Update Sinopsis Drama Korea Terbaru

Sinopsis Madame Antoine Episode 12 Part 2

0

[Sinopsis Madame Antoine Episode 12 Part 1]

 

Sinopsis Madame Antoine Episode 12 Part 2

Soo Hyun datang ke tempat Hye Rim dengan membawa sebotol anggur. Soo Hyun menghela nafasnya sebelum mengetuk pintu rumah Hye Rim. Ia terlihat sedikit gugup.

Hye Rim membukakan pintu dan mempersilahkan Soo Hyun masuk. Soo Hyun berkomentar kalau tempat tinggal Hye Rim tepat di atas kliniknya tapi ini adalah pertama kalinya ia ke tempat Hye Rim.

Soo Hyun melihat televisi Hye Rim dan menanyakan apakah itu tempat biasa Hye Rim nonton film melodrama. Hye Rim membenarkan dan memberitahukan kalau ia sudah berhenti nonton film melodrama.

Soo Hyun tersenyum dan kemudian perhatiannya beralih ke sisi yang ada tempat tidur. Wajah Soo Hyun langsung blank saat melihat bra berwarna hitam tersembul dari balik selimut… Hihi…

Hye Rim mendekati Soo Hyun yang sedang bengong dan bertanya apa yang sedang dilihat Soo Hyun. Soo Hyun tidak menjawab pertanyaan Hye Rim dan Hye Rim mengikuti arah pandangan Soo Hyun dan baru sadar apa yang sedang dilihat oleh Soo Hyun.

Hye Rim cepat-cepat menyembunyikan bra itu dibalik selimut dan mengatakan kalau bra itu bukan miliknya.

Hye Rim mengajak Soo Hyun makan, tapi pikiran Soo Hyun masih fokus pada bra tadi. Di dalam hati, Soo Hyun terus mengatakan pada dirinya sendiri untuk tenang karena apa yang dilihatnya tadi hanyalah sepotong kain yang memiliki bantalan dan pengait dan terbuat dari spandek dan renda saja. Hihi…

Soo Hyun terus mengatakan pada dirinya sendiri untuk menghapus ingatan yang dilihatnya tadi. Hye Rim sepertinya menyadarinya dan mengajak Soo Hyun bersulang saja.

“Bra itu… Maksudku, eksperimen itu sudah selesai kan?”, tanya Hye Rim, hampir saja keceplosan membicarakan bra. Soo Hyun membenarkan. Lalu Hye Rim menanyakan bagian mana yang paling suli bagi Soo Hyun, apakah saat menipu subjek utama? Lagi-lagi Soo Hyun menjawab iya.

Hye Rim merasa pasti Soo Hyun gugup saat subjek utama tidak bisa ditipu. Dan Hye Rim bertanya lagi kapan saat yang paling sulit bagi Soo Hyun.

“Sejujurnya, sekarang…”, sahut Soo Hyun dalam hati.

Hye Rim terus membujuk Soo Hyun mengatakan yang sebenarnya padanya karena eksperimen itu sudah berakhir. Di dalam hati, Soo Hyun bertanya-tanya kenapa Hye Rim terus menerus bertanya tentang eksperimen

Soo Hyun meminta Hye Rim berhenti membicarakan eksperimen karena ia merasa pencernaannya akan terganggu jika mereka membicarakan pekerjaan di saat makan malam. Tapi Hye Rim mengatakan ia bertanya karena ia penasaran.

Hye Rim ingin tahu kapan subjek pria mulai jatuh cinta pada subjek utama. Dan Soo Hyun mengatakan kalau pria itu mulai memiliki perasaan di saat eksperimen berlangsung dan baru menyadari perasaannya ketika eksperimen hampir selesai.

“Oh, jadi begitu ya…”. Dalam hati, Hye Rim merasa Soo Hyun sama sekali tidak mau mengakui kalau ia sudah menjalankan eksperimen padanya. Hye Rim berpikir bagaimana caranya ia menyinggung masalah eksperimen tahap kedua. “Ya sudahlah. Walau bagaimana pun itu semua sudah berakhir”, ucap Hye Rim dalam hati.

Hye Rim tersenyum dan mengajak Soo Hyun bersulang. Soo Hyun mengangkat gelasnya tapi tidak meminumnya. Soo Hyun hanya tersenyum…

Setelah makan malam, Soo Hyun menemani Hye Rim menonton. Ia menanyakan apa yang paling diinginkan oleh Hye Rim. Hye Rim mengatakan tongkat sihir.

