Sinopsis Make A Woman Cry Episode 3 Part 1

0

[Sinopsis Make A Woman Cry Episode 2]

 

Sinopsis Make A Woman Cry Episode 3

Seperti biasanya, Deok In bersiap-siap membuka restorannya sambil menyapa seorang siswa yang biasa ia panggil si gendut. Setelah si gendut pergi, Deok In mencari-cari sosok Jin Woo. Ia teringat kejadian kemarin saat Jin Woo dengan lucunya, memegang kaki si preman sambil berteriak-teriak minta pertolongan. Deok In tertawa sendiri dan mencoba tidak mempedulikan apa yang terjadi pada Jin Woo.

Sementara itu Jin Woo yang sedang berjalan kaki ke sekolah, wajahnya terlihat kesal. Kesal karena Deok In meninggalkannya begitu saja dan hanya berpesan kalau preman-preman itu tidak akan memukul Jin Woo kalau Jin Woo mau mendengarkan mereka. Jin Woo menghela nafasnya, kesal.

Saat Jin Woo muncul di depan restorannya, Deok In pura-pura keluar dari restorannya dan mengibas-ngibaskan handuk yang mungkin masih basah. Deok In tersenyum sambil membungkukkan badannya sedikit pada. Jin Woo melirik Deok In sebentar dan hanya menghela nafasnya dengan keras, karena masih kesal.

Deok In mengejar Jin Woo yang sudah berjalan lagi dan menghentikan Jin Woo. Deok In berusaha berbicara dengan nada manis, bertanya apakah mereka memukul Jin Woo karena ia melihat Jin Woo seperti tidak terluka. Jin Woo menatap Deok In kesal, baginya yang lebih penting adalah Deok In meninggalkannya sendirian di sana. Sebagai permintaan maafnya, Deok In memberikan kupon makan siang selama satu bulan untuk Jin Woo.

Jin Woo menerima kupon itu sambil mengatakan sebenarnya Deok In tidak perlu melakukan itu. Preman-preman itu mengatakan mereka masih punya urusan yang belum selesai dengan Deok In dan ia memberitahukan dimana Deok In bekerja, oleh karena itulah mereka membiarkannya pergi. “Mereka bahkan tidak sedikitpun menyentuhku…”, ucap Jin Woo lagi.

Deok In kaget, karena itu artinya tidak ada gunanya ia memberikan kupon itu pada Jin Woo. Ia mengejar Jin Woo untuk meminta kembali kuponnya. Jin Woo menahan Deok In, melarang Deon In masuk ke area sekolah.

Deok In terpaksa berhenti dan hanya berteriak agar Jin WOo mengemablikan kuponnya dari luar gerbang sekolah. Jin Woo diam-diam tersenyum geli karena ternyata Deok In orang yang mudah ditipu… 😀

Jin Myeong menemui ayahnya untuk memberikan data tentang Gyeong Chul. Dari informasi yang ia dapat, Gyeong Chul bekerja di sebuah firma akuntan dan semua rekan kerja Gyeong Chul berpendapat baik tentang Gyeong Chul. Tuan Kang tidak mengerti kenapa seorang pria yang sudah menikah malah berkencan dengan seorang wanita yang single, apa Gyeong Chul punya anak?, tanya ayah.

Jin Myoeng mengatakan Gyeong Chul sudah berpisah dan anak Gyeong Chul satu-satunya sudah meninggal dua tahun yang lalu. Menurut Jin Myeong, di jaman sekarang tidak aneh lagi seseorang bercerai. Tuan Kang menganggap ucapan Jin Myeong itu memiliki arti Jin Myeong membela Jin Hee. Jin Myeong membantah, bukan itu maksudnya. Ia tahu ayahnya pasti kecewa tapi ia hanya ingin Jin Hee menikah dengan orang yang diinginkan Jin Hee.

Tuan Kang seperti memikirkan ucapan Jin Myeong itu.

