Update Sinopsis Drama Korea Terbaru

Sinopsis Hwarang Episode 8 Part 1

2

— All images credit dan content copyright : KBS2 —

[Sinopsis Hwarang Episode 7 Part 2]

Kdramastory – Sinopsis Hwarang Episode 8 Part 1

Sun Woo sangat terkejut mendengar ibu A Ro tidak bisa bicara. Ia mencoba menjelaskan tapi entah kenapa kata-katanya seperti tersangkut ditenggorokannya.

A Ro juga cepat-cepat menyela. Mengatakan kalau ia juga sama. Memang wajar melupakan sesuatu yang sudah lama bahkan ia juga sendiri juga tidak begitu ingat. Jika ayahnya mengatakan begitu, dia percaya saja…

Tidak ingin bicara lebih lama lagi dengan Sun Woo, A Ro menyuruh Sun Woo cepat kembali ke asrama sebelum ketahuan karena Sun Woo sudah gagal satu kali.

Setelah mengatakan itu, A Ro cepat-cepat pergi, meninggalkan Sun Woo yang hanya diam menatapnya… Duhhh suka cara Sun Woo menatap A Ro di sini… Kayak gimanaaa gitu… Tingkah A Ro juga agak mencurigakan di sini… Plus OST-nya di sini cucok bgd… TOP!!!

Ji Dwi adalah orang yang pertama tiba di titik berkumpul. Ia bersama dengan Pa O. Pa O terus mengomel karena teman-teman Ji Dwi belum juga datang. Ia mencemaskan Ji Dwi yang berteman dengan hewan liar seperti itu yang memperlakukan Ji Dwi selevel dengan mereka.

Ji Dwi tertawa. Bertanya, memangnya level dia apa? Dia belum siapa-siapa.

Pa O tentu saja terkejut mendengar ucapan Pa O itu. Ji Dwi adalah pemilik Silla. Ia tahu dan bintang-bintang juga tahu. “Anda sendiri juga tahu, Yang Mulia…”.

Ketika Ji Dwi menoleh padanya, Pa O langsung memalingkan wajahnya, menyembunyikan air matanya.

Ji Dwi kemudian tertawa. Mengatakan kalau ucapan Pa O itu benar. Ia seharusnya menghukum mereka. Mencatat nama-nama mereka lalu mengeluarkan semua anggota tubuh mereka atau mungkin malah merebus mereka di dalam air mendidih.

Pa O menanggapi ucapan Ji Dwi itu dengan serius. Mengatakan kalau ia akan mematuhi perintah Ji Dwi.

Ji Dwi tertawa lagi. Lalu ia melihat seseorang pulang dan memberi isyarat pada Pa O. Pa O cepat-cepat pergi dengan memanjat pagar yang ada di dekatnya.

Sun Woo tidak melihat Pa O karena sedari tadi berjalan sambil menundukkan kepalanya. Pikirannya seperti berada di tempat lain. Ji Dwi menegur Sun Woo yang membuatnya menunggu lama. “Aku ini bukan orang yang menunggu orang lain, tahu?”.

Ji Dwi melihat ekspresi sedih Sun Woo dan bertanya kenapa. Jika Sun Woo pergi ke upacara peringatan kematian ibunya, seharusnya Sun Woo pulang dengan wajah yang lebih baik.

Sun Woo kemudian bertanya apa mungkin seseorang melupakan kenangan masa kecil bersama dengan ibunya sendiri. “Contohnya seperti apakah ibumu bisu atau tidak…”.

Ji Dwi cuma bilang kalau ia iri pada Sun Woo. Ia sama sekali tidak bisa melupakan ingatannya tentang ibunya seberapa besarpun ia menginginkannya. “Orang bodoh seperti apa yang melupakan kenangan sebesar itu?”.

“Aku…”, sahut Sun Woo dengan sedih.

Kemudian Yeo Wool datang dan dibelakangnya ada Ban Ryu yang menggendong Soo Ho. Ji Dwi heran melihat mereka. Yeo Wool cepatcepat merangkul mereka, mengatakan kalau ia akan menjelaskan di dalam nanti.

Di belakang, Ban Ryu marah karena dia harus menggendong Soo Ho sendirian. Lucunya, dia marah sambil berbisik. Soalnya kalo teriak-teriak kan ketahuan… 😛

 

Mereka membantu Soo Hoo melewati dinding pagar. Percuma saja, mereka mencoba membangunkan Soo Ho, Soo Ho tetap pingsan.

