Update Sinopsis Drama Korea Terbaru

Sinopsis Madame Antoine Episode 2 Part 1

0

[Sinopsis Madame Antoine Episode 1 Part 2]

 

Sinopsis Madame Antoine Episode 2 Part 1

Soo Hyun mengajak adik yang tidak disukainya itu bergabung di eksperimen cintanya. Seung Chan harus berpura-pura suka dan membuat seorang wanita jatuh cinta padanya, ada tiga pria yang akan mendekati wanita itu.

Seung sih oke-oke saja. Soo Hyun menjelaskan pentingnya proyek itu baginya karena proyeknya itu akan ia presentasikan di sebuah pertemuan psikologi dunia dan banyak yang mensponsorinya.

Seung Chan ingin tau gambaran wanita target Soo Hyun. Soo Hyun mengatakan wanita itu berumur 35 tahun (Seung Chan langsung kaget) dan memiliki wajah lumayan, skala 7 dari 10.

Seung Chan langsung menolak ikut, Soo Hyun tidak memaksa tapi ia mempersilahkan Seung Chan keluar dari tempatnya saat itu juga. 😛

Seung Chan terpaksa setuju, tapi memberi syarat. Ia ingin diberi gaji dan jika ia berhasil mendapatkan wanita itu, Soo Hyun harus membelikannya sepeda motor yang keren. Soo Hyun langsung setuju.

Seung Chan lumayan kaget melihat kakaknya langsung setuju, ia mengingatkan kakaknya untuk tidak menyesal karena ia adalah penakluk wanita, wanita menyukainya.

Soo Hyun meminta Seung Chan tidak terlalu pede karena Seung Chan harus bisa mengalahkan Ji Ho yang lebih muda dari Seung Chan, jadi Seung Chan tidak boleh menganggap lawannya enteng. “Dengan instingnya, hewan lebih memilih hewan yang lebih muda. “Maksudku, secara biologi, dia terbaik”, tambah Soo Hyun sambil menunjuk Ji Ho.

Seung Chan mendekati Ji Ho, menanyakan umur Ji Ho.

“21 tahun. Kau tau kan trend sekarang wanita berkencan dengan pria yang lebih muda?”, sahut Ji Ho pede.

“Wanita itu 35 tahun, aku juga lebih muda darinya”, sanggah Seung Chan tidak mau kalah.

“Tapi aku lebih imut”, sahut Ji Ho dan tersenyum manis pada Seung Chan.

Paginya, Seung Chan datang ke kantor. Ia menyimpan sarung tangan bisbolnya di lemari dan mengucapkan selamat tinggal pada liburan dan olah raga yang melelahkan itu. Seung Chan menyalakan komputer dan membaca biodata Hye Rim. Di sana tertulis, hobi Hye Rim adalah menonton drama sedih.

Ji Ho datang ke tempat tinggal Hye Rim di lantai 3 dengan membawa sekeranjang baju kotor. Ia mengatakan pada Hye Rim bahwa Soo Hyun menyuruh Hye Rim mencuci baju kotor itu karena Hye Rim pernah meminta pada Soo Hyun untuk menggunakannya sesuka hati Soo Hyun. Tanpa mempedulikan ekspresi kaget Hye Rim, Ji Ho mengajak Hye Rim makan bersamanya setelah mencuci.

Jelas saja Hye Rim tidak mau. Ji Ho sampai mengikuti Hye Rim hingga masuk ke dalam rumah Hye Rim untuk membujuk Hye Rim, jika Hye Rim tidak mau makan, minum kopi juga boleh.

Hye Rim tetap tidak mau, bagaimana bisa Ji Ho mengatakan itu setelah memberinya sekeranjang baju kotor untuk dicuci, lagi pula kenapa ia harus pergi bersama Ji Ho.

“Karena aku mau”, sahut Ji Ho.

Hye Rim merasa Ji Ho pasti tidak beres, Ji Ho pasti bukan pekerja di klinik perawatan tapi pasien klinik. 😀 Hye Rim langsung masuk ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi.

Seung Chan yang juga datang mencari Hye Rim, mendengar pembicaraan Hye Rim dan Ji Ho, ia tersenyum penuh kemenangan mendengar Hye Rim menolak Ji Ho. Seung Chan menepuk bahu Ji Ho, menyuruh Ji Ho menyerah saja.

Lalu Seung Chan mengetuk pintu kamar mandi. Hye Rim yang mengira itu adalah Ji Ho, langsung marah-marah. Tapi ia kaget saat melihat ternyata itu bukan Ji Ho.