Saat Jin Myeong pulang ke rumah, ia melihat Eun Soo sedang merangkai bunga di halaman. Saat ia mendekati Eun Soo, Eun Soo baru menyadari kehadiran Jin Myeong dan bertanya kenapa Jin Myeong pulang lebih awal dari tempat kerja. Jin Myeong mengatakan badannya tidak enak dan kepalanya sakit. Eun Soo menawarkan teh untuk Jin Myeon karena ia percaya terh akan membuat Jin Myeong jadi lebih baik. Jin Myeong setuju.

Setelah Jin Myeong berganti baju, mereka pun duduk di halaman berdua sambil minum teh. Jin Myeong memuji bunga yang dirangkai Eun Soo itu cantik dan Eun Soo tersenyum lebar mendengarnya. Jin Myeong merasa baru kali ini ia melihat Eun Soo tersenyum seperti itu lagi. Ia teringat dulu Eun Soo terkenal dengan sebutan ‘rugosa rose’ dan saat itu Eun Soo sangat cantik, mereka bagaikan bunga ‘rugosa rose’.

Eun Soo tersenyum lagi… Ia merasa dulu ia memang sering tersenyum seperti itu. Lalu tiba-tiba Hong Ran pulang dan melihat suaminya sedang minum teh bersama Eun Soo. Eun Soo menyapa Hong Ran dan mengajak Hong Ran minum teh bersama. Jin Myeong yang duduk membelakangi jalan masuk ke rumah, baru emnyadari kedatangan Hong Ran dan wajahnya berubah tidak ceria lagi. Ia menoleh ke arah Hong Ran. Hong Ran tidak menyambut ajakan Eun Soo dan masuk ke dalam rumah.

Jin Myeong menyusul Hong Ran ke dalam kamar. Hong Ran mengoemntari keanehan wajahnya yang hanya ditunjukkan pada satu orang saja. Jin Myeong mengira, Hong Ran sedang membicarakan Eun Soo, menurutnya, tadi Eun Soo hanya sedang mengingat masa lalu, makanya Eun Soo tersenyum seperti itu. Namun Hong Ran mengatakan bukan Eun Soo yang ia maksud, tapi Jin Myeong. Seharusnya Jin Myeong melihat sendiri bagaimana sekspresinya saat berbicara dengan Eun Soo.

Jin Myeong menghela nafasnya, tidak mau bertengkar lagi dan bertanya siapa yang mau mandi lebih dulu. “Haruskan aku dulu?”, tanya Jin Myeong lagi. Tanpa menunggu jawaban Hong Ran, Jin Myeong masuk ke kamar mandi. Hong Ran kesal sendiri.

Jin Woo meminta maaf pada kepala sekolah karena sampai sekarang orang tua Jungsu masih belum mau datang ke sekolah. Kepsek mendesak Jin Woo untuk bisa segera melakukannya karena kalau tidak keluarga Min Woo akan melaporkan pada Pimpinan Direktur dan kalau sudah seperti itu, mereka akan sulit untuk mengatasinya. Jin Woo hanya bisa meng-iyakan saja.

Deok In datang kembali ke rumah Jungsu dengan membawa banyak makanan yang sudah ia siapkan. Saat ia sampai di rumah Jungsu,. tidak ada siapa pun di sana. Tak lama Jungsu datang, ternyata Jungsu baru selesai membawa main adiknya.

Deok In dan Jungsu berbicara di tempat yang lain. Deok In mengatakan ia tidak tahu kalau Jungsu memiliki seorang adik. Jungsu tersenyum dan mengatakan ia sengaja membawa adiknya pergi ke tempat yang aman di saat ayah mereka sedang mabuk. Jika tidak menemukan tempat, biasanya adiknya tidur digendong di punggungnya saja. Adiknya selalu tidak bisa tidur jika melihat ia dipukul oleh ayahnya. “Jika bukan karena dia, sudah lama kau menyerah…”.

