Update Sinopsis Drama Korea Terbaru

Sinopsis Madame Antoine Episode 14 Part 1

0

[Sinopsis Madame Antoine Episode 13 Part 2]

 

Sinopsis Madame Antoine Episode 14 Part 1

Soo Hyun mendapatkan video letter dari Hye Rim. Dalam video itu, Hye Rim menutupnya dengan mengatakan ‘I Love You, Soo Hyun-ssi’ dan membuat tanda hati yang besar dengan kedua tangannya.

 

Soo Hyun sepertinya baru menyadari perasaan Hye Rim yang tulus padanya. Dan keesokan harinya, ia cepat-cepat ke klinik untuk mencegah Hye Rim mendapatkan bunga dan surat darinya. Sayangnya, ternyata saat tiba di klinik, Hye Rim sudah mendapatkan kiriman bunga dan juga sudah membaca surat darinya.

Hye Rim yang sudah tahu kalau tugas yang dituliskan oleh Soo Hyun di suratnya itu adalah tugas yang ketiga, menatap Soo Hyun dengan marah dan kecewa. Soo Hyun mendekati Hye Rim, meminta Hye Rim tidak membacanya karena ia mengirimkannya dengan tidak sengaja.

Hye Rim mengungkapkan kekecawaannya karena ternyata selama ini, Soo Hyun hanya melihatnya sebagai subjek ekperimen saja. Soo Hyun ingin mengatakan kalau semua itu adalah salah paham dan ingin menyentuh tangan Hye Rim.

Namun Hye Rim menepis tangan Soo Hyun, melarang Soo Hyun menyentuhnya dan memaki Soo Hyun bajingan penipu. Hye Rim membuang bunga itu dan masuk ke dalam kafe.

Soo Hyun hanya bisa berdiri, termangu.

Soo Hyun membicarakan masalah Hye Rim pada Seung Chan dan Ji Ho. Seung Chan mengakui dialah yang memberitahukan Hye Rim karena ia tidak tahan melihat Hye Rim terus dipermainkan. Ia yang menyuruh Hye Rim membuka brangkas Soo Hyun.

Soo Hyun mengangguk-anggukkan kepalanya. Ji Ho meminta maaf karena ia juga menceritakan semuanya pada Yoo Rim. Namun Seung Chan tidak mau minta maaf karena ia merasa ia tidak melakukan kesalahan apa pun pada Soo Hyun.

Menurut Seung Chan, dari awal, eksperimen itu sudah kacau dan yang sekarang harus dilakukan Soo Hyun adalah meminta maaf pada Hye Rim, kalau perlu berlutut di depan Hye Rim.

Soo Hyun tidak berkomentar apa pun. Saat akan berdiri dari kursinya, Soo Hyun bertumpu di bahu Ji Ho, membuat Ji Ho terperanjat kaget. Tanpa mengatakan apa pun Soo Hyun pun pergi.

Ji Ho merasa aneh sendiri, kenapa Soo Hyun tidak memarahi mereka. Seung Chan diam, tidak menjawab.

Soo Hyun turun ke kafe dan bertanya pada pegawai kafe tentang keberadaan Hye Rim. Pegawai kafe mengatakan kalau Hye Rim dari tadi naik ke atas dan belum turun ke kafe.

Ternyata di kamarnya, Hye Rim tidur dengan pulas. Hingga siang berganti malam, Hye Rim belum juga bangun. Yoo Rim membuatkan bubur untuk Hye Rim, bubur yang pertama kalinya ia buatkan seumur hidupnya. Yoo Rim berusaha membangunkan Hye Rim tapi Hye Rim sama sekali tidak bergerak.

Terdengar ketukan pintu dan suara Soo Hyun yang memanggil-manggil Hye Rim. Dengan kesal dan marah, Yoo Rim membukakan pintu dan memarahi Soo Hyun. Soo Hyun mengatakan ia hanya ingin tahu apa yang dilakukan Hye Rim dan ingin masuk untuk berbicara dengan Hye Rim.

