Update Sinopsis Drama Korea Terbaru

Sinopsis Madame Antoine Episode 8 Part 1

0

[Sinopsis Madame Antoine Episode 7 Part 2]

 

Sinopsis Madame Antoine Episode 8 Part 1

Hye Rim yang tadinya terbawa suasana, mendorong Soo Hyun. Marah karena sikap Soo Hyun yang plin-plan, kadang dingin kadang panas terhadapnya, kadang mendorongnya pergi kadang mendariknya mendekat.

Soo Hyun beralasan, ia hanyalah orang yang menyukai Hye Rim.

“Buktikan!”, tuntut Hye Rim.

Soo Hyun membeberkan nilai yang ia dapat di dalam sebuah tes yang disebut ‘Passionate Love Scale’, yang dikembangkan oleh dua profesor sosiologi di bla bla…, yang setiap pertanyaannya memiliki skala 1-10. Hye Rim jelas heran karena Soo Hyun sampai mengetes dirinya sendiri. Soo Hyun beralasan baginya perasaannya itu begitu kompleks dan ia perlu sesuatu untuk memastikannya saja.

Hye Rim bertanya berapa skor yang didapat Soo Hyun. ‘115 dari 135’, jawab Soo Hyun. Hye Rim kesal karena kenapa Soo Hyun bisa dapat nilai begitu rendah. Soo Hyun beralasan, karena ada beberapa poin yang ia lewatkan dengan sengaja karena menurutnya masih berkembang dengan berjalannya waktu.

“Tidak akan berkembang. Lagipula, kau masih melakukan eksperimen itu…”, ucap Hye Rim marah.

Soo Hyun jadi kesal, karena Hye Rim masih saja ragu tentang eksperimen itu. Soo Hyun kembali duduk dan mengajak Hye Rim untuk menyingkirkan eksperimen itu. Soo Hyun menyuruh Hye Rim bertanya padanya apa pun tentang eksperimen itu dan berjanji akan menjawab semuanya.

Hye Rim kembali duduk dan menatap marah pada Soo Hyun. Mulai mengajukan pertanyaan. “Apa judul eksperimen yang kau lakukan padaku?”.

“Relevan dengan tipe ideal…”

Hye Rim berdiri karena kesal, memotong ucapan Soo Hyun, menuduh Soo Hyun berbohong padahal ia baru saja mengajukan pertanyaan yang pertama. Soo Hyun kaget dan matanya berkedip-kedip cepat. “Bagaimana dia tahu aku berbohong. Ini tidak akan berhasil. Aku harus memberikan jawaban yang mendekati kebenaran…”, ucap Soo Hyun dalam hati.

“Madame Antoine”, akhirnya itu jawaban Soo Hyun. Soo Hyun beralasan nama itu sama dengan nama kliniknya dan sama juga dengan nama kafe Hye Rim.

Lalu Hye Rim duduk kembali dan bertanya kenapa foto Soo Hyun, foto Seung Chan dan foto Ji Ho muncul di fMRI. Soo Hyun beralasan karena mereka bertiga memiliki perasaan yang sama pada Hye Rim dan ia ingin tahu seberapa dekat tipe ideal Hye Rim yang sesuai dengan mereka bertiga.

Hye Rim ingin tahu kenapa Soo Hyun ingin bertemu dengannya lagi. Soo Hyun berkata karena ia menyukai Hye Rim. Lalu Hye Rim bertanya, kenapa kemudian Soo Hyun berhenti bertemu dengannya lagi. Dan Soo Hyun berkata, itu karena ia semakin menyukai Hye Rim.

Lalu Hye Rim penasaran dengan folder yang ia lihat di komputer Seung Chan. Soo Hyun menyuruh Hye Rim bertanya langsung pada Seung Chan. Hye Rim juga ingin tahu apakah folder itu juga ada di komputernya Soo Hyun. Soo Hyun tidak menjawab ya atau tidak, ia beralasan karena ia sering malas memikirkan nama folder jadi ia sembarang menamakannya dengan nama burung.

“Apa setelah ini eksperimenmu akan dilanjutkan lagi?”. Soo Hyun terkejut dan terdiam. Hye Rim mengungkapkan kemungkinan dilakukannya eksperimen sekunder setelah seseorang melakukan eksperimen awal.

Mata Soo Hyun kembali berkedip, agak cepat. Dan lalu menjelaskan, bahwa yang ia lakukan adalah eksperimen psikologi terkait dengan cinta dan menggunakan 500 orang sebagai subjek. Dan salah satu subjeknya adalah wanita yang ditemui oleh Hye Rim beberapa waktu ysng lalu.

“Lalu bagaimana dengan eksperimen kedua?”.

