Sinopsis Last Episode 2 Part 2

0

[Sinopsis Last Episode 2 Part 1]

 

Sinopsis Last Episode 2 Part 2

Malam harinya, para gelandangan berkumpul memanggang daging. Tae Ho memisahkan diri dari yang lain. Ia duduk termenung di sampaing President Jo. Tae Ho seperti merasa bersalah pada Mandor Oh. Hae Jin meminta Tae Ho untuk tidak perlu khawatir, perkelahian memang selalu seperti itu.

Lalu seorang gelandangan mendekati Tae Ho, ia memberitahukan bahwa Sergeant Bae mencari Tae Ho, di sana ada Poison Snake dan Crocodile juga. Tae Ho tercenung, Hae Jin bertanya apa Tae Ho ingin ia ikut bersama Tae Ho. “Tidak perlu”, jawab Tae Ho singkat. Sebelum pergi, Tae Ho memberikan uang lagi pada Hae Jin, khawatir jika dagingnya tidak cukup.

Tae Ho pergi ke pabrik milik Poison Snake, tempat Poison Snake melakukan daur ulang tubuh para gelandangan. Begitu melihat Tae Ho, Poison Snake tersenyum sinis, “Ternyata ini yang namanya Jang Tae Ho?”.

“Aku dengar kalian punya urusan denganku…”, ucap Tae Ho waspada.

Crocodile menyuruh Tae Jo untuk tenang karena mereka memanggil Tae Ho bukan untuk menghabisi Tae Ho. Poison snake menanyakan kenapa Tae Ho menurunkan persentase pembagian, seharusnya Tae Ho minta izin dulu pada mereka.

“Jika aku perlu minta izin, maka aku akan memintanya pada nomor 1”. Sergeant Bae menjadi marah mendengar ucapan sombong dari Tae Ho, ia berniat akan menghajar Tae Ho. Tapi Poison Snake mencegahnya. Poison Snake memberitahukan bahwa mereka bertiga adalah orang yang paling berpengaruh diantara mereka, Bos sangat sibuk dengan urusannya, dan nomor 2, anggap saja ia tidak ada. Ia menasehati Tae Ho jika ingin selamat di luar sana maka ia harus selalu waspada dan mawas diri.

Crocodile menyuruh Sergeant Bae mengambil sesuatu dari lemari es. Sergeant Bae mengambil sebuah plastik yang berisi entah apa bagian dari Snake Eye dan melemparkannya didepan Tae Ho. “Sapa dia… Kau pernah bertemu dengan Snake Eye, bukan?”, tanya Crocodile. Poison Snake tersenyum, mengancam. Ini memerintahkan Tae Ho agar mendengar peringatan dari mereka.

Tae Ho terdiam sesaat, ia berterima kasih karena mereka telah memperingatkannya dan sekarang gilirannya memperingatkan mereka, lalu Tae Ho menunjuk mereka bertiga sesuai dengan nomor urut mereka. “6… 5… 4… Aku akan menghabisis kalian satu persatu menurut urutan itu!”. Sergeant Bae marah dan akan menghajar Tae Ho, Poison Snake memandang marah pada Tae Ho.

Tae Ho mempersilahkan mereka membunuhnya tapi paling tidak sepuluh orang menjadi saksi bahwa ia datang menemui mereka bertiga. Mereka bisa saja membunuh semua saksi itu, tapi ia yakin Bos tidak akan senang mengetahui mereka menyingkirkannya tanpa duel. “6… 5… 4… Ingat itu!”, ancam Tae Ho lagi dan pergi dari sana. Mereka bertambah marah pada Tae Ho karena Tae Ho sangat sombong, Poison Snake menyuruh kedua anak buahnya itu untuk cepat menyelidiki latar belakang Tae Ho.

Tae Ho datang ke restoran dan bertemu Na Ra yang akan membuang sampah. Na Ra berkata mereka sudah tutup. Tae Ho berniat akan membantu Na Ra membuang sampah, Na Ra sempat menolak tapi Tae Ho memaksanya. Na Ra menemani Tae Ho sampai ke tempat pembuangan sampah. Na Ra berkata sepertinya Tae Ho selalu ketinggalan dalam hal makanan, baik itu makanan yang dibeli ataupun makanan yang gratis.

“Sepertinya begitu”, sahut Tae Ho. Tapi hari ini ia datang ke restoran bukan untuk makan. Ia pernah mendengar Na Ra pernah menyebutkan tentang klinik gratis untuk gelandangan, dimana tempatnya?