Deok In bertanya kapan ibu Jungsu pergi. “Saat aku duduk di kelas 8”, jawab Jungsu. Deok In menghela nafasnya, mengatakan bahkan untuk saat ini, Jungsu dan adiknya masih terlalu mudah untuk ditinggalkan. Jungsu bercerita lagi, saat itu, biasanya ibunya tidak pernanh mengunjunginya di sekolah tapi di hari itu, ibunya sepanjang hari berdiri di depan sekolah tanpa sepengetahuannya. Dan kemudian ia baru tahu kalau itu adalah hari ibunya meninggalkan mereka.

Deok In bertanya kenapa Jungsu tidak menghentikan ibunya. Jungsu tersenyum. Ia memahami alasan kenapa ibunya pergi, “Dia dipukuli juga. Aku yakin. ibu pasti merasa bersalah karena meninggalkan kami bersama ayah. Aku juga bertanya-tanya apa sebenarnya yang ingin ia katakan hari itu…”, ucap Jungsu lagi. Deok In juga merasa demikian, hati ibu Jungsu pasti sakit juga karena harus meninggalkan anak-anaknya.

Jungsu mengatakan lagi, ia tidak bisa mengingat sudah berapa banyak ia melihat ke langit sambil menggendong adiknya di punggungnya. “Aku tidak ingin merindukan ibuku…”, ucapnya lagi. Deok In menatap Jungsu, ikut merasakan kepedihan Jungsu.

Saat kembali ke rumah Jungsu, Deok In membuatkan kimbap karena adik Jungsu sangat menyukainya dan minta dibuatkan. Adik Jungsu mengungkapkan rasa senangnya karena saat itu ayah mereka tidak ada di rumah. Deok In mengatakan hal yang sama dengan adik Jungsu. Ia meminta adik Jungsu untuk mendengarkan Jungsu dan tidak menangis. Ia juga berjanji akan membawakan lebih banyak makanan nantinya.

Adik Jungsu ingin dibawakan ayam, 100 ayam. Deok In berjanji akan membawakannya. Adik Jungsu bertanya siapa Deok In. Deok In tidak bisa menjawab dengan jelas. Lalu dengan polos, adik Jungsu menebak Deok In adalah ibunya. Deok In kaget mendengarnya dan matanya berkaca-kaca.

Jungsu meminta maaf pada Deok In karena adiknya tidak mengingat bagaimana ibu mereka. Deok In juga meminta maaf pada adik Jungsu, mengatakan dengan jujur bahwa ia bukan ibu mereka.

Lalu Jin Woo datang dan menyapa Deok In. Ia kaget karena ternyata Deok In ada di sana, dan ia sempat khawatir karena tidak melihat Deok In. Deok In mengomel sendiri, karena Jin Woo selalu saja muncul saat ia memiliki makanan… :-D. Jin Woo akan mengambil kimbap yang sudah jadi, tapi Deok In langsung memindahkan pringnya.

Jin Woo berdehem dan beralih pada Jungsu, bertanya apakah Jungsu sudah mendapatkan kabar dari ayahnya. Jungsu hanya diam dan menggelengkan kepalanya sedikit. Lalu terdengar suara telpon dan Jungsu mengangkatnya.

Sepertinya itu dari pemilik rumah. Si pemilik rumah sepertinya menyuruh Jungsu dan keluarganya pindah karena Jungsu mengatakan ia belum bisa pindah saat ini karena ayahnya menghilang. Ia meminta maaf pada orang yang di telpon dan menutup telponnya.

Deok In bertanya siapa yang menelpon itu. Jungsu mengatakan dari pemilik rumah, mereka sudah lewat batas pembayaran sewa rumah. Deok In terdiam, wajahnya terlihat khawatir.