Soo Hyun dengan jujur mengatakan ia sedang melakukannya saat ini. Dan ia menggunakan subjek orang lain. (Nah… Soo Hyun bohong dari tadi tuhhhh… )

Hye Rim masih tidak percaya dan mengatai Soo Hyun yang pintar dalam hal memelintir segala hal. Soo Hyun membantah, ia mengklaim kalau semua yang dikatakannya tadi adalah yang sebenarnya.

Hye Rim tidak membantah lagi dan mengatakan ingin bertanya satu pertanyaan lagi. “Berapa persen skormu di fMRI?”.

Soo Hyun memainkan dan mengerucutkan bibirnya, dan akhirnya menjawab, 6 persen.

Hye Rim tertawa. Ia mengancam jika seandainya Soo Hyun menjawab 62 persen, ia akan menghajar Soo Hyun. Soo Hyun hanya tersenyum canggung.

Soo Hyun ingin tahu apa Hye Rim masih memiliki pertanyaan yang lain. Karena Hye Rim menjawab belum, Soo Hyun mempersilahkan Hye Rim untuk langsung bertanya padanya jika memang ada hal yang masih meragukan Hye Rim. Ia mengerti, sulit menghapuskan keraguan begitu saja.

Lalu Soo Hyun tersenyum tipis dan bertanya apakah sekarang mereka sudah mulai berkencan.

Hye Rim menatap Soo Hyun marah dan menjawab tidak, ia masih belum mempercayai Soo Hyun. Hye Rim pergi meninggalkan Soo Hyun yang kesal sendiri.

Setelah agak jauh, Hye Rim berhenti, kesal sendiri karena ternyata Soo Hyun tidak mengejarnya. 😛 Ia bersumpah tidak akan berkencan dengan orang seperti Soo Hyun. 😛

Malamnya, sepertinya Ji Ho menceritakan tentang insiden keceplosannya itu. Ji Ho mengatakan ia tidak sengaja memberitahukan kalau judul dari eksperimen yang dilakukan pada Hye Rim adalah ‘Madame Antoine’.

Soo Hyun tidak mempermasalahkannya, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. ia memutuskan, mulai sekarang mereka akan menyebutkan nama eksperimennya itu, ‘Madame Antoine;.

Setelah Ji Ho mengerti atas keputusannya, Soo Hyun menyuruh Ji Ho pergi. Soo Hyun memijit kepalanya yang pusing… 😛

Hye Rim bertemu dengan Ketua Kim. Dengan alasan putrinya dalam keadaan tidak begitu baik, Ketua Kim ingin Hye Rim meramal keberuntungan putrinya. Hye Rim tertawa canggung, berusaha menutupi kepanikannya karena ia sama sekali tidak mengenal putri Ketua Kim.

Karena Ketua Kim mendesaknya, Hye Rim terpaksa mulai meramal. Awalnya beberapa tebakan Hye Rim selalu dibantah oleh Ketua Kim. Ketua Kim bahkan mengomentari Hye Rim yang sepertinya kehilangan keahliannya.

Hye Rim hanya tertawa, semakin canggung, tidak tahu harus melakukan apa, ia sama sekali tidak punya clue mengenai putri Ketua Kim…

Lalu Hye Rim teringat seorang wanita yang ia lihat saat ia pergi ke rumah peristirahatan Ketua Kim. Hye Rim menduga, wanita itu adalah putri Ketua Kim. Hye Rim kembali mencoba menebak, tapi tetap saja salah.

Hye Rim berusaha berpikir, ia memutuskan untuk mencoba yang termudah saja. Hye Rim menilai, dari usia Ketua Kim, berarti putri Ketua Kim…

“Dia sudah menikah, bukan?”, tebak Hye Rim.

“Tidak… Dia tidak menikah”, Hye Rim melihat respon Ketua Kim sedikit berbeda dari yang sebelumnya dan bahkan terlihat sedikit defensif saat ia menyinggung tentang pernikahan. Lalu Hye Rim menyuruh Ketua Kim untuk segera menikahkan putrinya itu karena ia melihat ada seorang pria yang baik yang berada di sekitar putrinya itu. Hye Rim menyarankan agar Ketua Kim tidak melewatkan kesempatan ini karena akan sulit lagi bagi putri Ketua Kim untuk menemukan…

Ketua Kim tiba-tiba membentak Hye Rim, “Sudah kau bilang, aku tidak membiarkan dia menikah! Ck!”.

Hye Rim kaget dan bertanya alasan Ketua Kim tidak mengizinkan putrinya menikah. Ketua Kim tidak mau menjelaskan lagi dan menyuruh Hye Rim pulang saja kalau Hye Rim sudah menghabiskan tehnya.

Hye Rim diajak clubing oleh Emma. Mereka ‘all out’ di sana. Saat beristirahat, Emma memuji gerakan Hye Rim yang bagus. Hye Rim beralasan ia sering main sewaktu tahun-tahun emasnya dulu. Hye Rim bertanya kenapa Emma tidak mengajak temannya Yoo Sun.

