Update Sinopsis Drama Korea Terbaru

Sinopsis Madame Antoine Episode 16 Part 2 End

2

[Sinopsis Madame Antoine Episode 16 Part 1]

 

Sinopsis Madame Antoine Episode 16 Part 2 End

Hye Rim menemui Prof. Bae. Mengeluhkan sikap Soo Hyun yang terus marah-marah padanya, tidak peduli ia berusaha baik pada Soo Hyun atau mencoba menghibur Soo Hyun. Bahkan saat ia mencoba lebih dekat pada Soo Hyun, Soo Hyun pergi menjauh darinya. “Aku tidak tahu apa lagi yang bisa aku lakukan untuknya…”, keluh Hye Rim.

Prof. Bae mengatakan ia yakin itu tidak mudah bagi Hye Rim karena Soo Hyun bukanlah pria biasa, Soo Hyun adalah seorang psikolog. Menurutnya, yang dibutuhkan Soo Hyun saat ini adalah penegasan rasa kasih sayang Hye Rim pada Soo Hyun.

Hye Rim tidak mengerti maksud Prof. Bae.

Menurut Prof. Bae, saat ini Soo Hyun memperlakukan situasinya seolah-olah hal itu terjadi kepada orang lain. Jadi Soo Hyun akan berkata pada dirinya sendiri bahwa ia tahu ceritanya dan ia tahu bagaimana akhirnya. Dan saat ini Soo Hyun sedang menganalisis situasinya.

Namun menurut Prof. Bae lagi, sikap Soo Hyun itu tidak akan membuat Soo Hyun bisa menghancurkan tembok emosionalnya. Dan yang perlu dilakukan Hye Rim adalah menyeret Soo Hyun menjadi aktor di panggung, bukan hanya sebagai penonton.

Hye Rim diam-diam masuk ke ruangan Soo Hyun dan mencari-cari sesuatu yang bisa ia jadikan bahan konsultasi Soo Hyun. Ia melihat agenda Soo Hyun di atas meja dan membukanya. Di dalamnya ia melihat Soo Hyun masih menyimpan foto masa kecil Soo Hyun yang dulu pernah ia berikan pada Soo Hyun.

Hye Rim memutuskan untuk menggunakan foto itu sebagai cara untuk masuk ke emosi Soo Hyun.

Hye Rim mengajak Soo Hyun pergi dengan mobilnya. Saat Soo Hyun bertanya kemana mereka akan pergi, HYe Rim hanya mengatakan bahwa mereka akan melakukan konsultasi di luar ruangan hari itu.

Soo Hyun protes karena seharusnya konsultasi hanya dilakukan sekali dalam seminggu dan juga tidak di luar ruangan. Tapi Hye Rim mengatakan kalau konsultasi dengan peramal sedikit berbeda. “Aku akan melakukan kapanpun menurutku baik dan selama itu dibutuhkan sampai aku mendapatkan sesuatu darimu”, ucap Hye Rim lagi.

Hye Rim membawa Soo Hyun ke SD-nya Soo Hyun. Soo Hyun mengomentari HYe Rim yang sampai-sampai melakukan riset tentangnya dan menemukan SD-nya.

Hye Rim ingin tahu, seperti apakah Soo Hyun ketika masih bersekolah dulu. “Sama seperti anak-anak lain. Berlarian dan makan dengan baik. Dan bermain dengan baik”, ucap Soo Hyun.

Hye Rim mengeluarkan foto masa kecil Soo Hyun tadi dan bertanya bagaimana Soo Hyun ketika foto itu diambil. Soo Hyun mengambil foto itu dan tertegun, menatap ke depan. Di dalam pikiran terdengar suara anak kecil, “Soo Hyun-a, aku berharap kau bisa datang dan membawaku pergi. Aku tidak ingin berada di sini sendirian”.

=== Flashback ===

Soo Hyun kecil dan ibunya dan juga Seung Chan yang masih bayi, berdiri di depan tempat mainan. Ayah mereka bersiap mengambil foto mereka.

Saat akan mengambil foto, ayah melihat dan menegur Soo Hyun yang tidak bisa tersenyum. Ayah memarahi Soo Hyun yang tidak mau menuruti keinginannya untuk tersenyum.