Deok In dan Jin Woo pulang bersama-sama. Mereka membicarakan kekhawatiran mereka pada keadaan Jungsu. Lalu tiba-tiba Deok In mengulurkan tangannya, meminta kembali kupon makanannya. Namun Jin Woo menolak, karena ini tidak adil. Deok In tidak terima, menurutnya mereka tidak memiliki hubungan yang membuat ini tidak adil, karena Jin Woo sendiri yang memberitahukan alamatnya pada preman-preman itu. Jin Woo tidak mau disalahkan, karena Deok In sendiri yang pergi meninggalkannya begitu saja. Mata untuk mata, ucapnya.

Deok In memastikan apakah Jin Woo memang benar mengatakan pada mereka alamatnya. “Tunggu dan lihat saja sendiri…”, ucap Jin Woo sambil berlalu dan tersenyum tipis. Tidak mempedulikan Deok In yang mengomel sendiri.

Bok Rye, ibu Gyeong Chul datang ke apartemen Gyeong Chul dan hanya duduk di depan pintu masuk karena ia tidak mengetahui password apartemen Gyeong Chullagi. Jin Hee pulang dan mengajak Bok Rye masuk.

Di dalam, Bok Rye menyodorkan buku dan meminta Jin Hee menuliskan nama dan nomor telpon orang tua Jin Hee. Melihat Jin Hee hanya diam saja, Bok Rye meninggikan suaranya, meminta Jin Hee melakukan yang ia minta. Ia ingin tahu seperti apa orang tua Jin Hee yang membiarkan Jin Hee berkencan dengan pria yang sudah menikah.

Dengan berani, Jin Hee meminta Bok Rye untuk tidak perlu marah, melainkan memikirkan masa depan Gyeong Chul. Bok Rye semakin marah, melihat Jin Hee yang sangat sangat pintar dan menguliahinya. Orang tua Jin Hee pasti sangat bangga memiliki anak seperti Jin Hee. Bok Rye mengomentari Jin Hee yang tidak tahu sopan santun.

Jin Hee mamalingkan wajahnya, berbicara tidak sambil menatap Bok Rye. Ia mengatakan kalau Gyeong Chul pernah mengatakan padanya bahwa ia berharap terlahir sebagai anak yatim piatu. “Jadi menerut anda kenapa ia berkata seperti itu?”, tanya Jin Hee.

Jin Hee berdiri dari kursinya dan meminta Bok Rye untuk hanya melihat saja karena Bok Rye tidak akan menyesalinya. Berdirinya Jin Hee dari kursi, menunjukkan secara tidak langsung Jin Hee mengusir Bok Rye pergi.

Bok Rye berdiri juga dri kursinya, menegur Jin Hee yang sangat berani. Jin Hee meminta maaf karena sudah membuat Bok Rye merasa tidak nyaman. Bok Rye kesal karena ia kesana hanya mendapatkan permintaan maaf, sementara Jin Hee tidak meninggalkan Gyeong Chul seperti yang ia inginkan.

Jin Hee merasa semua ini bukan salahnya dan ia tidak perlu meminta maaf karena bukan ia yang pertama menggoda Gyeong Chul tapi Gyeong Chul sendiri yang tidak pernah mengatakan padanya sudah menikah. Bok Rye sangat terkejut mendengarnya dan memanggil Gyeong Chul untuk berbicara.

Mereka bertemu di sebuah kafe. Gyeong Chul mengatakan ia tidak ingin kehilangan Jin Hee karena itulah ia tidak mengatakan apa pun pada Jin Hee. Bok Rye merasa tidak percaya melihat sikap Gyeong Chul yang seperti itu karena ia tidak pernah membesarkan Gyeong Chul menjadi seperti itu. Gyeong Chul meminta maaf pada ibunya dan mengatakan kalau ibunya atau ayahnya tidak pernah mengajarinya apa pun.

Bok Rye kaget dan kecewa mendengar ucapan Gyeong Chul. Namun ia membenarkan ucapan Gyeong Chul, ia memang terlalu sibuk bekerja untuk bisa membesarkan Gyeong Chul dan aadik-adik GYeong Chul. Namun walaupun demikian, tidak seharusnya Gyeong Chul melakukan pembenaran atas kelakukan Gyeong Chul itu. Gyeong Chul tidak merasa ibunya seperti itu, karena kalau begitu kenapa ibunya malah melahirkan Gyeong A?