“Kenapa? Apa kamu memiliki musuh seperti Voldemort yang harus dilawan?”, canda Soo Hyun.

Hye Rim mengatakan kalau ia menginginkan tongkat itu untuk melakukan hal-hal yang sulit baginya, seperti mengusir pelanggan yang aneh, membuatnya lancar berbahasa perancis dan membuat Soo Hyun datag padanya kapan pun ia menelponnya. Hye Rim balik bertanya, apa yang diinginkan Soo Hyun.

Soo Hyun berpikir dan kemudian berkata, “Aku… Itu…”. Soo Hyun menunjuk ke arah TV. Hye Rim mengira Soo Hyun ingin sebuah TV, tapi ternyata Soo Hyun ingin Hye Rim melakukan seperti orang di TV, yaitu membuat video letter.

Hye Rim langsung terdiam, teringat ucapan Ji Ho tentang fase kedua eksperimen yang salah satunya tentang video letter. “Tidak mungkin…”, ucap Hye Rim dalam hati.

“Hye Rim-ssi…”. Hye Rim memohon dalam hati supaya Soo Hyun tidak mengatakannya. “Video letter, bisakah kamu membuatkan satu untukku?”. Soo Hyun tersenyum pada Hye Rim, sementara Hye Rim menatap Soo Hyun tajam.

“Tidak! kenapa aku harus melakukan hal semacam itu!”, ucap Hye Rim dengan nada marah. Soo Hyun bingung melihat reaksi Hye Rim, ia bahkan mau menyematkan bunga dirambutnya seperti yang Hye Rim inginkan.

“Tapi aku juga menuliskan jurnal untukmu…”, balas Hye Rim. Soo Hyun beralasan ia juga melakukannya, bahkan setiap hari. “Tapi kamu sendiri yang berjanji padaku untuk melakukannya…”, bantah Hye Rim.

Hye Rim tidak mengerti kenapa Soo Hyun sangat pelit. Soo Hyun selalu merasa harus memberi dan menerima dan membuat hubungan mereka seperti kesepakatan bisnis. Soo Hyun tidak mengerti kapan ia membuat hubungan mereka seperti kesepakatan bisnis.

“Kau selalu menginginkan sesuatu dariku tanpa memberitahuku tentang eksperimen…”, marah Hye Rim.

Soo Hyun merasa ia sudah memberitahukan semuanya tentang eksperimen pada hye Rim dan itu juga pekerjaan. “Kenapa aku harus memberitahumu semuanya tentang eksperimen?”, tanya Soo Hyun yang sudah mulai emosi.

“Karena aku… AKu…”. Hye Rim tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia hanya bisa mengatakan dalam hati karena ia subjek utamanya. Hye Rim mengatakan sebagai psikolog wanita seharusnya Soo Hyun tahu tentang wanita, wanita biasanya tahu segalanya tentang pria yang dikencaninya..

Namun Soo Hyun merasa itulah masalah terbesarnya. Tidak mungkin seseorang mengetahui segalanya tentang orang lain walaupun mereka berkencan dan tidak juga perlu melakukannya.

Hye Rim merasa Soo Hyun mengatakan yang sebenarnya yang artinya ia juga tidak memiliki keharusan melakukan apa pun yang Soo Hyun minta.

Mereka terus bertengkar dan tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya Hye Rim mengatakan mereka putus saja. Soo Hyun cukup kaget dan merasa kata-kata itu bukan ucapan yang sembarang. Namun Hye Rim tetap pada keputusannya dan bahkan mengusir Soo Hyun pergi.

Sbelum pergi, Soo Hyun mengatakan kalau ia adalah orang yang menganggap seseorang harus bertanggung jawab terhadap ucapannya dan memastikan Hye Rim tidak akan menyesal.

“Tentu saja tidak!”, sahut Hye Rim, emosi.

Soo Hyun setuju dengan keputusan Hye Rim dan kemudian pergi. Hye Rim sangat marah dan meminum anggur langsung dari botolnya.

Soo Hyun duduk di kamarnya sambil menatap bunga yang ia pakai di acara radio itu. Soo Hyun teringat kata-kata Hye Rim yang memutuskannya dan ucapan ibunya sesaat sebelum ibunya pergi meninggalkannya.

