Update Sinopsis Drama Korea Terbaru

Sinopsis Madame Antoine Episode 10 Part 1

0

[Sinopsis Madame Antoine Episode 9 Part 2]

 

Sinopsis Madame Antoine Episode 10 Part 1

Di saat sedang marah-marahnya, sebuah sms masuk ke ponsel Hye Rim. Dari Soo Hyun. Soo Hyun mengingatkan Hye Rim kalau ia sudah di kafe dan sudah menunggu Hye Rim di sana. Tanpa membuang waktu Hye Rim langsung menyusul ke kafe.

Begitu melihat Soo Hyun, Hye Rim langsung menerjang Soo Hyun hingga Soo Hyun jatuh ke lantai dan menghajarnya habis-habisan… Hehe…

Tapi ternyata itu hanyalah khayalan Hye Rim. Alih-alih menghajar Soo Hyun, Hye Rim malah memberikan senyumannya saat Soo Hyun dengan manisnya melambaikan tangan pada Hye Rim.

Setelah Hye Rim duduk di depannya, Soo Hyun menanyakan keadaan Hye Rim karena ia melihat Hye Rim terlihat tidak begitu senang.

Hye Rim membantah, sebaliknya ia mengatakan ia sangat senang. Namun sesaat kemudian, dengan alasan tamu yang banyak di kafe, Hye Rim minta izin kembali ke kafe. Soo Hyun ingin mengantarkan, namun Hye Rim menolak dengan alasan ia harus mampir di toko kelontong lebih dulu.

Soo Hyun mendesak, beralasan kalau udaranya dingin. Tapi Hye Rim tetap menolak.

Soo Hyun tidak memaksa lagi. Sebelum Hye Rim pergi, Soo Hyun memberikan permen kapas untuk Hye Rim, “Kamu bilang kamu ingin makan ini, ‘kan?”.

Tanpa membantah, Hye Rim menerima pemberian Soo Hyun sambil tersenyum. Lalu Hye Rim pun pergi.

Saat di luar kafe, Hye Rim mengirimkan sms untuk Ji Ho dan Seung Chan. Ia menyuruh mereka datang ke kafe lima menit lagi. Lalu Hye Rim memandang permen kapas itu dengan muak dan membuangnya ke dalam tong sampah.

Tiba di rumah, Hye Rim membongkar lemarinya, mencari baju perangnya… Hihi…

Yoo Rim tiba-tiba  datang dan memberitahukan tentang Soo Hyun, Seung Chan, dan Ji Ho yang pura-pura menyukai Hye Rim. Hye Rim dengan menahan marah mengatakan ia sudah tahu. Yoo Rim tidak percaya kakaknya sudah tahu, ia kembali memberitahukan kalau Soo Hyun, orang yang dikencani kakaknya saat ini cuma pura-pura…

“Aku sudah tahu, brengsek! Berapa kali aku bilang aku sudah tahu!”, teriak Hye Rim marah. Hye Rim mengusir Yoo Rim pergi kalau Yoo Rim datang hanya untuk membuatnya marah.

Yoo Rim balik marah, kesal karena kakaknya malah memarahinya padahal maksudnya hanya untuk memperingatkan kakaknya saja. Ia bahkan langsung berlari hanya untuk mengatakan semua itu pada kakaknya.

Tapi Hye Rim tidak percaya. Ia yakin sekarang Yoo Rim pasti senang, Ji Ho yang Yoo Rim sukai ternyata hanya pura-pura menyukainya. Yoo Rim tidak percaya kakaknya menilainya seperti itu.

Tapi Hye Rim tidak peduli, ia ingat bagaimana dulu Yoo Rim sering mengatakan tentang orang tua mereka yang hanya mencintainya dan juga para pria yang hanya tertarik padanya.

Mulut Yoo Rim terbuka lebar, tidak percaya kakaknya menuduhnya seperti itu. Ia bahkan menyiram Ji Ho dengan air sebelum ia berlari pulang ke rumah. Namun sayangnya menurut Hye Rim, Yoo Rim cuma melakukannya setengah hati, Yoo Rim cuma pura-pura saja…

Yoo Rim tidak mau berdebat lagi dengan kakaknya. Setelah ia pikir-pikir, mungkin semua ini hukuman untuk kakaknya, kakaknya begitu senang ketika banyak pria yang menyukainya dan ternyata harus berakhir karena semua itu hanyalah bohong belaka.

Hye Rim semakin marah. Tapi Yoo Rim tidak mau meladeni kakaknya lagi dan memilih pergi. Tidak peduli dengan teriakan kakaknya yang memanggilnya supaya kembali.

Lalu Hye Rim mendapatkan telpon dari pekerja kafenya yang memberitahukan bahwa Ji Ho dan Seung Chan sudah ada di kafe. Hye Rim menyuruh wanita itu menutup kafe dan mengunci semua pintu, supaya kedua brengsek itu tidak bisa melarikan diri.

Dengan bingung, pekerja kafenya Hye Rim, mengunci semua pintu yang ada di lantai satu. Seung Chan dan Ji Ho melihatnya dengan heran tapi mereka tidak menanyakan apa pun.