Emma beralasan Yoo Sun tidak menyukai tempat berisik seperti itu. Dan kemudian Emma pamit ke kamar mandi.

Setelah Emma pergi, Hye Rim baru kelihatan benar-benar kelelahan. Ia mengirimkan pesan untuk Soo Hyun, memberitahukan bahwa ia bersama Emma di club dan menyuruh Soo Hyun menyiapkan kompensasi untuknya.

Hye Rim menyusul Emma ke kamar mandi. Hye Rim memanggil-manggil Emma dari luar dan seseorang menyahut, bertanya siapa.

Hye Rim mengetuk pintu kamar mandi dan seseorang keluar dengan ekspresi yang berbeda dengan Emma. “Apa mungkin kau… Nona Yoo Sun?”, tanya Hye Rim ragu-ragu.

“Kau mengenalku?”, tanya Yoo Sun heran.

Mereka akhirnya berbicara. Sepertinya Hye Rim menceritakan apa yang terjadi beberapa hari belakangan. Yoo Sun jadi mengerti, kenapa ia tidak memiliki ingatan beberapa hari terakhir. Hye Rim merasa akhir-akhir ini Emma terlalu sering muncul, ia khawatir kalau-kalau Yoo Sun akan menghilang sepenuhnya.

Tapi menurut Yoo Sun, Emma adalah temannya, Emma adalah sumber kekuatannya di saat-saat ia ditindas dan tidak punya teman…

Hye Rim akhirnya memutuskan untuk menceritakan pada Yoo Sun kenapa Sang Wook tiba-tiba pergi ke luar negeri. “Itu karena Emma. Emma muncul dan mengatakan padanya bahwa dia membencinya dan kemudian mencampakkannya”.

Yoo Sun seperti tidak percaya. Hye Rim meyakinkan Yoo Sun, ia sudah mengkonfirmasikan sendiri pada Sang Wook.

Wajah Yoo Sun menjadi sedih.

Di rumahnya, Yoo Sun duduk di depan cermin, berbicara dengan cermin, yang dalam bayangannya, ia seperti melihat Emma di dalamnya. Yoo Sun memarahi Emma yang sudah mencampuri hubungannya dengan Sang Wok dan membuatnya putus dengan Sang Wook.

Tapi dengan tanpa rasa bersalah, Emma mengatakan ia melakukan itu demi Yoo Sun, karena cepat atau lambat Sang Wook juga akan mencampakkan Yoo Sun. Yoo Sun membantah, menurutnya Sang Wook bukan orang seperti itu.

Emma menjadi marah. Menurutnya, gara-gara kehadiran Sang Wook, ia menjadi kesepian dan terpuruk dalam kegelapan.

Yoo Sun mengatakan ia tidak bisa membiarkan ini terus terjadi dan bertekad akan menyingkirkan Emma selamanya. Emma berusaha protes, tapi keputusan Yoo Sun sudah bulat, ia tidak bisa memaafkan Emma karena sudah merusak hubungannya dengan Sang Wook.

Emma semakin marah, ‘Kau pikir kau bisa menyingkirkanku dengan dengan omong kosong konseling itu? Tidak peduli….”.

Yoo Sun marah dan melemparkan sesuatu ke cermin, hingga cermin itu retak.

Seung Chan turun dari klinik untuk mengajak Hye Rim nonton film sore nanti. Hye Rim teringat Soo Hyun dan sepertinya ingin menolak nonton film, ia hanya ingin berbicara dengan Seung chan.

Tapi Seung Chan mengatakan ia sudah membeli tiketnya. “Bukannya kau bilang kau ingin nonton film ini?”, tanya Seung Chan sambil memperlihatkan tiket yang sudah ia beli. Hye Rim tidak bisa menolak.

Selama nonton film, Seung Chan dan penonton lainnya tertawa-tawa, mungkin mereka nonton film yang bergenre komedi. Tapi Hye Rim sama sekali tidak tertawa, dari wajahnya, sepertinya pikiran Hye Rim berada di tempat lain.

Seung Chan melihat ekspresi Hye Rim itu dan tawa Seung Chan langsung menghilang.

Setelah nonton, Seung Chan mengajak Hye Rim ke sebuah kafe dan memesan cake-cake manis yang banyak untuk Hye Rim. Hye Rim protes karena Seung Chan pesan terlalu banyak kue, tapi Seung Chan menyuruh Hye Rim makan saja karena Hye Rim menyukai kue-kue manis seperti itu.

Hye Rim terdiam dan menatap Seung Chan. Seung Chan meminta Hye Rim supaya tidak merasa terbebani, ia hanya menyuruh Hye Rim makan, bukan meminta komitmen dari Hye Rim.

Hye Rim masih menatap Seung Chan semakin merasa tidak enak hati. Seung Chan tertawa, ia mengatakan semua itu terlihat jelas di wajah Hye Rim. “Apa mungkin… kau menyukai seseorang?”, tebak Seung Chan. Lagi-lagi Hye Rim hanya menatap Seung Chan. “Tidak masalah. Yang penting orang itu bukan kakakku…”, ucap Seung Chan lagi.

