legolas untuk Soo Hyun dan Aragorn untuk Ji Ho.

Setelah pria itu pergi untuk mengambil minuman, Soo Hyun mengatakan keberatannya pada Ji Ho. Menurutnya, pria itu terlalu santai, tidak sesuai dengan eksperimen mereka. Ji Ho merasa itu bukan santai, tapi menyegarkan.

Soo Hyun tidak peduli, ia juga tidak suka dengan penampilan pria itu, mirip seperti Steve Jobs, palsu dan tidak tulus. Soo Hyun memutuskan tidak dan langsung pergi. Ji Ho hanya bisa mendesah, cape deh… hihi…

Yoo Rim berdiri di depan kafe, menunggu Ji Ho pulang. Begitu melihat Ji Ho, Yoo Rim langsung mendekat. Yoo Rim menyinggung tentang Ji Ho yang belum mencium kakaknya dan kakaknya tidak melihat Ji Ho sebagai pria. Ji Ho mengatakan ia akan melakukannya sekarang. Yoo Rim kaget dan langsung menahan Ji Ho, melarang Ji Ho melakukannya dengan berbagai alasan.

Dan akhirnya Yoo Rim pun berhasil mencegah Ji Ho. Ia bahkan berhasil melakukan satu pendekatan lagi pada Ji Ho. Sayangnya, Ji Ho masih saja tidak sadar kenapa Yoo Rim melakukan semua itu.

Ji Ho menemukan kandidat lain dan mereka dalam perjalanan menemuinya. Kandidat itu adalah seorang profesor teknik mesin. Soo Hyun agak keberatan, karena seorang profesor terdengarnya seperti kutu buku.

“Kau sendiri seorang profesor”, sahut Ji Ho. Soo Hyun tidak berkutik. Hehe… Soo Hyun mengometari bibir Ji Ho yang bengkak. Ji Ho hanya mengatakan seseorang yang melakukan itu padanya. Ji Ho tidak menjelaskan lagi dan mengalihkannya dengan mengatakan kalau mereka sudah sampai.

Soo Hyun dan Ji Ho tiba di ruangan kandidat yang dimaksud oleh Ji Ho. Kandidat itu memperkenalkan diri sebagai Jo Won Gook. Soo Hyun sempat menanyakan alasan Won Gook mau berpartisipasi dalam eksperimennya.

Won Gook mengatakan ia sedang terlibat dalam proyek rekayasa mesin dengan menggunakan prinsip psikologis. Ia merasa dalam proyekanya itu penting memahami bagaimana wanita berpikir. Oleh sebab itulah ia bersedia ikut dalam proyek itu.

Soo Hyun menatap Won Gook dan merasa Won Gook adalah kandidat yang tepat. Dan ia pun setuju Won Gook bergabung dalam eksperimennya.

Won Gook masuk ke dalam kafe dan memilih duduk di meja tempat biasanya Hye Rim meramal. Hye Rim menemui Won Gook dan menanyakan apakah Won Gook akan memesan sekarang atau menunggu temannya. Won Gook mengatakan ia datang sendirian dan sebenarnya ia datang karena mendengar di kafe ini ia bisa diramal.

Hye Rim tersenyum senang dan memperkenalkan dirinya sebagai orang yang biasa memberi ramalan.

Sementara itu, Soo Hyun mondar-mandir dengan gelisah di ruang kerjanya. Penasaran apakah Won Gook sudah bertemu dengan Hye Rim atau belum. Soo Hyun memutuskan mengirimkan pesan untuk Won Gook.

Isinya : Apa kau sudah bertemu dengan Go Hye Rim?

Won Gook menanyakan nama Hye Rim dan Hye Rim mengatakan ‘Go Hye Rim’. Won Gook agak kaget, ia mendengar tentang tentang Hye Rim yang meramal, tadinya ia pikir akan bertemu dengan wanita yang tua tapi ternyata Hye Rim masih muda.