Setelah si pekerja kafe itu pulang, Hye Rim turun dari atas, sudah lengkap dengan jaket lorengnya… Hihi..

Seung Chan dan Ji Ho berdiri di depan Hye Rim yang menatap mereka dengan tajam. Hye Rim mengatakan ia sudah tahu semuanya sekarang. Ji Ho pura-pura tidak mengerti dengan maksud Hye Rim.

Hye Rim menyuruh Ji Ho menebak. Seung Chan menebak antara yakin dan tidak, kalau Hye Rim sudah membuka brangkas itu. Hye Rim langsung teriak, menurutnya bukan saatnya mereka membahas tentang itu.

Hye Rim mengambil pel dan memerintahkan mereka berdua berlutut.

Tanpa protes, Ji Ho langsung berlutut, sedangkan Seung Chan tidak mau. Seung Chan menolak melakukan itu karena memang awalnya ia mendekati Hye Rim karena perintah dari kakaknya tapi kemudian ia benar-benar menyukai Hye Rim.

Hye Rim mengatakan ia tidak mau mendengar itu dari Seung Chan. Ia menyuruh Ji Ho yang pintar menjelaskan padanya dengan detail.

Ji Ho menjelaskan hingga ke tanggal-tanggalnya. Ji Ho menyebutkan eksperimen pada Hye Rim dimulai sejak tanggal 10 Desember 2015, dan subjek pria C, yaitu dirinya bergabung sejak tanggal 16 Desember 2015. Subjek Pria B, Seung Chan bergabung sejak tanggal 23 Desember 2015.

Seung Chan protes, karena Ji Ho menggunakan kata ‘bergabung’, menurutnya ia dipaksa oleh kakaknya.

Ji Ho membantah, karena Seung Chan sendiri yang setuju menjadi bagian dari eksperimen karena Seung Chan butuh uang.

Seung Chan langsung beralih pada Hye Rim, meminta Hye Rim tidak percaya pada Ji Ho, tapi Hye Rim tidak mau mempedulikan protesnya Seung Chan. Ia menyuruh Ji Ho menceritakan hingga selesai.

Ji Ho mengatakan tanggal 26 Desember 2015, Subjek pria A, Soo Hyun, bergabung dan secara resmi sejak tanggal itulah ekperimen dimulai. Dan di tanggal 17 Januari 2016, di lakukan fMRI pertama pada subjek utama Go Hye Rim sebagai penilaian di pertengahan eksperimen untuk menentukan pria mana yang paling disukai Hye Rim (di sub disebutkan bulan desember, tapi kayaknya bukan. Karena fMRI ‘kan dilakukan kalo ga salah sebulan setelah eksperimen…).

Hye Rim tidak mengerti tentang maksud dari penilaian di pertengahan eksperimen. Ji Ho menjelaskan seperti laporan yang ia dan Seung Chan berikan pada Soo Hyun, seperti berapa kali mereka bertemu dengan Hye Rim, kapan, dimana…

Hye Rim semakin marah ternyata mereka semua mempermainkan kehidupan pribadinya. Hye Rim ingin tahu kenapa mereka tidak mengatakan semua ini padanya, padahal seperti Ji Ho, Ji Ho sendiri mengatakan kalau Ji Ho menyukainya dan bahkan ‘menembaknya’…

Ji Ho mengatakan ia sebenarnya ingin mengatakannya pada Hye Rim tapi menurutnya eksperimen ini sangat penting bagi Soo Hyun, jadi Ji Ho merasa ia berada pada posisi yang tidak bisa mengatakannya pada Hye Rim.

Hye Rim beralih pada Seung Chan, bertanya apa alasan Seung Chan.

Seung Chan meminta maaf karena tidak memberitahukan Hye Rim karena ia takut Hye Rim akan membencinya.

Hye Rim membenarkan ucapan Seung Chan. Saat ini ia memang sangat-sangat membenci Seung Chan dan juga Ji Ho. Tapi ia memberikan kesempatan terakhir untuk mereka berdua. Ia ingin mereka berdua merahasiakan apa yang ia ketahui dari Soo Hyun. Jika mereka berani mengatakan sesuatu pada Soo Hyun, Hye Rim mengancam akan membunuh mereka berdua.

Selain itu, Hye Rim juga memerintahkan mereka mengikuti kemauannya. Apapun yang mereka lakukan, jika ia menelpon, mereka harus meninggalkan pekerjaannya dan segera melakukan apa pun yang ia minta.

Ji Ho menjawab ‘ya’.

Hye Rim menegur Seung Chan yang hanya diam saja. Seung Chan tidak men-iyakan, ia hanya bertanya apa yang akan Hye Rim lakukan pada kakaknya.

Hye Rim bertekad akan mengurusnya sendiri dan akan membuat Soo Hyun mengakui semuanya.