“Kenapa ibu melahirkan anak lagi dan bahkan seorang anak yang cacat? Jika ada hal yang bisa kupelajari, yaitu tidak mengikuti jalan hidup ibu…”, ucap Gyeong Chul, marah. Bok Rye hanya bisa menangis, menelan kesedihan dan kekecewaannya.

Ibu Min Woo datang lagi ke sekolah dan marah-marah ke kepala sekolah karena masalah anaknya belum juga selesai. Ia mengancam untuk melakukan petisi dan melaporkannya pada Pimpinan Direktur. Kepsek panik sendiri dan meminta ibu Min Woo untuk memikirkan Min Woo. Ia bertanya pada guru yang lain, kemana Guru Kang (maksudnya Jin Woo).

Seorang guru yang lain mendekati Kepsek dan mengatakan ada telpon dari polisi. Ia rasa Kepsek harus menerimanya. Kepsek memegang kepalanya yang semakin sakit. Ia kembali meminta guru yang lain untuk mencari Guru Kang.

Jin Woo keluar dari sekolah dan menceritakan pada Deok In yang kebetulan sedang ada di depan restorannya, tentang Jungsu yang tertangkap tangan mencuri dompet orang lain. Deok In sangat kaget mendengarnya. Dan mereka pergi ke kantor polisi.

Setelah bertemu dengan Jungsu di dalam kantor polisi, Jin Woo menceritakan kejadiannya pada Deok In yang spertinya menunggu di depan kantor polisi. Jin Woo mengatakan ada seseorang yang melemparkan dompet ke depan Jungsu dan saat Jungsu memungutnya, pemilik dompet menuduh Jin Woo akan mencurinya. Dan uang tunai yang ada di dalam dompet juga sudah tidak ada.

Sementara itu, di dalam kantor polisi, Jungsu diinterogasi oleh seorang polisi. Jin Woo terus membantah. Polisi bertanya tentang amplop yang berisi uang ditangan Jin Woo, bahkan amplop itu juga berasal dari bank yang sama dengan uang pemilik dompet yang hilang. Jungsu mengatakan ibunya yang memberikannya. Si polisi memberikan telpon, meminta Jungsu menelpon ibu Jungsu dan meminta ibu Jungsu datang ke kantor polisi. “Aku tidak memiliki nomor telponnya…”, ucap Jungsu. Si polisi tertawa, kesal, memarahi Jungsu yang mempermainkannya.

Deok In dan Jin Woo membahas tentang uang yang ada di tangan Jungsu. Kalau seandainya di tangan Jungsu itu hanya sebuah cek, maka akan mudah untuk ditelusuri. Jin Woo merasa ucapan Jungsu agak sedikit meragukan karena selama ini ibu Jungsu tidak pernah ada dan juga Jungsu berada pada kondisi sangat membutuhkan uang untuk membayar uang sewa rumah.

Deok In terdiam sesaat dan memutuskan pergi. Saat Jin Woo bertanya kemana Deok In akan pergi, Deok In mengatakan ia tidak bisa hanya tinggal diam saja.

Deok In menghubungi temannya, Detektif Kim dan meminta Det. Kim keluar untuk menemuinya. Pada Det. Kim Deok In meminta bantuan agar ia bisa menemui Jungsu. Det. Kim tertawa, tidak percaya Deok In meminta bantuan seperti itu padanya. Tapi melihat keseriusan Deok In, Det. Kim terpaksa menurutinya.

Det. Kim mempertemukan Jungsu dan Deok In di sebuah aula. Det. Kim berkali-kali melihat ke arah pintu, khawatir ada yang memergokinya. Deok In memastikan lagi, apakah Jungsu memang memperoleh uang itu dari ibu Jungsu. Dengan marah, Jungsu masih tetap mengatakan seperti sebelumnya. Deok In percaya dan bertanya apakah Jungsu masih ingat wajah orang yang melemparkan dompet itu pada Jungsu. Dan jungsu menganggukkan kepalanya.