Tanpa sadar, bunga itu terlepas dari tangan Soo Hyun dan jatuh ke lantai. Air mata Soo Hyun menetes. Soo Hyun membuang bunga itu ke dalam tempat sampah.

Soo Hyun mendatangi ibu Tae Hwa. Ibu Tae Hwa tidak hanya mengenali Soo Hyun sebagai teman smu Tae Hwa, tapi Soo Hyun juga teman Tae Hwa di Stanford. Ia bahkan menunjukkan fotonya, walaupun menurutnya foto itu sedikit berbeda dengan Soo Hyun sekarang. Soo Hyun beralasan, itu karena ia mengubah gaya rambutnya saja.

Ibu Tae Hwa merasa bahagia karena Tae Hwa bisa tumbuh menjadi anak yang berhasil walaupun ia hanya membesarkan Ta Hwa sendirian. Yang ia lakukan yang memberi kepercayaan pada Tae Hwa.

Soo Hyun tersenyum canggung. Ia memperhatikan dinding rumah obu Tae Hwa, yang sepertinya tergantung banyak ijazah atau mungkin sertifikat, atau sejenisnya.

Saat Soo Hyun kembali ke kantor, Ji Ho memberitahukan bahwa ada detektif yang mencari Soo Hyun.

Ternyata, detektif itu ingin mencari informasi tentang Tae Hwa. Soo Hyun mengakui kalau Tae hwa adalah teman smunya, tapi ia menolak memberikan informasi lebih banyak karena Tae Hwa adalah pasiennya.

Soo Hyun ingin tahu, profesi lain yang dikatakan Tae Hwa selain psikolog. Detektif mengatakan, pengacara, profesor, dan direktur sebuah perusahaan besar. detektif memberitahukan kalau orang-orang yang merasa dirugikan oleh Tae Hwa sudah mengajukan tuntutan hukum dan istri Tae Hwa juga sedang dalam proses pengajuan pembatalan pernikahan.

Detektif mengatakan kalau mereka sulit menghubungi Tae Hwa dan melacak jejak Tae Hwa melalui CCTV. Mereka meminta Soo Hyun memberitahukan mereka jika Soo Hyun mengetahui keberadaan Tae Hwa.

Soo Hyun mengatakan ia tidak tahu. dan kalau pun ia tahu ia tidak akan memberitahukan mereka.

Setelah detektif pergi, Soo Hyun memutuskan untuk mencoba menghubungi Tae Hwa.

Soo Hyun pergi ke suatu bangunan yang kosong.

Tae Hwa membaca pesan di ponselnya. Ia mendapatkan pesan dari seorang yang menyebutkan dirinya sebagai black agent dan ingin bertemu dengannya pukul 8 malam. Seorang pria muncul dan mengatakan sudah diputuskan Tae Hwa harus diganti dengan orang lain.

Tae Hwa meminta maaf dan memohon diberikan satu kesempatan lain. Tae Hwan terus menerus memohon.

Soo Hyun tiba di dalam bangunan dan melihat Tae Hwa seperti sedang berbicara dengan seseorang, tapi tidak ada seorang pun yang berdiri di depan Tae Hwa. Soo Hyun mendekati Tae Hwa dan memanggil nama Tae Hwa.

Tae Hwa kaget saat melihat Soo Hyun dan tidak mengerti kenapa Soo Hyun bisa datang ke sana. Soo Hyun meminta maaf dan mengakui kalau ialah yang mengirimkan pesan pada Tae Hwa.

Tae Hwa tidak percaya, ia yakin baru saja ia berbicara dengan seseorang. Tae Hwa melihat ke sekelilingnya dan ia baru sadar memang tidak ada siapa pun di sana.

Soo Hyun mengajak Tae Hwa untuk berbicara, tapi kemudian tiba-tiba datang polisi dan hendak menangkap Tae Hwa. Tae Hwa panik dan melarikan diri. Polisi itu mengejar Tae Hwa, begitu juga dengan Soo Hyun.

Tae Hwa turun melalui tangga dan bertemu dengan polisi lain. Tae Hwa memutuskan untuk meloncat dari tangga yang cukup tinggi dan membuat kakinya kesakitan. Tae Hwa tidak bisa lari lagi dan polisi berhasil menangkapnya.