Hye Rim tersenyum senang mendengar pujian Won Gook. Ia menanyakan ramalan apa yang diinginkan oleh Won Gook. Won Gook terlihat berpikir. “Kau ingin ramalan conta, bukan?”, tebak Hye Rim.

“Bagaimana kau bisa tau?”.

Hye Rim mengatakan ia tidak tahu tapi Madame Antoine yang memberitahukannya. Hye Rim memulai aksinya, menutupi wajahnya dengan kipas dan mulai berbicara dengan bahasa perancis. Ternyata, tidak disangka-sangka Won Gook bisa berbahasa Perancis.

Hye Rim menutupi rasa malunya dengan berbicara dalam bahasa Spanyol. Hye Rim mengatakan, ‘Halo, senang bertemu denganmu…”. Ternyata Won Gook juga bisa berbahasa Spanyol. Ia membalas sapaan Hye Rim dan memperkenalkan dirinya, Jo Won Gook.

Hye Rim tertawa dan memuji Won Gook yang pintar berbahasa Perancis dan Spanyol. Hye Rim ingin tau apa Won Gook bisa bahasa yang lain. Won Gook mengatakan ia bisa sedikit bahasa Italia dan Jepang. Hye Rim kagum dan bertanya apa Won Gook bisa semuanya. Won Gook mengatakan ia hanya bisa dasar-dasarnya saja.

Lalu Hye Rim mencoba berbicara dalam bahasa Jerman. Won Gook terlihat tidak paham. Hye Rim mengatakan Madame Antoine berasal dari Belgia, sepertinya Madame Antoine sedang ingin bercerita tentang tempat kelahirannya.

Won Gook mengangguk-anggukkan kepalanya dan mendengar apa yang dikatakan Hye Rim. Lalu Hye Rim menebak, saat ini Won Gook sedang kesepian. “Kau tidak punya pacar, kan?”, tany Hye Rim.

Dengan jujur Won Gook mengakuinya. Hye Rim meminta Won Gook untuk tidak khawatir karena dalam waktu dekat Son Gook akan mempunyai seorang pacar yang cantik dan cerdas.

Won Gook menatap Hye Rim takjub, dan lagi-lagi bunyi pesan yang masuk mengganggunya. Pesan itu dari Soo hyun lagi, yang meminta Won Gook untuk membalas pesannya, apakah Won Gook sudah bertemu Hye Rim atau belum. Kalau sudah, bagaimana reaksi Hye Rim?

Won Gook meminta izin untuk membalas pesan dan dalam pesannya, Won Gook mengatakan ia sedang bertemu dengan Hye Rim dan akan menghubungi Soo Hyun setelah selesai.

Soo Hyun langsung marah-marah sendiri begitu membaca pesan dari Won Gook. Kesal karena Won Gook mengacuhkannya.

Hye Rim mengomentari Won Gook yang sepertinya sangat sibuk. Won Gook tertawa malu-malu, mengatakan kalau ia tidak sesibuk itu. Lalu Won Gook menyadari sesuatu dan memuji suara Hye Rim yang terdengar seperti suara nyanyian burung. Hye Rim tertawa senang, mengatakan memang banyak yang bilang begitu padanya.

Hye Rim juga balas memuji Won Gook. Menurutnya Won Gook tidak seperti akedemisi pada umumnya yang terlalu percaya diri pada dirinya sendiri. Menurut Hye Rim Won Gook terlihat begitu pemalu seperti anak muda saja. Won Gook tertawa lagi, semakin malu. Ia menganggap itu adalah pujian dari Hye Rim dan berterima kasih pada Hye Rim.

Won Gook mengatakan biasanya ia pendiam, tapi entah kenapa ia saat bersama Hye Rim…

Ucapan Won Gook kembali terpotong gara-gara bunyi pesan teks lagi. Soo Hyun lagi-lagi merecoki Won Gook. Won Gook mendesah, terlihat sedikit kesal. Soo Hyun mengirimkan pesan yang meminta Won Gook menjawab ya atau tidak.