Tapi Yoo Rim sama sekali tidak mengizinkan Soo Hyun masuk dan mengusir pergi.

 

Malam sudah berganti pagi dan Hye Rim masih juga tidur. Yoo Rim yang akan berangkat pergi, menatap Hye Rim dan menghela nafasnya, tapi tidak membangunkan Hye Rim.

Soo Hyun datang lagi dan mengetuk pintu beberapa kali. Kali ini ia tidak memanggil Hye Rim lagi. Setelah beberapa saat, pintu tidak dibuka dan Soo Hyun berbalik pergi. Wajahnya terlihat keruh.

Siang berganti malam dan Hye Rim masih belum bangun. Ia terbangun menjelang matahari terbit dan kaget setelah sadar kalau ia tertidur selama dua hari dan tidak bangun sama sekali.

Saat akan turun dari kamar tidurnya, tidak sengaja matanya melihat setangkai tulip yang diberikan oleh Soo Hyun. Hye Rim teringat lagi pada Soo Hyun dan membuang bunga tulip itu dengan marah.

Kelopak bunga tulip yang sudah layu, berserakan di lantai karena sudah layu. Hye Rim memungut satu persatu kelopak bunga tulip itu sambil menangis.

Pagi harinya, Soo Hyun datang dan masuk melalui kafe – sebenarnya bisa saja ia langsung ke klinik lewat tangga luar, tapi sepertinya ia sengaja agar bisa bertemu dengan Hye Rim. Ia tersenyum canggung pada Hye Rim yang balas menatap tajam.

Soo Hyun berusaha membuka pembicaraan dengan berbasa-basi, bertanya apakah tidur Hye Rim pulas atau apakah Hye Rim sudah sarapan, ia bahkan menawarkan membuatkan sarapan untuk Hye Rim.

Hye Rim hanya menjawab dengan singkat dan ketus. Saat ada pelanggan yang memanggil Hye Rim, Hye Rim buru-buru pergi meninggalkan Soo Hyun yang tidak tahu harus bagaimana.

Seung Chan sudah menunggu Soo Hyun di ruangannya. Seung Chan memebritahukan Soo Hyun kalau Prof. Bae sudah empat hari tidak datang ke klinik. Ia merasa sebaiknya mereka mengunjungi Prof. Bae.

Soo Hyun bertanya apakah Seung Chan ingin datang bersamanya. Tapi Seung Chan merasa ragu dan bertanya pada Soo Hyun apa yang sebaiknya ia katakan pada Prof. Bae.

“Apa yang ingin kau katakan padanya?”, Soo Hyun malah bertanya balik.

Seung Chan mengatakan ia ingin meminta Prof. Bae datang kembali ke klinik. “Yeah. Itu cukup bagus…”, ucap Soo Hyun.

Mereka berdua datang ke apartemen Prof. Bae dan membunyikan bel berkali-kali. Tetapi tidak ada yang membukakan pintu. Soo Hyun sempat menyuruh Seung Chan mencoba menelpon Prof. Bae. Tapi Seung Chan tidak yakin, Prof. Bae akan menerima telpon darinya.

Soo Hyun memberikan ponselnya pada Seung Chan, supaya Seung Chan menelpon Prof. Bae dengan memakai ponselnya. Tapi ternyata, Prof. Bae tetap tidak menerima telpon. Bahkan ponselnya pun mati.

Dan ternyata, Prof. Bae berada di bandara, akan berangkat ke Pulau Jeju.

Saat dalam perjalanan kembali dari rumah Prof. Bae, Soo Hyun mendapatkan pesan dari Prof. Bae. Di dalam pesannya, Prof. Bae meminta maaf karena ia pergi dengan terburu-buru dan sepertinya ia akan cuti beberapa saat, walaupun ia sendiri belum tahu sampai kapan ia akan mengambil cuti. Ia juga berharap Soo Hyun bisa mengerti dengan keputusannya itu.

Soo Hyun bertanya pada Seung Chan, apakah ia tahu Prof. Bae sedang sakit.