Mereka berempat lalu pelan-pelan membawa Soo Ho ke asrama, tapi baru beberapa langkah saja mereka kepergok penjaga yang menyeramkan itu.

Sayangnya, yang kena ketok di kepala itu adalah Yeo Wool… 😀

Sinopsis Hwarang Episode 8 Part 1

Keesokan harinya, mereka berlima dihukum oleh Wi Hwa. Empat dari mereka harus membopong tandu yang diduduki Wi Hwa, sedang sisanya, Yeo Wool harus terus mengipasi Yeo Wool. Mereka harus berkeliling sebanyak 100 kali.

Soo Ho menyalahkan Yeo Wool yang katanya araknya sangat keras. Yeo Wool bilang araknya memang keras tapi yang membuat mereka terlambat adalah Soo Ho dan Ban Ryu.

Soo Ho yang tiba-tiba amnesia, ingin tahu apa yang terjadi semalam. Ban Ryu cepat-cepat mengalihkan pembicaraan. Menyuruh Soo Ho mengangkat dengan benar.

Baru 16 kali keliling saja sudah membuat mereka kelelahan. Teman-teman mereka yang hanya duduk menonton mereka, merasa jika memang mereka harus melakukannya sampai 100 kali, itu sama saja dengan membuat mereka mati.

Han Sung agak cemas mendengarnya. Tapi ia juga bertanya-tanya kenapa Ban Ryu melakukan itu pada adik Soo Ho.

Semuanya jadi penasaran dengan apa yang dimaksud Han Sung.

“Dia menyentuh dada adiknya Soo Ho…”, jawab Han Sung. Mendengar itu, teman-teman Ban Ryu menganggap Ban Ryu pasti sudah gila…

Aduuuhhhh Appa… Mantep bgd akting muntahnya 😛

Sun Woo dan teman-temannya benar-benar lelah memanggul tandu yang berat. Entah karena minuman semalam atau karena jalan yang terlalu bergoyang-goyang, Wi Hwa tiba-tiba merasa mual sampai akhirnya tidak bisa menahannya lagi.

Muntahan yang pertama mengenai Sun Woo dan Ji Dwi yang berada di bagian depan. Dan muntahan yang kedua mengenai Ban Ryu dan Soo Ho yang berada di bagian belakang.

AHHAHAHA… Tapi kayaknya Wi Hwa sengaja deh…

Meeka mandi sambil mengomel-ngomel karena bau muntahan yang susah hilang… Sayang ya, mungkin waktu itu belum ditemukan sabun mandi… krn belum ada Hae Soo… 😀

Ji Dwi mengancam akan menghukum mati mereka semua karena sudah membuatnya mengalami kejadian itu. Soo Ho juga kesal, tapi ia masih tetap tidak ingat kejadian semalam. Ia merasa kejadian buruk pasti terjadi semalam.

Yeo Wool terbatuk-batuk. “Entahlah…’, sahutnya pura-pura tidak tahu. Ban Ryu juga diam saja. Pura-pura tidak tahu.

Setelah mandi, ketika Sun Woo pergi ke loker, tidak sengaja ia menjatuhkan sesuatu. Dan Ji Dwi yang berjalan di belakangnya, memungutnya. Ternyata yang jatuh adalah gelang itu.

Ji Dwi mengomentari bentuk gelang itu yang unik. Apa ada artinya?

“Entahlah. Itu juga bukan punyaku…”, sahut Sun Woo sambil mengulurkan tangannya, meminta kembali gelangnya.

Tapi Ji Dwi menjauhkan gelang itu dari tangan Sun Woo. Meminta Sun Woo memberikan gelang itu padanya kalau memang bukan milik Sun Woo. “Aku hobi mengoleksi benda-benda seperti ini…”.

Ketika Ji Dwi minta Sun Woo menjual gelang itu padanya, berapapun yang Sun Woo minta ia akan berikan, Sun Woo menolak karena gelang itu bukan sesustu yang bisa ia jual. Sebaliknya, sesuatu yang harus ia bayar kembali.

Ji Dwi terpaksa mengembalikan gelang itu dan hanya bisa melihat saja ketika Sun Woo memakai kembali gelang itu. Sun Woo kemudian bertanya apakah Ji Dwi benar-benar serius ketika mengatakan menyukai adiknya.

