Sinopsis Madame Antoine Episode 8 Part 2

0

[Sinopsis Madame Antoine Episode 8 Part 1]

 

Sinopsis Madame Antoine Episode 8 Part 2

Soo Hyun dan Hye Rim menemani Yoo Sun menonton pertunjukan sulap Sang Wook. Di tengah pertunjukannya, Sang Wook memanggil Yoo Sun untuk menjadi pendampingnya di panggung.

Soo Hyun ragu, menatap Soo hyun dan Hye Rim. Soo Hyun dan Hye Rim menganggukkan kepalanya, menyemangati Yoo Sun. Akhirnya, Yoo Sun memberanikan diri untuk naik ke panggung dan berdiri di samping Sang Wook.

Mereka saling bertatapan sejenak dan kemudian Sang Wook beralih ke penonton, memberi sebuah uraian. Sang Wook mengatakan, sulap itu memiliki persamaan dengan cinta, kadang terlihat indah di suatu waktu dan di waktu yang lain menghilang begitu saja. Seperti halnya sulap yang meninggalkan ingatan di dalam hati penonton, ia juga berharap semua penontonnya memiliki kenangan yang indah tentang kisah cinta mereka.

Lalu Sang Wook beralih pada Yoo Sun dan mendekati Yoo Sun. Yoo Sun agak beringsut mundur saat Sang wook mengambil scarf dari lehernya. Sang Wook menggulung scarf Yoo Sun dan mengambil setangkai mawar putih dari balik scarf itu. Lalu Sang Wook mengambil sehelai kelopaknya dan memperlihatkannya penonton. Sang Wook mengsosok kelopak itu dan muncul beberapa helai kelopak lain yang terbang di udara

Sang Wook beralih pada Yoo Sun dan menangkupkan mawar itu diantara kedua tangannya. Sang Wok mengosok-gosoknya bunga itu dan keluarlah ribuan kelopak mawar putih yang berterbangan di udara. Terbang diantara dirinya dan Yoo Sun.

Air mata Yoo Sun menetes saat menatap Sang Wook. Sang Wook juga terlihat menahan kesedihannya. Begitulah akhir dari kisah cinta Yoo Sun dan Sang Wook… (Akh…sedih liatnya…)

Seung Chan dan Prof. Bae hiking bersama. Prof. Bae kesulitan berlari saat di tanjakan, Seung Chan membantu Prof. Bae dengan mendorongnya dari belakang.

Prof. Bae sangat senang dan berterima kasih karena Seung Chan mau membantunya olah raga. Ia merasa bersalah karena sebagai mentor, ia belum melakukan apa pun untuk Seung Chan, dan Seung Chan sendiri belum pernah mengkonsultasikan apa pun dengannya.

Seung Chan mengatakan, sebenarnya ada sesuatu yang mengkhawatirkannya akhir-akhir ini, ia sudah menyatakan perasaannya pada seseorang dan sepertinya ia ditolak, ia tidak tahu bagaimana cara menghadapinya.

Prof. Bae ingin tahu siapa yang dimaksud Seung Chan, itu juga kalau Seung Chan tidak keberatan memberitahukannya.

“Go Hye Rim”, jawab Seung Chan jujur. Prof. Bae bertanya apa Hye Rim mengatakan ia tidak menyukai Seung Chan. Seung Chan menunduk, agak sedih. “Wah, kenapa begitu ya? Padahal kamu sangat tampan…”, Prof. Bae menggoda Seung Chan.

Seung Chan akhirnya mau tertawa. Seung Chan mengatakan Hye Rim tidak mengatakan secara langsung padanya, tapi ia bisa melihat dari wajah Hye Rim, oleh sebab itulah ia mengatakan pada Hye Rim, tidak apa-apa baginya jika mereka berteman saja. Hanya saja hatinya merasa sedikit sakit setiap kali melihat Hye Rim. Ditambah lagi, dengan kenyataan, kalau sepertinya Hye Rim menyukai kakaknya. “Dan itu sangat menggangguku…”, ucap Seung Chan lagi.

Prof. Bae ingin tahu, apakah Seung Chan merasa seperti itu karena eksperimen yang Soo Hyun lakukan. Seung Chan membenarkan, ia khawatir Hye Rim akan semakin menyukai Soo Hyun dan pada akhirnya Soo Hyun akan mencampakkan Hye Rim. Menurutnya, kakaknya itu bukan tipe orang yang akan menyukai seseorang.