Dengan ragu, Soo Hyun berusaha menarik ujung bibirnya, walaupun kesannya menjadi aneh.

Ayah akhirnya tidak memaksa Soo Hyun tersenyum lagi dan mengambil foto mereka. Tapi kemudian ia masih saja mengomel dan memaki Soo Hyun sebagai anak sialan.

Ayah kemudian membereskan tripodnya dan pergi, diikuti oleh ibu. Soo Hyun masih berdiri di tempatnya, dengan takut-takut mengatakan kalau ia masih ingin bermain lebih lama di sana.

“Kenapa kau bermain di luar di tengah musim dingin? Cepatlah dan ikut, anak kurang ajar!”, semprot Tuan Choi.

“Aku… aku benar-benar… Aku benar-benar hanya ingin bermain di sini”, ucap Soo Hyun lagi. Ibu berusaha membujuk Soo Hyun.

“Lakukan saja semaumu! Dia sangat mirip ibunya, jadi dia melakukan apapun yang dia inginkan!”, marah Tuan Choi dan berjalan pergi. Diikuti oleh ibu Seung Chan dsambil sesekali menoleh ke arah Soo Hyun.

Soo Hyun pun bermain sendirian. Tak lama Soo Hyun pun menangis sendirian.

=== Flashback End ===

Soo Hyun menatap ke arah tempat dulunya ia duduk. Hye Rim menyuruh Soo Hyun mengibur anak kecil itu karena tidak seorang pun bisa melakukannya selain Soo Hyun.

Soo Hyun mendekati anak itu dan memeluk anak itu. Ia ikut bersedih dan menangis seperti anak kecil itu.

HYe Rim yang melihat dari jauh juga merasakan hal yang sama. Matanya berkaca-kaca.

Seung Chan mendekati Prof. Bae dan memperlihatkan tas yang dijual online. Ia bertanya tas mana yang dipilih Prof. Bae. Prof. Bae menunjuk salah satu tas dan Seung Chan berjanji akan memesannya.

Saat pergi, Seung Chan bergumam, tidak yakin Prof. Bae akan sanggup mengangkat tas itu.

Senyum Prof. Bae yang tadinya merekah, langsung menghilang.

Di waktu yang lain, Seung Chan bertanya pendapat Prof. Bae untuk ikut dengan tour jika ingin melihat aurora. Prof. Bae tersenyum senang dan setuju dengan pilihan Seung Chan itu.

Tapi, lagi-lagi Seung Chan bergumam, tidak yakin Prof. Bae dapat melakukannya karena perjalanannya cukup jauh. Mendengar ucapan Seung Chan, Prof. Bae jadi kesal.

Di waktu yang lain, Seung Chan pergi menemui Prof. Bae di ruangannya. Ia menanyakan pendapat Prof. Bae tentang pergi melihat igloo. Dengan wajah kesal, Prof. Bae bertanya apa Seung Chan ingin mengatakan lagi kalau ia tidak akan sanggup melakukannya.

“Ya…”, jawab Seung Chan jujur. Prof Bae ingin tahu kenapa Seung Chan melakukan itu. Seung Chan mengatakan alasanya karena ia ingin bisa hidup lebih lama lagi dengan Prof. Bae. Prof. Bae adalah mentornya dan ia tidak ingin Prof. Bae hanya mendampingnya 6 bulan saja. Ia ingin melakukannya 20 tahun atau 30 tahun lagi bersama Prof. Bae.

“Kumohon, lakukan operasinya, Dokter”, bujuk Seung Chan lagi. Ia yakin Prof. Bae pasti akan bisa mengatasi penyakitnya dengan kemoterapi dan akan bisa sehat kembali. Seung Chan berjanji, mereka akan pergi melihat aurora bersama, pergi ke peru, mencat warna rambut menjadi ungu dan mencoba semua bir yang ada di dunia ini.

Prof. Bae menatap Seung Chan dan tersenyum tipis.

 

Prof. Bae berpikir lama hingga malam hari. Ia mengambil catatan daftar keinginannya. Setelah nomor sepuluh, ia menambahkan nomor sebelas, yaitu melakukan operasi.

Yoo Rim dan Ji Ho saling menyemangati di depan kafe dan kemudian masuk ke dalam kafe. Mereka mencari Hye Rim dan berlutut di depan Hye Rim.