Tiba-tiba ponsel Hye Rim berbunyi. Dari Soo Hyun. Dengan menahan geram, Hye Rim menerima telpon dari Soo Hyun dan dengan manis menyapa Soo Hyun. Soo Hyun menanyakan apakah Hye Rim pulang ke rumah dengan selamat dan Hye Rim mengatakan baru saja tiba dan sangat senang karena Soo Hyun mengkhawatirkanya.

Seung Chan dan Ji Ho hanya saling pandang. Tidak bisa membayangkan pembalasan apa yang akan dilakukan Hye Rim pada Soo Hyun nantinya… Hihi…

Tak lama, Hye Rim pun mengakhiri telpon-telponannya dengan mengucapkan selamat malam yang mesra. Namun wajah Hye Rim seketika berubah marah lagi dan bahkan memaki Soo Hyun. Seung Chan kaget mendengarnya dan Ji Ho menelan ludahnya… Hihi…

Hye Rim dalam perjalanan menemui Ketua Kim. Ia mengatakan rasa tidak nyamannya pada asisten Ketua Kim karena Ketua Kim sampai mengirimkan orang untuk menjemputnya. Asisten Ketua Kim mengatakan Ketua Kim sangat menghormati Hye Rim dan berterima kasih karena Hye Rim membantunya saat ia terkena serangan stroke.

Hye Rim merasa itu bukan suatu yang istimewa, siapa pun akan mengantarkan Ketua Kim dengan ambulan jika mereka dihadapi dengan kejadian yang sama. Lalu Hye Rim menanyakan kemungkinan Ketua Kim ingin diramal lagi. Asisten Ketua Kim membenarkan.

Lalu Hye Rim teringat Ketua Kim pernah memintanya meramal putrinya. Dan Hye Rim mencoba memancing informasi melalui asisten Ketua Kim. Hye Rim mengatakan akhir-akhir ini ia sering memimpikan wanita yang ia lihat di rumah peristirahatan Ketua Kim.

Awalnya asiten Ketua Kim tidak mengerti maksud Hye Rim tapi kemudian ia ingat dengan putri Ketua Kim.

Melihat reaksi asisten Ketua Kim yang agak terkejut, Hye Rim menduga pasti ada sesuatu dibalik putri Ketua Kim. Hye Rim mencoba mengorek informasi lebih dalam. Ia mengatakan kalau ia melihat aura gelap di sekitar putri Ketua Kim dan itu mengkhawatirkannya.

Asisten Ketua Kim membenarkan, mereka malah akan mengadakan ritual pengiriman roh. Hye Rim menyarankan mereka melakukannya dengan baik. Dan asisten itu mengatakan mereka harus melakukannya tiga kali.

Hye Rim memikirkan kemungkinan tiga orang yang meninggal di sekitar Ketua Kim dan ia juga teringat ia tidak pernah melihat istri Ketua Kim…

Hye Rim bertemu dengan Ketua Kim di ruang kerja Ketua Kim. Ketua Kim meminta maaf atas keterlambatannya karena rapat yang harus ia hadiri berlangsung lebih lama.

Hye Rim menanyakan kabar tentang putri Ketua Kim dan Ketua Kim mengatakan putrinya sangat membantu dan selalu berada di rumah sepanjang hari. Ketua Kim mengatakan kepalanya selalu sakit setiap kali memikirkan putrinya itu.

Hye Rim memakluminya, ia berpikir mungkin itu disebabkan karena banyaknya orang yang meninggal di sekitar Ketua Kim.

Ketua Kim langsung kaget karena Hye Rim mengetahui tentang keluarganya. Ia mengira Marie Antoinette yang memberitahukan pada Hye Rim.

Hye Rim tersenyum canggung dan mengatakan, iya, hanya sedikit. Hye Rim meminta Ketua Kim mengatakan padanya jika ada hal yang bisa ia bantu. Ia berharap Ketua Kim mengizinkannya bertemu dengan putri Ketua Kim, paling tidak satu kali saja.

Ketua Kim terdiam dan berpikir sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke pegangan sofa.

Hye Rim kembali ke kafe dan wajahnya langsung keruh saat melihat Ji Ho. Dengan jutek, Hye Rim menanyakan informasi tentang Soo Hyun pada Ji Ho. Sayangnya, Ji Ho menjawab tidak sesuai dengan harapannya dan Hye Rim mengganti pertanyaan, ingin tahu apa jadwal Soo Hyun hari ini.

Ji Ho mengatakan setelah konsultasi jam 1 siang nanti, Soo Hyun akan pergi wawancara dengan BBC. Hye Rim tertarik mendengarnya dan ingin tahu wawancara tentang apa.

Ji Ho mengatakan pihak BBC mewawancarai psikolog-psikolog yang ada di seluruh dunia dan tiga bulan lalu saat diwawancara, Soo Hyun membicarakan tentang eksperimen Madame Antoine. Jadi berpikir sepertinya wawancara kali ini adalah lanjutan dari wawancara tiga bulan sebelumnya.