“Sakit? Dimana?”, tanya Seung Chan bingung.

“Dia punya kanker. Kanker Tiroid…”. Soo Hyun mengatakan sepertinya kondisi Prof. Bae saat ini tidak begitu baik dan kankernya berkembang cukup signifikan.

Seung Chan ingin tahu apakah Prof. Bae menjalani perawatan. “Dia bilang dia menjalani perawatan tapi sepertinya tidak. Dan karena ia menybutkan tentang Bucket List, sepertinya ia ingin menjalani sisa hidupnya dengan bahagia daripada menderita sakit…”, beritahu Soo Hyun lagi.

Soo Hyun merasa, sepertinya Seung Chan termasuk dalam list-nya Prof. Bae. Prof. Bae pernah mengatakan kalau ia ingin berjalan di pantai di pulau Jeju, mengumpulkan keong, sambil bergandengan tangan dengan pria yang keren. “Aku tidak yakin kau pria yang keren tapi aku hanya mengatakan ini supaya kau tahu…”, tutup Soo Hyun.

Saat kembali ke kafe, Soo Hyun memberitahukan Hye Rim bahwa ia akan pergi memeriksa tempat tinggal Ketua Kim. Dan ia ingin Hye Rim berbicara dengan Sekretaris Lee, asisten Ketua Kim. “Kau akan membantuku karena ini menyangkut Ketua Kim, ‘kan?”, tanya Soo Hyun.

Hye Rim tidak menjawab.

Mereka keluar bersama-sama dari kafe. Tapi saat Soo Hyun mengajak Hye Rim naik mobil bersamanya, Hye Rim diam saja dan akan pergi. Tapi Soo Hyun menahan Hye Rim, menyuruh Hye Rim naik mobil yang sudah ia hadiahkan untuk Hye Rim.

“Aa… Mobil yang kau berikan supaya aku mau melakukan tugas yang ketiga ya?”. Soo Hyun terdiam. Hye Rim mengatakan ia setuju pergi bukan karena ia menyukai Soo hyun tapi karena Ketua Kim. “Bukannya kau tahu itu? Kecuali kalau kau benar-benar idiot…”, ucap Hye Rim lagi dan berbalik pergi.

Soo Hyun tiba di rumah Ketua Kim. Ia melihat di kamar Ketua Kim ada tiga gelas yang diletakkan di atas nampan. Lalu ia melihat foto keluarga Ketua Kim, masih ada istri, putra, dan asik perempuannya. Ketua Kim terlihat lebih muda.

Soo Hyun memeriksa lemari Ketua Kim dan menemukan surat cinta yang dulu pernah dikirimkan oleh istri Ketua Kim untuk Ketua Kim.

Lalu Soo Hyun ke meja rias, di sana ia menemukan sebuah bros yang berbentuk mawar. Soo Hyun teringat, bros itu dipakai oleh Yeon Woo di dalam foto keluarga Ketua Kim.

Soo Hyun pindah ke kamar yang lain dan menemukan sebuah kotak. Di dalam kotak itu, ia menemukan sepasang sarung tangan bisbol. Di sana Soo Hyun juga menemukan papan permainan baduk dengan dua buah wadah di atasnya. Satu wadah berisi batu berwarna hitam dan putih, dan satu wadah lagi berisi batu berwarna putih saja.

Sementara itu, Hye Rim bertemu dengan Sek. Lee di sebuah kafe. Sek. Lee bisa menduga alasan Hye Rim bertemu dengannya adalah untuk bertanya tentang Ketua Kim dan ia langsung memberitahu Hye Rim kalau ia akan tetap tutup mulut.

Namun Hye Rim mengatakan, ia memanggil Sek. Lee karena ia mengkhawatirkan Sek. Lee. Ketua Kim terus bersikap aneh karena ketiga anggota keluarga Ketua Kim yang sudah meninggal masih terus gentayangan…

Sek. Lee khawatir jika arwah-arwah akan mengganggunya, tapi Hye Rim mengatakan arwah-arwah itu hanya ingin kejadian yang menimpa mereka diketahui. Lalu Hye Rim bertanya bagaimana putra Ketua Kim meninggal.