Prof. Bae memberi nasehat dari sudut pandangnya. Menurutnya, kadang kala kita sulit mengetahui perasaan seseorang pada saat orang itu mencintai dan Seung Chan juga mungkin tidak tahu perubahan apa yang terjadi pada Soo Hyun dalam beberapa waktu terakhir, dan juga Seung Chan mungkin tidak tahu alasan dibalik Hye Rim menyukai Soo Hyun. Menurunya lagi, yang perlu dilakukan Seung Chan adalah tetap menyukai Hye Rim sebanyak mungkin, seperti biasanya. Karena kalau Seung Chan tidak melakukannya, oa khawatir Seung Chan akan menyesalinya di kemudian hari.

Seung Chan mengerti apa yang dikatakan Prof. Bae tapi baginya masih terasa sakit. Ia ingin tahu bagaimana cara Prof. Bae menghilangkan rasa sakit itu. “Cara terbaik adalah dengan memaksa produksi hormon endorfin, kalau perlu. Olah raga adalah salah sutu cara yang terbaik…”, jawab Prof. Bae.

Soo Hyun sedang menulis dan tiba-tiba tinta pulpennya habis. Soo Hyun mengisi kembali tinta ke dalam pulpennya dan tidak sengaja, tinta menetes di punggung tangannya.

Soo Hyun tersentak, tiba-tiba teringat kenangan tentang parade, banyak orang memakai kostum yang menyapanya. Soo Hyun berpikir, mungkin sepotong ingatannya itu terkait dengan taman hiburan.

Soo Hyun menelpon Hye Rim, mengajak Hye Rim ke taman hiburan. Hye Rim menolak, karena menurutnya taman hiburan hanya untuk anak-anak. Soo Hyun membujuk Hye Rim pergi karena ia harus mengkonfirmasi sesuatu.

Hye Rim tetap saja menolak, beralasan ia harus bekerja untuk mendapatkan uang yang banyak. Tapi entah apa bujukan Soo Hyun, sepertinya Hye Rim setuju dan mereka janjian akan bertemu besok, jam 1 siang di tempat mereka janjian dulu. Tidak sengaja, Seung Chan yang akan masuk ke ruangan Soo Hyun, mendengar pembicaraan Soo Hyun di telpon.

Seung Chan turun ke bawah untuk mendapatkan konfirmasi dari Hye Rim. Ia mengajak Hye Rim makan siang jam 1 besok. Tapi Hye Rim menolak, mengatakan ia sudah ada janji. Saat Seung Chan bertanya janji dengan siapa, Hye Rim berbohong, mengatakan kalau ia punya janji dengan orang yang minta diramal.

Wajah Seung Chan langsung berubah sedih. Ia menatap Hye Rim. Dalam hati berkata, ‘jangan kakakku, orang lain tidak apa-apa asalkan bukan dia. Kamu bagian dari eksperimen.’

Hye Rim mengajak Seung Chan pergi di lain waktu. Seung Chan tidak menanggapi, ia hanya meminta Hye Rim tidak melakukan fMRI minggu depan. Alasan Seung Chan, tidak baik untuk Hye Rim jika sering-sering terpapar radiasi dan juga ia tidak ingin Hye Rim dimanfaatkan.

Hye Rim memikirkan ucapan Seung Chan tadi dan langsung pergi menemui Soo Hyun di ruangannya. Hye Rim mengatakan bahwa ia menolak melakukan fMRI dan juga menolak pergi ke taman hiburan besok.

Soo Hyun ingin tahu apa alasan Hye Rim meragukannya lagi. Hye Rim menolak untuk memberitahukannya karena apa pun yang akan ia katakan, Soo Hyun pasti akan membantahnya.

Soo Hyun menganggukkan-anggukkan kepalanya, tanda mengerti. Kemudian ia berdiri dari kursinya, mengatakan kalau ia benar-benar menghentikan eksperimennya saat itu juga.

Soo Hyun bahkan mengambil surat kontrak persetujuan Hye Rim untuk menjadi bagian dari eksperimen dan merobek-robeknya.

Soo Hyun mengambil catatan eksperimennya dan cetak biru eksperimennya, dan merobek-robeknya juga. Soo Hyun bahkan mengajak Hye Rim menghapus file eksperimennya. Ia menunjukkan letak filenya dan memberikan kesempatan pada Hye Rim untuk menghapusnya sendiri.