Seung Chan memperkenalkan diri dan memberitahukan bahwa ia pegawai baru di klinik. Seung Chan juga mencoba memperagakan gaya khasnya, melihat apakah Hye Rim mengenalnya atau tidak. Dan Hye Rim tahu, ia tau Seung Chan adalah pemain bisbol terkenal.

Tanpa banyak basa-basi, Seung Chan mengatakan ia akan meminjam mesin cuci karena baju-baju itu milik kakaknya (Hye Rim kaget karena Seung Chan ternyata adik Soo Hyun). Seung Chan mengatakan kakaknya memang seperti itu, kakaknya sering kali membuatnya gila.

Saat Seung Chan asik menjemur baju Soo Hyun, Hye Rim mengagumi tubuh Seung Chan yang terlihat kekar dan kuat. Hye Rim senyum-senyum sendiri… Seung Chan bukannya tidak tau, ia sengaja memperlihatkannya.

Hye Rim mengajak Seung Chan makan jjajangmyun supaya tidak terlalu lembek. Seung Chan meninggalkan cuciannya dan bergabung dengan Hye Rim.

Seung Chan tidak sengaja menjatuhkan ponsel Hye Rim dan melihat foto di layar ponsel Hye Rim. “Itu adikmu?’, tanya Seung Chan.

“Bukan, putriku. Ia sekolah di Amerika”, jawab Hye Rim jujur.

Seung Chan kaget dan tidak percaya karena Hye Rim terlihat masih muda. Hye Rim mengatakan ia menikah muda, 21 tahun.

Seung Chan menebak, Hye Rim pasti sangat mencintai kekasihnya itu. Hye Rim tertawa, ia masih baru masuk kuliah saat bertemu dengan suaminya itu dan mereka sampai membuat kehebohan di kampus.

Seung Chan menanyakan dimana suami Hye Rim, apa bersama putri Hye Rim di Amerika. Hye Rim terlihat agak sedih, mengatakan suaminya sudah meninggal. Seung Chan meminta maaf karena ia tidak tau. “Tidak apa. Itu sudah berlalu. Kami hanya bersama dua tahun tapi tetap saja kenangan itu masih ada”, sahut Hye Rim, masih sedikit sedih.

Hye Rim melamun sesaat tapi kemudian ia sadar dan kembali ceria, mengajak Seung Chan makan. Seung Chan ikut tertawa dan menatap Hye Rim, sepertinya hati Seung Chan sedikit tergerak karena kisah hidup Hye Rim.

Ji Ho pergi ke mall bersama Yoo Rim. Yoo Rim sepertinya ingin membuat film dokumenter dan ingin Ji Ho ikut dalam proyeknya. Ji Ho tidak tertarik, ia hanya ingin menanyakan informasi tentang Hye Rim, apa kesukaan Hye Rim.

“Dia suka makan…”, jawab Yoo Rim sambil lalu. Tapi sesaat kemudian ia baru sadar kenapa Ji Ho ingin tau tentang kakaknya, apa Ji Ho tertarik pada kakaknya?

“Karena aku menyukainya”, jawab Ji Ho, tanpa ekspresi, datar.

“Benarkah? Kau benar-benar menyukai…”, Yoo Rim langsung heboh.

“Aku jatuh cinta padanya”, ucap Ji Ho lagi.

“Wow! Kakakku dapat bintang jatuh! Padahal umur kalian berbeda…” sahut Yo Rim bingung. Tapi Yoo Rim percaya-percaya saja. Ia bahkan berjanji akan memberitahukan semua yang disukai kakaknya jika Ji Ho mau menjadi bintang di filmnya. Menurut Yoo Rim, dengan gaya Ji Ho sekarang, Ji Ho tidak akan bisa mendapatkan kakaknya. Ia berjanji akan mengubah cara berbicara dan ekspresi Ji Ho supaya bisa mendapatkan kakaknya.

Mereka pun sepakat dan berjabat tangan.

Saat di kafe, Yoo Rim memperhatikan kakaknya yang sedang asik mencabut bulu hidung. “Ahh, apa hebatnya dia?”.

Hye Rim mendengar Yoo Rim bicara dan bertanya apa yang Yoo Rim gumamkan.

“Tidak ada. Aku hanya bilang unni cantik… Aku pergi”, pamit Yoo Rim pergi.