“Bagaimana aku tidak tahu? Aku bekerja di sana…”. ucap Na Ra sambil tersenyum.

Na Ra mengobati luka Mandor Oh. Mandor Oh meminta maaf karena membuat Na Ra tidak nyaman mengurusi orang seperti dirinya. Na Ra mengkhawatirkan Mandor Oh yang tidur dalam cuaca dingin dengan kondisi tubuh yang tidak baik. “Apa bedanya tidur dimana…”, keluh Mandor Oh. Na Ra menanyakan kontak keluarga Mandor Oh, jika Mandor Oh tidak nyaman menghubungi mereka, biar ia saja yang menghubungi mereka. Dengan wajah sedih Mandor Oh menolaknya, “Aku bahkan tidak punya rumah, apa lagi keluarga…”.

Na Ra keluar dari klinik dan terkejut menemukan Tae Ho masih menunggunya di luar klinik. Tae Ho mengatakan ia merasa tidak enak meninggalkan Na Ra sendirian setelah membuat sebuah permintaan yang besar pada Na Ra. “Jadi kau tipe orang yang membuat orang terluka dan kemudian memberikan obat, huh?”. Tae Ho tidak mengerti maksud Na Ra, “Kau memintaku merawat seorang pasien dan menungguku, sepertinya pasien tadi seseorang yang kau pukul. Sedikit tidak biasa, bukan?”

Tae Ho tertawa kecil, ia berkata jika dia sendiri yang menyuruh orang itu ke klinik, orang itu pasti tidak mau mendengarkan. Tae Ho berterima kasih atas bantuan Na Ra. Na Ra menjadi sedikit gugup, ia hanya melakukannya karena Tae Ho mengatakan ada seseorang yang terluka, bukan karena ia seorang perawat tapi ia selalu ingin tau.

“Kau relawan di dapur juga. Tidak semua orang mau melakukannya…”, puji Tae Ho. Na Ra semakin gugup, tapi kemudian ia mengalihkan pembicaraan. Ia minta Tae Ho tidak khawatir, Mandor Oh cukup sehat jadi luka-lukanya akan sembuh dalam beberapa hari. Tae Ho juga menanyakan tentang lutut Mandor Oh. Na Ra mengatakan itu disebabkan oleh penyakit Mandor Oh, lututnya akan membaik jika Mandor Oh terus meminum obatnya.

Tae Ho menganggukkan kepalanya dan menghela nafas lega. “Kau sungguh aneh… Jika kau benar-benar mengkhawatirkannya, seharusnya kau tidak berkelahi dengannya…”, ucap Na Ra heran.

Tae Ho menundukkan kepalanya dan berkata kadang-kadang dalam hidup, kita tidak punya pilihan lain… Na Ra sedikit tercenung mendengar ucapan Tae Ho, lalu pamit pulang. Tae Ho menawarkan diri mengantarkan Na Ra. Tapi Na Ra menolaknya, ia beralasan ada tempat yang masih ingin ia datangi sebelum pulang. “Di jam seperti ini?”, tanya Tae Ho heran. Na Ra tersenyum, ia tumbuh di lingkungan itu, jadi ia tau semua belokan dan tempat bersembunyi yang ada di sana. Na Ra berkata ia bahkan bisa sampai di Stasiun Seoul dengan mata tertutup. Tae Ho lah yang harus berhati-hati…

Tiba-tiba Na Ra teringat, ia tidak tau nama Tae Ho. “Ah, Jang Tae Ho…”, jawab Tae Ho. “Aku Shin Na Ra. Jangan melewatkan waktu makan lain kali”, ucap Na Ra sebelum pergi.

Beberapa saat kemudian, Tae Ho tersenyum tipis, melihat Na Ra sedang merawat tanaman dari balik tembok.

Keesokan paginya, Jong Goo menggeliat, bangun dari tidurnya. Ia keluar dari busnya karena mendengar Tae Ho sedang membereskan barang-barang di bengkel. “Apa yang kau lakukan?”, tanyanya.

“Bersih-bersih. Banyak barang yang tidak tersusun di sini…”

“Wow, kau bersih-bersih supaya kita berduel? Jadi apakah kau sudah mengurus semua orang sampai Poison Snake?” (Kemarin Tae Ho berkata ia akan menemui Jong Goo setelah mengalahkan semua orang dibawah Jong Goo).

