Update Sinopsis Drama Korea Terbaru

Sinopsis Madame Antoine Episode 16 Part 1

0

[Sinopsis Madame Antoine Episode 15 Part 2]

 

Sinopsis Madame Antoine Episode 16 Part 1

Setelah menegaskan kalau ia berbeda dengan ibu Soo Hyun dan tidak akan pernah meninggalkan Soo Hyun, Hye Rim meletakkan bunga di meja kerja Soo Hyun dan keluar dari ruangan Soo Hyun.

Soo Hyun menahan dirinya supaya tidak menangis.

Esok paginya, saat Soo Hyun sedang sarapan dengan hanya minum susu, Hye Rim mengirimkannya sms, meminta Soo Hyun datang ke ruang kerja Soo Hyun.

Soo Hyun masuk ke ruang kerjanya dan mencari-cari Hye Rim. Tapi kemudian ia melihat di kaca satu arah terdapat beberapa tulisan berwarna-warni dan membacanya,

Soo Hyun orangnya sedikit kasar, tapi tampan. Terkadang masakannya sedikit asin tapi ia adalah seorang koki yang hebat. Soo Hyun adalah pria romantis yang film romantis padaku saat aku sedih. Ia adalah seorang penulis yang buruk tapi ia menutupinya dengan suaranya. Soo Hyun adalah orang yang aku cintai.

Di ujung tulisan, Hye Rim mengakhirinya dengan membubuhkan cap bibir merahnya… 😛

Soo Hyun tersenyum senang melihat tulisan Hye Rim itu, apalagi, dibagian yang paling akhir… 😀

Saat sedang menekuni bacaannya, Soo Hyun memikirkan tentang Hye Rim lagi. Hye Rim yang memutuskan untuk kembali padanya dan mengatakan akan melakukan Proyek pemulihan padanya.

Soo Hyun menemui Ketua Kim untuk memberitahukan bahwa ia tidak bisa melanjutkan lagi eksperimen itu dan meminta maaf pada Ketua Kim. Ketua Kim tidak begitu setuju dengan keputusan Soo Hyun dan ingin tahu alasannya. Jika ada masalah, ia bersedia membantu Soo Hyun.

Soo Hyun mengatakan masalahnya bukan sesuatu yang bisa diatasi oleh Ketua Kim. Ia merasa masalahnya adalah pada hipotesisnya. “Hipotesismu yang mengklaim bahwa wanita tidak memiliki perasaan cinta sejati?”, tanya Ketua Kim.

Soo Hyun membenarkan dugaan Ketua Kim itu. Ketua Kim menghela nafas dengan berat, merasa sudah dirugikan karena sudah menginvestasikan banyak dana untuk proyek SOo Hyun dan Tim pemasaran juga sudah mulai…

Soo Hyun menyela ucapan Ketua Kim, berjanji akan memberi pendampingan pada tim pemasaran, tapi walau bagaimanapun ia terpaksa menunda eksperimennya itu.

Ketua Kim mengungkapkan ketidakpuasannya pada Hye Rim. Hye Rim menenangkan Ketua Kim, mengatakan kalau Soo Hyun tidak mungkin membatalkan eksperimen itu. Tapi Ketua Kim tidak percaya, ia sudah merasa rugi besar.

Hye Rim memberi saran agar Ketua Kim berbicara lebih tegas pada Soo Hyun atau mungkin memberi hukuman pada Soo Hyun. Ketua Kim sepertinya setuju dengan saran Hye Rim.

Dan sekarang Hye Rim datang ke ruang Soo Hyun dengan Soo Hyun yang sudah siap duduk di ruang sesi konsultasi. Ia kesal dan bertanya apa yang sebenarnya direncanakan oleh Hye Rim dan apa yang dikatakan Hye Rim pada Ketua Kim di telpon tadi.

Hye Rim mengelak, mengatakan kalau ia tidak cerita apa pun pada Ketua Kim, Ketua Kim hanya memintanya untuk memberi konsultasi pada Soo Hyun karena menurut Ketua Kim, Soo Hyun sedang memiliki masalah.

Hye Rim menyuruh Soo Hyun pindah ke sofa khusus pasien karena ia yang akan menjadi konselor untuk Soo Hyun. Dengan terpaksa, Soo Hyun pindah ke sofa yang lain.

Hye Rim memulai sesi dengan menanyakan perasaan Soo Hyun akhir-akhir ini. Dengan malas, Soo Hyun menjawab, terserah. Tapi kemudian ia mengatakan, “Oh ya. Sesuatu yang aneh telah terjadi. Aku seorang psikolog, dan peramal yang ada di bawah mengatakan dia akan membimbingku. Bukankah itu lucu?”.

Hye Rim tidak mempedulikan sindiran Soo Hyun dan melanjutkan pertanyaannya. Kali ini ia bertanya apakah Soo Hyun bisa tidur dengan baik. Soo Hyun meng-iyakan.