Soo Hyun berusaha menjelaskan pada polisi kalau Tae Hwa memerlukan perawatan karena menderita delusi dan mithomania dan juga panic disorder. Polisi tidak mau mendengarkan Soo Hyun dan menyuruh Soo Hyun bicara pada orang di pengadilan.

Soo Hyun meminta waktu pada polisi. Ia memeluk dan menepuk-nepuk punggung Tae Hwa, berjanji akan menemui Tae Hwa dan meminta Tae Hwa menunggunya sebentar. Tae Hwa menangis, menyuruh Soo Hyun tidak memaafkannya karena ia sudah banyak melakukan kesalahan pada Soo Hyun.

Polisi menyetujui permintaan Soo Hyun dan menangguhkan penahanan Soo Hyun. Tapi mereka tidak punya pilihan lain selain membawa Tae Hwa ke pusat rehabilitasi mental. Ia meminta Soo Hyun melakukan konsultasi dengan Tae Hwa dalam waktu singkat saja.

Ibu Tae Hwa sudah siap mendengar sesi konsultasi Tae Hwa dengan Soo Hyun di ruangan cermin satu arah. Ia ditemani oleh Ji Ho.

Soo Hyun membuka pembicaraannya dengan Tae Hwa dengan menyinggung masa lalu mereka. Saat mereka mabuk bersama dan saat mereka bermain bola bersama. Soo Hyun mengatakan ia selalu mempercayai Tae Hwa karena ia tahu mereka akan menang jika Tae Hwa ada di pihak mereka. “Dan aku yakin ibumu juga begitu… Karena jika seseorang mempercayaimu, maka nilai-nilaimu akan naik secara dramatis dan kau akan bisa masuk ke universitas mana pun yang kau inginkan…”

Tapi Tae Hwa mengatakan kalau semua itu bohong. Nilainya tidak pernah naik, tidak pernah masuk universitas terkenal, dan ia juga bukan pengacara, profesor, atau pun direktur. Ia merasa ia akan bisa hidup dengan normal dan tidak akan serakah seandainya kata-kata ‘Aku mempercayaimu’ itu tidak pernah ada.

Ibu Tae Hwa mulai menangis. “Apa kata-kata itu memberimu terlalu banyak tekanan?”, tanya Soo Hyun.

Tae Hwa mulai emosi dan tidak bisa lagi menahan perasaannya. “Ibuku pasti idiot! Apa yang ia harapakan dari seorang anak yang hanya bagus dalam sepak bola? Bukannya seharusnya dia curiga jika nilaiku naik dramatis? Tapi kenapa dia tersenyum dengan sangat bahagia? Kenapa ia sangat baik padaku dan membuatkan makanan enak untukku? Yang aku inginkan hanyalah membuatnya bahagia. Aku ingin hidup sesuai dengan harapannya! Aku ingin menjadi anak yang baik seperti yang ia percayai. Itu saja!”.

Tae Hwa menangis keras, begitu juga dengan ibu Tae Hwa. Ibu Tae Hwa memegang tangan Ji Ho, memohon agar ia saja yang ditangkap karena Tae Hwa tidak melakukan kesalahan, Tae Hwa hanya ingin membuatnya bahagia.

Soo Hyun dan yang lainnya pergi makan ke restoran bersama-sama. Seung Chan menanyakan pada Soo Hyun apa mereka harus mengajak Hye Rim. “Terserah!”, jawab Soo Hyun jutek.

Seung Chan menawarkan tempat duduk di sebelahnya yang kosong untuk Soo Hyun, tapi Soo Hyun memilih duduk di sebelah Ji Ho dan membiarkan kursi untuk Prof. Bae. Soo Hyun menyarankan Seung Chan dan Prof. Bae memesan menu pasangan. Seung Chan sih tidak masalah, hanya takutnya nanti ia yang akan menghabiskan makanan Prof. Bae. Prof. Bae juga merasa tidak masalah.

Soo Hyun menatap mereka berdua dan tersenyum.

Seung Chan turun ke klinik. Hye Rim meminta bantuan Seung Chan untuk membawakan cookies yang ia masak untuk Prof Bae. “Bagaimana dengan kakakku?”, tanya Seung Chan.

“Terserah…”, ucap Hye Rim.