Won Gook meminta maaf lagi pada Hye Rim dan membalas pesan Soo Hyun. ‘Aku sudah bilang akan akan menghubungimu kalau sudah selesai. Kalau kau terus mengirimiku SMS akan menjadi pengganggu.’

Won Gook meletakkan ponselnya di atas meja dengan agak kasar, sangat terlihat Won Gook kesal. Soo Hyun sendiri, bertambah marah saat membaca Woo Hyun mengatainya pengganggu. “Pengganggu? Kenapa pula aku melakukan itu pada pesertaku? Hah?”, omel Soo Hyun sendirian. Hihihi…

Hye Rim mengantarkan Won Gook hingga ke halaman kafe. Won Gook berterima kasih karena berkat Hye Rim ia merasa lebih baik. Hye Rim mengatakan tidak apa, ia hanya memberitahukan apa yang dikatakan oleh Madame Antoine. Won Gook minta izin supaya ia bisa datang lagi menemui Hye Rim.

Tentu saja Hye Rim sangat senang. Ia mengatakan jika Won Gook datang tiga kali maka yang keempatnya akan gratis. Lalu Won Gook mengajak Hye Rim nonton film. Won Gook mengatakan jika Hye Rim mau, mereka dapat menonton bersama, salah seorang direktur yang ia kenal akan memutarkan film perdananya besok hari.

Hye Rim kaget mendapat ajakan mendadak dari Won Gook, ia merasa tidak begitu yakin. Won Gook mengatakan jika Hye Rim merasa tertekan, Hye Rim bisa menolaknya. Hye Rim merasa tidak enak, ia bukannya tidak mau menonton, tapi ia merasa ini agak terlalu cepat.

Won Gook mengerti dan memberikan kartu namanya pada Hye Rim.. Ia meminta Hye Rim menghubunginya jika Hye Rim berubah pikiran. Hye Rim meng-iyakan. Dan Won Gook pun pulang.

Hye Rim menatap kartu nama Won Gook, seperti menimbang-nimbang ajakan Won Gook. Lalu Hye Rim mengambil surat pemutusan kontrak yang diberikan oleh Soo Hyun dan mendengus kesal. Hye Rim memutuskan untuk menghubungi Won Gook.

Keesokan harinya, Hye Rim menitipkan surat kontrak itu pada Ji Ho, ia berpesan agar Ji Ho memberikannya pada Soo Hyun.

Ji Ho memperhatikan Hye Rim dan memuji Hye Rim yang berdandan sangat cantik hari ini. Hye Rim mengatakan ia ada janji dengan seseorang. Ji Ho ingin tahu siapa orangnya, tapi Hye Rim hanya mengatakan ‘seseorang’.

Ji Ho berpikir dan menebak, apa mungkin itu adalah profesor yang datang kemarin?

“Hah? Bagaimana kau tahu?”, sahut Hye Rim bingung.

Tidak diperlihatkan apa jawaban Ji Ho. Scene beralih pada Ji Ho yang datang ke rumah Soo Hyun dan memberitahukan dugaannya tentang kandidat pria A pengganti Soo Hyun. Menurutnya pria itu ternyata jauh lebih baik dengan wanita dari yang mereka duga. Ji Ho memberitahukan bahwa pria itu janjian bertemu dengan Hye Rim hari ini. Soo Hyun terlihat sedikiiiiit kaget.

“Apa kita menjodohkan dengan seseorang yang terlalu baik?”, tanya Ji Ho. Soo Hyun menutupi rasa kagetnya dan mengatakan tidak apa, Hye Rim memang akan jatuh cinta dengan pria usia 30-an. “Jika dia memilihnya, maka hipotesisku…”.

“Meskipun begitu, ini terlalu mendadak…”, protes Ji Ho. “Dia berpakaian rapi dan berdandan cantik…”.