“Pembohong. Kau tidak bisa tidur atau makan dengan baik, bukan?”, ucap Hye Rim tidak percaya. Soo Hyun mengatakan, paling tidak ia minum segelas susu. Soo Hyun juga membenarkan metode Hye Rim memeriksa dirinya. Menurutnya, dalam konsultasi, pasien diperbolehkan berbohong sesuka pasien dan tugas seorang psikologislah mengungkapkan kebohongan itu untuk meencati tahu dimana letak permasalahannya dan membantu pasien dengan cara yang tepat.

Hye Rim menanggapi Soo Hyun dengan mengatakan, ia sendiri yang akan mengurus masalah itu. Lalu Hye Rim menyinggung Soo Hyun yang akhir-akhir ini meneteskan air mata. Soo Hyun mengelak, mengatakan tidak ada sesuatu yang membuatnya sedih.

“Ibumu kembali…”, sela HYe Rim. Soo Hyun yang tadinya penuh percaya diri, mulai sedikit goyah, tapi ia berusaha menutupinya dengan mengatakan sangat aneh untuk pria usia 36 tahun menangis seperti anak kecil.

HYe Rim mengatakan ibu Soo Hyun adalah ibu yang meninggalkan Soo Hyun ketika masih usia 6 tahun dan karena itulah SOo Hyun kehilangan kenangan masa kecilnya dan merasa sakit jika ada sesuatu yang menetes di tubuhnya.

Soo Hyun mulai tidak senang mendengar ucapan Hye Rim. Tapi Hye Rim belum selesai. Menurutnya, seseorang memang menangis pada saat sedih dan marah pada saat marah. Dan cara Soo Hyun mengekspresikan emosinya saat ini adalah sama seperti orang normal lakukan. “Bukankah itu respon alami jika kau menangis saat kau kembali bertemu dengan ibumu?”, tanya Hye Rim lagi.

Soo Hyun membantahnya dengan mengatakan jumlah airmata seseorang bervariasi, setiap orang berbeda-beda. Dan menurutnya, tidak semua mekanisme pertahanan itu adalah buruk dan ia sudah mempelajarinya di psikologi. Menurutnya lagi, mekanisme pertahanan seperti itu adalah mekanisme pertahanan yang dilakukan dengan sengaja.

Hye Rim menatap Soo Hyun ‘blank’. Soo Hyun mengetahui Hye Rim tidak mengerti apa yang diucapkannya dan menyuruh Hye Rim bertanya padanya, bagian mana yang Hye Rim tidak mengerti. Ia berjanji akan menjelaskannya pada Hye Rim.

Hye Rim menatap Soo Hyun marah.

Yoo Rim dan Ji Ho sudah pindah ke sebuah rumah. Yoo Rim membongkar kopernya dan menyadari banya barang yang belum ia bawa karena ia pergi dengan terburu-buru. Ji Ho memberi saran untuk pergi membeli barang-barang itu di toko. Tapi Yoo Rim tidak setuju, mereka harus berhemat dan lagi ia baru saja membeli kamera baru bulan ini jadi kartu kreditnya sudah terpakai.

Yoo Rim merasa sangat kesal melihat bukan saja pakaiannya, chagernya pun ketinggalan. Tidak masalah jika tidak menjawab telpon dari Hye Rim, tapi bagaimana jika telpon mengenai pekerjaan, tanya Ji Ho.

Yoo Rim menganggap itu belum suatu masalah karena ia sedang cuti tapi walau bagaimanapun ia kembali diam-diam dan mengambil barang-barang…

Yoo Rim mengendap-endap di depan kafe dan memilih naik tangga luar dan masuk melalui klinik. Tidak sengaja, Yoo Rim malah bertemu den
gan Seung Chan. Mereka saling menyapa dengan canggung dan tanpa banyak bicara, Yoo Rim langsung naik ke atas, ke tempat tinggalnya dengan Hye
Rim.

Seung Chan menelpon Hye Rim, memberitahukan Hye Rim kalau Yoo Rim diam-diam pulang ke rumah. Hye Rim ingin segera menangkap basah dan memarahi Yoo Rim, tapi Seung Chan mencegahnya.

Menurut Seung Chan, jika Hye Rim langsung memarahi Yoo Rim, maka Yoo Rim akan berlari semakin jauh. Lebih baik Hye Rim, mengikuti Yoo Rim.

Saat Yoo Rim turun dengan koper, HYe Rim sudah siap di dalam mobil dan mengikuti kemana Yoo Rim pergi. Ternyata Yoo Rim sepertinya pulang dengan taksi, dan taksi sudah menunggu agak jauh dari pintu masuk kafe.

Ji Ho sedang mengeringkan rambut Yoo Rim. Saat Yoo Rim meminta Ji Ho mengeringkan rambut bagian bawah, Ji Ho melihat tengkuk Yoo Rim dan memuji tengkuk Yoo Rim yang terlihat sangat cantik.

