Update Sinopsis Drama Korea Terbaru

Sinopsis Madame Antoine Episode 14 Part 2

0

[Sinopsis Madame Antoine Episode 14 Part 1]

 

Sinopsis Madame Antoine Episode 14 Part 2

Ketua Kim menangis, merasa semua kejadian yang menimpa keluarganya adalah salahnya. Ia hanya percaya pada pilihan yang ia buat untuk adik dan putranya.

Namun Soo Hyun mengatakan itu bukan salah Ketua Kim. Ketua Kim melakukannya hanya karena Ketua Kim sangat mencintai keluarganya.

Hye Rim mengatakan pada ketua Kim kalau ia juga sama seperti Ketua Kim, ia juga seperti itu saat membesarkan Do Kyung. Ada saat dimana So Kyung tidak mau mendengarkannya, rasanya ia ingin mengurung Do Kyung. Hye Rim merasa keinginannya itu timbul karena ia sangat mencintai dan menyayangi Do Kyung.

“Aku hanya ingin memilih jalan yang baik untuk mereka. Sebuah jalan yang aman. Tapi aku tidak pernanh menyadari bahkan Yeon Woo pun berakhir sama dengan mereka…”, ungkap Ketua Kim, menangis.

 

Hye Rim meminta Ketua Kim untuk berhenti menyalahkan diri sendiri karena dengan begitu keluarga Ketua Kim akan bisa beristirahat dengan tenang. Ketua Kim tidak mengatakan apa pun lagi dan menangis semakin sedih.

Sementara itu Seung Chan berangkat ke Pulau Jeju. Berbekal alamat di tangannya, Seung Chan mencari tempat tinggal Prof. Bae dan berhasil menemukannya. Seung Chan mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil-manggil Prof. Bae.

Prof. Bae yang memang ada di dalam kaget, mengetahui Seung Chan menyusulnya dan tidak mau membukakan pintu untuk Seung Chan.

Seung Chan membujuk Prof. Bae, mengatakan kalau ia akan tidur di luar saja di dalam sleeping bag (Seung Chan mengibas-ngibas ranselnya, berpura-pura sedang membuka sleeping bag)… Ia juga mengeluhkan cuaca di luar yang sangat dingin dan hujan… (Saat itu memang sedang hujan…). Seung Chan bahkan pura-pura batuk.

Prof. Bae mengalah dan membuka pintu. Seung Chan tersenyum senang dan langsung masuk ke dalam. Seung Chan juga membawakan hadiah untuk Prof. Bae, satu cup ramen dan satu bungkus nasi kepal…

Hye Rim menemani Ketua Kim menjenguk Yeon Woo. Ketua Kim sempat ragu. Tapi Hye Rim menyemangati Ketua Kim, mengatakan bahwa yang harus dilakukan Ketua Kim hanya mengungkapkan seluruh perasaan Ketua Kim pada Yeon Woo.

Ketua Kim duduk di samping tempat tidur Yeon Woo yang saat itu sepertinya sedang tidur. “Yeon Woo-ya. Semua ini salah ayah. Ayah tahu ayah bertanggung jawab atas kematian ibumu, oppamu, dan bibimu. Tapi ayah merasa bahwa ayah akan hancur jika ayah mengakui itu. Ayah merasa seperti tidak bisa hidup lagi jika mengakui itu. Karena itulah ayah sangat keras kepala. Bahkan saat kau membuat keributan tentang menikah, ayah menentangnya. Maafkan ayah, Yeon Woo. Ayah begitu kesepian… jadi ayah ingin bisa terus bersandar padamu. Tapi tidak apa-apa jika kau menikah sekarang dan meninggalkan ayah. jadi ayah mohon, bangunlah Yeon Woo-ya…”. Ketua Kim menangis sedih.

Perlahan Yeon Woo membuka matanya dan kemudian memanggil Ketua Kim. Ketua Kim sangat bahagia karena Yeon Woo akhirnya membuka matanya dan mengenalinya. Yeon Woo mengatakan ia mendengar ayahnya seperti berbicara dari jauh.