Sek. Lee akhirnya mau bercerita. “Ketua mengirimnya belajar ke luar negeri diluar keinginannya. Impian putranya itu menjadi gitaris di band indie tapi Ketua sangat sangat menentangnya. Sekolah itu sekolah berasrama yang sangat ketat dan ia tidak mampu bertahan… dan akhirnya bunuh diri…”.

Lalu Hye Rim bertanya tentang istri Ketua Kim. Sek. Lee mengatakan istri Ketua Kim sangat tertekan setelah putranya meninggal akibat bunuh diri. Istri Ketua Kim menjadi pencandu alkohol dan sempat dirawat di rumah sakit. Tapi akhirnya, istri Ketua Kim juga meninggal karena bunuh diri.

Adik Ketua Kim juga mengalami hal yang sama. Ia dipaksa menikah dengan pria pilihan Ketua Kim, sayangnya pria tersebut tidak dapat dipercaya dan adik Ketua Kim akhirnya meninggal karena kecelakaan. “Agak sedikit salah mengatakannya tapi semua itu terjadi seolah-olah Ketua lah yang sudah membunuh mereka bertiga…”, tutup Sek. Lee.

Hye Rim menceritakan pembicaraannya dengan Sek. Lee pada Soo Hyun. Hye Rim merasa, Ketua Kim bukan seperti orang-orang lain pikirkan, Ketua Kim yang ia kenal adalah orang yang memiliki hati yang hangat. Hanya saja ia tidak mengerti kenapa Ketua Kim bisa melakukan hal seperti itu.

Soo Hyun mengatakan ia juga belum bisa memastikan kalau Ketua Kim belum mau datang konsultasi. Lalu Soo Hyun memberikan bros bunga mawar dan foto-foto yang ia ambil di rumah Ketua Kim.

Hye Rim menerima dan melihat foto-foto itu. Suasana seketika menjadi canggung dan aneh. Hye Rim memutuskan akan keluar dari ruangan Soo Hyun. Soo Hyun memanggil Hye Rim, mengatakan kalau ia tulus pada Hye Rim.

“Apa yang sedang kau bicarakan?”, tanya Hye Rim, jutek.

“Aku memang melakukan eksperimen padamu tapi aku benar-benar menyukaimu. Itulah yang sebenarnya…”.

“Terserah, aku tidak mau mendengar kata-kata itu lagi..”. Hye Rim akan keluar dari dari ruangan Soo Hyun dan lagi-lagi Soo Hyun menahannya. Dengan geram Hye Rim menyuruh Soo Hyun membiarkannya sendiri. “Tidakkah kau lihat aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan perasaanku?”, tanya Hye Rim.

Soo Hyun mengatakan ia sedang berusaha menjelaskan kesalahpahaman Hye Rim padanya. Ia memang serakah karena terus melakukan eksperimen itu. Tapi tidak semua yang ada di dalam eksperimen itu adalah kebohongan…

“Dari awal semuanya memang sudah penuh kebohongan!”, potong Hye Rim, emosi. “Mengirimkanku bunga, mengatakan kau menyukaiku, dan membuat bioskop pribadi untuk kita berdua…”.

Soo Hyun memotong ucapan Hye Rim, mengatakan saat itu ia memang tulus, ia berniat untuk menyenangkan Hye Rim. Namun Hye Rim tidak percaya. menurutnya, yang Soo Hyun lakukan adalah memanipulasi perasaaan dan emosinya demi eksperimen Soo Hyun.

“Sudah kubilang tidak semuanya bohong!”, tegas Soo Hyun.

“Kalau begitu, kenapa kau terus melakukan eksperimen padaku? Baiklah. Kau adalah tipe orang yang akan mempertaruhkan hidupmu demi sebuah eksperimen, jadi aku memaafkanmu sekali. Tapi saat aku ragu, kau terus mengatakan padaku kalau kau sudah menghentikan eksperimen dan bahkan merobek surat kontrak dan mengatakan kau tidak melakukan eksperimen lagi!”.