Yoo Rim agak marah karena ia mendengar, dulu Ji Ho menyukai kakaknya juga karena alasannya yang sama. Ji Ho terpaksa mengakuinya tapi ia mengatakan tengkuk Yoo Rim jauh lebih cantik daripada Hye Rim.

Yoo Rim sangat senang karena baru kali ini ada yang mengatakan dirinya lebih cantik dari kakaknya. Yoo Rim memegang kedua pipi Ji Ho dengan gemas.

Saat itu, tiba-tiba pintu terbuka dan Hye Rim masuk. Yoo Rim dan Ji Ho sangat kaget. Hye Rim mencari-cari sesuatu dan menemukan sebuah bantal. Ia memukul-mukul Yoo Rim dan Ji Ho bergantian, Ji Ho yang paling banyak mendapat pukulan dari Hye Rim.

Hye Rim memberikan nasehat pada Yoo Rim dan Ji Ho yang berlutut di depannya. Hye Rim tidak ingin JI Ho berakhir sepertinya, tidak memiliki kehidupan yang menyenangkan karena menikah sama seprti usianya menikah, hanya 21 tahun. Yoo Rim segera membantah ucapan Hye Rim, ia yakin Hye Rim berakhir seperti itu karena suami HYe Rim yang brengsek.

Hye Rim mengatakan semua itu adalah salahnya karena suaminya selingkuh, mereka sama-sama masih muda dan saling jatuh cinta dan menikah tanpa mengenal lebih jauh satu sama lain. Hye Rim menceritakan hal-hal sepele yang ujung-ujungnya menjadi sumber pertengkarannya dengan suaminya, mulai dari cara menekan tempat pasta gigi, membersihkan rumah…

Yoo Rim lagi-lagi membantah ucapan Hye Rim, mengatakan kalau ia dan Ji Ho sama-sama menekan tempat pasta gigi. Ji Ho membenarkan ucapan Yoo Rim dan ingin membahas tentang memebrsihkan rumah.

Yoo Rim tidak ingin membersihkan setiap hari. Ia hanya ingin melakukannya 3 hari sekali saja. Oke?, tanya Yoo Rim. Ji Ho mengiyakan dengan tidak ikhlas. Hye Rim menyuruh Yoo Rim mempertimbangkan sikapnya itu, tidak terus menerus melakukan semuanya dengan cara Yoo Rim karena dengan begitu suatu saat Ji Ho akan meledak.

Kali ini Ji Ho yang menyanggah, mengatakan kalau ia bukan gunung api, ia tidak akan meledak. Yoo Rim mengatakan ia sudah melatih Ji Ho dengan baik, seperti yang Hye Rim tahu, Ji Ho juga seperti keset, jadi ia bisa melangkah Ji Ho sesuka hatinya.

Wajah Ji Ho terlihat tidak begitu senang, tapi tidak mengatakan apa pun.

Hye Rim mengalah, dan kemudian menanyakan dimana mereka tinggal jika ia membiarkan mereka menikah. Yoo Rim mengatakan mereka akan mencari kamar sewa bulanan. “Apartemen terkecil saat ini saja harganya sekitar 700.000 won per-bulan. Bisakah kalian menangani harga sewa semacam itu? Dan yang lebih penting, bagaimana kalian tidur di tempat sekecil itu?”, tanya Hye Rim lagi.

“Kami akan berpegang erat satu sama lain dan tidur seperti itu! Ada masalah lain? Katakan saja!”, tantang Yoo Rim. Hye Rim menghela nafasnya, menyerah, yakin Yoo Rim dan Ji Ho tidak akan mendengarkan lagi nasehatnya.

Lalu Hye Rim mengatakan kalau demikian keputusan Yoo Rim dan Ji Ho, maka mereka akan berhenti berhubungan mulai saat ini juga. Yoo Rim panik, mendengar Hye Rim tiba-tiba memutuskan seperti itu.

“Aku berusaha keras untuk mencegahmu mendapatkan nasib yang sama denganku tapi kau justru melakukan ini, terserah. Kita tidak perlu bertemu lagi satu sama lain mulai sekarang. Mulai sekarang, kau dan aku adalah orang asing. Sampai jumpa. Oke?”, ucap Hye Rim dan kemudian berniat pergi.

Tapi tiba-tiba Yoo Rim berteriak, mengatakan kalau ia hamil. Tadinya ia tidak ingin mengatakannya pada HYe Rim tapi ia tidak punya pilihan lain dan harus segera menikah dengan Ji Ho.

Hye Rim sangat kaget hingga hampir saja jatuh. Ji Ho sendiri kaget. Yoo Rim meminta Hye Rim memberinya selamat. Tapi alih-alih memberikan selamat, Hye Rim malah memukul Yoo Rim, kesal karena Yoo Rim bertindak tanpa pikir panjang.

Yoo Rim kesakitan dan berteriak kenapa kakaknya malah memukuli wanita yang sedang hamil. Hye Rim berhenti memukul Yoo Rim dan beralih memukul Ji Ho dengan sangat keras. Yoo Rim berusaha menjauhkan Hye Rim dari Ji Ho, mengatakan itu bukan salah Ji Ho, tapi salahnya.