Hye Rim mengejar Yoo Rim sambil berteriak, meminta Yoo Rim membawa keluar sampah. Tapi ternyata Yoo Rim sudah tidak ada lagi…

Saat berbalik, Hye Rim melihat Ma Ri sedang menuruni tangga perlahan. Hye Rim mendekati Ma Ri, menanyakan apkah Ma Ri bisa turun sendiri. Hye Rim khawatir Ma Ri akan jatuh.

Dan benar saja, Ma Ri terjatuh dan untungnya Hye Rim sempat menolongnya.

Hye Rim mengoleskan obat di lutut Ma Ri. Ma Ri menanyakan kapan pelatihnya akan datang. “Sebentar lagi. Mungkin dia terjebak macet”, sahut Hye Rim sambil terus mengoleskan obat di luka Ma Ri.

Ma Ri meminta Hye Ri cukup mengoleskan obat di lukanya, ia merasa Hye Rim sudah kebanyakan memberikan obat. Tapi Hye Rim tidak mau, dulu putrinya pernah jatuh dari tangga dan terluka, putrinya mengatakan tidak apa-apa tapi ternyata lukanya menjadi infeksi.

Ma Ri mendengus sinis dan memalingkan wajahnya. Hye Rim kaget dengan ekspresi Ma Ri itu. “Apa kau lihat sendiri ia jatuh dari tangga?”, ucap Ma Ri. Lalu Ma Ri menagmbil headphonenya dan memasangkan di kepalanya.

Hye Rim menatap Ma Ri yang menatap keluar jendela dengan wajah sedih, sepertinya Hye Rim menyadari sesuatu terjadi pada Ma Ri.

Di dalam ruang konseling, Soo Hyun mondar-mandir sambil berbicara pada Ji Ho. Menurutnya, mereka harus menemukan penyebab kenapa Ma Ri tidak bisa melihat. Ma Ri yang seorang pesenam pasti memiliki mental yang kuat dan ini pasti bukan masalah biasa. Ia menyuruh Ji Ho mencari tau dari teman dan keluarga Ma Ri.

Tiba-tiba Hye Rim masuk, Soo Hyun tidak begitu senang melihatnya dan meneruskan berbicara pada Ji Ho, menyuruh Ji Ho mencari tau apa ada yang menghambat Ma Ri atau nilai yang tidak bagus di sekolah atau lainnya.

“Dibully”, ucap Hye Rim tiba-tiba.

Soo Hyun memberi isyarat supaya Ji Ho keluar dan Hye Rim pun duduk di depan Soo Hyun, mencoba memberikan hasil pengamatannya pada Ma Ri. Ia menilai saat ini Ma Ri bersikap sensitif dan defensif. “Dulu saat putriku jatuh dari tangga, ia juga pernah di bully”.

Soo Hyun terdiam sesaat, lalu mencibir, “Intuisi seorang ibu memang luar biasa…”.

Hye Rim merasa Soo Hyun hanya menyukai penyebab yang rumit, masalah keluarga, masa lalu tragis, syok, Teori Freudian atau apalah. Hye Rim merasa Soo Hyun terlalu fokus pada hal seperti itu.

“Teori Freuditas adalah psikoanalis”, sahut Soo Hyun dengan nada mengejek, membenarkan kesalahan yang dilakukan Hye Rim.

Tapi Hye Rim tidak peduli. Baginya semua masalah berujung pada satu hal, semua orang ingin dicintai. Dan yang ia lihat dari Ma Ri pun seperti itu, Ma Ri hanya ingin semua orang menyukainya.

Dan sebelum keluar, Hye Rim mengatakan, “Dan itu juga masalahmu”. So Hyun hanya diam, tapi terlihat tidak begitu senang dengan ucapan Hye Rim.

Ma Ri sedang latihan dan gagal, bahkan yang pada latihan yang kedua, ia menabrak palang lompatan. Soo Hyun datang mengunjungi Ma Ri dan teringat ucapan Hye Rim yang mengatakan bahwa Ma Ri dibully.

Soo Hyun mendekati Ma Ri yang sedang stress sendiri dan mengatakan menghitung langkah tidak akan berhasil. Ma Ri tidak mau mendengar nasehat Soo Hyun, ia sudah berlatih ribuan kali, ia hanya harus melakukannya.

“Sesuatu terjadi di hari kompetisi”, ucap Soo Hyun. Ma Ri mendesah, matanya mulai berkaca-kaca dan menoleh ke arah tribun penonton. “Penonton? Siapa yang datang? Barusan kau menoleh ke sana”, ucap Soo Hyun lagi.