Hye Rim masih diam dan hanya menatap Seung Chan. Seung Chan meminta agar ia bisa menjadi teman bagi Hye Rim, setidaknya ia memohon agar Hye Rim membiarkannya melakukan itu.

Hye Rim tersenyum tipisss. Seung Chan bersorak senang, senang akhirnya Hye Rim mau tersenyum. Ia sudah hampir mati karena terlalu gugup. Seung Chan mengajak Hye Rim makan…

Seung Chan pulang ke rumah. Saat akan masuk ke kamarnya, ia berhenti dan menatap ke arah kamar Soo Hyun. Begitu masuk ke kamar Soo Hyun, Seung Chan langsung bertanya, “Bukan kamu, kan?”.

Soo Hyun tertawa, tidak mengerti maksud Seung Chan. Seung Chan mengatakan baru saja ia bertemu dengan Hye Rim.

Ekspresi Soo Hyun sempat menegang sejenak tapi cepat-cepat ia menguasai dirinya. “Apa Hye Rim sudah memberitahukanmu?”

“Beritahu apa?”, tanya Seung Chan.

“Tentang perasaannya, dia menyukaiku…”, sahut Soo Hyun pede.

Seung Chan mendengus, sama sekali tidak percaya, “Bukan kamu…”.

Soo Hyun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, “Ya, memang aku, Seung Chan. Nona Go Hye Rim menyukaiku”.

Seung Chan semakin tertawa, tidak percaya dan keluar dari kamar Soo Hyun. “Sudah kubilang itu aku!”, teriak Soo Hyun lagi, tapi Seung Chan tetap tidak menggubris dan percaya pada Soo Hyun.

Setelah Seung Chan pergi, Soo Hyun masih saja berteriak-teriak, memberitahukan Seung Chan kalau ia adalah orang yang disukai oleh Hye Rim.

Sementara itu apa yang dilakukan Ji Ho? Ji Ho pergi berlatih bela diri di sebuah tempat latihan. Yoo Rim ikut menemaninya sambil merekam apa yang dilakukan Ji Ho. Ji Ho melakukan gerakan sambil menyebut-nyebutkan nama Go Hye Rim, berkali-kali.

Yoo Rim menatap Ji Ho dengan pandangan kesal dan tiba-tiba berdiri di depan Ji Ho. Ji Ho menatap Yoo Rim sesaat tapi kemudian ia melanjutkan latihan sambil tetap menyebutkan nama Go Hye Rim.

Yoo Rim semakin kesal dan membanting Ji Ho ke matras. Ji Ho kesakitan dan mengusap-usap pinggangnya… 😀 😀

Yoo Rim bertanya kenapa Ji Ho menyebut nama kakaknya seperti itu. Ji Ho beralasan ia ingin membiasakan diri melindungi Hye Rim dari berandalan. “Apa kau tidak mengerti? Seberapa besarpun kau menyukainya, ini tidak akan berhasil!”, kesal Yoo Rim. Tapi Ji Ho tidak peduli. Walaupun kemungkinannya tipis, tapi belum benar-benar nol.

Yoo Rim mendesah semakin kesal. Yoo Rim lalu mendekati Ji Ho, yang membuat Ji Ho sedikit beringsut menjauh… :-P. Ji Ho takut dibanting lagi…

Yoo Rim menyuruh Ji Ho mengakui perasaannya pada Yoo Rim. Menurutnya Ji Ho paling tidak harus melakukan itu supaya Ji Ho bisa lanjut ke tahap berikutnya. Ji Ho khawatir, bagaimana jika ia ditolak.

Yoo Rim menepuk pundak Ji Ho. Ji Ho semakin beringsut menjauh… Haha.

Yoo Rim yakin kakaknya bukan orang seperti itu, bisa jadi dengan Ji Ho mengaku, kakaknya akan mulai melihat Ji Ho sebagai pria. Akhirnya Ji Ho setuju dengan saran Yoo Rim dan berjanji akan melakukannya.

“Fighting!”, Yoo Rim menyemangati Ji Ho sambil menepuk-nepuk pundak Ji Ho, beberapa kali. Ji Ho semakin terlihat takut pada Yoo Rim…

“Maaf Ji Ho. Kamu pasti akan ditolak”, ucap Yoo Rim dalam hati sambil menatap Ji Ho.

Yoo Sun kembali ke klinik Soo Hyun dan meminta bantuan Soo Hyun untuk menyingkirkan Emma. Soo Hyun bertanya alasan apa yang membuat Yoo Sun memutuskan itu.

Yoo Sun mengatakan ia sudah berpikir cukup lama dan memang ingin melakukan itu, hanya saja ia belum punya keberanian. Setelah ia mendengar apa yang terjadi pada Sang Wook, ia baru benar-benar membuat keputusan itu.