Seung Chan merasa akhir-akhir ini kata-kata ‘terserah’ cukup populer. Namun karena Seung Chan baru saja turun dari atas, ia agak keberatan naik lagi dan meminta Hye Rim saja yang mengantarnya ke atas.

Ji Ho yang baru saja tiba di kafe, menawarkan bantuannya. Tapi Hye Rim malah menatap tajam pada Ji Ho. Ji Ho baru mengerti dan itu membuat Seung Chan curiga dengan mereka.

Ji Ho ikut-ikutan menyuruh Seung Chan yang mengantarkan kue itu. Seung Chan akhirnya mau, tapi ia menatap Hye Rim dan Ji Ho, bingung.

Prof. Bae memuji rasa cookiesnya yang enak dan menawarkan cookies itu untuk Seung Chan yang sedang menuangkan teh atau mungkin kopi ke cangkir. Saat itu, tidak sengaja otot kaki Prof. Bae tertarik dan membuat Pro. Bae kesakitan.

Seung Chan menawarkan bantuannya untuk memijit kaki Prof. Bae. Awalnya Prof. Bae tidak mau, tapi karena Seung Chan mendesak, Prof. Bae mengizinkannya.

Ji Ho berniat masuk ke area pantry dan kaget melihat Seung Chan dan Prof. Bae yang tengah berdua. Ji Ho langsung mundur dan pamit pergi plus membungkuk dengan hormat.

Sikap Ji Ho itu membuat Seung Chan heran dan pergi menyusul Ji Ho. Seung Chan ingin tahu ada apa sebenarnya, semua orang bersikap aneh. Ji Ho mengatakan kalau ia merasa akan mengganggu Seung Chan dan Prof. Bae jika ia ada di sana.

“Apanya yang mengganggu. Aku hanya memijit kakinya…”.

“Hanya saja itu manis untuk dilihat…”.

“Jadi kenapa kamu melarikan diri? kamu pikir aku menyukainya, kan?”

“Uhm… Bukan itu…”.

Seung Chan memiting Ji Ho, mengancam akan membuat Ji Ho tidak bisa bernafas jika Ji Ho tidak mau bercerita. “Bukan kamu… Tapi Prof. Bae… Dia menyukaimu…”, ujar Ji Ho.

Seung Chan melepaskan Ji Ho. “Dia menyukaiku? Itu mustahil…”, ucap Seung Chan, tidak percaya.

“Iya kan? Kalau begitu, aku bohong…”. Ji Ho akan pergi, namun Seung Chan menarik kembali sweater Ji Ho.

“Tunggu, benarkan?”. Wajah Seung Chan berubah serius.

Ji Ho hampir tidak bisa berkata-kata. Ia hanya meminta Seung Chan untuk menjaga rahasia itu. “Kami semua berjanji…”.

“Kami? Siapa kami?”

“Dr. Choi, aku dan Hye Rim…”.

“Hye Rim juga?”.

“ya”. Ji Ho menganggukkan kepalanya. Seung Chan menghela nafasnya dan kemudian mengizinkan Ji Ho pergi.

Sebelum pergi Ji Ho memastikan sekali lagi, kalau Seung Chan harus menjaga rahasia itu.

Prof. Bae keluar dari area pantry untuk menanyakan apakah Seung Chan masih mau cookies. Sikap Seung Chan sedikti berubah, dan menolak tawaran Prof. Bae. Ia mengatakan akan pergi sebentar.

Seung Chan turun ke kafe untuk mengkonfirmasi ucapan Ji Ho tadi. “Ji Ho mengatakan padaku, kalau Prof. Bae… Kalau dia… dia… Kau tahu…”. Seung Chan bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya sanking shock-nya. Ia ingin tahu darimana Hye Rim mengetahuinya.

Hye Rim meminta Seung Chan tenang dulu. Tapi Seung Chan tidak bisa, ia tidak bisa tenang sementara rumor tentangnya berkembang di klinik. Ia merasa ngeri sendiri setelah mengetahui Prof. Bae menyukainya dan itu tidak masuk akal.

“Apanya yang buruk tentang itu? Aku sendiri menyukai Robert De Niro…”, ujar Hye Rim.