Soo Hyun berada di sebuah ruangan, seperti tempat pertunjukan kecil. Di sana sudah ada dua orang pewawancara dari BBC, satu bule pria dan satu bule wanita, dan beberapa orang kru yang sedang merekam. Pewawancara bertanya dalam bahasa inggris, sementara Soo Hyun menjawab dalam bahasa Korea…

Si bule pria bertanya tentang jalannya ekperimen Soo Hyun tahap kedua. Soo Hyun mengatakan tahap pertama sudah berakhir dan saat ini tahap kedua sedang berjalan. Si bule ingin tahu tujuan tahap kedua ekperimen Soo Hyun.

Dan Soo Hyun mengatakan, untuk tahap kedua ia ingin mengetahui seberapa kuat perasaan cinta wanita yang diperoleh dari tahap pertama. Si bule cowok tidak mengerti maksud Soo Hyun dan meminta Soo Hyun menjelaskan lebih detail.

Nmaun pada saat Soo Hyun akan menjawab, pintu ruangan terbuka dan Hye Rim masuk. Hye Rim tersenyum pada Soo Hyun dan Soo Hyun membalas dengan senyum yang aneh. Saat Hye Rim mencari tempat duduk dan akhirnya duduk di salah satu kursi penonton, Soo Hyun menjawab pertanyaan si bule. Mengatakan bahwa itu adalah rahasia dan ia belum bisa mengatakan pada siapa pun.

Si bule mengerti dan bertanya bagaimana jalannya ekperimen tahap pertama. Soo Hyun mengatakan, ia mengakhiri tahap pertama dengan mengkonfirmasinya melalui pemeriksaan fMRI. Si bule ingin tahu siapa yang dipilih oleh wanita itu.

“Dia memilih pria yang berusia di pertengahan tiga puluh tahun”, jawab Soo Hyun.

“Ah… pria yang pemarah yang punya banyak uang dan kekuasaan?”, tanya si bule lagi. Soo Hyun meng-iyakan. “Jadi, kalau begitu, hipotesis anda terbukti benar…”, puji si bule itu. Soo Hyun tersenyum canggung.

Lalu si bule meminta Soo Hyun mengulang kembali hipotesisnya. Soo Hyun tidak bisa menolak dan terpaksa mengatakannya… Hihi…

“Seorang wanita single usia 30-an tahun lebih mudah jatuh cinta dengan pria yang lebih tua yang memiliki jaminan dalam hal penghasilan dan pekerjaan dan sukses dalam hidupnya daripada pria yang lebih muda. Dengan begitu tidak ada ‘cinta sejati’ bagi wanita”, terang Soo Hyun.

Hye Rim menggenggam erat-erat tasnya, menahan marah dan kemudian pura-pura tersenyum pada Soo Hyun.

Dan kemudian, wawancara pun ditutup dengan saling mengucapkan terima kasih dan saling berjabat tangan.

Begitu selesai, Soo Hyun langsung mendekati Hye Rim dan duduk di sebelah Hye Rim dan menanyakan bagaimana Hye Rim bisa tahu dan datang ke sana. Hye Rim beralasan ia ingin bertemu dengan Soo Hyun dan mencari Soo Hyun di klinik, tapi Soo Hyun tidak ada di sana. Ia bertemu dengan Ji Ho dan Ji Ho yang memberitahukannya kalau Soo Hyun sedang wawancara.

Hye Rim memuji Soo Hyun yang hebat dan bahkan sampai diwawancara oleh BBC. Soo Hyun merendah, mengatakan tidak ada yang istimewa dan ingin tahu aapakh Hye Rim mengerti apa yang ia bicarakan tadi.

“Intinya sih, iya… Lagipula kamu berbicara dalam bahasa Korea…”, sahut Hye Rim. Hihi… “Tadi itu tentang eksperimen, ‘kan?”.

Soo Hyun membenarkannya dengan senyum canggungnya. “Sepertinya tahap kedua berjalan dengan baik ya?”, tanya Hye Rim lagi.

“Ya… kira-kira seperti itulah…”. Hye Rim ingin tahu apakah Soo Hyun akan memberitahukan subjek kalau itu semua hanya eksperimen saja. Dan Soo Hyun mengatakan, tidak.

Hye Rim merasa kasihan sekali pada wanita itu, ia berpikir wanita itu pasti tidak tahu kalau ia ditipu dan kemudian bertanya pada Soo Hyun apa yang akan terjadi jika wanita itu tahu kalau semua ini hanya eksperimen saja. Hye Rim yakin wanita itu pasti akan mengacaukan eksperimen itu dan menolak untuk berpartisipasi lebih jauh.

Soo Hyun semakin terlihat tidak nyaman dan bertanya kenapa Hye Rim sangat tertarik dengan eksperimen itu, padahal ia sudah menyingkirkan eksperimen yang ia lakukan pada Hye Rim.

Hye Rim beralasan karena orang yang ia sukai mempertaruhkan hidupnya untuk eksperimen itu. Namun Soo Hyun mengatakan ia lebih suka kalau mulai sekarang Hye Rim tidak tertarik lagi dengan eksperimennya dan lagipula eksperimennya itu tidak ada hubungannya dengan Hye Rim.