Tae Ho berhenti bersih-bersih dan menghadap Jong Goo. Ia berkata ia sengaja datang ke sana untuk meminta bantuan Jong Goo sekali lagi. Tapi Jong Goo masih menolaknya. Tae Ho berjanji Jong Goo tidak akan kecewa padanya karena ia adalah orang yang cepat belajar. Dan jika nanti mereka berduel, maka itu akan menjadi lebih menarik. Tae Ho kembali meminta Jong Goo memenuhi permintaannya, kali ini Jong Goo melakukannya sambil menundukkan kepalanya pada Jong Goo.

Jong Goo menghela nafasnya, seperti mempertimbangkan sesuatu. Lalu ia bertanya olah raga apa yang sering dilakukan oleh Tae Ho. “Squash, Tenis, Renang,… semacam itu”.

Jong Goo menilai Tae Ho memiliki speed dan mata yang cepat. Tae Ho terkejut, ternyata Jong Goo melihat ia bertarung. Jong Goo tidak menjawab, tapi ia berpikir Tae Ho pasti tidak mampu mendaratkan satu pukulan pun pada Sergeant Bae. Tae Ho mengatakan ia menyadari hal itu, oleh sebab itulah ia datang menemui Jong Goo.

Jong Goo meminta Tae Ho jujur padanya, apa yang dilakukan Tae Ho sebelum menjadi gelandangan. Tae Ho terdiam, tidak menjawab.

Sekarang Tae Ho, Jong Goo, dan Hae Jin bertemu di restoran. Hae Jin terus memuji nenek, karena nenek terus memasang wajah marah dan menggerutu, ia merasa mereka sedang membuat rencana konspirasi di restorannya.

“Bukan, ini namanya brotherhood… Ini untuk menegakkan keadilan dan harmoni di Stasiun Seoul”, sahut Hae Jin singkat. Tapi nenek tetap tidak percaya, ia masuk ke dalam dengan marah-marah.

Hae Jin membawa baki yang berisi makanan di meja, di depan Jong Goo. Ia sesumbar tentang keahliannya yang akan membuat Tae Ho menguasai Stasiun Seoul. Tapi Jong Goo yang sedang menatap penuh selidik pada Tae Ho memotong ucapan Hae Jin. Ia berkata ia belum memutuskan membantu Tae Ho. Hae Jin terkejut, senyumnya menghilang.

“Apa yang terjadi hingga seorang manager keuangan sepertimu berakhir di di Stasiun Seoul?”. Tae Ho mengatakan ada suatu masalah yang tidak dapat diselesaikan. Jong Goo menebak sepertinya Tae Ho dikhianati oleh seseorang ketika menjalankan rencananya itu. Tae Ho sedikit terkejut, tebakan Jong Goo tepat sasaran. Melihat reaksi Tae Ho, Jong Goo merasa ia benar, ia tau Tae Ho adalah seorang profesional di bidang ekonomi. Salah seorang dari teman Tae Ho mengacaukan rencananya dalam masalah saham…

Tae Ho tidak berkomentar, ia balik bertanya kenapa seorang Asian Champion bisa terjatuh dari kejayaannya sampai seperti ini. Hae Jin tidak enak mendengar pertanyaan Tae Ho itu, ia menegur Tae Ho. Tapi Jong Goo tidak marah, ia menjawab karena alkohol, dan wanita. Obat-obatan. Lalu Jong Goo bertanya apa yang akan dilakukan Tae Ho jika sudah jago berkelahi.

“Aku akan terus memanjat ke atas… Nomor 1”, jawab Tae Ho singkat.

“Untuk apa kau melakukan itu? Mau di sana atau di sini, kau tetap gelandangan”.

Tae Ho berkata ia akan memulai hidupnya dengan uang 10 milyar won milik Kwak Heung San. Jong Goo terlihat berpikir. Hae Jin cepat-cepat menambahkan bahwa Jong Goo akan mendapatkan juga bagiannya sebanyak 1 milyar won. Dengan uang itu Jong Goo dapat pergi mencari putri Jong Goo yang hilang.

Mendengar Hae Jin mengungkit masalah putrinya, Jong Goo menjadi marah dan menggebrak meja. “Apa aku terlihat seperti orang idiot bagimu?”.