Ma Ri terlihat berusaha keras menahan emosinya, setelah tenang ia menantang Soo Hyun melakukan salto dua kali di atas palang, kalau berhasil baru ia akan memberitahu. “Anda kan psikilog. Anda harus membuka hati saya…”.

Tapi Soo Hyun mana mau. Yang tidak bisa melihat adalah Ma Ri, yang akan berkompetisi adalah Ma Ri, jadi Ma Ri lah yang harus membuka hati.

Ma Ri sangat kesal, mengatai Soo Hyun tidak bertanggung jawab.

Soo Hyun dengan tegas mengatakan jika Ma Ri ingin ikut kompetisi dan tidak akan dipermalukan lagi, maka satu-satunya solusi adalah Ma Ri bersedia ikut konseling dan perawatan.

Saat Soo Hyun berbalik pergi, Ma Ri baru mau berbicara, “Anak-anak itu… mereka datang…”.

“Siapa?”, tanya Soo Hyun.

Di rumah, Hye Rim terus merecoki Yoo Rim untuk mencari tau di rekaman Yoo Rim saat kompetisi apakah benar Ma Ri dibully atau tidak. Ia perlu tau karena merasa malu jika ucapannya tadi pada Soo Hyun ternyata salah.

Yoo Rim memerahi kakaknya yang bersikap arogan. Yoo Rim memberitahukan bahwa ia juga merekam fans clubnya TX yang datang ke pertandingan. Hye Rim heran kenapa fans club TX datang menonton kompetisi Ma Ri.

Kembali pada Ma Ri. Ma Ri bercerita, sebulan yang lalu ia melakukan interview bersama penyanyi TX. Reporter meminta Ma Ri dan TX melakukan pose foto untuk fans mereka. Saat itu penyanyi TX memeluk bahunya dan Ma Ri melingkarkan lengannya di pinggang penyanyi TX (sebenarnya ga pegang sih, ga kena juga). Sejak saat itu, fans TX mulai ribut karena ia dianggap memeluk penyanyi TX itu dan mulai memberi komentar buruk di sns, ia bahkan sudah mengganti nomornya hingga tiga kali tapi para fans tidak berhenti, mereka juga menelpon orang tuanya.

Hye Rim dan Yoo Rim menemukan sns Ma Ri dan membaca komentar-komentar. Hye Rim berkesimpulan anak-anak yang datang ke kompetisi itu adalah antifans. Yoo Rim juga merasa ia dibohongi karena saat ia bertanya, mereka mengatakan mereka datang untuk menonton TX yang akan hadir di kompetisi untuk menyanyi. Ia juga merasa heran hingga kompetisi selesai, TX tidak datang.

Yoo Rim memperlihatkan rekaman saat Ma Ri duduk menunggu gilirannya. Tepat di belakangnya duduk sekelompok antifans.

Ma Ri bercerita, hari itu ia sedikit gugup dan stres karena rutinitas latihannya. Ia tau para antifans tidak bisa mengejeknya karena ada penonton yang lain tapi dari tatapan mata mereka, ia yakin mereka berharap dan berdoa agar ia terjatuh. Dan saat itu, terlintas di pikirannya bahwa ia tidak ingin melihat mereka. Dan sejak saat itulah ia tidak bisa melihat dengan jelas palang lompatan dan tulisan di layar. Ma Ri berusaha menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas. Ma Ri mulai bisa melihat dengan jelas kembali dan mengambil ancang-ancang berlari dan melompat. Karena kegugupannya, Ma Ri pun tidak bisa mendarat dengan baik dan terjatuh.

“Padahal pikiran itu hanya muncul selintas, aku tidak pernah menyangka aku benar-benar tidak bisa melihat”, curhat Ma Ri sambil menangis.

Soo Hyun pulang ke klinik dan saat akan naik ke lantai melalui tangga yang ada di luar, Soo Hyun melihat Hye Rim melalui jendela. Soo Hyun teringat ucapan Hye Rim yang mengatakan bahwa Ma Ri hanya ingin semua orang menyukainya dan masalah yang sama juga dimiliki oleh Soo Hyun.

Soo Hyun mendesah dan memilih naik ke atas saja.

Seung Chan datang ke klinik dengan scooternya. Saat Soo Hyun menelponnya, Seung Chan meminta maaf karena terlambat, ia ketiduran di sauna dan akan segera sampai. Tapi Soo Hyun tidak mau mendengar penjelasan Seung Chan, ia menyuruh Seung Chan membungkus tiga pohon yang ada di depan klinik dengan plastik untuk persiapan musim dingin sebagai hukuman karena datang terlambat.