Dalam hati Hye Rim marah, karena Soo Hyun mengatakan eksperimen itu tidak ada hubungan dengannya padahal jelas-jelas ia adalah subjek utamanya. Lalu Hye Rim meminta izin untuk bertanya satu hal lagi. Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan pria yang dipilih oleh wanita itu. “Tidak ada yang terjadi antara pria itu dan subjek itu kan?”, tanya Hye Rim lagi.

Soo Hyun terdiam sesaat dan kemudian mengatakan kalau pria itu mulai menyukai wanita itu.

Hye Rim tidak percaya itu bisa terjadi, padahal pria itu hanya berpura-pura menyukai wanita itu. (Uhmm… Soo Hyun dan Hye Rim sama-sama menyebutkan ‘pria itu’ dan ‘wanita itu’…)

Soo Hyun merasa sepertinya banyak hal yang terjadi. Ia merasa alasan kenapa pria itu memasukkan wanita itu ke dalam eksperimen hanya untuk membuat wanita itu kacau. Hye Rim kaget, menanyakan memangnya apa yang wanita itu lakukan pada pria itu.

Soo Hyun berpikir sepertinya awalnya mereka tidak rukun dan sering berbeda pendapat tapi selama eksperimen berjalan, pria itu menjadi semakin dekat dengan wanita itu dan melihat sisi lain dari wanita itu.

“Sisi dirinya yang mencoba kuat padahal hatinya rapuh, mencoba mengatasi segala permasalahan sendiri sebaik yang dia bisa, mencoba yang terbaik untuk bertahan walau apa pun yang dunia lemparkan pada dirinya. Tanpa sadar, subjek pria A mulai mencintainya…”, ucap Soo Hyun.

Hye Rim agak tersentuh dengan ucapan Soo Hyun. Ia ingin tahu kemungkinan pria itu akan memberitahukan kalau semua itu hanya eksperimen. Tapi Soo Hyun mengatakan pria itu belum ingin mengatakannya, ia pikir itu mungkin hanya waktunya saja yang belum tepat.

Hye Rim menyuruh Soo Hyun mengatakan pada pria itu untuk segera memberitahukan wanita itu. Hye Rim yakin wanita itu mungkin akan memaafkan pria itu jika pria itu mau jujur.

Soo Hyun meng-iyakan, ia yakin pria itu akan segera mengatakannya, tapi ia tidak tahu, ada banyak hal yang dikhawatirkan.

“Coba katakan saja sekarang, Soo Hyun-ssi…”, pinta Hye Rim. Soo Hyun sontak kaget. Hye Rim ingin tahu apa yang akan Soo Hyu katakan jika ia adalah subjek utama dan SOo Hyun adalah pria subjek A.

Soo Hyun menjadi sangat gugup dan tidak tahu harus melakukan apa. Tapi dengan tegas, Hye Rim kembali menyuruh Soo Hyun melakukannya.

Soo Hyun berlutut di depan Hye Rim, “Aku minta maaf, Hye Rim-ssi. Awalnya kau tidak begitu menyukaimu jadi aku memasukkanmu dalam eksperimen untuk membuatmu marah. Tapi sekarang perasaanku padamu tulus. Aku minta maaf karena dulu berpura-pura menyukaimu. Tapi, aku pikir… mungkin sepertinya aku sudah tertarik padamu sejak awal dan oleh sebab itulah aku memasukkanmu dalam eksperimen ini dari awal…”.

Hye Rim menatap Soo Hyun. “Hye Rim-ssi… bisakah kamu memaafkanku?”, tanya Soo Hyun.

Hye Rim memastikan sekali lagi apakah ini yang akan Soo Hyun katakan jika Soo Hyun adalah Subjek pria A. Soo Hyun membenarkan. Hye Rim menyuruh Soo Hyun mengatakan pada pria itu untuk segera mengakui semuanya pada wanita itu. Lebih cepat, lebih baik. Karena dengan begitu, mungkin wanita itu akan memaafkan pria itu.

Dan kemudian Hye Rim pun pamit untuk pulang lebih dulu.

Hye Rim akan naik ke tempat tinggalnya di lantai 3 dan tidak sengaja bertemu dengan Seung Chan yang sepertinya memang sengaja menunggunya. Seung Chan menawarkan makan malam untuk Hye Rim tapi Hye Rim tidak suka makan bersama dengan Seung Chan.

Seung Chan beralasan ia melakukan itu karena ia merasa bersalah pada Hye Rim. Akhirnya Hye Rim pun setuju dan sebagai hukumannya, Seung Chan harus membuatkan makan malam untuknya selama seminggu.

Seung Chan sama sekali tidak keberatan dan tersenyum senang.

Sambil menyiapkan ramyun untuk Hye Rim, Seung Chan bertanya apa yang kakaknya katakan pada Hye Rim. Hye Rim mengatakan Soo Hyun hanya bicara tidak jelas.

Seung Chan menyuruh Hye Rim mengaku saja pada Soo Hyun kalau ia sudah tahu tapi Hye Rim tidak mau. Ia ingin Soo Hyun yang mengaku sendiri. Tapi Seung Chan yakin, kakaknya tidak akan mau mengatakan sendiri dengan mulutnya.