“Kalau iya, bagaimana?”, Ji Dwi balik bertanya…

Soo Yeon yang berjalan di pasar, mendengar orang-orang membicarakan kejadian semalam. Mereka mengkhawatirkan sesuatu yang buruk akan terjadi. Karena hubungan Soo Ho dan Ban Ryu memang sudah tidak baik, mereka tidak akan berhenti sampai salah satunya mati. Tapi mereka juga mengerti jika Soo Ho marah karena jika mereka jadi Soo Ho, mereka juga akan melakukan hal yang sama.

Soo Yeon merasa malu sekaligus cemas dengan apa yang akan terjadi. Ia berlari menjauhi orang-orang sambil menutup wajahnya dengan ujung rambutnya.

Entah angin darimana, Ban Ryu kali ini mau berbuat baik pada Soo Ho. Ia memberikan handuknya pada Soo Ho. Melihat Soo Ho yang enggan, Ban Ryu pun tidak jadi memberikan handuknya. Tapi kemudian Soo Ho mau menerima handuk pemberian Ban Ryu dan mengelap wajahnya.

Kebetulan, saat itu gengnya Ban Ryu lewat. Mereka terkejut melihat Ban Ryu dan Soo Ho yang hanya berdua saja. Ban Ryu diam-diam memberi isyarat, menyuruh mereka pergi. Dengan takut-takut, mereka pun langsung kabur.

Soo Ho heran melihat tingkah gengnya Ban Ryu itu. “Kenapa mereka terlihat gugup melihat kita?”.

“Benarkah? Aku tidak melihatnya…”, sahut Ban Ryu, sedikit gugup.

Soo Ho benar-benar merasa aneh. Ia berpikir apa mungkin dia menjadi lebih sensitif setelah kehilangan ingatannya?

Ehemmm… Ban Ryu cakep juga yahhh…

Ban Ryu kemudian mengingatkan Soo Ho. Meminta Soo Ho ingat, apapun itu, itu hanya kesalahpahaman saja.

Soo Ho menatap Ban Ryu, tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Ban Ryu.

Sinopsis Hwarang Episode 8 Part 1

Joo Ki yang baru akan masuk ke dalam asrama Hwarang dipanggil seseorang. Joo Ki sangat kaget saat melihat orang yang memanggilnya itu adalah Soo Yeon. Ia langsung menarik Soo Yeon, menjauh dari pintu masuk asrama.

“Kau sudah gila? Kenapa kau ke sini? Bagaimana kalau keadaanya menjadi kacau?”, omelnya.

Soo Yeon menitipkan sebuah surat dan memohon agar Joo Ki memberikannya pada Ban Ryu.

Joo Ki cepat-cepat menyimpan surat itu di balik jubahnya. Lalu bertanya apa memang benar Ban Ryu…

Joo Ki tidak meneruskan pertanyaannya tapi pandangan matanya tertuju pada dada Soo Yeon. AHAHAHA… Lucu ekspresinya…

Soo Yeon langsung kesal dan kembali memohon agar Joo Ki harus menyampaikan surat itu pada Ban Ryu karena nyawa seseorang sangat tergantung pada surat itu…

Soo Ho yang baru kembali dari loker, mengeluhkan kepalanya yang terasa masih sakit. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Teringat adiknya menampar seseorang tapi ia tidak tahu siapa yang ditampar oleh Soo Yeon.

Ia bertanya-tanya siapa orang itu…

Joo Ki benar-benar menyampaikan surat itu pada Ban Ryu. Awalnya, Ban Ryu tidak menyangka Soo Yeon menulis surat untuknya. Setelah memeriksa keadaan sekelilingnya, Ban Ryu pun membaca surat dari Soo Yeon.

Soo Yeon menuliskan bahwa kakaknya itu mungkin terlihat pintar tapi sebenarnya kakaknya itu bodoh dan arogan. Berkelahi selalu menjadi pilihan pertama untuknya. Ia tidak bisa membujuk kakaknya melalui surat jadi ia memohon agar Ban Ryu bertahan. Soo Yeon berjanji akan menjelaskan semuanya saat Soo Ho kembali ke rumah nanti. Bahwa orang yang menyentuh itu adalah dia bukan Ban Ryu.

Ban Ryu terlihat kesal…

Sun Woo mendekati A Ro yang sedang duduk melamun di pinggir sungai. “Apa yang sedang kau lakukan di sini?”.