Hye Rim melihat ke sekelilingnya, merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Yoo Rim dan Ji Ho. Ia menyuruh mereka berdua berdiri.

Tapi Yoo Rim dan Ji Ho tetap berlutut. Yoo Rim mengatakan bahwa mereka akan mengumumkan pertunangan mereka di kafe dalam waktu satu bulan lagi. “Kemudian kami berdua menghemat 40 persen dari gaji kami dan menyimpannya. Kami akan menikah dalam tiga tahun, paling lambat”, beritahu Yoo Rim lagi.

Namun Hye Rim masih belum setuju. Tiga tahun lagi artinya Ji Ho masih berumur 24 tahun.

Ji Ho mengatakan usianya tidak penting. Ia hanya ingin Yoo Rim memakai baju pengantin di saat usia Yoo Rim masih muda dan cantik. Yoo Rim menambahkan, ia berjanji mereka akan mengadakan pernikahan sederhana, menyewa apartemen satu kamar yang kecil dan yakin akan mampu membayar semua hutang mereka dalam waktu satu tahun. Yoo Rim juga yakin mereka akan bisa masuk dalam daftar tunggu apartemen.

Hye Rim masih belum setuju. Ia tidak yakin mereka akan memasukkan Yoo Rim dan Ji Ho dalam daftar tunggu dan lagi bagaimana cara Ji Ho dan Yoo Rim membiayai hidup mereka. Hye Rim juga bertanya pada Ji Ho, apa yang akan Ji Ho lakukan nanti, apa Ji Ho tetap akan magang di klinik?

“Aku akan mendapatkan lisensi LCPC-ku dalam waktu tiga tahun. Dia mengatakan kalau dia tidak akan menikahiku kalau tidak begitu”, ucap Ji Ho sambil melirik ke arah Yoo Rim.

Yoo Rim kembali menambahkan, mereka akan membuat empat rekening terpisah segera setelah menikah. Untuk pendapatan, biaya, dana darurat, dan investasi. ” Dan kami juga mengumpulkan sedikit dana darurat untuk bersiap-siap jika kami tidak bisa bekerja. Itu rencana sepuluh tahun kami untuk saat ini. Tujuan terakhir kami adalah untuk membeli rumah”, tutup Yoo Rim dengan nada yakin.

Ji Ho juga mengatakan bahwa ia akan menduku Yoo Rim sehingga menjadi seorang pembuat dokumenter yang terkenal.

Melihat keteguhan Yoo Rim dan Ji Ho, Hye Rim terpaksa mengalah. Bertanya kapan orang tua mereka akan bertemu karena itu adalah langkah pertama dalam pernikahan. Yoo Rim dan Ji Ho saling berpandangan, tersenyum senang. Yoo Rim sangat senang karena itu artinya sekarang Hye Rim merestui mereka.

Yoo Rim langsung memeluk Hye Rim, mengucapkan terima kasih dan berjanji akan hidup bahagia. Tapi ternyata Hye Rim masih sedikit kesal dan mendorong Yoo Rim agar melepaskannya.

Hye Rim menghela nafasnya, melihat Yoo Rim dan Ji Ho tersenyum sangat bahagia.

Soo Hyun datang ke klinik dan melewati meja resepsionis. Di sana ada Seung Chan.

Saat Soo Hyun melewatinya, Seung Chan berdiri dari kursi dan Soo Hyun menanyakan kabar Prof. Bae. Seung Chan mengatakan Prof. Bae jauh lebih lebih dari yang diperkirakan.

Soo Hyun menganggukkan kepalanya dan berniat akan masuk keruangannya. Lalu tiba-tiba Seung Chan meminta maaf. Seung Chan mengatakan ia lupa bagaimana kerasnya ayah pada Soo Hyun dan meminta maaf atas perkataannya waktu itu.

Soo Hyun hanya melirik Seung Chan dan menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke ruangannya. Seung CHan terlihat lebih lega dan tersenyum tipis.

Malam hari, Hye Rim dan yang lainnya mengadakan pesta ulang tahun untuk Soo Hyun. Setelah Soo Hyun meniup lilin, Seung Chan menyodorkan garpu, meminta Soo Hyun memberikan sepatah dua patah kata.