“Baiklah. Jalani saja kehidupan kalian berdua yang fantastis itu!”, teriak Hye Rim marah. Hye Rim lalu keluar dari rumah Yoo Rim tidak mempedulikan Yoo Rim yang memanggilnya.

Ji Ho menahan Yoo Rim yang ingin mengejar Hye Rim, bertanya tentang kebenaran ucapan Yoo Rim tadi. “Apa kau sudah gila? Itu cuma bohong…”, ucap Yoo Rim dan kembali mengejar Hye Rim.

Yoo Rim mengejar Hye Rim hingga keluar, mengatakan kalau semua itu adalah salahnya dan ia minta maaf. Hye Rim berhenti dan berbalik, menyuruh Yoo Rim tidak lari-lari karena akan membahayakan bayinya.

Yoo Rim membujuk Hye Rim untuk merestui keputusannya dengan Ji Ho. Ia berjanji akan hidup bahagia. Hye Rim tidak mau memperpanjang lagi, ia menyuruh Hye Rim dan Ji Ho pulang ke rumah dan kemudian mereka baru akan membicarakannya.

Yoo Rim tidak bisa membantah lagi dan terpaksa menuruti keputusan Hye Rim.

Seung Chan memberikan beberapa berkas pada Prof. Bae. Dan Prof. Bae menerimanya dengan ekspresi dingin. Setelah mengetahui Seung Chan ternyata tahu tentang penyakitnya, Prof. Bae seperti menghindari Seung Chan.

Melihat sikap dingin Prof. Bae, Seung Chan duduk di depan Prof. Bae, menceritakan tentang temannya yang membenci rumah sakit menderita penyakit bisul di perut dan bisa sembuh hanya dengan memakan makanan sehat dan olahraga.

“Jadi kau pikir aku juga akan sembuh? Jadi kau pikir kanker dan bisul itu sama? “, tanya Prof. Bae, pesimis.

“Bagaimanapun, semuanya itu adalah penyakit. Walaupun kau tidak mau melakukan operasi, paling tidak tolong lakukan chek-up…”, bujuk Seung Chan. Menurut Seung Chan, selama ini Prof. Bae hidup dengan pikiran optimis dan tetap saja ada kemungkinan kankernya akan menjadi sedikit lebih baik.

Prof. Bae menghela nafasnya. Ia mengajak Seung Chan untuk ikut dengannya menemui dokter. Ia ingin Seung Chan melihat sendiri bagaimana kondisinya yang sebenarnya.

Dokter melihat hasil pemeriksaan Prof. Bae dan menyimpulkan bahwa keadaan Prof. Bae tidak baik. Kankernya sudah menyebar hingga ke hati. Menurutnya, pengobatan radioaktif tidak cukup. Prof. Bae memerlukan kemoterapi dan juga operasi adalah hal yang harus dilakukan.

Seung Chan kaget mendengarnya dan ingin tahu berapa persen kesempatan Prof. Bae untuk bisa sembuh. Dokter mengatakan sekitar 30 persen.

Mendengar itu, Prof. Bae hanya tersenyum tipis.

Seung Chan dan Prof. Bae sudah keluar dari ruangan dokter. Seung Chan kembali membujuk Prof. Bae untuk menjalani saran dokter, walaupun hanya 30 persen tapi tetap saja masih ada kesempatan.

Prof. Bae tidak mau. Pengobatan kankernya itu bisa memakan waktu 10 tahun dan ia pasti tidak akan bisa menyelesaikan daftar keinginannya itu. Prof. Bae mengatakan ia hanya ingin menikmati hidupnya selama masih memiliki kekuatan untuk melakukannya. Dan ia tidak ingin menghabiskan waktunya selama 10 tahun di rumah sakit.

Seung Chan sudah kembali ke klinik. Ia memikirkan pesan Prof. Bae yang tidak ingin kondisinya diketahui oleh orang-orang di klinik. “Kalau ada rumor tentang hal itu, aku akan kembali ke Pulau Jeju”, ucap Prof. Bae lagi.

Hye Rim datang dan berbicara pada pada Seung Chan, tapi Seung Chan seperti tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Hye Rim. Hye Rim ingin tahu apak ada sesuatu yang terjadi.

Seung Chan masih bengong sesaat, tapi kemudian ia bilang tidak ada apa-apa. Hye Rim bertanya apa hari ini ia bisa mampir ke rumah Seung Chan.

Seung Chan ingin tahu apa yang akan dilakukan Hye Rim. “Aku akan meniru Choi Soo Hyun…”, beritahu Hye Rim.

Saat tiba di rumah Soo Hyun, HYe Rim melihat anjing yang masih dipelihara Soo Hyun dan mengelusnya sebentar. Sambil mengantarkan ke kamar Soo Hyun, Seung Chan bertanya apa yang sedang dicari Hye Rim.