A Ro perlu waktu sejenak untuk mencerna pertanyaan Sun Woo lalu mengatakan, ia sedang mencuci pakaian.

Sun Woo lalu membantu A Ro mencuci pakaian. Karena A Ro terus menatapnya, Sun Woo pun bertanya apa yang A Ro lihat.

A Ro terdiam sesaat lalu ia balik bertanya dengan nada marah, “Memangnya tidak boleh adik menatap kakaknya?!”.

A Ro kemudian mengatakan, seorang anak kecil yang hilang bisa lupa dengan namanya dan menurutnya bisa dipahami kenapa Sun Woo bisa lupa kalau ibu mereka bisu. “Aku cuma mau bilang itu…”.

Sun Woo terdiam. Ia lalu memukul-mukul baju kotor di dalam air hingga airnya terpercik ke wajah A Ro. A Ro menatap Sun Woo kesal. Sun Woo tidak berhenti, ia malah memukul-mukul lebih keras dan menyiramkan air ke wajah A Ro. A Ro tentu saja membalasnya.

Sun Woo menatap A Ro dengan serius. Lalu mengelus kepala A Ro sebentar. “Pergilah. Hati-hati dengan orang tak dikenal dan berjalanlah di jalan yang terbuka…”, pesan Sun Woo lalu pergi, meinggalkan A Ro yang masih sibuk dengan pikirannya.

Tidak hanya A Ro, Sun Woo juga terus memikirkan kejadian malam itu hingga ia tiba kembali di asrama…

Soo Yeon tiba-tiba muncul di depan A Ro yang sedang berjalan sambil melamun. Soo Yeon ingin tahu apakah di dalam asrama ada pembunuh. Apakah kakaknya sudah membunuh Ban Ryu? Ketika A Ro bilang, belum, Soo Yeon merasa lega sekali.

A Ro kembali berjalan dengan lesu tapi kemudian, tiba-tiba ia mengajak Soo Yeon minum. Dengan senang hati, Soo Yeon mau menerima ajakan A Ro.

Mereka minum di kedai milik kenalannya A Ro. Pemilik kedai itu terus melihat ke arah A Ro dan Soo Yeon. Sepertinya ia tidak begitu menyukai A Ro dan Soo Yeon ada di sana tapi tidak bisa juga mengusir mereka…

A Ro menanyakan berapa tahun sudah mereka berteman. Soo Yeon bilang 12 tahun. Ia berterima kasih karena A Ro mau menjadi temannya karena tidak ada siapapun orang yang mau berteman dengannya gara-gara kakaknya.

A Ro juga berterima kasih karena Soo Yeon mau berteman dengannya di saat yang lain mengejeknya setengah bangwasan. Lalu mereka pun bersulang.

A Ro tiba-tiba mengatakan kalau ia menyukai kakaknya. Soo Yeon bilang ia juga menyukai kakak A Ro. Ia merasa iri pada A Roo.

A Ro menata kalungnya (atau mungkin milik kakaknya?) sambil menahan tangis. “Aku sangat ingin kakakku menjadi kakakku tapi aku juga tidak ingin ia menjadi kakakku…”.

Sinopsis Hwarang Episode 8 Part 1

Ratu terus memikirkan ucapan Maek Jong yang bertekad akan menjadi lebih kuat selama di Hwarang. Ratu tiba-tiba oleng dan hampir saja terjatuh.

Pengawalnya yang perempuan langsung menolong. Ia menawarkan untuk memanggil tabib. Tapi Ratu tidak mau. Ia meminta dipanggilkan Ahn Ji.

Hyun Chu menemui Ahn Ji untuk menyampaikan pesan Ratu. Tapi dengan alasan sedang menunggu seorang pasien, Ahn Ji menolak datang ke istana.

Hyun Chu bilang, ia datang bukan untuk minta tolong. “Kau harus datang ke istana…”, ucapnya.

Ahn Ji memeriksa nadi Ratu Jiso dan merasakan keanehan.

=== Flashback ===

Ketika Young Shil datang ke rumahnya, Young Shil memberitahukan bahwa ia berencana membunuh Ratu dengan sangat perlahan. Saat ini, di istana semua orang beradaa di pihaknya. Ia akan melakukannya dengan sangat perlahan sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. “Dengan begitu tidak akan ada masalah ketika aku membawa Raja yang baru…”.