Soo Hyun terlihat gugup dan tidak tahu mengatakan apa. Seung Chan menggodanya, mengatakan kalau Soo Hyun mulai gugup. Soo Hyun memukul belakang kepala Seung CHan dan Seung Chan hanya tertawa.

Soo Hyun mengucapkan terima kasih pada semuanya dan meminta hadiah dari mereka. Namun Seung Chan mengatakan, sebelum memberikan hadiah ada hal lain yang perlu mereka lakukan. Soo Hyun tidak mengerti maksud Seung Chan.

Seung Chan mencolek kue tart dan siap mengolesnya ke wajah Soo Hyun, tapi Soo Hyun dengan sigap bisa menghindarinya. Tapi ia tidak menyangka mendapat ‘serangan’ dari sisi yang lainnya. Hye Rim berhasil mengoleskan krim tart yang besar ke wajah Soo Hyun.

Soo Hyun terdiam dan semuanya jadi mengoleskan krim dan kue ke wajah Soo Hyun. Soo Hyun pasrah menerimannya dan kemudian tersenyum. Lalu ia membalasnya dengan mengoleskannya di wajah Hye Rim dan melemparkan kue ke yang lainnya.

Mereka jadi bermain lempar-lemparan kue…

Pesta sudah selesai dan semuanya sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Setelah selesai membersihkan badannya, Hye Rim mendapatkan telpon dari ibu Soo Hyun.

Ibu Soo Hyun memberitahukan bahwa ia akan pergi malam itu. Ia tahu hari itu adalah hari ulang tahun Soo Hyun dan ia ingin Hye Rim menyampaikan pesannya pada Soo Hyun, bahwa ia mencintai Soo Hyun.

Hye Rim teringat, Soo Hyun pernah mengatakan padanya bahwa ia merasa sudah melakukan kesalahan sehingga ibunya tidak kembali saat ulang tahunnya. Dan pikirannya itu terus terpatri di dalam otaknya.

Hye Rim memutuskan untuk melakukan sesuatu. “Ibu, ibu tidak boleh pergi sekarang. Cepatlah, Soo Hyun sedang menunggu…”.

Sinyal ponsel tiba-tiba menghilang dan telpon terputus. Hye Rim mencoba menghubungi ibu Soo Hyun dan tersambung dengan pesan sibuk. Karena pada saat yang bersamaan, ibu Soo Hyun juga sedang berusaha menghubungi Hye Rim.

Hye Rim memutuskan pergi menyusul ibu Soo Hyun di hotel. Saat di perjalanan, Hye Rim terus mencoba menghubungi ibu Soo Hyun tapi lagi-lagi mendapatkan pesan sibuk.

Saat tiba di hotel, Hye Rim bertanya pada resepsionis dan resepsionis mengatakan bahwa nona Seo Yeon Hui sudah check out 10 menit yang lalu.

 

Hye Rim keluar dari hotel dengan langkah gontai. Untungnya, ia bertemu dengan ibu Soo Hyun di depan hotel. Ibu Soo Hyun mengatakan ia kembali karena sepertinya sepertinya Hye Rim mengatakan sesuatu tentang Soo Hyun. Dan Hye Rim tersenyum lega.

Suara bel rumah Soo Hyun berbunyi tepat saat Soo Hyun akan bersiap tidur. Soo Hyun memakai jaketnya dan berjalan ke arah pintu masuk, sambil bertanya siapa yang datang.

Soo Hyun bertanya hingga dua kali, tapi tidak terdengar jawaban apa pun dari luar. Soo Hyun memutuskan membuka pintu dan cukup kaget saat melihat ibunya yang berdiri di depan rumahnya. Soo Hyun tidak menutup pintunya tapi berjalan keluar, menemui ibunya.

Ibu Soo Hyun mulai menangis, meminta maaf karena tidak berada di samping Soo Hyun. Soo Hyun bertanya dari mana ibunya tahu rumahnya. Ibu tidak mengatakan tentang Hye Rim, ia hanya mengucapkan selamat ulang tahun untuk Soo Hyun dan meminta maaf karena datang sangat sangat terlambat.