Seung Chan ingat awal mulanya ia memutuskan bermain bisbol. Itu karena kakaknya…

=== Flashback ===

Seung Chan yang masih kecil ikut main bisbol bersama Soo Hyun dan teman-teman Soo Hyun yang sudah lebih besar. Saat itu Seung Chan harus memukul bola dan Soo Hyun menjadi pitchernya.

Dengan dingin Soo Hyun menyuruh Seung Chan memukul dengan benar. Soo Hyun mengatakan ia mengizinkan Seung Chan main hanya karena Seung Chan buruk dalam bisbol.

Dengan tidak mau kalah, Seung Chan menyuruh kakaknya melemparkan bola karena kali ini ia akan membuat homerun. Soo Hyun balik ke tempat pitcher sambil menggerutu, menyuruh Seung Chan pergi dan mengatai Seung Chan anak nakal.

Entah disengaja atau tidak, bola yang dilemparkan Soo Hyun mengenai kepala Seung Chan hingga Seung Chan terjatuh dan kesakitan. Beberapa teman Soo Hyun mengerumuni Seung Chan, sementara Soo Hyun hanya diam melihat dari jauh lalu kemudian tersenyum samar.

=== Flashback End ===

Seung Chan merasa ia masih melihat sisi Soo Hyun itu sampai sekarang. Kadang-kadang ia juga bertanya-tanya kenapa Soo Hyun sangat membencinya. Hye Rim ingin tahu apakah Seung Chan pernah mencoba membicarakannya dengan Soo Hyun.

“Tidak pernah. Lagipula dia tidak pernah memperlakukanku seperti layaknya orang memperlakukan saudaranya yang lebih muda…”, sahut Seung Chan.

Hye Rim teringat saat Soo Hyun pernah mengatakan padanya kalau ia punya perasaan kalau dua saudaranya selalu bersekongkol untuk melawannya. Lalu Hye Rim bertanya bagaimana dengan ibu Seung Chan dan bagaimana perlakukan ibu Seung Chan pada Soo Hyun.

Menurut Seung Chan, ibunya bukan orang yang membeda-bedakan mereka. Ibunya tidak pernah membelanya, bahkan ibunya sering kali selalu membela Soo Hyun.

Hye Rim seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi memilih untuk tidak karena ia pikir ia tidak berhak menilai keluarga Soo Hyun dan Seung Chan.

Sekali lagi Seung Chan meyakinkan Hye Rim kalau Soo Hyun itu orang yang dengki dan dingin. Jadi ia meminta Hye Rim untuk tidak berharap terlalu tinggi pada Soo Hyun. Menurut Seung Chan, seandainya Soo Hyun harus memilih antara Hye Rim dan eksperimen maka ia yakin Hye Rim pasti akan memilih eksperimen.

Seung Chan pulang ke rumah dan begitu bertemu dengan Soo Hyun, Soo Hyun langsung menuduh Seung Chan sudah mengatakan sesuatu pada Hye Rim. Soo Hyun merasa Hye Rim bersikap aneh dan bisa jadi Seung Chan mungkin memberi beberapa petunjuk tentang eksperimen pada Hye Rim.

Seung Chan sempat berpikir untuk mengerjai Soo Hyun tapi ia teringat Soo Hyun adalah kakaknya. Jadi ia hanya memperingatkan Soo Hyun untuk segera mengaku dan mengatakan semuanya pada Hye Rim dan meminta maaf pada Hye Rim karena hanya dengan cara itulah Soo Hyun akan bisa bertahan.

Soo Hyun hanya tertawa dan mengejek Seung Chan yang tidak level untuk memberi peringatan padanya. Dan sebelum pergi ke kamarnya, Soo Hyun berbalik dan memberi peringatan pada Seung Chan untuk tidak dekat-dekat dengan Hye Rim karena Hye Rim sudah memilihnya.

Seung Chan menghela nafas, merasa tidak ada gunanya mengkhawatirkan Soo Hyun.

Prof. Bae dan Soo Hyun membicarakan tentang kasus So Dam dan di sana juga ada Hye Rim dan Ji Ho. Prof. Bae menanyakan pekerjaan orang tua So Dam. Soo Hyun mengatakan ayah So Dam adalah penyanyi trot di klub dan ibu So Dam adalah ibu rumah tangga yang dulunya pernah menjadi ratu dalam kontes. Soo Hyun menambahkan kalau kedua orang tua So Dam hanyalah lulusan smu saja.

Ji Ho nimbrung, ia menebak kalau sepertinya kedua orang tua So Dam pasti sangat menyukai So Dam karena So Dam sangat pintar dalam belajar. Namun Hye Rim berkata tidak seperti itu. Ibunya sangat menyukainya karena ia sangat mirip dengan ibunya. Waktu kecil ia sangat suka bermain dan ibunya juga seperti itu.

Namun Prof. Bae menyanggah pendapat Hye Rim. Menurutnya mereka tidak bisa mengatakan secara pasti tentang itu karena banyak orang tua yang tidak begitu bagus dalam belajar sangat menyukai anak yang pintar dalam belajar.