Hye Rim agak kaget dengan respons Soo Hyun sangat berlebihan, ia juga merasa sedikit tidak enak. Tapi Hye Rim menutuskan untuk mengikuti kemauan Soo Hyun dan menghapus file yang dimaksud oleh Soo Hyun.

Hye Rim bahkan mengosongkan ‘Recycle Bin’. Itu artinya, sama sekali tidak ada filenya di komputer Soo Hyun.

Soo Hyun bertanya apa sekarang Hye Rim sudah puas. Apa sekarang semua keraguan Hye Rim sudah hilang?

Hye Rim tersenyum dan berterima kasih pada Soo Hyun, ia tahu ini pasti sulit bagi Soo Hyun. Soo Hyun ingin tahu apakah itu artinya mereka masih berkencan. Hye Rim menganggukkan kepalanya dan berjanji ia akan pergi ke taman hiburan bersama Soo Hyun besok.

Soo Hyun tersenyum senang…

Tapi hanya sebentar. Begitu Hye Rim berbalik, senyum Soo Hyun menghilang… Omo… Apa ini? Soo Hyun… Kamu masih berbohong kah???

Sementara itu, setelah keluar dari ruangan Soo Hyun, Hye Rim masih bertanya-tanya dalam hati, apakah ini benar-benar berakhir. Tapi dengan segera Hye Rim menepis keraguannya, ia merasa ia pasti sudah gila kalau masih meragukan Soo Hyun.

Hye Rim turun ke bawah dengan gembira dan hati yang ringan.

Hye Rim menanyakan pada Soo Hyun, bagaimana psikologi memandang cinta, apakah benar cinta itu seperti sulap yang bisa hilang begitu saja.

Soo Hyun mengatakan, orang akan saling mencintai penuh semangat hanya dalam rentang waktu 30 bulan saja, setelah itu jika mereka tidak mampu mengembangkan cinta itu ke arah hubungan yang dewasa, maka mereka akan putus. Soo Hyun setuju, kenapa cinta memiliki kesamaan dengan sulap.

Hye Rim ingin tahu kenapa Soo Hyun mengajaknya ke taman hiburan, karena ia tahu Soo Hyun bukan orang yang suka pergi ke tempat seperti itu. Soo Hyun mengatakan ia datang ke sana karena ingin mengkonfirmasikan ‘mitigation practical ability identity restoration’.

Hye Rim sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan Soo Hyun. Uhmm… sy juga. Soo Hyun tidak mau repot-repot menjelaskan, ia hanya mengatakan ia baru saja mengatakan kata-kat yang tidak masuk akal dalam bahasa inggris, sama seperti yang Hye Rim biasa lakukan dalam bahasa Perancis.

Hye Rim tertawa, Soo Hyun mengejeknya…

Setelah menemukan spot yang bagus untuk melihat parade, Hye Rim menitipkan es krimnya pada Soo Hyun karena ia ingin membeli ‘churro’ dulu sebentar. Soo Hyun ingin pergi membelikannya untuk Hye Rim.

Tapi Hye Rim menolaknya, karena tadi Soo Hyun ingin melihat parade tidak peduli apa pun itu. Hye Rim khawatir paradenya akan lewat saat Soo Hyun pergi. Jadi ia meminta Soo Hyun tinggal di sana dan berjanji akan segera kembali.

Soo Hyun hanya tersenyum, tapi tidak ikhlas…

Tak lama, parade benar-benar lewat. Soo Hyun menatap parade itu dan juga orang-orang yang memakai berbagai macam kostum. Tiba-tiba Soo Hyun teringat masa kecilnya. Ia datang ke taman hiburan dan melihat parade bersama ibunya. Salah satu badut, bahkan memberikan balon untuknya. Lalu ia dan ibunya pergi membeli es krim.

Mata Soo Hyun mulai berkaca-kaca. Lalu ia tersadar, tetesan es krim jatuh di jasnya dan Soo Hyun berusaha membersihkannya. Soo Hyun teringat lagi masa lalunya.

Soo Hyun kecil menjilat-jilat es krimnya, sementara ibunya berjongkok di depannya, menasehatinya supaya tidak membuat bajunya kotor dengan tetesan-tetesan es krim itu. Saat itu, ibunya berjanji akan datang pada saat Soo Hyun ulang tahun, jadi ia meminta Soo Hyun menunggu.