Soo Hyun mengerti dan ingin tahu sejak kapan Yoo Sun mulai diganggu. Yoo Sun mengatakan sejak sekolah dasar, sejak teman-teman mengoloknya, dengan mengatakan kalau ia memiliki kepribadian ganda.

Lalu Soo Hyun bertanya apa Emma muncul sejak Yoo Sun di SD. Yoo Sun mengatakan tidak, Emma muncul saat ia smp. Soo Hyun tidak mengerti, kalau begitu kenapa teman-teman sd Yoo Sun mengatakan Yoo Sun memiliki kepribadian ganda.

Yoo Sun bercerita, setelah orang tuanya meninggal, ia tinggal di rumah bibinya. Paman dan bibinya dua-duanya bekerja dan ia sering ditinggal sendirian. Saat itu hal-hal aneh terjadi. Seperti saat ia sakit, ada sup yang sudah disiapkan untuknya, atau ada obat yang sudah disiapkan untuknya. Bahkan saat ia terbangun, sudah ada kompres yang diletakkan di dahinya.

“Seperti ada ibumu yang menjagamu?”, tanya Soo Hyun. Yoo Sun menganggukkan kepalanya. Lalu Soo Hyun ingin Yoo Sun menceritakan kejadian saat tenggelam di sungai.

“Anak itu… tidak… aku jatuh ke air dan ayahku melompat setelahku”, Yoo Sun mulai bercerita lagi. Saat itu ia sudah tidak sadar dan sepertinya ayahnya cukup sulit mengeluarkannya dari air. Ayahnya menggunakan semua kekuatannya hingga akhirnya terseret arus sungai. Setelah itu ibunya melompat ke dalam sungai dan berhasil menyelamatkannya, tapi ibunya juga sepertinya sudah menggunakan seluruh kekuatannya hingga akhirnya meninggal…

Yoo Sun tertunduk sedih.

Soo Hyun memuji Yoo Sun yang untuk ukuran orang yang tidak sadarkan diri, tapi Yoo Sun bisa mengingat semuanya dengan jelas. “Tepat sekali… Ibu Nona Yoo Sun?”, tanya Soo Hyun.

Yoo Sun terdiam sesaat dan kemudian tersenyum, mengatakan tadi ia hanya menguji Soo Hyun dan Soo Hyun luar biasa hingga bisa menebaknya seperti itu. “Bagaimana kamu tahu aku ibu Yoo Sun?”, tanya Yoo Sun.

Soo Hyun mengatakan pola bicara dan perilaku Yoo Sun sekarang sangat berbeda dengan Yoo Sun biasanya. Bukti yang paling jelas adalah tadi Yoo Sun sempat menyebutkan ‘anakku’. Menurut Soo Hyun, hanya ayah dan ibu Yoo Sun yang mengingat dengan jelas kejadian itu karena Yoo Sun sendiri saat itu pingsan.

Ibu Yoo Sung mengatakan ia tidak berniat tetap tinggal bersama Yoo Sun tapi Yoo Sun benar-benar membutuhkannya dan itu sangat menyakitkan baginya untuk membiarkan Yoo Sun sendirian. Ia juga merasa bersalah pada Yoo Sun, karena kemunculannya, Yoo Sun diganggu oleh teman-temannya.

Soo Hyun menyimpulkan karena gangguan teman-teman SD Yoo Sun dulu, itu sebabnya ibu Yoo Sun kadang-kadang muncul.

Ibu Yoo Sun menilai sekarang Yoo Sun sudah dewasa dan tidak membutuhkan dirinya atau teman khayalan lagi. Jadi ia memohon agar Soo Hyun menyingkirkan Emma dan dirinya agar Yoo Sun bisa hidup dengan kekuatannya sendiri.

Soo Hyun menceritakan tentang ibu Yoo Sun yang juga berada di dalam diri Yoo Sun, selain Emma. Hye Rim ingin tahu bagaimana perasaan Yoo Sun tentang keberadaa ibunya itu.

Menurut Soo Hyun, ibu Yoo Sun muncul pada saat Yoo Sun tidak memiliki keberanian, sehingga sekarang yang datang menemuinya di klinik, bukan sebagai Yoo Sun tapi sebagai ibu Yoo Sun.

Hye Rim merasa sedih karena mereka harus menyingkirkan Emma, ia baru saja dekat dengan Emma. Tapi Soo Hyun meminta Hye Rim membantunya karena Hye Rim sudah cukup dekat dengan Emma. Hye Rim terpaksa setuju dan kemudian pembicaraan mereka pun selesai.

Soo Hyun akan naik ke atas dan Hye Rim kembali ke tempat biasa ia membuat kopi. Tapi sesekali Hye Rim menoleh pada Soo Hyun, seperti berharap Soo Hyun berbicara tentang hal lain selain tentang Yoo Sun.