Yeon Woo bangun dari tidurnya dan duduk di atas tempat tidur. Ia bertanya kenapa ayah menangis. “Tidak, ayah tidak menangis…”, sahut Ketua Kim, mnundukkan kepalanya, menyembunyikan tangisnya.

“Apanya yang tidak…”, sahut Yeon Woo tidak percaya. Yeon Woo memberikan tisu untuk Ketua Kim dan Ketua Kim menangis semakin keras. Yeon Woo bertanya kenapa ayahnya terlihat begitu lemah dan tua.

“Ayah tidak tua… Ayah masih energik…”.

“Sepertinya ayah benar-benar kesepian, ya…”, ucap Yeon Woo.

Ketua Kim mengatakan ia mengizinkan Yeon Woo menikah dan hidup di dunia nyata. “Apa yang akan ayah lakukan jika aku pergi?’, ucap Yeon Woo dengan nada sedih.

“Kau bisa sering mengunjungi ayah. Kau akan sering mengunjungi ayah ‘kan?”.

Yeon Woo menangis. Meminta maaf pada ayahnya karena harus meninggalkan ayahnya. Yeon Woo memeluk ayahnya erat-erat. Mereka berdua menangis bersama.

Prof. Bae memberikan makan untuk Seung Chan dan Seung Chan berterima kasih pada Prof. Bae. Prof. Bae menunjukkan kamar untuk Seung Chan, namun Seung Chan mengatakan ia masih ingin bermain dan sudah membeli kartu. Ia mengajak Prof. Bae bermain Go Stop.

Prof. Bae mengatakan ia tidak bisa bermain Go Stop. Seung Chan berjanji akan mengajarkan Prof Bae dan mereka akan bermain 100 won per point. Seung Chan mengubah perjanjiannya, karena Prof. Bae kaya mereka akan bermain 1000 won per point.

Awalnya Prof. Bae kebingungan melihat Seung Chan mengambil kartu ini dan meletakkan kartu yang lain. Tapi Prof. Bae tidak membutuhkan waktu lama untuk memahami permainannya. Padda permainan yang selanjutnya, Prof. Bae menang dan Seung Chan harus membayar 4.900.000 won.

Seung Chan langsung merasa tekor dan mengatakan, “Boleh aku dapat diskon?”. 😛

Prof. Bae tersenyum dan mengatakan akan mengurangi 40.000 won kalau Seung Chan mau membuatkan teh untuknya.

Setelah membuatkan teh dan kembali ke ruang tengah, Seung Chan mendapati Prof. Bae sudah tidur.

Seung Chan duduk dan menatap Prof. Bae. Sy tidak tahu apa arti tatapan Seung Chan itu.

Ibu Soo Hyun datang lagi ke klinik. Soo Hyun mengatakan ia biasanya tidak mau menemui klien di luar jam kantor tapi karena Seo Yeon terlihat sedang terburu-buru, ia mau menemuinya.

Seo Yeon mengeluarkan syal yang kemarin ia beli bersama Soo Hyun. Soo Hyun tidak mengerti dan bertanya kenapa syal itu diberikan padanya, bukan pada putra Seo Yeon.

Melihat gelagat Seo Yeon, Soo Hyun langsung berpikir kemungkinan lain dan menyadari sesuatu.

Seo Yeon mulai menangis dan meminta maaf. Mengatakan kalau ia adalah ibu Soo Hyun. Ia melihat artikel tentang Soo Hyun dan karena sangat merindukan Soo Hyun, ia datang menemui Soo Hyun. “Tapi aku tidak punya hak atau keberanian untuk memberitahumu, jadi… aku pura-pura membutuhkan konsultasi. Aku tidak memintamu untuk memaafkanku. Saat itu, aku benar-benar ingin membawamu bersamaku, tapi aku kehilangan hak asuh atas dirimu…”.