Ahn Ji diam-diam menggenggam erat-erat bukunya. “Kenapa kau memberitahuku?!”, marahnya.

Saat itu Young Shil mengatakan, ia percaya ia dan Ahn Ji berada di pihak yang sama.

=== Flashback End ===

Ketika memeriksa nadi Ratu Jiso, di dalam hati, Ahn Ji menyimpulkan bahwa denyut nadi Ratu berbeda dengan sebelumnya. Dengan perlahan semakin memburuk. Ahn Ji merasa, Ratu pasti diracun.

Ketika ia bertanya apakah Ratu merasakan sakit di dadanya, Ratu bilang kadang-kadang. Ia berpikir, ia menderita sakit karena telah menghancurkan hidup Ahn Ji. “Aku membuat kau harus mengucapkan selamat tinggal pada istri dan outramu. Tapi sekarang kau sudah menemukan putramu lagi…”.

Ahn Ji tidak mau menanggapi kata-kata Ratu itu. Ia hanya memberitahukan bahwa rasa sakit Ratu karena energi Ratu yang melemah dan ratu harus tetap tenang.

“Apa benar ini bukan penyakit yang serius?”.

“Kalau anda tidak mempercayai saya, silahkan panggil tabib istana”.

Tapi ratu mengatakan, di istana tidak ada yang bisa ia percayai selain Ahn Ji seorang. Ia terus mengenang masa lalu, saat ia tidak ragu menikahi Ahn Ji. “Apakah kau masih membenciku? Jika aku masih menginginkanmu, maukah kau datang padaku?”.

Ratu menangis. Sementara Ahn Ji hanya diam, menatap Ratu marah.

Ketika akan pergi, Ahn Ji melihat pengawal Ratu yang perempuan menyiapkan teh untuk Ratu. Setelah tahu teh itu untuk Ratu, Ahn Ji langsung membauinya dan mencicipinya.

Si pengawal itu merasa tidak nyaman. Bertanya apakah ada yang salah di dalam teh itu.

Ahn Ji mengatakan tidak ada. Meskipun dari ekspresinya, sy yakin Ahn Ji mencurigai teh itu…

Young Shil dan Ho Kong pergi ke tempat Joo Ki untuk meminta Joo Ki menceritakan apa yang Joo Ki tahu tentang Sun Woo. Ketika Joo Ki bertanya untuk apa, Ho Kong langsung menggebrak meja. “Memangnya kau ini siapa bertanya seperti itu? Lakukan saja yang aku katakan!”, bentak Ho Kong.

Lalu Young Shil mengatakan, ia hanya ingin tahu tentang Hwarang.

Mendengar itu, Joo Ki pun jadi terbuka. Ia bahkan menyebutkan nama panggilan Sun Woo, Dog-Bird. Menurutnya, Sun Woo itu orang yang arogan dan bodoh. Kadang bijaksana kadang tidak. Unik dan tidak normal. Intinya, Sun Woo sangat berbeda dengan tuan muda yang ada di ibukota.

Mendengar itu Young Shil pun menyimpulkan bahwa Sun Woo sangta berbeda dengan ayahnya, Ahn Ji.

Ji Dwi sengaja menunggu A Ro lewat. Ketika melihat A Ro, ia pun langsung menghadang A Ro, memberikan sesuatu untuk A Ro.

A Ro kaget sekaligus heran. Ji Dwi memberikannya wadah untuk jarum akupuntur. “Kenapa?”, tanyanya.

“Pikir saja sendiri…”, sahut Ji Dwi penuh rahasia dan melenggang pergi.

Setelah Ji Dwi pergi, A Ro melihat ke dalam wadah itu. Terkejut ketika menemukan jarum akupuntur yang terbuat dari emas di dalamnya.

Joo Ki yang sudah menunggu A Ro datang, langsung menarik A Ro ke dalam klinik.

Ternyata sekarang klinik sudah berbeda. Klinik sudah dihiasi dengan kain-kain yang blink-blink, ada guci kecil dari Baekje, ada seperangkat tempat minum dari perak yang dibawa dari Barat…

Joo Ki sangat takjub. Sebaliknya A Ro sangat terkejut, siapa yang membuat klinik jadi seperti itu. Menurut Joo Ki, pasti ada seseorang yang melemparkan umpan untuk memenangi hati A Ro.

A Ro tidak percaya ada orang seperti itu. Ia lebih-lebih tidak percaya dan mendadak marah setelah Joo Ki bilang semua itu membutuhkan banyak emas untuk membelinya.