“Tidak”, jawab Tae Ho tenang. Ia hanya bagus dalam hal menghancurkan angka tapi tidak orang dan juga sangat bagus dalam hal naik ke atas. Jika Jong Goo mau membantunya, posisi nomor 1 sangatlah mungkin didapatkan. Jong Goo merasa Tae Ho meniggalkan sesuatu yang penting di kehidupannya yang lalu. Meraih posisi nomor 1 tidak mudah Tae Ho dapatkan hanya karena Tae Ho menginginkannya. Jika Stasiun Seoul ini adalah sebuah penjara, maka mereka semua seperti telah mendapatkan hukuman seumur hidup.

“Kalau begitu, yang harus kita lakukan hanyalah melarikan diri”, ucap Tae Ho yakin. Ia yakin ia akan melakukannya dan akan kembali ke kehidupannya yang dulu.

Jong Goo menarik nafasnya dalam-dalam dan bertanya, “Apa kau siap mempertaruhkan nyawamu?”. Tae Ho berdiri dan berkata, “Aku pernah… mati sekali…”.

Jong Goo membawa Tae Ho dan Hae Jin ke bengkelnya, dan memerintahkan Tae Ho berlari 20 putaran sambil menarik sebuah ban besar, 300 kali sit up dan 300 kali push up. Ia menyuruh Tae Ho membangunkannya jika Tae Ho sudah selesai berlatih.

Tae Ho mulai latihannya, ditemani oleh Hae Jin, sambil tetap menjalani tugasnya sebagai nomor 7 seperti biasa. Berhari-hari tanpa rasa lelah dan bosan, Tae Ho menjalani latihannya.

Ketika sampai suatu malam di restoran, Tae Ho terlihat seperti kesetanan, melahap habis satu ekor ayam sendirian. Hae Jin dan Jong Goo bengong melihat selera makan Tae Ho. Setelah Tae Ho selesai makan, Jong Goo berkata mulai minggu depan Tae Ho akan mulai berlatih tinju dan tetap melakukan latihan stamina.

“Bisakah kita melakukan latihan intensif?”.

Jong Goo setuju saja, tapi itu jika Tae Ho mau dipukul sampai mampus ketika berduel nanti. Seberapa pun tingginya sebuah keahlian berkelahi, tetapi dalam duel yang nyata, semuanya berbeda. Tae Ho bertanya apakah Jong Goo pernah berduel dengan Kwak Heung San. “Tidak”, jawab Jong Goo singkat.

“Seberapa tinggi keahlian Heung San?”.

Jong Goo mengambil sebuah tulang ayam kecil, sisa makanan Tae Ho dari atas meja dan berkata tulang itu ibaratnya Tae Ho. Lalu ia mencari sebuah tulang yang lumayan besar dan berkata itu adlah Heung San. Jong Goo meletakkan tulang kecil di atas tulang besar dan mematahkan tulang yang kecil. “Seperti inilah dia. Walau bagaimanapun, dia tidak akan patah…”. Tae Ho menghela nafasnya.

Heung San sedang berpakaian rapi di kamarnya sambil mendengarkan musik klasik, ada Mantis juga di sana. Sergeant Bae datang, dan Mantis membukakan pintu. Mantis mengambil dua koper dari Sergeant Bae. Tidak lama kemudian datang Crocodile dan diikuti oleh Poison Snake.

Poison Snake meminta izin pada Mantis untuk bisa bertemu dengan Bos. Tapi Mantis menolaknya, ia berkata Bos akan pergi keluar. Ia memerintahkan Poison Snake untuk kembali nanti saja. Poison Snake terlihat marah. Ia melempar dua koper begitu saja di depan pintu. Tanpa berkomentar, Mantis membawa masuk koper itu.

Beberapa mesin penghitung uang sedang bekerja menghitung uang yang sangat banyak, hasil setoran anak buah Heung San. Mantis bertugas mengelompokkan uang-uang tersebut sesuai dengan pecahan yang sama.

 

Heung San mengambil segepok uang dan menghirup wanginya uang. Heung San tersenyum senang.

Heung San ternyata ada janji dengan Chairman Jung. Chairman Jang berkata dulu ketika Heung San masih gelandangan di Stasiun Seoul, dia yang memberikan uang dan pekerjaan untuk Heung San. Ia memberikan apa pun yang diperlukan oleh Heung San. Tapi ia tidak menyangka, begini balasan Heung San padanya, dengan cara menentangnya.