“Sesuatu seperti foto Soo Hyun yang kau berikan kepadaku waktu itu. Atau sesuatu yang dapat menjelaskan luka psikologisnya, itu akan membantu. Apa dia punya mainan yang biasa dia mainkan saat masih anak-anak, atau sebuah album foto?”, tanya Hye Rim.

“Aku tidak tahu, sepertinya dia sudah membuang semuanya ketika pindah kesini…”, ucap Seung Chan. Lalu Seung Chan ingat kalau ibunya pernah membawakan album dulu ke sana.

Hye Rim kaget saat mendengar ibu Seung Chan pernah datang ke rumah Soo Hyun. Seung Chan membenarkan, orang tua mereka sempat mampir saat ada saudara mereka yang menikah.

“Kalau begitu, apa kau memiliki sesuatu yang lain selain album foto?”, tanya Hye Rim lagi. Seung Chan mengatakan ia tidak yakin. Tapi kemudian ia membawa Hye Rim ke lemari pakaian Soo Hyun.

Di dalam lemari Soo Hyun, Hye Rim melihat sebuah kotak dan mengambil sebuah dokumen, sepertinya mungkin itu ijazah Soo Hyun. Di dalamnya ada satu foto, foto Soo Hyun dan Clare saling berangkulan dan sepertinya Soo Hyun mengambil sendiri foto itu.

Seung Chan bertanya apakah ada sesuatu yang membantu Hye Rim. Hye Rim membenarkan, tapi sesuatu yang berbeda dari yang ia harapkan.

Hye Rim mengambil ponselnya dan memotret kotak itu.

Lalu Hye Rim memeriksa buku-buku yang ada di meja kecil di samping tempat tidur Soo Hyun. Buku-buku itu berjudul, Etika dan Simbol Perdukunan, Antara Frigiditas dan Gairah, dan ada dua buku lainnya.

Hye Rim memeriksa tempat sampah Soo Hyun dan menemukan bukti pembayaran dengan kartu kredit untuk pembelian sebuah kalung. Hye Rim juga memeriksa komputer Soo Hyun. Di bagian pencarian terakhir, terlihat bahwa Soo Hyun mencari kata kunci tentang, cinta masa lalu, sosiologi, Jerome Bruner…

Wajah Hye Rim berubah marah.

Keesokan harinya, Hye Rim membeberkan bukti-bukti yang ia temukan itu di depan Soo Hyun. Hye Rim memperlihatkan foto kotak yang ia ambil dan bertanya apa itu.

“Itu kotak…”, jawab Soo Hyun.

Hye Rim mengatakan itu adalah kotak yang ada di dalam lemari Soo Hyun dan isinya adalah semua milik Soo Hyun ketika masih kuliah. Soo Hyun kaget karena Hye Rim ternyata menyelinap ke kamarnya.

Hye Rim tidak menanggapi Soo Hyun, ia hanya meminta Soo Hyun menjawab pertanyaannya. “Kenapa kau tiba-tiba melihat kembali semua barang-barang lama yang berkaitan dengan saat kau kuliah di Stanford? Apa kau mmikirkan Clare?”.

“Itu…”.

Hye Rim menyela, meletakkan bukti pembayaran kalung di atas meja. “Dan apa ini? kau membeli kalung di toko ritel yang mewah saat aku berada di Daejon, bukan? Kenapa kau membelinya? Untuk siapa itu?”, marah Hye Rim lagi.

Soo Hyun ingin menjelaskan, lagi-lagi Hye Rim tadak mau mendengar. Kali ini ia meletakkan beberapa buku di atas meja. “Dan buku-buku ini semuanya tentang cinta masa lalu! Dan pencarianmu, tentang cinta masa lalu! Kenapa kau tiba-tiba sangat memikirkan tentang cinta masa lalu? Itu karena Clare, bukan? Dia kembali, karena itu kau melihat dan membaca semua ini!”.

“Bisakah aku bicara sekarang?”, tanya Soo Hyun, nyaris hilang kesabaran.

“Silakan dan coba jelaskan. Aku yakin semuanya hanya alasan”, ucap Hye Rim.

Soo Hyun mengakui, ia memang membuka kotak lamanya, tapi mencari resep omelet yang enak yang dulu pernah diberikan oleh teman sekamarnya saat kuliah. Dan ia ingin membuatkan omelet itu untuk HYe Rim. Melihat Hye Rim tidak percaya, Soo Hyun menantang Hye Rim untuk membuatkan omeletnya sekarang juga.

HYe Rim terdiam dan lalu menanyakan tentang foto Soo Hyun dengan Clare. “Foto Clare ada di sana? Seharusnya kau membuangnya. Sudah tidak ada gunanya. Tentang kalung ini, aku memang membelinya untuk diberikan kepada seorang wanita. Dan aku sudah memberikannya kepadanya”, ucap Soo Hyun.

“Siapa, Clare?”, tanya Hye Rim marah.