Mata Soo Hyun mulai berkaca-kaca, hampir menangis. Ia tertawa menutupi kesedihannya dan mengatakan kalau ia tidak mengerti ucapan Seo Yeon.

Seo Yeon mengatakan ia senang bisa berkonsultasi dengan Soo Hyun, melihat Soo Hyun makan dan bahkan bisa berbelanja dengan Soo Hyun.

“Jadi anda melakukan semua ini dengan sepenuhnya menyadari bahwa aku putra anda?”, tanya Soo Hyun mulai tidak bisa mengontrol emosinya.

Seo Yeon kembali meminta maaf, mengatakan bahwa ia, ibunya Soo Hyun…

Soo Hyun memotong ucapan Seo Yeon, meminta maaf dan mengatakan bahwa ia sibuk.

Melihat Soo Hyun akan pergi, Seo Yeon memanggil Soo Hyun dengan sebutan Soo-Hyun-a. Soo Hyun bertambah kaget dan memutuskan keluar dari ruangannya.

Ji Ho melihat Soo Hyun yang keluar dari ruangannya masih dalam keadaan linglung. Ia bertanya apa yang terjadi. Antara sadar dan tidak, Soo Hyun mengatakan kalau ia akan pulang sekarang. Ia juga berpesan agar Ji Ho membawakan kartu keluarganya dan catatan medis nona Seo Yeon Hui ke rumahnya.

Ji Ho membawakan dokumen yang diminta Soo Hyun dan ingin bertanya sesuatu. Tapi Soo Hyun mengangkat tangannya, memberi syarat agar Ji Ho tidak bertanya lebih jauh. Ji Ho pun pergi.

Soo Hyun mencocokkan nama ibu kandungnya yang tertera di kartu keluarganya dan nama pasien di catatan medis yang dimilikinya. Dan ternyata sama.

Hingga keesokan harinya, Soo Hyun masih memikirkan tentang Seo Yeon. Ia terus menerus meyakinkan diri sendiri untuk bersikap biasa saja dan dewasa di depan Seo Yeon. Ia berencana untuk bertemu dengan Seo Yeon sekali lagi dan mencari nomor telpon Seo Yeon.

Saat akan menghubungi Seo Yeon, pintu ruangannya diketuk dan Clare masuk. Melihat Clare, Soo Hyun baru ingat kalau mereka memiliki janji untuk berdiskusi tentang korban. Saat Soo Hyun sedang membaca dokumen yang dibawa olehnya, Clare menatap Soo Hyun dengan lembut dan tersenyum tipis. Lalu Clare mengatakan alasan ia menemui Soo Hyun bukan hanya terkait pekerjaan, tapi ia ingin mereka mencoba sekali lagi untuk bersama-sama.

Soo Hyun kaget dan tidak mengatakan apa pun. Saat Clare pulang, Soo Hyun hanya mengatakan ia tidak akan mengantar Clare ke depan.

Soo Hyun sepertinya melihat sedikit kesedihan di wajah Clare dan menggenggam tangan Clare sebentar. Lalu ia masuk kembali ke ruangannya.

Hye Rim sepertinya baru pulang dari suatu tempat dan melihat Clare duduk di alah satu sudut kafenya sambil membaca buku. HYe Rim melihat Clare dengan pandangan tidak suka dan di dalam hati, ia mengeluhkan Clare yang masih saja terus di sana sementara pekerjaannya dengan Soo Hyun sudah selesai. “Apa dia tidak tahu hubunganku dengan Soo Hyun?”, kesal Hye Rim dalam hati.

Hye Rim mendekati Clare dan berbasa basi, bertanya apakah pekerjaan Clare sudah selesai.

Clare mengatakan ia punya sedikit waktu sebelum agendanya selanjutnya, ia juga memuji kopi di kafe Hye Rim yang enak. Hye Rim mengucapkan terima kasih atas pujian Clare dan bertanya apa Clare tahu tentang peramal. Ia memberitahukan Clare bahwa pekerjaannya adalah peramal dan menanyakan apakah Clare mau diramal keberuntungannya.