Heung San tidak menanggapi ucapan Chairman Jung. Ia menikmati makanan dengan lahapnya. Chairman Jung sekuat tenaga menahan sabar menerima perlakuan dari Heung San. Ia berkata Heung San sudah mengambil wilayahnya dan menyuruh anak buahnya untuk memulai bisnis rentenir juga. Jika Heung San tidak menyimpan cakarnya untuk dirinya sendiri, maka Heung San mungkin akan mendapati dirinya dalam masalah.

Heung San masih tidak menanggapi. Ia malah menyuruh Chairman Jung makan, teripangnya masih sangat segar sekali. “Chairman Kwak!”, teriak Chairman Jung marah dan menatap tajam Heung San. Heung San berkata ia sudah membayar semua hutang masa lalunya dan ia juga tidak berhubungan dengan bisnis Chairman Jung. Chairman Jung berkata ia tidak membicarakan masalah bisnis, yang ia bicarakan adalah kesetiaan Heung San.

Tapi Heung San tidak mau membicarakan masalah kesetiaan. Karena kesetiannya pada Chairman Jung, ia kehilangan uang 5 milyar won. Chairman Jung tidak merasa itu adalah salahnya, Heung San sendiri yang memaksanya dalam proyek Dae Dong Bio.

“Dan kau memaksakan Jung Po, padaku, kan? Kau bilang dia sangat hebat… Karena segepok uang, kepercayaanmu berkurang?”, tanya Heung San. Chairman Jung tertawa. Bukan Heung San saja yang kehilangan uang, ia juga kehilangan 7 milyar won dalam proyek itu.

“Tetap saja. Kau belum menemukan bajingan itu!”, sahut Heung San kesal. Chairman Jung yakin ia akan menangkap bajingan itu dan membuat perhitungan dengannya. Ia berjanji jika berhasil menangkapnya, ia akan mengirimkan bajingan itu ke pabrik… (untuk di daur ulang maksudnya)

Heung San hampir termakan janji Chairman Jung, tapi kemudian ia tersadar dan meminta Chairman Jung tidak membicarakan rencana yang akan gagal. Ia bertanya apa yang sebenanrnya diinginkan oleh Chairman Jung.

Chairman Jung hanya ingin Heung San menyingkirkan orang-orang Heung San dari wilayahnya. Ia meminta baik-baik pada Heung San karena mengingat hubungan mereka di masa lalu. Heung San menghela nafas kesal. Ia mengambil sebuah gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya. Heung San menyuruh Chairman Jung minum untuk mendinginkan kepalanya.

Chairman Jung bertambah marah. “Aku, Jung Man Chool yang dulu hanyalah bocah gelandangan yang mengumpulkan koin 100 won di gang belakang dan telah sukses menjadikan diriku seperti sekarang ini!”. Chairman Jung berdiri dan meminum air yang diberikan oleh Heung San lalu membanting gelas itu ke lantai hingga pecah. Mendengar ada suara gelas pecah, Mantis dan si pria gendut, cepat-cepat masuk ke dalam ruangan. Chairman Jung berkata suatu hari nanti Heung San akan menyesali apa yang terjadi hari ini. “Kau bajingan tidak tau berterima kasih!”, umpat Chairman Jung dan pergi dari sana.

Heung San hanya tersenyum tipis melihat Chairman Jung pergi, ia melanjutkan makannya dengan santai. Mantis mendapatkan telpon dari seseorang dan memberikan ponselnya pada Heung San. Heung San terkejut melihat siapa yang menelponnya. “Aku sudah bilang jangan menelponku tanpa alasan yang jelas!”, marah Heung San. Tidak tau apa yang dikatakan oleh orang itu, tapi kemudian Heung San bertanya apakah saat ini Chairman Yoon ada di rumah sakit juga.

Mungkin orang itu menjawab ‘iya’, karena kemudian Heung San tersenyum senang, ia sangat ingin melihat ekspresi Chairman Yoon sekarang ini.

Di rumah sakit, dokter mengumumkan waktu kematian Jo Sun Hae. Semua orang yang ada di ruangan itu menangis, Chairman Yoon terlihat menahan tangisnya.

Jung Min tiba di depan kamar itu, pacar Jung Min, Se Hoon, ada juga di sana, di antara kerumunan pria yang menunggu di luar kamar. Chairman Yoon menyambut Jung Min di pintu kamar, ia mengatakan bahwa kakak laki-laki Jung Min tidak mengizinkan Jung Min masuk ke dalam dan melihat ibunya.