Soo Hyun kecil tidak begitu memperhatikan nada bicara ibunya yang sedikit bergetar, seperti menahan tangis, Soo Hyun hanya sibuk menjilati es krimnya.

Sambil menahan tangis, ibunya kembali membersihkan noda es krim di baju Soo Hyun kecil, ia menyuruh Soo Hyun jangan mengotori bajunya karena Soo Hyun akan bertemu dengan ibu barunya.

Lama-kelamaan ibu Soo Hyun mulai menangis dan memarahi Soo Hyun karena terus mengotori bajunya. Ia bahkan mengancam tidak akan datang ke ulang tahunnya Soo Hyun. Dan kemudian tiba-tiba ibu Soo Hyun pun berlari pergi. Meninggalkan Soo Hyun sendirian di taman hiburan, menangis histeris sambil berteriak-teriak memanggil ibunya.

Soo Hyun kecil berada di taman hiburan sampai malam hari.

Soo Hyun menjatuhkan es krimnya dan meringkuk, gemetar. Hye Rim yang baru datang dari memberi ‘churro’ kaget melihat keadaan Soo Hyun dan langsung berlari mendekati Soo Hyun.

Hye Rim agak panik dan ingin tahu apa yang terjadi. Tapi Soo Hyun tidak menjawab, ia hanya menangis.

Saat kembali ke klinik, Soo Hyun berbicara dengan Prof. Bae, di ruang konsultasi. Sementara Hye Rim berdiri di luar ruang cermin satu arah. Menimbang-nimbang akan menguping pembicaraan Soo Hyun dan Prof. Bae atau tidak.

Prof. Bae ingin tahu apa yang terjadi di taman hiburan, tapi Soo Hyun tidak mau mengatakannya dengan jujur, ia hanya mengatakan ia sedikit pusing di sana.

Prof. Bae kecewa karena Soo Hyun bersikap tertutup padanya. Padahal ia tahu reaksi Soo Hyun atas tetesan air dan Soo Hyun sudah menderita amnesia disosiatif tentang masa mudanya. Bagaimana bisa kamu bilang ini bukan apa-apa?, tanya Prof. Bae lagi.

Soo Hyun tetap tidak mau berbicara. Ia yakin bisa menganalisis sendiri dan bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Tapi Prof. Bae tidak bisa menerima itu, mereka berdua sama-sama tahu mereka tidak mampu mengatasi permasalahan mereka sendiri, seberapa pun hebatnya mereka sebagai psikolog.

Soo Hyun ingin menolak tapi Prof. Bae tetap bertahan, mendesak Soo Hyun untuk bicara dengannya. Sementara itu, Hye Rim memutuskan untuk masuk ke dalam ruang cermin satu arah dan mendengarkan apa yang terjadi pada Soo Hyun.

Soo Hyun tidak punya pilihan lain dan akhirnya mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia ingat sewaktu kecil ia dipisahkan dari ibunya. Ia bermain bersama di taman hiburan dan itu sangat menyenangkan baginya. Tapi pada akhirnya ibu membuangnya.

Soo Hyun merasa manusia itu sangat egois, ibunya hanya mau bermain pada saat ibunya mau, tapi pada saat bosan, ibu malah meninggalkannya. (Umm… Persis seperti yang dikatakan Hye Rim saat Soo Hyun memecatnya dulu kan ya??)

Prof. Bae mencoba mengatakan kemungkinan ibu Soo Hyun punya alasan tertentu sehingga melakukan itu pada Soo Hyun. Tapi Soo Hyun merasa untuk usianya saat itu, ia tidak cukup peduli dengan apa pun alasannya, apalagi ibunya memarahinya sebelum meninggalkannya. Ibunya terus mengatakan, ‘Berhenti meneteskan es krim, kalau tidak aku tidak akan kembali di hari ulang tahunmu’.

Soo Hyun merasa kata-kata ibunya itu terus terpatri di dalam pikirannya sehingga ia selalu merasa ‘Aku pasti sudah melakukan kesalahan’. (Ya Tuhan… tiba-tiba sy teringat anak-anak sy… ๐Ÿ™ ) Ia selalu merasa karena ia meneteskan es krim, ibunya tidak pernah mau menemuinya pada ulang tahunnya.