“Itu…”.

“Kenyataannya kau menyembunyikan semuanya di dalam brangkasmu dan menipuku hingga sampai akhir…”.

Soo Hyun bertanya bagaimana Hye Rim bisa membuka brangkas itu. Hye Rim bisa membukanya karena ia sudah mengubah password menjadi tanggal lahir Hye Rim dan itu buktinya kalau ia menyukai Hye Rim. “Jika aku tidak mempunyai perasaan padamu, kenapa aku mengubah passwordnya?”.

“Tapi kenapa kau tidak menghentikan eksperimennya?”. Hye Rim mengatakan alasn ia tidak memberitahukan Soo Hyun kalau ia sudah tahu karena ia berharap Soo Hyun akan berubah pikiran dan akan mengakui semuanya sendiri. Karena ia ingin mendengar Soo Hyun berkata, ‘Maafkan aku karena melakukan eksperimen padamu’. Tapi nyatanya Soo Hyun malah melakukannya hingga akhir.

Hye Rim mengatakan ia mengirimkan video letter itu walaupun ia sudah tahu ia menjadi subjek eksperimen tapi nyatanya Soo Hyun malah menyuruhnya melakukan tugas ketiga. “Aku melakukannya karena berharap kau akan menghentikan eksperimen itu. Karena aku benar-benar ingin berbuat baik padamu…”, ungkap Hye Rim, mulai menangis.

Soo Hyun berusaha mengatakan kalau semua itu adalah salah paham dan ia benar-benar mencintai Hye Rim. Tapi Hye Rim tidak mau mendengar omong kosong Soo Hyun lagi dan mengatakan, “Kau tidak pernah mencintaiku…”.

Setelah mengatakan itu, Hye Rim keluar dari ruangan Soo Hyun, meninggalkan Soo Hyun yang termangu sendirian.

Ji Ho datang ke tempat sauna karena salah satu tugas yang diberikan Yoo Rim adalah berada di dalam ruang sauna selama 12 jam. Yoo Rim menyuruh Ji Ho melakukan itu karena ulang tahunnya bulan 12 dan ia melarang Ji Ho keluar dari ruang sauna selama belum genap 12 jam.

Ji Ho duduk di dalam ruang sauna sambil membawa jam pasir. Entah sudah berapa kali ia membalikkan jam pasir, tapi yang pasti Ji Ho sudah mulai terlihat pusing.

Sementara itu, Yoo Rim berlari masuk ke tempat sauna sambil berusaha menghubungi Ji Ho. Sayangnya, ponsel Ji Ho ada di dalam lemari ganti. Ia meminta penjaga sauna untuk mencari seseorang di bagian sauna pria yang hanya duduk seperti patung budha kecil.

Saat Yoo Rim sedang menjelaskan ciri-ciri Ji Ho, seseorang memberitahukan kalau ada yang pingsan di dalam.

Yoo Rim sangat kaget dan langsung berlari masuk ke dalam sauna pria. Tidak mempedulikan protes penjaga sauna dan protes para lelaki yang ada di dalam sauna… Hihihi…

Akhirnya Yoo Rim berhasil menemukan Ji Ho. Ia memarahi Ji Ho yang bertindak sangat bodoh duduk di dalam sauna berjam-jam.

Dalam keadaan setengah sadar, Ji Ho bertanya sampai dimana Yoo Rim sudah merekamnya. Yoo Rim tidak mau membicarakan tentang rekaman dulu, baginya yang penting mereka keluar dulu dari sana. Tapi Ji Ho menahan Yoo Rim, meminta Yoo Rim menjawab pertanyaannya.

“Tinggal endingnya saja…”, jawab Yoo Rim.

“Kalau begitu, ini endingnya. Sarangheyo…”.