Jung Min menjadi marah, “Apakah orang yang mencaci diriku dan ibuku menyembunyikan wajahnya sampai akhir hidupnya?”. Chairman Yoon meminta Jung Min untuk mengecilkan suaranya, banyak yang melihat mereka di sana. Jung Min terdiam dan mengurungkan niatnya masuk ke kamar. Sebelum benar-benar pergi, Jung Min sempat berbalik sesaat, menatap Se Hoon yang juga menatapnya dengan tatapan sedih dari tadi.

Di sudut koridor yang lain, Jung Min berbicara berdua dengan ayahnya. Jung Min berjanji ia tidak akan datang ke pemakaman, jadi ayahnya tidak perlu khawatir, semakin sedikit orang yang melihatnya, maka akan semakin berkurang kekhawatiran ayahnya. Ia minta maaf, karena sebagai seorang anak, yang bisa ia lakukan hanya sebisa mungkin tidak terlihat oelh siapa pun. Ia meminta ayahnya untuk menjaga kesehatannya.

Ayah meminta Jung Min untuk mampir ke rumah setelah pemakaman. Namun Jung Min menolaknya. Ia berkata rumah ayahnya itu membosankan dan orang-orang di sana juga tidak menyukainya. Ayah berkata ia meminta Jung Min untuk mengemasi barang-barangnya di apartemen dan pindah ke rumahnya. Ayah merasa hanya Jung Min lah satu-satunya anak yang dapat ia percaya.

“Jangan mempercayaiku. Kemampuanku belum cukup untuk mendapatkan kepercayaan ayah”. Tapi ayah tidak mau mendengar alasan Jung Min lagi. Ia mengatakan ia akan menyiapkan kamar untuk Jung Min.

Jung Min menemui Se Hoon di suatu tempat. Se Hoon bertanya kenapa selama ini Jung Min tidak memberitahukan padanya. Jung Min berkata karena ia sudah sering melihat raut wajah seperti itu. Semua mantan kekasihnya pergi setelah mengetahui siapa ayahnya.

“Apa kau pikir aku juga seperti itu?”

“Aku tidak tau. Banyak hal tentangmu yang belum aku ketahui”.

Se Hoon sedikit marah melihat Jung Min sama sekali tidak menyesal telah berbohong padanya. Tapi Jung Min berkata apakah ia harus minta maaf karena ayahnya adalah seorang konglomerat. Se Hoon tersenyum kecil, ia bahkan tidak tau kenapa ia merasa sedih saat ini. Jung Min meminta maaf pada Se Hoon, ia sedang tidak mau berbicara saat ini.

Se Hoon mengerti. Ia mengajak Jung Min berbicara jika Jung Min sudah merasa lebih baik, walaupun ia tidak tau jika saat itu tiba, ia masih mau mendengarkan Jung Min atau tidak.

Tae Ho masih berlari sambil menarik ban di belakangnya. Ia merebahkan dirinya di lantai, kelelahan. Ketika ia membuka matanya, ia melihat seorang wanita sedang memperhatikannya. Wanita itu tidak mengatakan apa pun dan langsung masuk ke bus Jong Goo. Di dalam bus, Jong Goo sudah berpakaian rapi, seperti akan pergi menemui seseorang.

Wanita itu adalah Madam Seo, nama aslinya Seo Mi Joo. Jadi kalau bukan di klub malam, kita panggil saja Mi Joo ya. Mi Joo memberikan secarik kertas. Ia berkata ia sudah mengecek alamatnya tapi ia tidak yakin mereka orangnya. Ia bertanya apa yang akan dilakukan Jong Goo jika berhasil menemui mereka. Jong Goo tidak tau, ia akan lihat nanti.

Mi Joo berkata ia akan menyimpan soju untuk Jong Goo, ia meminta Jong Goo untuk mampir ke klub setelah Jong Goo kembali. Sebelum berangkat, Mi Joo sempat merapikan dasi Jong Goo. Jong Goo terlihat sedikit canggung berada dekat dengan Mi Joo.

Jong Goo keluar dari bus dengan menenteng sebuah tas yang lumayan besar. Tae Ho bertanya kemana Jong Goo akan pergi. “Kenapa? Kau mau ikut?”, tanya Jong Goo iseng. Jong Goo berkata setelah ia pulang nanti, latihan Tae Ho akan semakin berat. Jadi ia minta Tae Ho terus berlari sambil menarik ban itu.