Mata Soo Hyun mulai memerah, Soo Hyun mulai menangis. “Jadi ibu ingat ulang tahunku?”.

“Ya. Bagaimana mungkin seorang ibu melupakan hari ulang tahun anaknya…”.

“Lalu, bagaimana dengan perkataan ibu bahwa ibu akan datang pada hari ulang tahunku? Apa ibu ingat?”. Ibu Soo Hyun ingin memberi alasan tapi ia tidak punya alasan untuk dikatakan pada Soo Hyun.

“Kenapa? Ibu tidak bisa mengingatnya? Apa ibu tahu betapa sulitnya bagi aku karena hal itu? Aku pikir ibu pergi karena aku, dan aku sangat…”,

Ibu Soo Hyun lagi-lagi meminta maaf, ia mengakui semua itu adalah salahnya. Soo Hyun menyalahkan ibunya, seharusnya saat bercerai dari ayah, ibu berjuang untuk membawanya bersama ibunya. “Bagaimana bisa ibu meninggalkanku dengan orang yang mengerikan seperti ayah? Apa ibu berencana untuk hidup dengan bahagia sendiri?”, tuduh Soo Hyun, meluapkan kemarahannya.

“Aku terlalu lemah. Aku diusir, jadi aku tidak punya apa-apa. Tapi meskipun demikian, aku mencoba yang terbaik. Tapi pengacara ayahmu terlalu kuat, jadi dia menyalahkan semuanya kepadaku dan mengambil hak asuh…”, ucap ibu Soo Hyun.

“Tapi seharusnya ibu tetap datang untuk membawaku pergi! ibu tiri, ayah, dan adikku semua bahagia tapi aku… dan kemudian ibu memulai keluarga baru! Aku satu-satunya yang ditinggalkan!…”.

“Soo Hyun-a…”, ucap ibu Soo Hyun, menangis.

“Apa ibu tahu bagaimana rasanya tidak memiliki siapapun di sisi ibu dan terus sendirian?”, tangis Soo Hyun.

Ibu meminta Soo Hyun mengizinkannya untuk berada di sisi Soo Hyun mulai saat ini dan ibu kembali meminta maaf karena Soo Hyun harus menunggu hingga 30 tahun. Soo Hyun akhirnya mau memaafkan ibunya dan mengizinkan ibunya memeluknya. Soo Hyun juga memeluk ibunya erat-erat, mereka menangis bersama-sama.

Prof. Bae mulai menjalani kemoterapi. Seung Chan menawarkan berbagai hiburan untuk Prof. Bae supaya tidak bosan. Tapi Prof. Bae menolak semua tawaran Seung Chan. Akhirnya Seung Chan menawarkan pertunjukan, pertunjukan yang ia perankan langsung.

Seung Chan menyalakan musik di televisi dan Seung Chan berpura-pura berkaraoke di depan Prof. Bae.

Prof. Bae tersenyum senang melihat aksi Seung Chan.

Hye Rim turun dari rumahnya dan tidak sengaja bertemu dengan Ji Ho di depan klinik. Hye Rim bertanya tentang Soo Hyun. Ji Ho mengatakan kalau Soo Hyun sedang bertemu dengan Clare. Mereka sedang mengerjakan pekerjaan bersama-sama dan mungkin akan bangun sepanjang malam, ucap Ji Ho lagi.

Wajah Hye Rim terlihat tidak senang.

HYe Rim sendiri pergi menemui Ketua Kim. Ketua Kim mengeluhkan Yeon Woo yang tidak pernah lagi makan bersamanya tapi selalu makan malam bersama pria itu. Hye Rim berusaha menenangkan Ketua Kim, karena walaupun demikian ia mendengar hubungan Ketua Kim dengan Yeon Woo semakin dekat.

Lalu Ketua Kim menanyakan kenapa Hye Rim berpacaran dengan Soo Hyun. Ia mendengarkan itu dari Sek. Lee. Ketua Kim merasa seharusnya ia sudah tahu saat Hye Rim memaksanya untuk ikut konseling.

Hye Rim hanya ber-iya singkat, wajahnya terlihat tidak begitu nyaman.

Ketua Kim ingin tahu apakah hubungan Hye Rim berjalan dengan baik, karena menurutnya Soo Hyun itu seperti pria brengsek. Ketua Kim ingin tahu apakah Soo Hyun baik dan perhatian pada Hye Rim.