Namun Seung Chan merasa itu sangat mengerikan baginya. Perbedaan usianya dan Prof. bae 38 tahun. Hye Rim sendiri hanya 35 tahun, perbedaan usia mereka bahkan jauh lebih tua dari usia Hye Rim. “Bagaimana kalau kau menyukai orang yang bahkan belum lahir?”, tanya Seung Chan pada Hye Rim.

Hye Rim ingin menjelaskan lagi tapi Seung Chan memilih tidak mau mendengarkan lagi. Kalau ini memang benar, maka ia tidak bisa hangout lagi bersama Prof Bae, dan ia memilih untuk tidak melakukannya lagi.

Ketua Kim kaget saat mengetahui dari asistennya kalau putrinya bertemu dengan Soo Hyun. Ia meminta asistennya untuk menyuruh Hye Rim menemuinya sekarang juga.

Saat Hye Rim sudah datang, Ketua Kim langsung menanyakan kenapa Hye Rim membiarkan putrinya bertemu dengan Soo Hyun. Hye Rim mengatakan, ia hanya ingin Yeon Woo mendapatkan perawatan dari seorang profesional.

Ketua Kim memarahi Hye Rim yang melakukan sesuka hatinya. Perlu tidaknya perawatan, ialah yang memutuskannya bukan Hye Rim. Menurutnya, tindakan Hye Rim ini sama saja dengan mengumumkan ke semua orang kalau putrinya dalam masalah. “Apa kau ingin menjatuhkan keluargaku?”.

Hye Rim berusaha menjelaskan kalau Yeon Woo sedang sakit parah. Sakit mental sama saja dengan sakit. Ketua Kim semakin marah, apalagi saat Hye Rim mengungkit tentang ibu, kakak, dan bibi Yeon Woo yang sudah meninggal. Ketua Kim mengatakan, jika Hye Rim terus seperti ini, ia tidak akan mengizinkan Hye Rim bertemu dengan putrinya lagi.

Hye Rim masih ingin protes, tapi tiba-tiba asisten Ketua Kim datang dan memberitahukan kalau Yeon Woo menghilang lagi. Para pelayan sudah memastikan kalau Yeon Woo sudah tidur dan mereka hanya meninggalkannya sebentar, Yeon Woo bahkan pergi tanpa memakai jaket dan membawa dompet.

Ketua Kim mulai panik dan meminta Hye Rim menggunakan keahliannya untuk menemukan Yeon Woo. Tapi Hye Rim tidak mau, menurutnya tindakan paling tepat saat ini adalah melapor pada polisi. Yeon Woo keluar dengan baju yang tipis dan di luar udara sangat dingin. “Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?”, marah Hye Rim.

Ketua Kim sangat kesal. Di satu sisi ia tidak mau terjadi apa pun pada Yeon Woo tapi di sisi yang lain ia tidak mau urusan keluarganya diketahui oleh orang lain.

Ibu Soo Hyun datang lagi ke klinik. Mereka berbicara dengan akrab dan saat mengobrol, ternyata mereka menemukan banyak kesamaan diantara mereka, misalkan mengenai pakaian, makanan. Ibu Soo Hyun juga terlihat sangat mengkhawatirkan Soo Hyun saat Soo Hyun tiba-tiba batuk. Ia meminta Soo Hyun makan lebih baik jika sedang sakit.

Mereka sampai tidak sadar kalau waktu konsultasi sudah 20 menit lebih dari perjanjian. Ibu Soo Hyun merasa tidak enak dan ingin pamit, tapi Soo Hyun mengatakan kalau ia tidak punya janji konsultasi lagi setelah itu dan tidak keberatan mengobrol lagi.

Ibu Soo Hyun tersenyum bahagia.

Hye Rim baru sampai di kafe dan kaget saat melihat ibu Soo Hyun sudah menunggunya di sana. Ibu Soo Hyun meminta Hye Rim memberikan obat herbal yang sudah ia beli untuk Soo Hyun karena ia melihat Soo Hyun sedang sakit.

HYe Rim menolaknya dengan halus karena menurutnya Soo Hyun adalah tipe orang yang kaku dan tidak akan mau menerima sesuatu seperti itu dari pasiennya. Ibu Soo Hyun mengerti dan sebagai gantinya, ia meminta Hye Rim memperhatikan makanan Soo Hyun.