Soo Hyun merasa, mungkin karena sebab itulah ia selalu merasa sakit setiap kali ada sesuatu yang menetes mengenainya. Soo Hyun membenarkan ucapan Prof. Bae tadi, ia memang sudah terkondisikan secara klasik, seperti anjing Pavlov.

“Kamu tahu ‘kan alasan kenapa ibumu tidak datang bukan karena kesalahanmu?”, tanya Prof. Bae lagi.

Soo Hyun membenarkan, dan sekarang ia merasa perasaannya jauh lebih baik karena ia mengetahui alasan dibalik semua itu. Soo Hyun meminta pendapat Prof. Bae, ia ingin mencoba meneteskan air lebih lama di punggung tangannya dengan sengaja sehingga ia bisa merasakan kontak lebih lama.

Prof. Bae mengatakan kondisi Soo Hyun tu bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng. Fakta bahwa ibu Soo Hyun meninggalkan luka mental sebelum ia meninggalkan Soo Hyun adalah hal yang sangat traumatis pada Soo Hyun yang waktu itu hanya berumur 6 tahun. Bahkan bagi Soo Hyun yang sudah dewasa seperti sekarang ini.

Soo Hyun membantah pendapat Prof. Bae, ia bukan sembarang orang dewasa, ia adalah seorang psikolog. Ia mampu memahami trauman dan akar permasalahan untuk mendapatkan diagnosa pengobatan yang tepat. Sebelum menutup pembicaraannya dengan Prof. Bae, sekali lagi Soo Hyun dengan tegas menolak bantuan Prof. Bae, karena ia bisa memecahkan masalahnya sendiri.

Prof. Bae tidak mendesak lagi dan hanya menatap Soo Hyun.

Hye Rim yang mengkhawatirkan Soo Hyun, memutuskan untuk berbicara dengan Prof. Bae. Ia mengajak Prof. Bae bicara di sudut yang agak sepi di kafenya, yang jarang dilewati orang.

Hye Rim mengakui bahwa ia mendengar yang diucapkan Soo Hyun di ruang konseling tadi. Prof. Bae agak terkejut, ia merasa sepertinya kurang bijak Hye Rim mendengarkannya tanpa persetujuan Soo Hyun.

Tapi Hye Rim mengatakan ia mengkhawatirkan Soo Hyun dan ingin memastikan apakah permasalahan Soo Hyun itu benar-benar permasalahan yang bisa dipecahkan sendiri oleh Soo Hyun.

Prof. Bae menggelengkan kepalanya, ia tidak yakin Soo Hyun bisa melakukannya sendiri dan ia khawatir karena Soo Hyun sangat keras kepala. Hye Rim ingin tahu apakah ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk Soo Hyun.

Prof. Bae merasa yang terbaik dilakukan oleh Hye Rim adalah tetap berada di sisi Soo Hyun. Saat ini Soo Hyun memiliki emosi negatif terhadap perempuan karena apa yang terjadi dengan ibunya. Prof Bae bahkan merasa hipotesa yang dilakukan Soo Hyun agak sedikit…

Prof. Bae tidak jadi meneruskan ucapannya. Melihat Hye Rim penasaran, ia mengatakan ia sedang membicarakan eksperimen yang dilakukan Soo Hyun di masa lalu. Menurut prof. Bae yang penting selain tetap berada di sisi Soo Hyun, Hye Rim harus bisa membuat Soo Hyun bahagia.

Hye Rim bertanya, menurut Porf. Bae apa yang Soo Hyun ingin ia lakukan. Prof Bae tidak begitu yakin, tapi menurutnya dulu Soo Hyun menyukai tebak-tebakan, ia sering melakukannya dengan teman-temannya.

Hye Rim mengetuk pintu ruang kerja Soo Hyun dan bertanya apa yang sedang Soo Hyun lakukan. Soo Hyun mengatakan ia sedang bekerja.

Hye Rim masuk dan memberikan secangkir kopi yang ia buat untuk Soo Hyun. Hye Rim tidak langsung keluar dan bernyanyi-nyanyi kecil di depan Soo Hyun. Perhatian Soo Hyun beralih dari bukunya ke Hye Rim. Hye Rim bertanya apa Soo Hyun mau bermain tebak-tebakan dengannya.

Belum sempat Soo Hyun menjawab, Hye Rim sudah mulai beraksi. Soo Hyun hanya melihat Hye Rim dengan tatapan tidak tertarik. Hye Rim terus memberikan beberapa tebakan dan Soo Hyun sama sekali tidak tertarik. Ia menyuruh HYe Rim keluar.