Hye Rim mengatakan akhir-akhir ini Soo Hyun terlalu perhatian sehingga itu juga menjadi masalah. Ia yakin Soo Hyun akan membaik degan konseling tapi ia tidak yakin karena Soo Hyun membawa Clare…

Hye Rim tiba-tiba jadi curhat dan kemudian bertanya apa yang dilakukan Ketua Kim saat dulu ketua Kim memiliki saingan dalam mendekati istri Ketua Kim. Hye Rim ingin tahu apakah Ketua Kim menyingkirkan saingannya itu dengan hadiah atau mungkin Ketua Kim terus menempel pada istrinya itu.

“Goethe pernah berkata seperti ini: ‘Cinta akan menemukan mereka yang mencarinya’. Jadi jangan khawatir. Cinta akan selalu menemukan jalannya”, nasehat Ketua Kim.

Hye Rim terdiam, memikirkan ucapan Ketua Kim itu.

Soo Hyun dan Clare sudah selesai dengan pekerjaan mereka. Karena Clare akan segera ke bandara dan di depan kafe jarang dilewati taxi, maka Soo Hyun menawarkan bantuannya untuk mengantar Clare ke bandara.

Saat keluar dari ruangan, mereka malah berpapasan dengan Hye Rim yang baru naik dari kafe. Hye Rim melihat Soo Hyun membawakan koper Clare dan langsung salah paham. Hye Rim mendesah kesal dan langsung naik ke atas.

Soo Hyun mengejar Hye Rim, menjelaskan bahwa ia hanya akan mengantar Clare ke bandara karena Clare akan kembali ke Amerika. “Memangnya aku bertanya?”, balas Hye Rim marah dan kemudian naik ke atas.

Soo Hyun hanya berdiri diam di tangga dan Clare memutuskan untuk pergi ke bandara sendiri dan tidak mengatakan apa [un lagi pada Soo Hyun.

Hye Rim masuk ke rumah dengan wajah yang kesal. Yoo Rim melihat sikap Hye Rim yang aneh dan bertanya ada masalah apa. Hye Rim langsung menangis dan memeluk Yoo Rim, mengatakan kalau sepertinya Soo Hyun akan meninggalkannya. “Kenapa aku selalu berakhir seperti ini. Aku merasa sangat gelisah…”, tangis HYe Rim.

Soo Hyun berada di ruangannya dan sedang berpikir sesuatu. Ia membuka dokumen tentang eksperimen tahap kedua dan menghapus di bagian tugas ketiga, yaitu menggantungkan 100 pita di pohon dan melakukan pengakuan.

Sementara itu, di rumahnya, Hye Rim melihat kacamata hitam yang dulu ia patahkan. Hye Rim teringat, Soo Hyun menghadiahkan kacamata itu untuk membantunya dalam mengemudi. Hye Rim pergi ke toko tempat kacamata itu dijual. Ia meminta pada pelayan toko untuk diberikan kacamata lain yang dengan tipe yang sama.

Sekembalinya dari toko, Hye Rim melihat sebuah amplop di atas meja barnya dan membukanya. Di dalamnya, Hye Rim menemukan sebuah tiket nonton film yang berjudul ‘Cinta bukanlah Sesuatu yang Kau Lakukan Sendiri’.

Melihat tiket itu, Hye Rim menjadi marah, berpikir kalau Soo Hyun menipunya lagi. Ia bersumpah tidak akan pergi.

Tapi nyatanya, Hye Rim penasaran dan pergi ke bioskop. HYe Rim terus mencari-cari Soo Hyun, berharap Soo Hyun akan datang. Tapi sampai waktunya tiba, Soo Hyun tidak datang, malahan kursi disampingnya ditempati oleh orang lain. Hye Rim sempat mengatakan pada pria itu bahwa itu bukan kursi pria itu, tapi pria itu mengatakan itu adalah kursinya dan memperlihatkan bukti di tiketnya.

Hye Rim keheranan dan masih mencoab melihat ke belakang, berharap Soo Hyun mungkin akan muncul.