Dan sekarang, Clare duduk di depan Hye Rim di ruang biasa tempat Hye Rim meramal.

Hye Rim memulai aksinya dengan membuka kipas hitam dan berbicara dalam bahasa perancis. Clare tersenyum mendengar apa yang diucapkan Hye Rim.

Hye Rim menutup kipasnya dan memuji kulit Clare yang begitu cantik dan bercahaya. Namun belum sempat Hye Rim menyelesaikan kalimatnya, Clare memotong ucapan Hye Rim. “Kau benar, aku dan Soo Hyun pernah berkencan…”.

Hye Rim kaget.

Clare tersenyum dan mengatakan baru saja Hye Rim berbicara dalam bahasa Perancis, ‘Apa yang sedang kau coba lakukan?’, ‘Apa hubunganmu dengan Choi Soo Hyun?’.

Hye Rim tersenyum malu, mengatakan kalau itu bukan ia yang berbicara tapi Madame Antoine. Karena sudah ketahuan, Hye Rim berterus terang, bertanya apakah benar Clare pernah berkencan dengan Soo Hyun.

Alih-alih menjawab, Clare malah bertanya kabar Seung Chan. Ia mendengar Seung Chan bekerja di klinik juga tapi ia sama sekali tidak melihat Seung Chan.

Hye Rim kaget, mengetahui Clare mengenal Seung Chan.

Karena penasaran, Hye Rim menelpon Seung Chan menanyakan tentang Clare. Seung Chan mengakui ia mengenal Clare dan sedikit kaget saat mengetahui Clare datang ke Korea.

Hye Rim menanyakan apakah benar Clare pernah berkencan dengan Soo Hyun. Dan jawaban Seung Chan, “Bagaimana kau tahu tentang itu?”.

Hye Rim sepertinya bercerita pada Yoo Rim dan Yoo Rim kaget, karena ternyata yang dikatakan Soo Hyun tentang Hye Rim adalah cinta pertamanya adalah behong.

Hye Rim juga sangat marah dan kesal, merasa sangat sangat dibohongi. Ternyata selama ini Soo Hyun benar-benar hanya seorang pembohong.

Yoo Rim berpikir kemungkinan Soo Hyun dan Clare yang kembali berkencan. HYe rim juga berpikir seperti itu, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan selaian hanya melihat saja. Lagipula ia belum sempat membalaskan dendam pada Soo Hyun karena dijadikan subjek eksperimen.

Hye Rim melihat kaca mata hitam yang diberikan oleh Soo Hyun dan sanking marahnya, ia mengambil kacamata itu dan mematahkannya menjadi dua.

Soo Hyun menambahkan catatan di dalam catatan eksperimennya.

Tahap kedua dari eksperimen sekarang telah dibatalkan. Bukan kegagalan. Karena subjek tahu tentang eksperimen sehingga tidak gagal, tapi dibatalkan. Terlebih lagi, subjek merangsang otakku, membuatnya memproduksi dopamine, dan membuat hatiku berdegup kencang. Apa yang bisa aku lakukan sehingga subjek, yang aku cintai…

Tiba-tiba Soo Hyun mendapatkan telpon dari Hye Rim. Btw, diponselnya, Soo Hyun belum mengubah nama kontak Hye Rim, ia masih menulisnya dengan sebutan ‘Subjek Tes’. Dengan agak ragu, Soo Hyun berbicara dengan Hye Rim.

Dengan nada kembali seperti biasa, Hye Rim mengucapkan permintaan maafnya karena merasa sudah terlalu menyudutkan Soo Hyun. “Kau masih mencintaiku ‘kan?”, tanya Hye Rim lagi.

“Tentu saja masih…”.

“Kalau begitu, temui aku besok jam 12 siang di depan kafe. Ayo kita berkencan di saat jam kerja untuk pertama kalinya…”.

Soo Hyun meng-iyakan dan tersenyum lega setelah mendapatkan telpon dari Hye Rim.