Seorang wanita yang sudah berumur yang mendengar percakapan Soo Hyun, tertawa. Bertanya dengan siapa Soo Hyun berbicara dengan nada seperti itu.

“Bukan siapa-siapa, profesor”, jawab Soo Hyun singkat. Soo Hyun membawa profesornya ke ruang kerjanya. Profesor Bae melihat ruang kerja Soo Hyun dan memberi saran Soo Hyun untuk mengeluarkan lukisan karena akan mengganggu perhatian pasien dan juga mengeluarkan jam dinding karena akan membuat pasien tidak sabar.

Soo Hyun ingin mengajak profesor Bae bekerja bersamanya, ia bahkan membujuk akan mendekorasi ruang kerjanya untuk digunakan oleh profesor Bae. Tapi profesor Bae menolak karena ia sudah memutuskan cuti satu bulan yang lalu.

Profesor Bae duduk di bangku depan klinik, di bawah pohon yang sebagian sudah dipasang plastik di dahannya. Profesor Bae melihat jamnya, seperti menunggu seseorang. Dari dalam muncul, Sung Chan sambil bernyanyi-nyanyi kecil, membuat profesor Bae menoleh ke belakang dan melihat Seung Chan.

Seung Chan kaget melihat profesor Bae dan lebih kaget lagi saat melihat plastik yang ia pasang terbang dan menutupi profesor Bae. Seung Chan langsung berlari, menolong profesor Bae, ia bahkan membantu membersihkan air yang mengenai wajah profesor Bae.

Tapi profesor Bae menolak dan memilih membersihkan dengan sapu tangannya sendiri. :-P. Seung Chan mengatakan ia mendengar sesuatu dari dalam tas profesor dan profesor mengambil ponselnya, ternyata itu adalah pesan yang mengabarkan bahwa taksinya dibatalkan.

Profesor agak kesal karena seharusnya mereka menelponnya. Seung Chan ikut melihat pesan profesor dan mengatakan pesan itu sudah sampai cukup lama, sepertinya profesor tidak mendengarnya.

Wajah profesor sedikit berubah, entah kaget atau tidak suka…

Seung Chan dengan ramahnya mengajak profesor, ia akan mengantarkan profesor ke stasiun bus dengan scooternya. Profesor lagi-lagi menolak tapi Seung Chan tidak peduli, ia bahkan langsung memakaikan jaketnya pada profesor.

Dan profesor pun ikut scooter Seung Chan. Seung Chan melirik spionnya dan melihat profesor tersenyum. Seung Chan memanggil profesordenga sebutan ahjumma dan memuji profesor yang cantik seperti gadis yang masih muda. Profesor tersenyum lagi, makin lebar (emang cantik sih, setuju sama Seung Chan…)

Seung Chan memberi nasehat pada profesor untuk terus datang berkonsultasi karena baik untuk kesehatan mental. “Baiklah, aku tau”, seru profesor.

“Aku juga bekerja di sana, jadi terus datang ya. Aku akan baik padamu”, ucap Seung Chan lagi. Profesor tersenyum senang mendengarnya dan sedikit mengeratkan pegangannya di pinggang Seung Chan.

Ma Ri menelpon Hye Rim, memberitahukan bahwa pelatih tetap menyuruhnya ikut kompetisi sementara saat ini ia sama sekali belum siap dan penglihatannya semakin memburuk. Pelatih mengatakan bahwa ia akan menghalangi antifans tapi ia khawatir kalau seandainya mereka tetap bisa masuk. Ma Ri ingin Hye Rim memberitahu dokter untuk membujuk pelatihannya. Ma Ri juga mengatakan bahwa ia dalam perjalanan menuju klinik sekarang.

Hye Rim panik sendiri dan cepat-cepat ingin menemui Soo Hyun. Kebetulan Soo Hyun saat itu turun ke kafe. Hye Rim memberitahukan tentang Ma Ri yang dipaksa ikut kompetisi dan ternyata Soo Hyun mengetahui hal itu, bahkan ia sendiri yang meminta pada pelatih Ma Ri.

Hye Rim jelas kaget. Soo Hyun mengatakan mereka tidak bisa terus memanjakan Ma Ri, walaupun akhirnya mungkin Ma Ri akan menyerah tapi Ma Ri harus tetap bertanding. Hye Rim sama sekali tidak setuju, penglihatan Ma Ri belum sembuh dan bisa jadi Ma Ri akan jatuh untuk kedua kalinya di depan antifans.

“Pemain sepak bola juga biasa seperti itu”, sahut Soo Hyun tidak peduli.