Soo Hyun menyuruh Ji Ho tenang. Yang penting sekarang adalah melakukan pengawasan yang tepat. Ji Ho tetap tidak tenang, ia mengeluhkan kenapa Soo Hyun keluar dari eksperimen, ia merasa lebih baik saat Soo Hyun yang menjadi bagian dari eksperimen, karena tidak ada kejadian besar yang terjadi.

Lalu dengan sedih, Ji Ho meletakkan amplop yang dititipkan oleh Hye Rim tadi di atas meja. Apa ini, tanya Soo Hyun. Ji Ho mengatakan ia tidak tau, Hye Rim yang menitipkan untuk memberikannya pada Soo Hyun. Kemudian Ji Ho pun pergi.

Soo Hyun membuka isi amplop dan melihat, ternyata Hye Rim sudah menandatangani surat penghentian kontrak. Soo Hyun teringat saat Hye Rim mengatakan ia yang akan memutuskan sendiri kapan akan berhenti.

Segera So Hyun menelpon Won Gook, memastikan apakah benar yang diceritakan oleh Ji Ho tadi. Sepertinya Won Gook membenarkan ia memang akan bertemu dengan Hye Rim. Soo Hyun menahan nafasnya, menahan kesal. Dengan alasan sebagai informasi yang akan ia tulis di dalam catatan eksperimennya, Soo Hyun menanyakan kapan dan dimana Won Gook akan bertemu dengan Hye Rim.

Mendnegar jawaban Won Gook, Soo Hyun mengatup giginya, menggeram marah.

Hye Rim dan WOn Gook sudah tiba di bioskop dan membeli tiket nonton. Sesaat setelah Won Gook dan Hye Rim berlalu dari depan petugas tiket, Soo Hyun muncul dengan dandanan serba hitam, memakai kaca mata hitam dan menutup wajahnya dengan lilitan syal. Soo Hyun minta diberikan tiket tepat dibelakang Won Gook dan Hye Rim.

Soo Hyun melihat Hye Rim yang masuk ke dalam bioskop sambil tertawa-tawa bersama Won Gook. Soo Hyun mengetuk meja petugas tiket dengan tidak sabar. Hihihi…

Hye Rim dan Won Gook sudah berada di dalam bioskop dan tak lama Soo Hyun masuk dan duduk di belakang mereka. Hye Rim kaget mengetahui sutradara film yang mereka tonton adalah kenalannya Won Gook. Won Gook membenarkan, ia dan sutradara itu sama-sama ikut klub film saat di perguruan tinggi.

Hye Rim semakin senang, ia juga ikut klub drama saat kuliah dulu. Won Gook sangat senang, ternyata mereka punya kesamaan…

Belum sempat Won Gook menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba seseorang menendang kursi Won Gook. Won Gook dan Hye Rim kaget, refleks menoleh ke belakang. Secepat kilat, Soo Hyun menunduk, menyembunyikan dirinya.

Hye Rim dan Won Gook meneruskan obrolan mereka. Won Gook menanyakan film kesukaan Hye Rim. “Love Actually”, jawab Hye Rim. Won Gook kembali mengatakan itu juga film kesukaannya. Hye Rim hampir saja berteriak senang, tapi Soo Hyun kembali berbuat ulah, menyenggol kursi Hye Rim dengan keras dan kemudian langsung pergi… Bhuahahha…

Selesai menonton, Won Gook mengajak Hye Rim ke sebuah restoran. Won Gook terlihat sangat gentle dalam memperlakukan Hye Rim. Tak lama, Soo Hyun juga ikut masuk ke dalam restoran itu, duduk tidak jauh dari meja Hye Rim dan Won Gook.

Soo Hyun melihat Won Gook seperti menceritakan sesuatu dan Hye Rim terus tertawa-tawa. Soo Hyun kesal dibuatnya.