Keesokan harinya, Hye Rim berdandan cantik. Ia memoleskan lipstik merah dibibirnya dan puas melihat hasilnya. Ia merasa dengan begitu ia dapat menyaingi Clare.

Hye Rim sudah menunggu di depan kafe lebih dulu, bersama dengan mobil yang diberikan oleh Soo Hyun. Saat Soo Hyun datang, Hye Rim langsung menarik Soo Hyun ke arah kursi samping pengemudi.

Soo Hyun agak keberatan karena ingin ia yang mengemudi. Tapi Hye Rim tidak mengizinkannya. Ia beralasan, ia merasa bersalah pada Soo Hyun dan ingin bersikap baik pada Soo Hyun.

Soo Hyun menurut dan mereka pun berangkat.

Mereka pergi ke toko buku. Saat Hye Rim memilih-milih buku, Soo Hyun hanya berdiri diam menatap Hye Rim dari jarak yang agak jauh. Hye Rim memergoki Soo Hyun yang sedang menatapnya dan bertanya ada apa.

Soo Hyun menunduk malu dan mengatakan “Tidak ada. Aku hanya merasa tidak percaya kau kembali berada di sisiku…”. Hye Rim tersenyum. Soo Hyun mendekati Hye Rim dan bertanya kenapa Hye Rim tiba-tiba memaafkannya.

Hye Rim mengatakan setelah ia berpikir, ia memahami Soo Hyun juga berada di posisi yang sulit. Melakukan ekperimen psikologi adalah pekerjaan Soo Hyun dan ia yakin itu semakin sulit karena subjeknya adalah orang yang disukai Soo Hyun.

“Ya. Berkali-kali aku berpikir untuk menyerah…”.

“Jadi eksperimennya sudah benar-benar berakhir ‘kan sekarang?”.

“Ya. Aku sudah membatalkannya kemarin…”.

“Jadi kalau begitu yang tersisa untuk kita berdua adalah saling mencintai?”.

Soo Hyun tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. Hye Rim tersenyum dan kemudian mengambil sebuah buku yang berjudul Cinderella. Soo Hyun ingin tahu alasan Hye Rim memilih buku itu.

“Tidak ada. Hanya buku ini mengingatkanku pada kisahku sendiri”, ucap Hye Rim.

Lalu Hye Rim membawa Soo Hyun ke sebuah tempat pertunjukan, tempat dimana ia pernah melakukan pertunjukan. Ia memebritahukan Soo Hyun kalau ia pernah bermain di dalam pertunjukan Romeo and Juliet dan ia berperan sebagai Juliet.

Soo Hyun meminta Hye Rim memperlihatkan sedikit potongan pertunjukan Hye Rim dan Hye Rim pun naik ke panggung.

Dengan gaya pertunjukan opera, Hye Rim mengatakan, “Choi Soo Hyun, kenapa kau melakukan eksperimen padaku? Buanglah eksperimen itu, dan berjanjilah mencintaiku! Dengan begitu, aku juga akan membuang lencana “Subjek eksperimen” ! Cinta, beri aku kekuatan!…”.

Tiba-tiba Hye Rim ambruk, jatuh ke lantai.

Soo Hyun tersenyum dan bertepuk tangan. Tapi saat melihat Hye Rim tidak bangun-bangun, Soo Hyun mulai khawatir dan berlari mendekati Hye Rim, berusaha membangunkan Hye Rim.

Tiba-tiba Hye Rim membuka matanya, mengatakan kalau ia meminum racun dan mati. Ia bertanya pendapat Soo Hyun tentang aktingnya. Bagus bukan?.

Soo Hyun akhirnya bisa tersenyum kembali dan mengatakan kalau Hye Rim benar-benar menakutinya.

Yoo Rim menemani Ji Ho yang sakit dan menyuapinya makan. Ji Ho terus kedinginan dan Yoo Rim memarahi Ji Ho karena jalan-jalan tanpa alas kaki dan juga hanya makan garam saja.