“Kau gila… aku juga mencintamu…”, ucap Yoo Rim setengah menangis. Yoo Rim memeluk Ji Ho tapi kemudian ia baru sadar, Ji Ho pingsan lagi… Hihi…

Hye Rim sangat kaget saat Seung Chan memberitahukan kalau Prof. Bae sakit kanker. Seung Chan merasa sangat bersalah karena ia sama sekali tidak tahu dan selalu membuat Prof. Bae olah raga terlalu berat.

“Tapi paling tidak, apa kau tahu kira-kira dia pergi kemana?”, tanya Hye Rim.

Seung Chan tidak begitu yakin. Menurutnya Prof. Bae tidak akan pergi ke luar negeri dengan kondisinya seperti itu, sepertinya Prof. Bae pulang ke kampung halamannya.

Hye Rim ingin tahu apakah Seung Chan ingin pergi menemui Prof. Bae. Namun menurut Hye Rim, kalau Seung Chan pergi hanya karena kasihan pada Prof. Bae, maka sebaiknya Seung Chan tidak usah pergi. Karena jika ia menjadi Prof. Bae, menyukai seseorang dan menderita penyakit kanker, ia tidak ingin orang yang disukainya itu datang hanya karena kasihan padanya.

Hye Rim ingin tahu, hubungan seperti apa yang diinginkan Seung Chan dengan Prof Bae. “Teman baik, seorang mentor dan soulmate…”, jawab Seung Chan.

Menurut Hye Rim, keingian Seung Chan itu sudah cukup baik, jadi Seung Chan tidak boleh ragu melakukannya.

Setelah mendengar pendapat Hye Rim, Seung Chan memutuskan mencari dan memesan tiket ke Pulau Jeju.

Sementara itu, Hye Rim mendapatkan telpon dari sekretaris Lee yang mengabarkan Ketua Kim setuju melakukan konsultasi. Hye Rim sedikit kaget dan ingin tahu bagaimana Sek. Lee bisa mengubah pikiran Ketua Kim. Sek. Lee mengatakan Dr. Choi yang membujuk Ketua Kim.

Tak lama Soo Hyun turun dari klinik. “Kau sudah dengar Ketua Kim setuju melakukan konsultasi, ‘kan? Kita harus menemuinya bersama-sama”, ucap Soo Hyun.

“Kau bicara saja lebih dulu dengannya. Aku akan melakukannya sendirian…”, tolak Hye Rim dengan ekspresi masih marah.

Soo Hyun tetap meminta Hye Rim ikut di dalam sesi konsultasi. Mereka sama-sama tahu bagaimana kerasnya dan tertutupnya Ketua Kim dan ia yakin jika mereka melakukannya bersama-sama mereka akan berhasil. Soo Hyun meletakkan amplop coklat yang ia bawa dari klinik di atas meja. “Dia akan datang jam 5 sore. Naiklah ke klinik sedikit lebih cepat”, pesan Soo Hyun dan kemudian kembali naik ke klinik.

Setelah Soo Hyun naik, Hye Rim baru mengambil amplop dan membaca isinya.

Ketua Kim sudah datang ke klinik dan duduk di ruang konsultasi. Ia ingin mendengar pendapat Soo Hyun kenapa Soo Hyun berpikir ia pelu melakukan konsultasi.

“Sejak kapan anda melakukan itu?”, tanya Soo Hyun sambil menunjuk ke arah jari tangan Ketua Kim yang mengetuk-ngetuk sofa.

“Ini hanya kebiasaan, Bukan masalah yang besar…”.

Soo Hyun menyinggung masalah ritual tiga kali yang akan segera dilakukan di jam 6 nanti. Ketua Kim mengatakan itu bukan apa-apa dan Soo Hyun tidak perlu mempedulikan masalah itu.

Soo Hyun ingin tahu sejak kapan Ketua Kim melakukan ritual itu. “Itu dimulai sejak Nona Yeon Woo mulai melarikan diri, benar? Atau setelah istri, putra dan adik anda meninggal?”.