“Tapi dia masih anak-anak!”, teriak Hye Rim.

“Sampai kapan kita anggap dia anak-anak?”, tanya Soo Hyun. Menurut Soo Hyun, Ma Ri harus tau bahwa dengan menutup mata tidak akan menyelesaikan masalah.

“Bagaimana kalau dia hancur?”.

“Bagaimana kalau tidak?”, sahut Soo Hyun keras kepala. Menurut Soo Hyun lagi, jika Ma Ri terus seperti ini, Ma Ri akan lumpuh, tuli, dan bisu. Soo Hyun bertanya apa Hye Rim ingin membuat Ma Ri cacat?

Hye Rim sangat kesal karena Soo Hyun bertindak tanpa rencana, tapi Soo Hyun membantah, memangnya Hye Rim tau dia punya rencana atau tidak…

Hye Rim yang sudah emosi, tidak bisa mengendalikan ucapannya lagi dan menuduh Soo Hyun tidak punya rencana karena Soo Hyun pun tidak tau bahwa Ma Ri itu dibully. Soo Hyun menatap Hye Rim, tidak senang. “Jika kau mencoba menutupi ketidakmampuanmu dengan menyuruhnya bertanding…”.

Dengan kesal Soo Hyun memotong ucapan Hye Rim, ia merasa saat ini Hye Rim merasa dirinya hebat karena berhasil mengetahui penyebab masalah Ma Ri dan sekarang Hye Rim berlagak sombong di depannya.

“Kau ini kekanak-kanakan sekali!”, marah Hye Rim (kali kedua Hye Rim mengatai Soo Hyun kekanak-kanakan…)

Soo Hyun bertambah kesal dan menambahkan, anggap saja jika asumsi Hye Rim itu 9 dari 10 orang benar, lalu bagaimana yang satu orang lagi, bagaimana kalau satu orang lagi itu salah dan bunuh diri, apakah Hye Rim akan bertanggung jawab?

Sementara itu Ma ri sudah tiba di depan klinik dan akan masuk ke dalam klinik.

Di dalam, Hye Rim dan Soo Hyun masih bertengkar. Hye Rim kesal sekali karena Soo Hyun membicarakan masalah mati padahal mereka hanya membicarakan masalah pertandingan.

Soo Hyun mengatakan maksud ucapannya adalah kebiasaan Hye Rim yang suka bicara sembarangan padahal ia sudah mengatakan Ma ri menderita gangguan fungsional neurologis, dan Ma Ri hanya menutup penglihatannya karena ia tidak mau melihat para antifans. Tapi sebenarnya bukan itu penyebabnya, orang lain jika mengalami hal yang sama seperti Ma Ri, mereka pasti akan panik dan menangis seperti orang gilan sementara Ma Ri terlihat tenang-tenang dan biasa saja.

Dan tepat saat itu, tanpa diketahui oleh Hye Rim dan Soo Hyun, Ma Ri membuka pintu kafe dan mendengar pertengkaran Hye Rim dan Soo Hyun, tepatnya mendengar penilaian Soo Hyun padanya.

Soo Hyun mengatakan Ma Ri bersikap seperti itu karena dengan begitu, Ma Ri tidak perlu bertanding lagi dan tidak perlu melihat para antifans lagi, dan lebih dari itu sekarang semua orang jadi memperhatikan dan terlihat menyayanginya dan tanpa sadar Ma Ri menikmatinya.

Hye Rim semakin marah, tidak percaya kenapa di dunia ini ada orang seperti Soo Hyun, memutarbalikkan ucapan seorang anak…

“Karena aku seorang profesional!”, potong Soo Hyun dengan keras. “Karena kau dan aku berbeda level, disaat kau kesana-kemari membuat asumsi berdasarkan intuisimu, aku dapat melihat yang sebenarnya terjadi. Oleh sebab itulah, aku melakukan ini. Dia harus sadar ini bukan masalah fisik. Dengan begitu, ia akan merasa tidak ada gunanya meskipun dia tidak bisa melihat. Dengan begitu…”.

“Apa kau bilang?”, Ma Ri masuk dan menuntut penjelasan Soo Hyun. Soo Hyun benar-benar terlihat kaget dan merasa tidak enak. “Kau bilang aku melakukannya dengan sengaja? Karena aku tidak mau bertanding, aku mendapatkan perhatian. Kau bilang aku melakukan sengaja membutakan diri?”.

Soo Hyun segera mendekati Ma Ri, “Ma Ri, aku tidak pernah bilang kau sengaja melakukannya, tapi alam bawah sadarmu…”.