Hye Rim dengan sedikit canggung, meng-iyakan. Ia juga mengatakan kalau diklinik, Soo Hyun juga diberikan ekstrak bawang…

Ibu Soo Hyun langsung panik, mengatakan kalau Soo Hyun akan muntah kalau makan ekstrak bawang… Ibu Soo Hyun menyebutkan nama panggilan ‘Soo Hyun’, bukan dengan sebutan ‘Dokter’.

Hye Rim kaget dan Ibu Soo Hyun memutuskan cepat-cepat pergi, tidak mempedulikan panggilan Hye Rim.

Hye Rim berpikir, kemungkinan kalau wanita itu adalah ibunya Soo Hyun…

Hye Rim langsung naik ke klinik dan tidak sengaja bertemu dengan Soo Hyun di koridor. Hye Rim ingin menanyakan tentang salah seorang pasien wanita yang cantik, yang bernama Seo Yeon…

Soo Hyun menatap Hye Rim dingin dan sama sekali tidak menggubris Hye Rim. Ia pergi begitu saja.

Malamnya, Hye Rim mengomel sendiri di depan Yoo Rim. Kesal karena Soo Hyun pergi begitu saja padahal ia hanya ingin menyampaikan hal yang penting pada Soo Hyun. Yoo Rim menyuruh kakaknya untuk tidak usah mempedulikan Soo Hyun. Hye Rim kesal karena Soo Hyun memperlakukannya seperti seekor serangga busuk.

Yoo Rim menyuruh kakaknya untuk tidak memikirkan tentang Soo Hyun lagi dan memuji kakaknya yang keren karena mencampakkan seseorang dengan spek tinggi seperti Soo Hyun.

Awalnya Hye Rim marah, mengira Yoo Rim mengejeknya. Namun saat melihat Yoo Rim serius dengan ucapannya, Hye Rim jadi berpikir sendiri, apakah ia sudah membuat keputusan yang salah dengan mencampakkan Soo Hyun?

Keesokan paginya, Hye Rim mengantarkan cookies ke ruangan Soo Hyun yang masih kosong. Hye Rim berniat menempelkan pesan permintaan maafnya, tapi kemudian ia mengambilnya kembali.

Hye Rim kembali ke kafenya. Saat Ji Ho turun, ia bertanya apakah Soo Hyu sudah memakan cookies darinya. “Aku belum lihat…”, ucap Ji Ho. Hye Rim menyuruh Ji Ho pergi ke atas untuk melihat apakah cookiesnya sudah dimakan atau belum.

Belum sempat Ji Ho pergi, Soo Hyun masuk ke kafe. Wajahnya keruh dan langsung naik ke atas. Hye Rim hanya menghela nafasnya.

Sepertinya sudah malam. Hye Rim memutuskan diam-diam naik ke atas dan masuk ke ruang Soo Hyun untuk memastikan sendiri. Ia melihat cookiesnya sama sekali belum disentuh oleh Soo Hyun.

Wajah Hye Rim terlihat kecewa dan sedih.

Tiba-tiba terdengar suara Soo Hyun dari arah ruang konsultasi. “Aku tidak memakannya karena aku pikir itu akan sia-sia…”. Soo Hyun mendekati Hye Rim dan berdiri di depan Hye Rim. “Seharusnya aku yang lebih dulu meminta maaf. Maukah kamu menerima ini?”. Soo Hyun memberikan setangkai bunga untuk Hye Rim.

Hye Rim mendadak tersentuh, menanyakan bagaimana Soo Hyun bisa tahu kalau ia menyukai tulip.

Soo Hyun bertanya warna apa tulip itu bagi Hye Rim.

“Warna plum? Bukan itu? Ungu?”.

Soo Hyun tidak menjawab. Hye Rim meminta maaf karena sudah memutuskan Soo Hyun seenaknya saja. Soo Hyun menggelengkan kepalanya, mengatakan ia yang minta maaf. Ia juga tidak akan meminta Hye Rim membuat video letter untuknya.

“Benarkah?”.

“Ya… Hal seperti itu sudah penting lagi… Yang aku butuhkan hanya kamu”. Soo Hyun memeluk Hye Rim, begitu juga dengan hye Rim.

Dalam hati, Soo Hyun berkata, “Eksperimen Madame Antoine Plan B : Dimulai…”.

Bersambung…

[Sinopsis Madame Antoine Episode 13 Part 1]

Leave A Reply

Your email address will not be published.