“Kuberikan kepada Hye Rim…”, ucap Soo Hyun. Hye Rim sangat kesal karena Soo Hyun mempermainkannya, ia sama sekali tidak menerima kalung dari Soo Hyun. Tapi etrnyata yang dimaksud Soo Hyun adalah Hye Rim, anjing peliharaannya.

Hye Rim baru ingat, anjing Soo Hyun memang memakai kalung dilehernya. Lalu Soo Hyun menjelaskan tentang buku. Ia membaca buku itu karena pasien wanitanya yang melewati masa-masa sulit karena ditinggal oleh pacarnya. Buku itu terus direkomendasikan oleh pasiennya itu, karena itulah ia membacanya.

“Sepertinya kau tidak melihat buku tentang perdukunan yang ada di sebelahnya. Aku membaca buku itu karena kau…”, ucap Soo Hyun. Hye Rim terdiam, tapi masih menatap Soo Hyun kesal. Soo Hyun menjentikkan jari kedua tangannya, mengatakan kalau penjelasan sudah selesai dan Hye Rim sudah tidak salah paham lagi, kan?

Hye Rim hanya diam.

Prof. Bae menemui Seung Chan, meminta Seung Chan untuk memesankan tiket pesawat untuknya. “Oke…”, jawab Seung Chan.

Prof. Bae heran kenapa Seung Chan tidak bertanya ia akan kemana. Lalu baru Seung Chan bertanya, kemana Prof. Bae akan pergi. “Alaska”, jawab Prof. Bae. Prof Bae mengatakan ia akan pergi selama tiga minggu untuk menghapus list di list bucketnya.

“Baiklah”, jawab Seung Chan singkat dan berbalik akan pergi. Prof. Bae kembali heran dan menanyakan apakah Seung Chan tidak punya pertanyaan lain. “Tidak ada…”, sahut Seung Chan dan kemudian ebrbalik pergi.

Prof. Bae menatap Seung Chan, bingung.

Seung Chan menemui Prof. Bae di ruangannya dan memberikan tiket yang sudah ia pesan. Prof. Bae kaget saat melihat harganya, ternyata cukup mahal. Seung Chan mengatakan ia memesan untuk dua penumpang. “Apakah saya boleh ikut?”, tanya Seung Chan.

Wajah Prof. Bae langsung ceria, ia merasa sangat terbantu jika memang Seung Chan mau menemaninya pergi. Lalu Seung Chan mengeluarkan semacam panduan wisata di alaska. Ia memebritahukan Prof. Bae bahwa ia sudah melakukan sedikit riset tentang Alaska.

Seung Chan membeberkan tentang lamanya perjalanan ke Alaska hingga 15 jam, lalu mereka harus ke Fairbanks jika ingin melihat aurora, lalu jika di musim dingin matahari tidak pernah naik dan hampir selalu malam dan suhu bisa mencapai -24 derajat celcius. Lalu ada badai angin, kilat, dan hujan es. Dan jika Prof. Bae ingin ke Machu Picchu, Prof Bae harus mendaki gunung setinggi 2.400 meter, sementara mendaki bukit di sekitar sana saja, Prof. Bae mengalami kesulitan.

Seung Chan mengatakan semua kondisi itu tidak apa-apa baginya, tapi ia tidak begitu yakin bagi Prof. Bae. “Tapi ada satu cara untukmu bisa memecahkan semua masalah ini…”, ucap Seung Chan.

“Aku tidak akan melakukan operasi…”, tegas Prof. Bae yang sudah tahu arah pembicaraan Seung Chan.

Seung Chan kembali membujuk Prof. Bae untuk tidak mengabaikan 30 persen kesempatan yang di[rediksi oleh dokter. Tapi Prof. Bae tetap pada pendiriannya, ini adalah hidupnya dan ini adalah keputusannya. Ia tetap akan pergi ke Alaska, terserah Seung Chan mau ikut atau tidak.

Yoo Rim dan Ji Ho kembali pulang. Saat itu Hye Rim sedang sibuk di kafe dan menyuruh mereka naik ke atas.

Di atas, Hye Rim memberikan secangkir teh untuk Yoo Rim dan mengatakan kalau teh baik untuk hormon wanita hamil. Ji Ho juga ingin meminta air pada Hye Rim. Tapi belum sempat Ji Ho menyelesaikan ucapannya, HYe Rim memotongnya, dengan nada marah ia menyuruh Ji Ho minum air di rumahnya sendiri saja.

Ji Ho langsung terdiam. Hye Rim juga memarahi Ji Ho karena membiarkan Yoo Rim membawa koper yang berat. “Kau tidak tahu kalau itu berbahaya untuk wanita hamil?”.

Ji Ho hanya diam, sementara Yoo Rim seperti merasa tidak enak. Hye Rim bertanya pada Yoo Rim, berapa bulan kandungan Yoo Rim saat ini. Namun kemudian ia meralatnya, ia yakin saat ini masih berusia beberapa minggu.