Ma Ri sangat marah dan sedih, ia menendang vas bunga yang ada di dekatnya. Ma Ri mengatakan mulai saat ini, ia hanya mau berkonsultasi dengan Hye Rim saja. Hye Rim berusaha menjelaskan maksud dari Soo Hyun, tapi Ma Ri sudah tidak bisa mempercayai Soo Hyun lagi, ia tidak mempercayai mulut manis Soo Hyun lagi, ia tidak bisa dibodohi lagi, “Kau keluar…”, ucap Ma Ri sambil menahan air matanya.

Soo Hyun terlihat pias, sesekali Hye Rim melihat ke arah Soo Hyun, mungkin tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.

Pelatih Ma Ri menghubungi Soo Hyun. Terdengar suara pelatih Ma Ri yang meminta Soo Hyun menghubunginya jika mendengarkan pesannya, lalu kemudian suara seorang ahjumma, mungkin ibu Ma Ri, yang marah-marah karena Ma Ri dianggap sengaja membutakan dirinya untuk mendapatkan perhatian. Ahjumma itu bahkan mengatai Soo Hyun seorang dokter yang tidak benar.

Pelatih Ma Ri sepertinya merampas kembali ponselnya dan meminta maaf pada Soo Hyun, berjanji akan menghubungi Soo Hyun lagi. Soo Hyun hanya diam saja.

Sementara itu, Hye Rim asik dengan hobinya, nonton drama atau mungkin film ya… Hye Rim mengambil foto putrinya dan tersenyum.

Soo Hyun menatap rencana proyeknya. Ia membuka halaman yang berisi data pria yang akan mendekati Hye Rim. Pria C adalah Won Ji Ho, pria B adalah Choi Seung Chan, dan pria A, masih kosong.

“Bagaimana dengan aku, Hye Rim? Aku akan membuatmu bertekuk lutut, mencintaimu… dan lalu mencampakkanmu”, ucap Soo Hyun dalam hati. Dan Soo Hyun pun menuliskan namanya sendiri di dalam berkas proyeknya…

Keesokan harinya, saat datang ke kafe, Hye Rim dikagetkan dengan melihat dua orang teknisi sedang memasang kamera cctv di depan bar kafe. Mereka mengatakan mereka disuruh memasang cctv untuk keamanan klinik.

“Tapi ini kafe, bukan klinik”, tolak Hye Rim. Para teknisi mengatakan mereka diberitahu, pemilik kafe juga seorang penasehat klinik, jadi klinik dan kafe sama-sama harus dipasang cctv.

“Ini hanya untuk mencegah maling, kan?”, tanya Hye Rim, kedua teknisi membenarkan.

Hye Rim terpaksa menerimanya, tapi ia sempat melihat sekali lagi ke arah cctv yang sedang dipasang.

Dari layar monitornya, Soo Hyun bisa mengawasi Hye Rim dengan jelas.

[Proyek Madame Antoine : Menangkap Go Hye Rim]

[1. Observasi] Jadi, Soo Hyun menggunakan cctv untuk mengobservasi atau mengamati Hye Rim.

Seung Chan datang dan menyapa Hye Rim yang sedang makan roti. Hye Rim menawarkan roti untuk Seung Chan tapi Seung Chan menolak, ia ingin melakukan sesuatu untuk Hye Rim. Ia melihat ada yang kurang, telur ceplok.

“O… Ji Ho sedang membuatnya”, ucap Hye Rim.

Seung Chan menoleh ke arah dapur dan memang benar, Ji Ho sedang menggoreng telur. Ji Ho bahkan mendemonstrasikan keahliannya, membalikkan telur ceplok di udara.

“Hmm.. kalau begitu aku yang akan cuci piring”, ucap Seung Chan.

Soo Hyun datang, mengomentari banyaknya orang di pantry. Dengan takut-takut, Hye Rim menyapa Soo Hyun. Tanpa melihat ke arah Hye Rim, seolah-olah yang diucapkannya tidak penting, Soo Hyun menawarkan Hye Rim ikut dalam eksperimennya.

Seung Chan dan Ji Ho langsung kaget dan melihat ke arah Soo Hyun.

“Percobaan psikologi?”, tanya Hye Rim.

Soo Hyun mengatakan mereka membutuhkan seorang subjek dan mereka hanya perlu melakukan pemeriksaan sederhana untuk fisik dan latar belakang subjek. Hye Rim menolaknya. “Baiklah kalau begitu”, dan Soo Hyun pun pergi.