Setelah Jong Goo pergi, Mi Joo mendekati Tae Ho, bertanya apakah Tae Ho akan terus berada di dekat Jong Goo. Saat ini Jong Goo terus dalam keadaan bahaya. Ia tidak mau Tae Ho memperparah keadaan Jong Goo.

“Walaupun aku jawab pertanyaanmu, tapi aku tidak tau siapa kau”, ucap Tae Ho.

Tapi Mi Joo mengatakan ia mengetahui siapa Tae Ho. Tae Ho adalah orang yang menyingkirkan Snake Eye, yang mengurangi pembagian tanpa izin, yang melarang duel dan minum di wilayahnya. Rumor menyebar cepat di Stasiun Seoul. Jika Tae Ho ingin rahasianya tidak diketahui oleh orang lain, sebaiknya Tae Ho segera angkat kaki dari sana.

“Bagaimana jika aku tidak mau?”.

Mi Joo berkata naik semakin tinggi itu sangatlah bagus. Tapi ia tidak ingin ahjussi dalam bahaya karena Tae Ho. Tae Ho kembali bertanya siapa Mi Joo. Tapi Mi Joo tidak menjawab, ia berkata nanti Tae Ho akan tau sendiri.

Poison Snake kembali ke tempat Heung San. Mantis menemuinya di luar kamar. Ia berkata saat ini bukan waktunya penyetoran, jadi untuk apa Poison Snake datang ke sana. Poison Snake berkata ada hal yang ingin ia sampaikan pada Bos. Mantis masih tidak mengizinkan, ia minta Poison Snake untuk mengatakan padanya saja. Poison Snake menolaknya. Ia ingin bicara langsung dengan Bos karena ini tentang si nomor 7, ia sudah menegtahui identitas sebenarnya si nomor 7.

Mantis masih belum mau bergeser. Poison Snake menjadi marah, “Apa kau ingin lidahmu kupotong? Aku nomor 4 di Seoul ini…”. Tapi Mantis tetap di tempatnya, tidak mengalah, ia beralasan ini adalah perintah dari Bos. Poison Snake memandang marah pada Mantis.

Sementara si Bos, Heung San sedang berbicara dengan Madam Seo. Ia memberitahukan bahwa minggu ini Inspektur Choi dan Inspektur Park akan datang ke klub. Mereka lebih menyukai wanita daripada alkohol, jadi ia minta Madam Seo menyiapkannya.

Lalu Heung San tiba-tiba bertanya tentang nomor 2. Apa yang sedang dilakukannya saat ini?

Madam Seo sempat terdiam, lalu berkata, “Bagaimana aku tau?”

“Dia tidak ke klub, bukan?”

“Dia lebih menyukai soju”, jawab Madam Seo singkat. Heung San memandang curiga pada Madam Seo. Mantis masuk dan membisikkan sesuatu pada Heung San. Heung San terkejut, “Manajer keuangan? Pekerjaannya memanipulasi harga saham?”. Heung San tersenyum penuh kemenangan.

Hae Jin dan Tae Ho sedang menunggui President Jo yang sedang sakit. President Jo menolak minum obat atu pergi ke klinik. Ia ingin dokter pribadinya yang sedang mengikuti konferensi di London datang untuk mengobatinya. Hae Jin berusaha membujuk President Jo, ia berkata, seorang pemimpin harus bertanggung jawab pada bawahannya.

“Iya begitu, Direktur Jang?”, tanya President Jo pada Tae Ho. Tae Ho menganggukkan kepalanya, ia mengajak President Jo ke klinik besok pagi. President Jo akhirnya mau menuruti mereka.

Lalu Hae Jin menarik Tae Ho menjauh dari President Jo, ia berkata besok Tae Ho harus bekerja untuk Sergeant Bae. Tapi sepertinya Tae Ho enggan, ia lebih memilih mengantar President Jo ke klinik, jika Sergeant Bae tidak mengizinkannya maka lebih baik ia berduel dengan Sergeant Bae. Hae Jin mencegah Tae Ho, saat ini Tae Ho sama sekali belum siap menghadapi Sergeant Bae.

Sementara itu Poison Snake berkumpul dengan Crocodile dan Sergeant Bae. Ia mengajak mereka menyingkirkan Tae Ho. “Apa itu perintah Bos?”, tanya Crocodile. Poison Snake tidak menjawab, ia berkata Tae Ho terlibat dalam proyek Dae Dong Bio, setidaknya Bos kehilangan uang 5 milyar won dalam proyek itu. Jika Bos mengetahui hal itu, apakah Bos akan tinggal diam saja? Menurut Poison Snake sebagai bawahan, mereka lah yang seharusnya mengerjakan pekerjaan kotor untuk Bos.