Yoo Rim tidak bisa menjawab, di dalam hati ia menimbang-nimbang kapan ia harus memberitahukan Hye Rim. Hye Rim memberitahukan kalau ia sudah membeli susu, ikan asin, dan keju. “Struktur tulang bayi mulai terbentuk saat ini jadi kau perlu makan banyak kalsium. Banyak minum air, dan juga makan banyak buah-buahan dan sayuran. Jangan melakukan olahraga berat apapun, oke?”, pesan Hye Rim lagi.

Lalu Hye Rim mengajak Yoo Rim ke rumah sakit karena ia sudah membuat janji dengan dokter obgyn. Mereka harus memastikan posisi bayi benar dan tidak akan ada masalah selanjutnya.

Yoo Rim mulai panik dan mengatakan kalau ia baik-baik saja. Tapi Hye Rim tidak mau mendengar bantahan Yoo Rim dan menyeret Yoo Rim pergi. Hingga sampai di tangga, mereka malah jatuh ke bawah.

Hye Rim langsung panik. Khawtir dengan keselamatan bayi Yoo Rim, apalagi tadi tangannya tidak sengaja menyodok perut Yoo Rim. Hye Rim sangat panik dan menyuruh Seung CHan yang kebetulan juga ada di sana untuk menelpon ambulance.

Yoo Rim berusaha mencegah Seung Chan, tapi Seung Chan sudah menelpon ambulance. Yoo Rim terpaksa mengakhiri kebohongannya dan berteriak, “Aku tidak memilikinya! Bayi. Aku tidak hamil”.

Hye Rim sangat kaget. Yoo Rim mengatakan ia berbohong dan meminta maaf pada Hye Rim. Ji Ho menelan ludahnya, takut Hye Rim bertambah marah. Tapi bukannya marah, Hye Rim malah tertawa, tertawa aneh sendiri. Ia sendiri bahkan mengatai dirinya sendiri gila karena tertawa di saat seperti itu.

Hye Rim tidak sanggup menghadapi Yoo Rim lagi dan memilih kembali naik ke rumahnya.

Soo Hyun duduk di restoran sendirian. Tak lama Seung Chan dan ayah mereka, Tuan CHoi datang. Tuan Choi menatap Soo Hyun dan menegur Soo Hyun yang memberikan muka masam padanya, padahal mereka pertama kalinya bertemu setelah sekian lama.

Soo Hyun diam saja, tidak menjawab. Pelayan memberikan menu pada masing-masing mereka. Tanpa menanyakan keinginan Soo Hyun, Tuan Choi langsung memesan paket A 2 buah dan bertanya pada Seung Chan, menu apa yang diinginkan Seung Chan. Sambil tersenyum lebar, Seung Chan mengatakan, ia menginginkan paket B.

Menu sudah dikembalikan dan Soo Hyun menatap ayahnya kesal dan menghela nafasnya. Lalu Tuan Choi menyinggung tentang klinik yang dibuka Soo Hyun, ia mendengar Soo Hyun juga membuat Seung Chan bekerja di sana.

Tuan Choi mengatai Soo Hyun yang tidak bisa mengurus adiknya dengan benar dan menegur Soo Hyun karena tidak mencarikan tempat pekerjaan yang lebih baik bagi Seung Chan. Lagi-lagi Soo Hyun hanya diam saja.

Seung Chan melihat ekspresi Soo Hyun yang semakin masam dan mengatakan pada Tuan Choi bahwa karena ia belum siap untuk bekerja di tempat yang lebih besar makanya ia bekerja di klinik Soo Hyun.

Tapi Tuan Choi belum juga berhenti. Ia mengkritik Soo Hyun yang hanya mampu bekerja seperti itu padahal ia sudah menghabiskan banyak uang untuk sekolah Soo Hyun di luar negeri. “Tapi kau hanyalah seorang konselor yang hanya menghasilkan sedikit uang. Apa hanya itu yang bisa kau lakukan?”, ucap Tuan CHoi lagi.

Soo Hyun seperti ingin mengatakan sesuatu tapi kemudian ia memilih untuk diam. Dan itu tidak membuat Tuan Choi berhenti. “Kau bahkan tidak bisa menjawabku? Sungguh mengesalkan. Mungkin itu karena kau menurun dari ibumu yang sialan itu”.

Soo Hyun tertawa kecut. Dan Tuan Choi ingin tahu kenapa Soo Hyun malah menyeringai padanya. “Kau masih sama, bertingkah semaumu hanya karena kau lebih tua”, ucap Soo Hyun. dan Seung Chan berusaha menegur Soo Hyun agar tidak bertengkar di sana.

Tapi Soo Hyun tidak peduli lagi dan mengeluarkan seluruh uneg-unegnya. “Kau tahu bahwa aku tidak bisa makan tiram, dan kau tetap memesankan hidangan tiram untukku?”. Tuan Choi menyanggah, ia tidak percaya sudah setua itu Soo Hyun masih tidak menyukai tiram. Tuan Choi menyuruh Soo Hyun bertingkah sesuai dengan umurnya dan berhenti pilih-pilih makanan.