Hye Rim mengerti dan kemudian ingin tahu kenapa So Dam sering sekali menarik-narik rambutnya.

Menurut Prof. Bae, alasannya bisa bermacam-macam, bisa karena stress atau tidak nyaman. Soo Hyun mengatakan mereka masih belum bisa membuat analisis karena mereka masih harus bertemu dengan So Dam lagi.

Prof. Bae sependapat dengan Soo Hyun dan meminta Soo Hyun melakukannya.

Dan kemudian mereka pun bubar, Prof. Bae kembali ke ruangannya dan Soo Hyun mengajak Hye Rim menemaninya bertemu So Dam. Tapi Hye Rim menolak dan menyuruh Soo Hyun membawa Ji Ho saja.

Soo Hyun menatap Hye Rim yang pergi dengan heran dan Ji Ho mendekati Soo Hyun, ingin mengatakan sesuatu.

Tiba-tiba Hye Rim kembali dan memanggil Ji Ho, menyuruh Ji Ho mengikutinya karena ada yang ingin ia bicarakan.

Terpaksa Ji Ho pergi menyusul Hye Rim. Tapi tiba-tiba saja Hye Rim menarik Ji Ho dan mendesak Ji Ho ke dinding sambil menekan leher Ji Ho. Hye Rim ingin tahu apa yang akan dikatakan Ji Ho pada Soo Hyun, tapi sebelum Ji Ho menjelaskan, Hye Rim langsung mengancam kalau Ji Ho berani bicara macam-macam pada Soo Hyun, ia akan mengubur Ji Ho hidup-hidup tanpa ada seorang pun yang tahu…

Hye Rim melepaskan cekikannya dan memukul dinding di dekat kepala Ji Ho. Membuat Ji Ho semakin ketakutan… Hihi…

Soo Hyun menelpon ibu So Dam untuk memberitahukan kalau ia akan mengunjungi So Dam hari itu. Tapi ibu So Dam mengatakan So Dam sedang berada di rumah sakit. Dan Soo Hyun pun segera ke rumah sakit, bersama Ji Ho.

Ibu So Dam menceritakan kalau semalam, saat tidur ia mendengar suara aneh dari hidung So Dam. Dan setelah memeriksa, ia melihat ternyata ada kacang di dalam hidung So Dam dan kacang itu sudah membengkak sebesar lubang hidung So Dam. Soo Hyun bertanya siapa yang memasukkan kacang ke dalam hidung So Dam. “Siapa lagi… Dia sendiri…”, sahut ibu So Dam sambil menahan rasa panik.

Ibu So Dam mengeluhkan hari-hari yang tidak pernah ada tanpa So Dam membuat masalah. Tapi perawat mengatakan So Dam anak yang hebat. Menurut perawat, keadaan itu sangat menyakitkan tapi So Dam mampu menahan rasa sakit dengan sangat baik.

Soo Hyun tiba-tiba teringat saat ia datang ke rumah So Dam beberapa waktu yang lalu. Saat itu ia memuji So Dam cantik. Dengan ekspresi tidak percaya, So Dam bertanya apakah benar ia cantik. Saat itu ia membenarkan.

Masih belum puas, So Dam ingin tahu seberapa besar cantiknya ia. Saat itu Soo Hyun mengatakan, “Sangat… Sangat-sangat cantik…”. Dan kemudian So Dam pun tersenyum lebar dan memeluk kakinya. Dan saat Hye Rim datang, So Dam memberitahukan Hye Rim kalau ia sangat menyukai Soo Hyun dan akan menikah dengan Soo Hyun.

Saat mempunyai waktu berbicara berdua dengan So Dam karena ibu So Dam harus membayar biaya rumah sakit dan Ji Ho pergi mengambil mobil, Soo Hyun bertanya kenapa So Dam memasukkan kacang ke dalam hidungnya.

“Karena aku ingin tahu berapa banyak kacang bisa masuk dalam hidungku”, jawab So Dam.

“Kenapa kamu ingin tahu tentang itu?”, tanya Soo Hyun.

“Karena aku ingin memasukkan banyak di dalam situ…”.

“Kenapa?”.

“Karena jika banyak kacang yang muat didalam hidungmu, itu bagus…Nanti menjadi bagus”.

“Kenapa kamu menyukai itu?”.

“Karena jika hidungku menjadi besar, ayah dan ibuku akan berpikir itu aneh…”.

“Kenapa kamu ingin mereka akan berpikir seperti itu?”.

“Karena mereka akan bilang itu aneh dan akan memperhatikanku…”, jawab So Dam lagi.

Soo Hyun tiba-tiba terdiam dan teringat masa lalu.

=== Flashback ===

Soo Hyun pulang ke rumah dengan membawa nilai pelajaran yang sempurna. Ia memperlihatkan nilai 100 yang didapatnya di seluruh mata pelajaran pada ibu tirinya. Saat itu ibu tirinya sangat senang dan memujinya.