Lampu sorot menyala dan ternyata, Soo Hyun sudah berdiri di sana. Orang-orang bingung, tidak mengerti apa yang terjadi, sementara Hye Rim sangat kaget, tidak mengerti apa yang dilakukan Soo Hyun.

Soo Hyun berbicara di depan penonton, “Halo semuanya. Penggunaan ponsel selama film diputar dapat menyebabkan penonton bioskop lainnya merasa putus asa dan patah hati. Harap matikan ponselmu agar kita semua yang hidup di zaman keputusasaan dan patah hati, bisa memiliki harapan lagi. Jangan menendang kursi di depanmu, dan tolong buang sampah di tempatnya. Dalam keadaan darurat, silakan gunakan pintu keluar di sisi ini dan kamar mandi di sudut di sebelah kanan, jadi tolong buka perlahan”. Hye Rim menatap Soo Hyun bingung, tidak mengerti apa yang diucapkan Soo Hyun. Yang lainnya tertawa, merasa ucapan Soo Hyun lucu.

“Untuk wanita yang duduk di G-25. Wanita yang duduk di G-25 sangat penting bagiku dibanding siapa pun. Orang yang menyembuhkan bekas lukaku adalah nona G-25 dan yang membuatku lebih introspeksi diri juga nona G-25. Dan orang yang membuatku merasa aku harus berubah dan menjadi seorang pria yang lebih keren juga nona G-25”. Ucapan Soo Hyun membuat Hye Rim malu dan Hye Rim menyembunyikan dirinya dengan merendahkan badannya karena orang-prang mulai melihat ke arahnya.

“Aku mencintaimu, Hye Rim-ssi”, ucap Soo Hyun dan kemudian tersenyum. Soo Hyun mengulurkan tangannya, memberi isyarat supaya Hye Rim maju ke depan. Soo Hyun bahkan berpura-pura seperti menarik Hye Rim, mirip gaya Deok Sun waktu narik Taek di Reply88, kalau kalian nonton…

Saat tiba di panggung, Hye Rim malah menarik Soo Hyun pergi dari ruang pertunjukan. Hye Rim merasa malu dengan apa yang dilakukan Soo Hyun dan bertanya apa Soo Hyun sudah gila.

“Ya, aku gila. Bagaimana pelaksanaan Tugas 3 tadi?”, tanya Soo Hyun.

Hye Rim kaget, tidak mengerti maksud Soo Hyun. Soo Hyun mengatakan, ialah yang melakukan tugas ketiga untuk HYe Rim. “Sebuah tugas dimana seseorang harus tampil tanpaΒ peduli tentang apa yang dipikirkan orang lain. Sebuah tugas yang hanya akan dilakukan orang gila. Ini adalah bukti bahwa aku benar-benar jatuh cinta kepadamu…”, ucap Soo Hyun lagi.

Hye Rim menatap Soo Hyun, tidak percaya dan kesal karena Soo Hyun ternyata benar-benar mau melakukan eksperimennya sampai akhir. Walaupun sebenarnya Hye Rim tidak benar-benar kesal, sih. Lalu Soo Hyun tersenyum lebar dan mengatakan, “Aku mencintaimu, nona Hye Rim…”.

Hye Rim tersenyum bahagia… And they kissed… The End…

TAMAT

 

Komentar :

Tada… beres juga drama ini. Maaf terlambat bgt, kemarin sempat masalah dengan internet jadi bikin mood sy sempat menghilang… πŸ™‚

Bagaimana pendapat kalian tentang drama ini? Menurut sy drama ini cukup worthed ditonton. Walaupun ratingnya rendah tapi jalan ceritanya oke kok. Walaupun dibilang drama ini masuk genre romcom, tapi cenderung serius dan banyak mikirnya. Sy harus nonton lebih dari sekali untuk bisa mengerti jalan ceritanya. Apalgi ditambah dialognya yang pendek-pendek dan cepat. Klop deh… πŸ˜›

Dari drama ini sy belajar sedikit tentang pentingnya menjaga perasaan dan sikap orang tua terhadap anak. Entah kenapa, melihta kasus Soo Hyun dan kasus anak kecil pasien Soo Hyun di episode awal dulu, membuat sy seperti bercermin. Tiba-tiba saja sy membayangkan anak-anak sy dan bertanya-tanya, sudah baikkah sy menjadi orang tua? Hehe…

Seperti kasus Soo Hyun, Soo Hyun begitu mengingat kata-kata ibunya yang tidak akan datang ke ulang tahunnya kalau Soo Hyun terus mengotori bajunya dengan es krim. Bahkan ibunya sendiri tidak ingat pernah mengucapkan kata-kata itu pada Soo Hyun. Soo Hyun sangat mengingatnya, sehingga berpikir bahwa alasan ibunya tidak pernah datang adalah karena ia menumpahkan es krim, dan itu adalah salahnya.