Tepat sebelum naik ke atas, Soo Hyun berhenti dan menoleh pada Hye Rim, bertanya apa mereka sekarang tidak berkencan. Soo Hyun berpikir ia sudah memuaskan rasa ingin tahu Hye Rim tentang eksperimennya itu.

Hye Rim dengan gaya sok tidak butuh… hehe… setuju dan akan mencoba berkencan dengan Soo Hyun… Cieee…

Soo Hyun mengajak Hye Rim bertemu malam ini jam 6. “Aku agak sibuk… tapi aku akan mencoba meluangkan waktu…

Soo Hyun mencibir dan kemudian naik ke klinik.

Setelah Soo Hyun pergi, baru terlihat betapa bahagianya Hye Rim. Hye Rim bahkan mengayunkan dan menggepalkan tangannya. Yes!!

Saat akan berdandan, Hye Rim membayangkan hal-hal romantis yang akan Soo Hyun lakukan padanya. Hye Rim mulai berpikir jauh dan cepat-cepat menyadarkan dirinya sendiri. Ia tidak boleh terlihat gampangan di depan Soo Hyun…

Sementara Hye Rim terlihat happy menyambut kencan pertamanya, lain halnya dengan Soo Hyun.

Soo Hyun duduk di depan komputernya dengan serius dan menulis :

Siapa Choi Soo Hyun yang mengajak Nona Go Hye Rim berkencan? Aku yakin dia bukan supervisor Choi Soo Hyun, kalau begitu apakah dia Subjek Pria A atau manusia Choi Soo Hyun? Kalau aku bertindak sebagai Subjek Pria A, maka hari ini aku harus mendapatkan pengakuan darinya. Tapi hatiku bertindak tidak sesuai dengan urutan eksperimen itu. Manusia Choi Soo Hyun sudah mendominasi Subjek Pria A. Aku juga merasa gugup dan malu karena ini akan menjadi kencan pertama mereka. Dan aku bahkan sedikit takut. Apa aku bisa menyimpulkan pertemuanku dengannya tanpa hambatan?

Soo Hyun menunggu Hye Rim di sebuah halte bis. Uhm… Ga tahu kenapa, kenapa mereka memutuskan bertemu di luar, kenapa tidak mereka berangkat bersama-sama, toh, Soo Hyun punya mobil dan Soo Hyun juga bekerja di tempat yang sama dengan tempat tinggal Hye Rim…

Tak lama sebuah bus datang dan Hye Rim turun dari bus itu. Hye Rim menatap Soo Hyun dan tersenyum bahagia. Saat Hye Rim menyibak rambutnya dan berjalan mendekati Soo Hyun, Soo Hyun terpana, ia melihat Hye Rim dalam slow motion… Wajah Soo Hyun terlihat sekali kalau ia sangat gugup.

Begitu Hye Rim berjalan di sampingnya, di dalam hati Soo Hyun bertanya-tanya, apakah ia harus menggandeng tangan Hye Rim? Bagaimana kalau Hye Rim menolak dan menepisnya?

Soo Hyun sama sekali tidak mendengar apa yang diucapkan Hye Rim, ia seperti tuli. Soo Hyun memutuskan ia akan bersikap sopan pada Hye Rim.

Mereka mulai berjalan bersisian, seperti biasa Soo Hyun berjalan sambil memegang tangannya sendiri di balik punggungnya… Uhmm… apa ya istilahnya? Pokoknya kayak kakek-kakek deh… 😛

Hye Rim melirik Soo Hyun, berkomentar dalam hati kalau Soo Hyun terlihat sangat gugup, Soo Hyun bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menggandeng tangan Soo Hyun.

Lalu Hye Rim pura-pura mengatakan tangannya sangat dingin, ia lupa membawa sarung tangan. Dengan sigap, Soo Hyun memberikan sarung tangannya untuk Hye Rim dan mengatakan ia bisa meletakkan tangannya di dalam saku jaketnya sendiri.

Soo Hyun ngeloyor pergi, meninggalkan Hye Rim yang tiba-tiba kesal sendiri.

Begitupun saat di kafe. Suasana antara Soo Hyun dan Hye Rim sangat sepi… Hye Rim bahkan sampai menguap… Hahaha…

Hye Rim melihat pasangan yang sedang bermesraan, yang duduk tidak jauh dari mereka. Hye Rim berkomentar, sepertinya pasangan itu masih mudah, jadi mereka masih panas.

Soo Hyun mengikuti arah yang dimaksud oleh Hye Rim. Tiba-tiba ia merasa gugup lagi dan mengajak Hye Rim pergi dari kafe itu…. Bhuahaha…

Saat sedang berjalan, Hye Rim berpura-pura hak sepatunya patah. Ia mencari-cari tempat yang bisa dijadikan sandaran supaya ia bisa memperbaiki sepatunya.