“Aku tahu? Aku sudah cukup tua, jadi kenapa kau memperlakukanku seperti anak kecil? Seorang konselor, hah? Kenapa kau begitu peduli bagaimana cara aku mencari uang? Mengirimku untuk belajar di luar negeri? Kau tidak menghabiskan satu sen pun untuk membantuku.

“Apa kau pikir kau akan bisa pergi jika aku tidak mengizinkannya?”, tanya Tuan Choi marah.

“Aku belajar di luar negeri dengan uang yang kuperoleh sendiri! Kau tidak melakukan apa-apa untuk membantuku!”, tegas Soo Hyun lagi. Tuan Choi sangat marah karena Soo Hyun berbicara tidak hormat padanya.

Seung Chan juga ikut menegur Soo Hyun yang berbicara seperti itu pada ayah mereka. Namun Soo Hyun mengatakan, seseorang perlu memiliki sifat-sifat yang bisa dicontoh agar bisa menjadi seorang ayah yang berkualitas. Sementara yang dilakukan ayah mereka hanyalah memperlakukan orang lain seolah-olah mereka lebih rendah darimu dan memamerkan statusmu hanya karena karena ayah mereka sedikit lebih kaya. “Seseorang yang biasanya bertindak sesuka hatinya sepanjang waktu dan sekarang ingin diperlakukan seolah-olah dia benar-benar ayahku?”, marah Soo Hyun.

“Kau bajingan!”, Tuan Choi mengumpat Soo Hyun. Lalu Soo Hyun bertanya, apa ayahnya tahu kenapa ia pergi belajar ke luar negeri. “Aku ingin bisa pergi sejauh mungkin yang aku bisa darimu. Aku bahkan tidak bisa tertawa ketika aku sedang tertawa. Kau mungkin bertanya kenapa? Karena aku melakukannya hanya karena kau menekanku!”, ucap Soo Hyun lagi.

Soo Hyun berdiri dari kursinya dan berpesan agar ayahnya banyak makan makanan yang lezat. “Kau harus hidup selama mungkin untuk bisa memuaskan keserakahanmu yang luar biasa itu…”, ucap Soo Hyun dan kemudian keluar dari restoran.

Seung Chan mengejar Soo Hyun dan menahannya di depan restoran. Bertanya apa yang sedang Soo Hyun lakukan. Soo Hyun tidak menjawab dan mendorong Seung Chan supaya minggir.

Soo Hyun kembali akan pergi tapi Seung Chan menahannya lagi. Ia menegur Soo Hyun yang bersikap seperti itu pada ayah mereka yang sudah mulai lemah dan tua. Tapi Soo Hyun mengatakan, itu antara ia dan ayah mereka. “Seseorang sepertimu, yang dicintai sepanjang masa kecilnya dan diizinkan untuk melakukan apapun yang disukai, tidak berhak mengatakan ini kepadaku”.

“Kaulah yang menjauh dari kami!”, ucap Seung CHan. Seung Chan mengatakan ia tidak tahu tentang ayah tapi ia dan ibunya berusaha keras untu melakukan yang terbaik pada Soo Hyun. Tapi nyatanya, Soo Hyun sendiri yang menjauhkan mereka. Menurut Seung Chan, Soo adalah penyebab keluarga mereka menjadi seperti itu.

“Itu semua salahmu…”, tegas Seung Chan lagi dan kemudian kembali masuk ke dalam restoran.

Soo Hyun pulang ke rumahnya masih dalam keadaan kesal. Sebuah pesan masuk ke ponselnya, dan itu dari ibunya. Ibu Soo Hyun kembali meminta maaf dan bertanya apa yang bisa ia lakukan agar Soo Hyun mau memaafkannya.

Soo Hyun teringat pertemuan mereka terakhir kalinya. Waktu itu ia marah pada ibunya dan mengatakan supaya ibunya tidak pernah kembali lagi menemuinya.

Soo Hyun memutuskan untuk pergi ke hotel tempat ibunya menginap dan bertanya pada resepsionis, dimana kamar Nona Seo Yeon Hui. Saat resepsionis bertanya apa hubungan Soo Hyun dengan nona Seo Yeon, Soo Hyun terdiam, tidak bisa menjawab.

Soo Hyun melihat ke sekelilingnya dan ternyata, ibunya duduk tidak jauh dari konter respsionis. Ia mengatakan pada resepsionis bahwa ia sudah menemukan orang yang dicarinya.

Soo Hyun berjalan mendekati ibunya dan tidak sengaja, ia mendengar ibunya berbicara di telpon dan memanggil orang tersebut dengan sebutan ‘Putraku’. Wajah Soo Hyun langsung berubah. Apalagi setelah mendengar lebih jauh, bagaimana lemah lembutnya, perhatian, dan akrabnya ibunya dengan orang yang ditelpon itu.

Dan melihat hal itu, Soo Hyun diam-diam pergi meninggalkan hotel.

Bersambung…

[Sinopsis Madame Antoine Episode 16 Part 2 End]

Leave A Reply

Your email address will not be published.