Saat pelayan mengantarkan kopi pesanan Won Gook dan Hye Rim, Soo Hyun berdiri dan berjalan melewati pelayan sambil menyenggolnya dan membuat kopi tumpah di celana Won Gook.

Selesai minum, Won Gook meminta bill pada pelayan. Saat pelayan melewati Soo Hyun, Soo Hyun juga memberi isyarat meminta bill pada pelayang tersebut. Pelayan mengernyit aneh melihat dandanan Soo Hyun.

Soo Hyun tidak peduli, ia tetap fokus pada Hye Rim dan Won Gook. Ia masih saja mendengar Hye Rim yang tertawa-tawa senang mendengar cerita Won Gook. Soo Hyun sangat kesal dan melipat tangannya di dada… Hihihi…

Selesai membayar bill, Won Gook dan Hye Rim cepat-cepat pergi dari restoran dan masuk ke dalam lift. Soo Hyun juga buru-buru memberikan tanda tangannya pada bill dan mengejar Won Gook dan Hye Rim. Sayangnya, Soo Hyun terlambat masuk lift karena menabrak dua orang wanita yang tiba-tiba keluar dari sebuah pintu, mungkin dari toilet.

Soo Hyun kesal dan memutuskan turun melalui tangga. Soo Hyun berlari menuruni tangga dan berhasil melihat Won Gook dan Hye Rim sesaat sebelum mereka keluar dari restoran.

Soo Hyun terus mengikuti Won Goo dan Hye Rim hingga ke jalan. Won Gook dan Hye Rim sepertinya tau ada yang mengikuti mereka dan mereka berusaha bersikap tenang tapi jalan mereka sangat cepat.

Won Gook dan Hye Rim berbelok masuk ke dalam kantor polisi. Soo Hyun sempat heran tapi ia memutuskan untuk menunggu di luar.

Tak lama dua orang polisi keluar dan meminta Soo Hyun menunjukkan kartu identitasnya. Soo Hyun bingung sendiri, kenapa pula polisi meminta kartu identitasnya.

Kemudian ia melihat Won Gook dan Hye Rim keluar dari kantor polisi dan langsung berlari. Soo Hyun berniat untuk mengejar tapi polisi langsung mencegahnya. Polisi bersikeras agar Soo Hyun menunjukkan kartu identitasnya.

Soo Hyun kehilangan jejak Won Gook dan Hye Rim karena polisi memaksanya masuk ke dalam kantor polisi. Hihihi…

Setelah bisa keluar dari kantor polisi, dengan kesal Soo Hyun langsung menelpon Ji Ho, menyuruh Ji Ho mencari tahu keberadaan Won Gook dan memberitahukan Ji Ho bahwa ia memutuskan kembali ikut dalam eksperimen sebagai kandidat pria A.

Won Gook dan Hye Rim berjalan di sebuah pusat perbelanjaan. mungkin ya. Won Gook memeluk bahu Hye Rim. Mereka masih berjalan agak cepat dan terlihat takut.Β Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan munculnya seorang pria yang mengikuti mereka dari tadi dengan tiba-tiba. “Siapa kau?”, tanya Won Gook kaget.

Soo Hyun dengan kesal membuka kaca mata hitamnya dan berseru pada Won Gook, “Lepaskan tanganmu sekarang!”.

“Soo Hyun-ssi?”, Hye Rim sangat kaget melihat Soo Hyun. Soo Hyun langsung menarik tangan Hye Rim, membawa Hye Rim pergi.

“Profesor Choi!”, panggil Won Gook. Hye Rim dan Soo Hyun berhenti. “Apa yang kau lakukan sekarang?”, tanya WOn Gook dengan nada agak marah.

Kali ini Hye Rim lebih heran dan lebih kaget lagi, “Kalian berdua saling kenal???”…

Bersambung…

[Sinopsis Madame Antoine Episode 7 Part 1]

Leave A Reply

Your email address will not be published.