Soo Hyun membawa Hye Rim ke sebuah gang dan saat melihat keadaan sepatunya, Hye Rim sengaja meletakkan tangannya di dada Soo Hyun.

“Sinyal apa ini? Apa dia mau mengujiku? Baiklah kalau begitu aku akan menantangnya. Aku akan bersikap gentleman dimana pun…”, ucap Soo Hyun dalam hati. Hye Rim berpura-pura terjatuh dan sekarang meletakkan kedua tangannya di dada Soo Hyun…

Soo Hyun tidak mengatakan apa pun, lalu ia meletakkan tangan Hye Rim ke dinding bangunan dan menjauhkan Hye Rim darinya.

Hye Rim tentu saja marah. Mempertanyakan apakah Soo Hyun itu benar-benar psikolognya wanita. Soo Hyun tidak mengerti kenapa Hye Rim jadi marah. Hye Rim tidak mau repot-repot menjelaskan dan memilih pulang.

Sampai di depan kafe, Hye Rim masih mengomel sendiri, mengatai-ngatai Soo Hyun dan bersumpah tidak akan berkencan lagi dengan Soo Hyun.

Hye Rim masuk ke dalam kafe dan kaget melihat Ji Ho sudah rapi dan berdiri di samping sebuah monitor. Yoo Rim juga ada di sana.

Ji Ho memperlihatkan video Hye Rim yang ia ambil dengan drone. Hye Rim melihat seseorang yang sangat kecil dan bertanya siapa itu. Ji Ho mengatakan itu Hye Rim.

Yoo Rim juga menambahkan, kalau Ji Ho mengambil gambar Hye Rim dengan menggunakan drone.

Ji Ho mengatakan begitulah hatinya, di dalam suatu bagian hatinya berputar-putar di sekeliling Hye Rim. Hye Rim tidak mengerti dan bertanya pada Yoo Rim apa yang dikatakan oleh Ji Ho.

Yoo Rim mengangkat bahunya, tidak tahu.

Ji Ho kembali berbicara, mengumpamakan perasaannya yang muncul dengan teori big bang. Jelas saja Hye Rim semakin tidak mengerti, menyuruh Ji Ho menjelaskan dengan bahasa yang sederhana.

Ji Ho mulai berbicara tentang perasaannya yang mucul sejak pertama kali ia melihat Hye Rim. Belum selesai Ji Ho berbicara, Hye Rim sudah memotong, ia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Ji Ho. Dengan berat hati, Hye Rim mengatakan ia tidak pernah bisa melihat Ji Ho sebagai pria.

Ji Ho protes, ia bahkan sudah belajar Hapkido untuk menjadi seorang pria sejati. Hye Rim mengatakan bukan itu maksudnya, baginya, sejak pertama kali ia melihat Ji Ho, Ji Ho adalah seorang bayi yang lucu.

Ji Ho berpikir itu karena perbedaan usia mereka, ia siap menunggu sepuluh tahun lagi…

Tapi Hye Rim tetap pada keputusannya, ia tidak bisa. Mau itu Ji Ho berusia empat puluh, lima puluh, atau enam puluh, baginya Ji Ho tetaplah terlihat bayi yang berusia 40, 50, 60 tahun…

Ji Ho mulai menangis. Hye Rim menyuruh Ji Ho membuka matanya, melihat sekeliling Ji Ho, Ji Ho pasti menemukan yang lebih baik darinya. Diam-diam Yoo Rim mengangguk-anggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan Hye Rim.

Ji Ho tidak sanggup mendengarkan lagi dan langsung pergi ke luar. Yoo Rim menyusul Ji Ho dan mencari-cari Ji Ho.

Setelah Yoo Rim mencarinya hingga keluar dari halaman kafe, Ji Ho baru keluar dari balik tangga. Ji Ho menangis, sesunggukan.

Yoo Sun datang lagi ke klinik dan sekarang berada di ruang konseling. Di sana, Hye Rim juga ada. Soo Hyun membuat Yoo Sun relaks dan tertidur. Setelah Yoo Sun tertidur, Soo Hyun memberi sugesti pada Yoo Sun bahwa sekarang Yoo Sun berubah menjadi orang yang ada di dalam pikiran Yoo Sun.

Hye Rim merasa tidak sanggup melihat Emma menghilang dan memilih akan pergi. Namun Soo Hyun mencegahnya, menurutnya Hye Rim adalah satu-satunya teman Emma dan hanya Hye Rimlah yang bisa mendukung Emma. Soo Hyun ingin Hye Rim ada di saat-saat terakhir Emma.

Hye Rim menatap Yoo Sun. Dan Soo Hyun bertanya apa Hye Rim sudah siap. Hye Rim menganggukkan kepalanya.

Soo Hyun beralih pada Yoo Sun dan mengatakan bahwa Yoo Sun akan terbangun sebagai Emma.