Sebelum keluar dari dapur, Soo Hyun sengaja memancing Hye Rim, “Beberapa hari lagi Ma Ri akan datang, semoga beruntung”.

Seung Chan mengejar Soo Hyun hingga ke ruangannya. Seung Chan protes karena Soo Hyun tiba-tiba menyinggung tentang eksperimen mereka.

Soo Hyun merasa itu perlu karena mereka harus mendapatkan persetujuan Hye Rim untuk penelitian walaupun tujuan eksperimen dirahasiakan.

“Tapi dia menolaknya”, ucap Seung Chan.

“Haha… Siapa bilang. Kalau dia tau diri, dia akan ikut…”, sahut Soo Hyun pede.

Hye Rim merenungkan ucapan Soo Hyun saat di pantry tadi. Di depannya, buku psikologi yang tebal terbuka, ia baru membacanya sedikit dari sekian ratus mungkin ribuan halaman yang harus dibaca.

Hye Rim juga teringat pesan kakek yang menginginkannya mengawasi Soo Hyun, siapa tau Soo Hyun melakukan penelitian aneh. Saat itu kakek berjanji akan memberikan imbalan yang pantas jika Hye Rim memberikan informasi yang bagus untuknya.

Hye Rim menemui Soo Hyun, meminta Soo Hyun membantunya dalam konseling Ma Ri.

Soo Hyun tersenyum manis, “Kenapa aku harus?”

“Kau menakutiku tadi dan sekarang malah mau kabur…”.

“Aku mau sih, tapi waktuku…”.

“Aku akan ikut ekperimenmu”, potong Hye Rim. “Cuma ekperimen kecil kan? Aku akan lakukan…”. Soo Hyun langsung mengambil kertasnya dan menyuruh Hye Rim duduk di depannya. “Sekarang?”, tanya Hye Rim bingung.

“Cuma beberapa pertanyaan gampang kok…”.

Belum sempat Hye Rim duduk, Soo Hyun langsung bertanya apa baju kesukaan Hy Rim.

Hye Rim membeku sesaat, lalu perlahan duduk, “Bukankah seharusnya dimulai dengan pertanyaan latar belakang dulu?”, tanya Hye Rim semakin bingung.

“Tentang itu sudah aku urus, aku sedikit tertarik padamu”, ucap Soo Hyun, serius, tanpa senyum.

Hye Rim mengernyitkan keningnya, semakin bingung dengan sikap Soo Hyun.

[2. Buat dia kebingungan dengan kata-kata sedikit tidak jujur]

“Tertarik seperti apa? Sebagai subjek penelitian atau…”, tanya Hye Rim. Soo Hyun tidak menjawab, ia malah menanyakan style khusus yang disukai oleh Hye Rim, dengan tanpa menatap Hye Rim.

Hye Rim menatap So Hyun, dalam hati ketakutan sendiri karena ia tidak bisa membaca Soo Hyun. “Kenapa? Apa kau mau membelikannya untukku?”

“Ya”. Lagi-lagi Soo Hyun menjawab tanpa melihat ke arah Hye Rim.

Lalu Hye Rim mengatakan ia suka bohemian style dan akan lebih suka jika ada sentuhan vintage.

“Kau suka bunga?”

“Kenapa? Kau akan membelikannya untukku?”.

“Ya”. Dan lagi-lagi Soo Hyun tidak melihat ke arah Hye Rim. Lalu Soo Hyun menanyakan makanan kesukaan Hye Rim , korea atau jepang.

“Kenapa? Kau akan membelikannya untukku?”.

“Tidak”. Masih seperti sebelumnya, Soo Hyun tidak menatap Hye Rim.

Hye Rim kaget dan kesal, “Lalu kenapa tanya?”.

“Karena kau subjeknya”, jawab Soo Hyun, kali ini menatap Hye Rim. Ia perlu tau kesukaan Hye Rim supaya eksperimennya berjalan dengan baik.

Hye Rim mengatakan ia lebih mementingkan suasana daripada makanan, mewah, nyaman, pelayanan bagus, lebih bagus lagi kalau bisa melihat langit malam Seoul.

“Kau terlihat matre. Ya, kau memang matre”, ucap Soo Hyun sambil berlalu pergi. Membuat Hye Rim melotot karena kesal, “Ya!!!”.

Soo Hyun tidak peduli, ia memerintahkan Hye Rim mengikutinya untuk evaluasi mental.

Bersambung…

[Sinopsis Madame Antoine Episode 2 Part 2]

Leave A Reply

Your email address will not be published.