Deok In berjalan mendekati Det. Kim, meminta Det. Kim memperlihatkan semua foto kriminal lokal yang ada di sana. Awalnya Det. Kim keberatan tapi Deok In tetap memaksa. Det. Kim akhirnya meng-iyakan dan mengajak Jungsu kembali ke penjara. Sebelum pergi, Jungsu meminta bantuan Deok In agar menitipkan adiknya pada tetangganya. Deok In menyanggupinya.

Bok Rye datang melihat Gyeong A yang sedang bekerja di sebuah salon, saat itu Gyeong A sedang menjemur handul-handuk kecil di depan salon. Gyeong A tiba-tiba dipanggil oleh seseorang dari dalam dan masuk ke dalam. Bok Rye memutuskan untuk pergi.

Tak lama, Gyeong A keluar dari salon dengan membawa uang ditangannya. Ia melihat ibunya yang masih belum pergi dan memanggil ibunya. Bok Rye cepat-cepat menghapus airmatanya. Gyeong A mendekati ibunya, meminta maaf karena ia harus pergi sebentar untuk membeli es krim. Bok Rye menganggukkan kepalannya dan semakin sedih saat melihat punggung Gyeong A yang menjauh.

Gyeong Soo dan Gyeong Tae berada di rumah. Mereka berusaha membereskan rumah dan memasak untuk membantu ibu mereka. Walaupun Gyeong Tae terus kenal omelan Gyeong Soo karena Gyeong Tae tidak beres kerjaannya.

Saat Bok Rye pulang, Gyeong Soo dan Gyeong Tae menyambut ibu mereka dan mengatakan bahwa mereka sudah menyiapkan makan malam, mereka memasakkan makanan kesukaan ibu mereka. Tapi Bok Rye dengan lesu tidak menggubris Gyeong Soo dan Gyeong Tae dan langsung masuk ke kamar. Gyeong Soo dan Gyeong Tae bingung melihat tingkah ibu mereka, mereka merasa pasti sesuatu sudah terjadi karena tadi pagi, saat ibu pergi, ibu baik-baik saja.

Gyeong Soo menyuruh Gyeong Tae mematikan kompor dan ia masuk ke kamar ibunnya. Gyeong Soo membujuk ibu makan karena itu akan membantu ibu tidur nanti malam. Tapi Bok Rye hanya menyuruh Gyeong Soo untuk tidak bicara dengannya. Gyeong Soo berusaha membujuk ibunya lagi, menanyakan apa perlu Gyeong Chul dipanggilkan. “Tidak perlu..”, sahut Bok Rye singkat.

Bok Rye lalu berbicara pada Gyeong Soo, mengajak Gyeong Soo untuk mengirimkan Deok In ke Gyeong Chul, lalu menjual rumah dan membuka salon untuk Gyeong A dan sisanya untuk pindah. Bok Rye tiba-tiba menangis, merasa sedih dan buruk pada Deok In dan pada semua anak-anaknya. Gyeong Tae tiba-tiba masuk dan bertanya pada ibunya apa yang sebenarnya terjadi. Apa wanita itu mengatakan sesuatu pada ibu atau Gyeong Chul?

Bok Rye hanya menangis dan tidak mengatakan apa apa.

Bok Rye memasakkan kari, Gyeong Soo menanyakan kenapa ibunya masak lagi padahal mereka sudah membuatkan sup untuk ibu. Tapi ibu mengatakan ia ingin minum sambil makan kari itu bersama Deok In. Bok Rye menangis lagi, teringat bagaimana mereka mempekerjakan Deok In yang masih berumur 21 tahun dan mereka beruntung Deok In tidak punya saudara.

[Sinopsis Make A Woman Cry Episode 3 Part 2]

Leave A Reply

Your email address will not be published.