Yoo Sun… bukan, Emma membuka matanya dan kaget saat menyadari ia ada di tempat yang tidak ia kenal. Tapi kemudian ia sadar tempat apa itu setelah melihat Soo Hyun di sana.

Emma lebih kaget lagi atau tepatnya marah saat melihat Hye Rim juga ada di sana. Ia menuduh Hye Rim bersekongkol dengan Soo Hyun untuk menyingkirkannya. Emma sangat marah sampai-sampai mengambil gunting yang ada di atas meja, mengancam akan membunuh dirinya sendiri, karena dengan begitu tidak hanya dirinya yang hilang, Yoo Sun juga akan menghilang bersamanya.

Soo Hyun mengatakan Emma sudah menjadi teman bagi Yoo Sun selama 20 tahun dan sebagai teman, Emma harus mendukung keputusan Yoo Sun. Emma tidak peduli, ia hadir karena memang Yoo Sun yang menginginkannya dan sekarang, Yoo Sun malah…

Soo Hyun membenarkan ucapan Emma. Memang benar Yoo Sun yang memanggil Emma tapi Yoo Sun yang dulu tidak sama dengan Yoo Sun yang sekarang. Yoo Sun yang sekrang ingin hidup dengan kekuatannya sendiri. “Kalau kamu adalah temannya, kamu harus membantunya…”.

Emma mulai menangis, ia tidak mau dihilangkan begitu saja. Ia tidak mau diperlakukan tidak adil seperti ini dan ia sudah banyak membantu Yoo Sun di masa lalu…

“Tapi kamu membuat hidupnya menjadi sulit. Siapa orang yang memutuskan hubungannya dengan Sang Wook?”, tanya Soo Hyun. Emma terdiam. “Kamu tidak benar-benar melakukannya demi Yoo Sun. Kamu sengaja membuatnya sengasara karena akan sulit bagimu untuk muncul kalau ia berbahagia dengan Sang Wook…”.

Melihat Emma sudah lebih tenang, Soo Hyun mendekati Emma dan menggenggam tangan Emma. Menyakinkan Emma untuk berpisah dari Yoo Sun karena ini adalah keinginan ibu Yoo Sun juga.

Emma menangis. “Sekarang, tolong, sudah saatnya kamu menghilang dari Yoo Sun…”, ucap Soo Hyun lagi. Lalu Soo Hyun perlahan mengambil gunting itu dari tangan Emma.

Emma berpaling pada Hye Rim, bertanya apakah Hye Rim juga ingin ia menghilang, padahal mereka ‘kan berteman…

Hye Rim menganggukkan kepalanya, mereka memang berteman dan saat bersama dengan Emma, ia merasa seperti kembali ke usia 20 tahun lagi dan ia bersenang-senang bersama dengan Emma.

“Tapi kenapa….”, rengek Emma sambil terus menangis, sangat sangat sedih. Hye Rim mengatakan saat bersamanya, Emma terlihat tidak nyaman, Emma selalu saja seperti hidup dalam keadaan terburu-buru. Emma mengakui ucapan Hye Rim itu benar, ia memang tidak nyaman, ia khawatir karena tidak tahu kapan akan menjadi Lee Yoo Sun kembali. Itu sebabnya ia selalu dalam keadaan terburu-buru.

Emma menangis lagi karena sekarang Hye Rim dan Soo Hyun malah menyuruhnya menghilang, padahal ia selalu merasa hidupnya sangat singkat.

Hye Rim mencoba menenangkan dan membujuk Emma. Ia mengatakan Emma tidak sepenuhnya hilang, Emma akan menjadi bagian dari diri Yoo Sun dan dengan begitu Emma tidak perlu terus merasa hidup dalam kegelisahan. Hye Rim mengatakan mereka tidak akan mengucapkan selamat tinggal pada Emma karena mereka tetap akan bertemu Emma sebagai Yoo Sun, sebagai diri Emma yang seutuhnya. (Suka dengan kata-kata Hye Rim ini…)

Hye Rim juga mengatakan ia tidak ingin berpisah dengan Emma. Emma semakin menangis. Ia bertanya, jika ia menjadi Yoo Sun, apakah Hye Rim masih mau clubbing dengannya, apakah Hye Rim masih mau memakai makeup dan tindiknya, apakah Hye Rim masih mau berbelanja pakaian dengannya. Hye Rim memanggukkan kepalanya, meng-iyakan semua keraguan Emma itu. “Karena kamu akan hidup di dalam diri Yoo Sun. Kamu tidak akan menghilang… Bahkan jika kamu menghilang, aku akan mengenangmu, Emma…”, bujuk Hye Rim lagi.

Emma menangis dan memaki Hye Rim. Hye Rim terlihat akan menangis dan kemudian memeluk Emma yang masih saja menangis sedih…

Bersambung…

[Sinopsis Madame Antoine Episode 8 Part 2]

Leave A Reply

Your email address will not be published.