Ketua Kim mulai emosi dan membuat pertahanan diri. Ia tidak suka Soo Hyun mengungkit masalah keluarga orang lain. Soo Hyun mengatakan karena semua ini menyangkut keluarga Ketua Kim dan karena semua ini bukan masalah orang lain, tapi masalah Ketua Ketua Kim.

“Ketua Kim, menurut anda kesalahan siapa ketiga orang ini meninggal?”, tanya Soo Hyun.

“Salah mereka sendiri. Kenapa juga salah…”, sambar Ketua Kim.

“Saya tidak pernah bilang itu salah anda… Anda sendiri yang percaya mereka meninggal karena salah anda… Itu sebabnya anda selalu melakukan ritual tiga kali untuk console spirit mereka bertiga…”

Ketua Kim masih menyangkal ucapan Soo Hyun. Soo Hyun ingin tahu apa yang akan dilakukan Ketua Kim jika Nona Yeon Woo juga meninggal.

Ketua Kim sangat kaget mendengar ucapan Soo Hyun.

Soo Hyun mengatakan Ketua Kim sangat takut kalau sesuatu yang sama juga akan terjadi pada Yeon Woo oleh sebab itulah perilaku kompulsif Ketua Kim dimulai.

Ketua Kim sangat marah sampai-sampai berdiri dari kursi. Ia menyuruh Soo Hyun berhenti bicara seperti itu padanya.

Soo Hyun mengatakan maksudnya adalah ia ingin Ketua Kim berhenti merasa bersalah. “Anda tidak membuat mereka bertiga meninggal. Anda mencintai keluarga anda”, ucap Soo Hyun.

Kemaraha Ketua Kim mereda, berganti menjadi getir. Ia mengatakan ia tidak mencintai keluarganya. Saat keluarganya meninggal, ia sama sekali tidak meneteskan air matanya. “Kenapa aku harus bersedih pada orang yang tidak mau mendengarkanku dan hidup semau mereka sendiri…”, ucap Ketua Kim.

Hye Rim mencoba berbicara dengan Ketua Kim. Ia mengatakan semalam ia bermimpi melihat keluarga Ketua Kim. Ia melihat istri Ketua Kim sangat cantik. “Dia bilang dia sering mengejar-ngejar anda saat ia masih di sekolah perawat”.

Pertahanan Ketua Kim mulai goyah. Ia kembali duduk di sofa.

Hye Rim menruskan, “Dia bilang dia juga menuliskan surat untuk anda…”. Hye Rim berusaha mengingat dan mengulang kembali isi surat istri Ketua Kim. Ternyata isi amplop coklat yang diberikan Soo Hyun tadi adalah surat istri Ketua Kim.

Mata Ketua Kim mulai memerah, menahan tangis. “Istriku masih mengingat surat itu?”.

“Ya. Dia bilang dia masih mengingat semua surat yang ia tulis untuk anda…”, ucap Hye Rim. Lalu Hye Rim juga mengatakan tentang putra Ketua Kim yang muncul di dalam mimpinya. Di dalam mimpinya, outra Ketua Kim bercerita saat kecil ia sering bermain lempar tangkap bisbol dengan Ketua Kim. Dan adik Ketua Kim juga mengatakan ia sering bermain Gonggi bersama Ketua Kim dan itu sangat menyenangkan.

“Adik anda sering sekali kehilangan batunya sehingga anda membelikan banyak untuknya, iya ‘kan?”, tanya Hye Rim. Tubuh Ketua Kim mulai terguncang. Lalu Hye Rim juga menyinggung tentang foto keluarga Ketua Kim. Ia mengatakan, ketiga anggota keluarga Ketua Kim sama-sama mengatakan kalau mereka merasa sangat lucu seandainya hari itu Ketua Kim mau membiarkan bros itu ada di kepala Tuan Kim. Namun, mereka merasa sedikit kecewa karena Tuan Kim mengambil bros itu.

Hye Rim memberikan bros itu pada Ketua Kim dan Ketua Kim menangis saat melihat bros itu.

Bersambung…

[Sinopsis Madame Antoine Episode 14 Part 2]

Leave A Reply

Your email address will not be published.