Lalu Soo Hyun juga mencucikan piring untuk ibunya. Walaupun ibu sudah mengatakan itu adalah pekerjaannya, tapi Soo Hyun tetap mengerjakannya.

Lalu Soo Hyun juga mengepel lantai kamar ibunya dan dengan gembira berniat memberitahukan ibunya. Tapi wajahnya langsung berubah tidak senang saat melihat ibunya sedang membacakan cerita untuk adiknya, sepertinya sih itu Seung Chan. Saat itu Seung Chan mendengar cerita sambil tidur di atas kaki ibunya.

=== Flashback End ====

Soo Hyun tersenyum menatap So Dam dan kemudian memeluk So Dam.

Yoo Rim masih kesal karena Ji Ho mempermainkan kakaknya dan membanting Ji Ho beberapa kali ke matras. Ji Ho berusaha membela dirinya kalau ia tidak bermaksud melakukannya, ia hanya dipaksa dan tanpa disadari ia memang mulai menyukai Hye Rim.

Lalu Yoo Rim menyuruh Ji Ho melakukan eksperimen padanya, ia menyuruh Ji Ho mendekatinya dan jatuh cinta padanya.

“Kenapa?”, tanya Ji Ho.

“Karena aku menyukaimu…”, sahut Yoo Rim. Tapi, sayangnya Ji Ho tidak mau, dengan alasan karena ia tidak tertarik pada Yoo Rim.

Yoo Rim langsung melepaskan Ji Ho dan pergi meninggalkan Ji Ho.

Saat menunggu bus di halte, Yoo Rim sangat sedih karena ia sudah melakukan banyak hal untuk Ji Ho tapi Ji Ho tetap menolaknya.

Hye Rim pulang ke rumah dan melihat baju kotor masih belum dicuci dan bahkan berserakan di lantai. Hye Rim langsung kesal dan membangunkan Yoo Rim yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Hye Rim bahkan membangunkan Yoo Rim dengan kakinya.

Hye Rim marah karena Yoo Rim tidak mencuci baju yang seharusnya dilakukan dua kali seminggu. Ia tidak mau melakukan itu untuk Yoo Rim karena ia bukan ibu atau pembantu Yoo Rim.

Akhirnya Yoo Rim mau bangun dan balik marah pada Hye Rim, karena Hye Rim tidak bisa melihat ia sedang bad mood dan seharusnya Hye Rim bertanya apakah ia baik-baik saja karena ia menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.

Tapi Hye Rim berkata ia tidak punya waktu untuk omong kosong itu, ia juga sedang dalam eksperimen dan ia juga sedang bad mood.

Yoo Rim berkata itu bukan salahnya, itu karena nasib Hye Rim yang selalu beruntung saja.

Melihat Yoo Rim seperti itu, Hye Rim menebak kalau Yoo Rim pasti sedang bertengar dengan Ji Ho dan Yoo Rim membenarkannya. Hye Rim sangat marah mendengarnya karena Yoo Rim selalu melampiaskan kemarahan padanya kalau Yoo Rim bertengkar dengan Ji Ho. Menurutnya itu salah Yoo Rim sendiri yang tidak feminim sehingga tidak ada pria yang tertarik pada Yoo Rim.

Yoo Rim mengatakan Hye Rim tidak pantas mengatakan itu padanya karena ia baru saja ditolak oleh Ji Ho.

Hye Rim sempat terdiam tapi kemudian ia membalikan kata-kata Yoo Rim tadi. Yoo Rim ditolak oleh Ji Ho bukan salahnya, ia tidak pernah mendekati Ji Ho dan Ji Ho sendiri yang datang padanya dan bilang menyukainya.

“Baiklah! Itu memang salahku. Ayah dan ibu hanya menyukaimu itu juga salahku dan kenyataan kau mengambil Joo Sung dariku waktu kita masih kecil, itu juga salahku!”, teriak Yoo Rim.

Hye Rim jelas kaget, karena Yoo Rim sendiri yang menjodohkannya dengan Joo Sung. Tapi Yoo Rim mengatakan karena satu-satunya cara baginya untuk bisa melihat Joo Sung. Hanya dengan cara itu Joo Sung melihat dirinya, karena ia adalah adiknya Hye Rim, dan semua itu adalah salahnya!

Salahnya juga menjadi adik dari seorang kakak yang lebih cantik darinya, salahnya juga berpakaian laki-laki supaya terlihat berbeda dari Hye Rim dan salahnya juga belajar Hap Ki Do supaya bisa melampiaskan rasa frustasinya.

Setelah puas marah-marah, Yoo Rim kembali menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Hye Rim tiba-tiba menyadari apa yang terjadi antara dirinya dan Yoo Rim, dan ia merasa sedikit bersalah. Hye Rim duduk di dekat Yoo Rim dan membangunkan lagi Yoo Rim, membujuknya dengan mengatakan ia akan mencucikan baju Yoo Rim, tapi Yoo Rim berteriak menyuruh Hye Rim pergi.

Bersambung…

[Sinopsis Madame Antoine Episode 10 Part 2]

Leave A Reply

Your email address will not be published.