Tapi Sergeant Bae tidak tau bagaimana mereka melakukan rencana mereka. Mereka tidak bisa menantang bawahan. “Buat Tae Ho menjadi penantang. Pancing emosinya supaya ia mengucapkan tantangan”, ucap Poison Snake.

Crocodile dan Sergeant Bae tersenyum senang. “Itu memang keahlianku”, ucap Sergeant Bae.

Keesokan paginya, Sergeant Bae mengumpulkan semua orang dan menyuruh mereka berhitung. Hanya ada 22 pengemis, mana satu lagi?, tanyanya. Tae Ho maju ke depan Sergeant Bae dan memberitahukan bahwa President Jo sudah tua dan sedang demam…

Tapi Sergeant Bae tidak peduli, ia malah menendang tulang kering Tae Ho. Ia ingin President Jo dibawa ke depannya. Dan untuk yang lainnya, ia memerintahkan mereka semua berbaring di tanah sampai President Jo datang ke sana.

President Jo memang ke klinik. Ia keluar dari klinik diantar oleh Na Ra. Young Chil berlari tergesa-gesa, menjemput President Jo, membuat Na Ra mengernyit heran. Young Chil membawa President Jo ke tempat Sergeant Bae mengumpulkan para gelandangan.

Begitu President Jo sampai, Sergeant Bae baru menyuruh mereka semua bangun. Ia memarahi President Jo karena President Jo terlambat, mereka jam kerja mereka tertunda 30 menit. Karena seorang pimpinan sepertimu, anak buahmu mendapatkan hukuman, bagaimana menurutmu?

“Sebagai pimpinan, aku meminta maaf atas nama karyawanku”, sahut President Jo dengan gaya lemesnya…

“Hei, Pak tua sinting! Sepertinya kau perlu diberi pelajaran. Lakukan push up!”. Melihat President Jo hanya diam saja, Sergeant Bae mendorong President Jo sampai terjatuh dengan posisi push up. Tangan President Jo gemetaran menahan berat tubuhnya. Hae Jin berusaha menahan Tae Ho yang mulai terpancing emosinya.

Sergeant Bae mulai menghitung, tapi President Jo diam saja. Tiba-tiba dari jalan di atas mereka, lewat beberapa mobil pemadam kebakaran dan membunyikan sirene. President Jo menutup telinganya. “Dia mulai lagi…” ucap Yong Chil.

“Sirine itu pemicunya…”, ucap Hae Jin khawatir. Hae Jin cepat-cepat berlari melindungi President Jo yang akan dipukuli oleh Sergeant Bae dengan tongkat di tangannya. Hae Jin terkenal pukulan dua kali. Tiba-tiba Tae Ho melempar sebuah kaleng bekas ke kepala Sergeant Bae. “Siapa yang melakukan ini, bangsat?”

“Aku, bangsat!”, jawab Tae Ho.

“Apa kau akan memberontak melawanku?”

“Ini bukan pemberontakan. Ini… Tantangan…!”, teriak Tae Ho. Sergeant Bae tersenyum senang.

“Kau ingin berduel denganku?”.

Tae Ho berjalan mendekati Sergeant Bae, “Tentukan tanggal dan tempatnnya. Aku akan menghajarmu sampai mampus”.

Bersambung…

 

Komentar :

Awalnya agak ragu nonton drama ini, tapi setelah dua episode, hmm… menarik juga. Menarik mengikuti perjuangan Tae Ho untuk mencapai puncak dan mendapatkan kembali kehidupannya yang lalu dan menarik mengikuti bagaimana Tae Ho berhasil membuktikan pada mantan pacarnya, Jung Min yang sudah meremehkannya.

Ga nyangka Jung Min itu ternyata tidak tulus mencintai Tae Ho. Bayangin aja, kita sudah tidak memiliki apa pun lagi, lalu orang yang kita pikir mencintai kita, ternyata malah membuka topengnya, mengungkapkan bahwa sebenarnya ia tidak mencintai kita. Ia hanya mencintai kesuksesan yang ada pada diri kita…

Suka juga melihat interaksi Tae Ho dan Na Ra. Menunggu cerita mereka berdua. Apakah akan ada romance di antara mereka? Ikuti terus ya…

[Sinopsis Last Episode 3]

Leave A Reply

Your email address will not be published.