Ji Ho mengatakan ia baik-baik saja dan karena ada Yoo Rim di sisinya, ia semakin merasa lebih baik. Yoo Rim yang tadinya marah, mau tidak mau tersenyum. Lalu Ji Ho bertanya apakah Yoo Rim masih mensyuting pria itu selain dirinya.

Yoo Rim tertawa, mengatakan kalau itu bohong, pria itu hanya karakter utama di pertunjukan perusahaannya. Ia sudah mengedit rekaman Ji Ho dan sudah mengirimkannya ke festival.

Ji Ho tersenyum senang dan berpkir pasti akan menyenangkan jika Yoo Rim bis mendapatkan penghargaan juga.

Ji Ho kembali menggosok-gosok lengannya. Melihat Ji Ho yang masih kedinginan, Yoo Rim menyelimuti Ji Ho. Ia juga pindah ke samping Ji Ho, memeluk Ji Ho.

Hye Rim dan Soo Hyun sudah kembali ke kafe. Mereka duduk di depan kafe sambil makan ubi bakar. Hye Rim memberikan ubi yang sudah matang pada Soo Hyun dan mengatakan, “Aku mencintamu, Soo Hyun-ssi…”.

Soo Hyun tersenyum sangat lebar dan mengatakan, “Aku juga…”.

Hye Rim mengeluhkan Soo Hyun yang hanya selalu menjawab seperti itu, tidak memberi jawaban yang lebih baik.

Soo Hyun baru mau mengatakan rasa senangnya karena ia mulai mempercayai cinta sejati, tapi tiba-tiba Hye Rim mengatakan, deng… waktunya sudah habis, sudah tepat jam 12 malam.

Soo Hyun tidak mengerti maksud Hye Rim. Hye Rim memberikan tepatnya melemparkan buku Cinderella yang ia beli tadi pada Soo Hyun. Mengatakan kalau sihir cinderella sudah habis dan sudah waktunya mereka kembali pada kenyataan. “Kau masih belum mengerti? Semua ini adalah bohong…”, ucap Hye Rim yang sudah kembali seperti nada biasa ia marah pada Soo Hyun. “‘Aku mencintaimu?’ Yang benar saja”.

Dengan dingin Hye Rim bertanya bagaimana perasaan Soo Hyun setelah mendapatakn pengakuan perasaan yang palsu darinya. Mata Soo Hyun mulai berkaca-kaca. Hye Rim mengatakan Soo Hyun tidak perlu merasa terlalu bersalah karena Soo Hyun hanya menderita setengah hari saja sedangkan ia menderita selama 4 bulan.

Hye Rim mengambil kunci mobil dari jaketnya dan melemparkannya pada Soo Hyun, “Aku juga akan mengembalikan mobilnya. Dan aku menaruh semua hadiah lain darimu di bagasi. Mau dibuang atau disimpan, terserah.”.

Hye Rim juga memberitahukan kalau besok ia akan berangkat ke Daejon, ia akan membantu temannya yang juga menjalankan kafe peramal di sana. “Dia pergi karena aku…”, ucap Soo Hyun dalam hati.

“Kau tahu kan aku pergi karena aku tidak tahan melihatmu…”, ucap Hye Rim lagi.

Soo Hyun mulai terguncang. “Hye Rim juga pergi karena aku?”, gumam Soo Hyun dalam hati. Seketika ingatan Soo Hyun kembali ke masa kecilnya saat ibunya pergi meninggalkannya. Soo Hyun masih merasa salahnya lah ibunya pergi. “Ibuku juga pergi ketika aku kecil juga karena aku…”, guman Soo Hyun lagi, di dalam hati.

“Mari kita tidak bertemu satu sama lain lagi, Soo Hyun-ssi”, ucap Hye Rim dan berbalik pergi.

Soo Hyun menatap kepergian Hye Rim. Air matanya menetes. “Semua ini salahku. Aku masalahnya. Aku harus menghilang”…

Bersambung…

[Sinopsis Madame Antoine Episode 15 Part 1]

Leave A Reply

Your email address will not be published.