“Apa? Seharusnya dia memberikan saja emas itu padaku? Siapa orang gila itu!!!”, teriak A Ro marah.

Teriakan A Ro terdengar oleh Ji Dwi yang ada di dekat klinik. Ia menyalahkan Pa O yang katanya semua itu akan membuat wanita senang. Pa O juga merasa aneh. Tadinya ia berpikir seperti itu…

“Mungkin saja dia punya selera yang jelek…”, Pa O malah menyimpulkan seperti itu.

Ji Dwi hampir saja men-smash Pa O. Kesal dan menyuruh Pa O pergi karena ia tidak mau melihat Pa O.

“Siapa? Kalian membicarakanku?”, tanya A Ro yang ternyata sudah keluar dari klinik.

Ehemmm… 😍 Segerrrr…

Ji Dwi dan Pa O sontak panik. Pa O buru-buru pergi dari sana. Meninggalkan Ji Dwi yang sekarang harus menjelaskan pada A Ro. Ketika A Ro bilang itu tidak berguna, Ji Dwi bilang, itu sedikit berlebihan untuk menyebutkan sesuatu yang bernilai banyak emas.

A Ro menyuruh Ji Dwi menyumbangkan saja emas itu karena banyak anak-anak yang kelaparan. “Apa yang kau lakukan?”, marah A Ro.

“Apa yang aku lakukan? Aku hanya ingin melakukan sesuatu untukmu…”.

“Kenapa?”.

“Karena aku bisa. Tidak, karena aku ingin…”.

“Baiklah, tapi kenapa?”.

“Karena aku menyukaimu… Aku tahu kau tidak pintar tapi aku tidak tak tahu kau sebodoh ini… Ya sudah pakai saja atau kalau tidak buang saja…”.

Ji Dwi kemudian berbalik pergi. A Ro benar-benar kesal, lalu berteriak. “Apakah ibumu tahu kau seperti ini?”.

Ji Dwi berhenti tapi kemudian memutuskan tidak menanggapi pertanyaan A Ro itu…

Hari itu, Hwarang belajar beladiri dengan si penjaga yang menyeramkan itu. Satu persatu, mereka harus bertarung melawan pria itu. Tidak satu pun ada yang berhasil mem-block 10 jurus berturut-turut.

Soo Ho terlihat percaya diri ketika maju dan berhasil menangkis hingga 8 jurus. Sayangnya, pada akhirnya, ia tidak berhasil juga. Ban Ryu terlihat ikut kecewa melihat Soo Ho kalah.

Ketika giliran Ji Dwi maju, Ban Ryu ikut tersenyum. Seperti menaruh harapan pada Ji Dwi. Dan ternyata memang Ji Dwi jauh lebih jago dari Hwarang yang lain.

Si penjaga itu sendiri merasa heran dan penasaran dengan kemampuan Ji Dwi. Sun Woo juga serius memperhatikan Ji Dwi. Ia juga penasaran dengan kemampuan Ji Dwi itu…

Setelah itu, giliran Ji Dwi bertarung dengan Sun Woo. Sun Woo mengerahkan kemampuannya tapi Ji Dwi berhasil memukulnya beberapa kali…

Bersambung…

[Sinopsis Hwarang Episode 8 Part 2]

2 Comments
  1. Nurhasanah says

    Tina tina…..mana tuh tina???????

  2. Nurhasanah says

    Scene appa nahan muntah itu mmg bikin ngakak mbak…debak….masak muntah sampe adil gitu.depan belakang,kena….hahaha.
    Wajahnya ban lyu( so ho bilangnya lucu), mmg manly mbak.cocok dia dg karakter tegas….tp yg bikin fresh yah tetep,wajahnya min ho (hehehe,mian….) berasa riang ajha tuh bawaannya kalo liat wajahnya dia….
    PHS #sueeger#;-)) habisin buk….sekali teguk,one shoot kekeke…..hadeuh….emoticonnya itu loh….bak dian mah bisaaa bgt.
    Park seo jon…..???? Finally keluar dah akting mata dia.cz banyak aktor yg saya suka krn akting mata ini….salah satunya”park seo jon”….
    Meski banyak yg laen juga sih,kekeke…..(gak setia mode on)….
    Kamsaeyo bak dian…..himneseyo!

Leave A Reply

Your email address will not be published.