Keadaan Soo Hyun semakin memburuk di saat ayahnya terus mengkritiknya, tidak pernah sama sekali menghiburnya. Alih-alih malah mengumpat dan memakinya. Tidak heran, Soo Hyun merasa ditinggalkan sendiri dan tidak percaya ada seseorang yang mencintainya. Dan sebagai psikolog, untuk membuktikan perasaannya itu, ia melakukan eksperimen tentang cinta sejati. Bahwa cinta sejati itu tidak ada, semua cinta hanyalah timbul karena alasan-alasan tertentu, misalkan dengan kekayaan dan janji kehidupan yang mapan.

Sebenarnya dalam hubungan yang serius, hal seperti itu sah saja untuk dijadikan pertimbangan, walaupun bukan syarat yang mutlak ya… Seperti kasus Yoo Rim dan Ji Ho. Saran sy sih, untuk yang masih muda-muda, tidak perlu meniru apa yang dilakukan Yoo Rim dan Ji Ho. Budaya mereka memang begitu, tapi di kita kan tidak. Akan banyak masalah dan ujung-ujungnya akan menghancurkan masa depan kita juga. Jadi saran sy, berpikir yang matang-matang sebelum melakukan sesuatu dan ingat kedua orang tua dan jangan pernah mengecewakan mereka.

Sebagai orang yang menikah, menurut sy sih pernikahan itu bisa dibilang mudah, bisa dibilang sulit. Apalagi kalau menyangkut finansial, pemenuhan kebutuhan atas makan, pakaian, rumah. seburuk-buruknya keadaan, orang dewasa mungkin bisa hanya hidup dengan minimal tiga baju, tapi bayi tidak kan? Mereka butuk lusinan baju, popok, susu, dsb. Dan percaya deh, itu ga murah… πŸ˜›

Yoo Rim dan Ji Ho sendiri juga awalnya berpikir kehidupan akan mudah hanya karena mereka saling mencintai. Tapi untungnya Hye Rim yang pernah melalui hal yang sama, bisa mengubah keputusan mereka. Mereka akhirnya datang dengan rencana yang realistis untuk masa depan mereka dan itu akhirnya dapat mengubah pendirian Hye Rim dan merestui hubungan Yoo Rim dan Ji Ho.

Kalau tentang Seung Chan dan Prof. Bae, sy agak-agak bingung nih. Apakah mereka bersama-sama sebagai kekasih atau hanya sebagai mentor dan anak didiknya. Tapi syukurnya Prof. Bae mau menuruti saran Seung Chan dan keadaannya semakin membaik. Seung Chan sendiri, setelah mengetahui keadaan Prof. Bae, ia bisa mengubah sikapnya dan bersikap lebih baik pada Prof. Bae. Sebenarnya sih walaupun sudah tua, Prof. Bae tetap cantik ya… walaupun tetep usianya jauh bgt dari Seung Chan… πŸ˜›

Btw, melegakan karena semua berakhir dengan happy ending… Smoga kehidupan kita semua juga berakhir dengan happy ending dan sesuai dengan harapan kita semua ya… Terima kasih sudah mengunjungi dan membaca sinopsis dari Kdramasory. Dan terima kasih juga untuk Ratna Dramares, yang sudah ngajakin sy bikin sinopsis drama ini… Gomawo… πŸ™‚

2 Comments
  1. Liana sari says

    Sangat setuju banget ma pemikiran yang bisa diambil dari drakor ne,,,,moga kita bisa menjadi ortu yg lebih baik lagi dalam mendidik anak2 kita,,,,jd terharu,,,,baca y,,,

    1. kdramastory says

      Amiin…

Leave A Reply

Your email address will not be published.