Sebelum keluar dari ruangan Soo Hyun, Hye Rim mengepalkan tangannya dan mengatakan ‘fighting’ pada Soo Hyun. Soo Hyun hanya mengernyit heran.

Hye Rim juga menyiapkan brunch untuk Soo Hyun. Soo Hyun protes karena biasanya ia tidak makan seperti itu. Tapi Hye Rim mengatakan Soo Hyun harus mengisi perutnya dengan benar walaupun itu hanya brunch saja.

Lalu Hye Rim mempersiapkan aksi kontolnya dengan menempelkan sesuatu yang hitam di gigi depannya. Soo Hyun sama sekali tidak tertarik dan mengatakan itu tidak lucu. Soo Hyun tidak jadi makan dan pergi meninggalkan Hye Rim begitu saja.

Malamnya, Soo Hyun menelpon Prof. Bae karena ingin meminjam buku. Dan mereka janjian bertemu di kafe dekat rumah Prof. Bae.

Saat Soo Hyun turun ke kafe, HYe Rim sudah menyiapkan aksi lain untuk menghibur Soo Hyun. Hye Rim bahkan menari khusus untuk Soo Hyun.

Soo Hyun sama sekali tidak tertarik dan malah terlihat marah. Soo Hyun mematikan lagu yang diputar Hye Rim dan bertanya ada apa dengan Hye Rim akhir-akhir ini. Hye Rim ingin menjelaskan tapi tidak tahu harus berkata apa.

Soo Hyun mengatakan ia tidak tahu apa yang dipikirkan Hye Rim tapi ia ingin Hye Rim membiarkannya sendiri. Menurut Soo Hyun, semua yang dilakukan Hye Rim itu tidak lucu dan juga tidak dewasa.

Soo Hyun pergi dan membanting pintu kafe di belakangnya. Meninggalkan Hye Rim yang merasa serba salah sendiri…

Saat di kafe, Prof. Bae menyinggung tentang pepatah yang diberikan oleh Hye Rim, apa Soo Hyun bisa menebak banyak teka teki yang diberikan oleh Hye Rim?

Soo Hyun kaget, kenapa Prof. Bae bisa tahu tentang itu.

Prof Bae tidak tahu apa ia harus memberitahukan Soo Hyun atau tidak, tapi ia merasa Soo Hyun perlu tahu. Prof. Bae memberitahukan bahwa Hye Rim menguping pembicaraan mereka di ruang konsultasi.

Wajah Soo Hyun menegang.

Prof. Bae mengatakan ia sudah memarahi Hye Rim karena Hye Rim menguping tapi ia melihat ketulusan Hye Rim pada Soo Hyun dan ia merasa itu sangat indah. Saat itu, Hye Rim bertanya apa yang bisa ia lakukan untuk Soo Hyun.

Soo Hyun keluar dari kafe seperti orang linglung. Dan sedetik kemudian ia berlari…

Di kafe, Hye Rim bingung sendiri, kenapa Soo Hyun tidak menyukai lagu yang ia putarkan. Padahal menurutnya, lagu itu lucu. Hye Rim memutar lagu itu kembali dan bernyanyi-nyanyi sambil menari sendiri.

Sedang asik-asiknya menari, pintu kafe terbuka dengan keras. Hye Rim kaget bukan kepalang. Soo Hyun tiba-tiba datang dengan nafas terengah-engah…

Soo Hyun mendekati Hye Rim dan berdiri di depan Hye Rim, Hye Rim seperti agak takut dengan kata-kata yang akan keluar dari mulut Soo Hyun. Soo Hyun mengatakan ia membenci peramal, ia juga benci perancis, ia tidak suka dengan wanita berambut panjang dan juga tidak suka wanita dengan suara bernada tinggi… “Tapi seorang wanita dengan semua sifat itu muncul di hadapanku… Jadi menurutmu bagaimana perasaanku?”, tanya Soo Hyun.

Dengan sedih, Hye Rim mengatakan ia sudah tahu jadi Soo Hyun tidak perlu memberiathukannya. Ia tahu ia membosankan, kekanak-kanakan dan tidak lucu.

“Tapi aku… sudah terlanjur menyukai wanita itu. Apa yang harus aku lakukan, Nona Go Hye Rim?”, tanya Soo Hyun lagi, matanya berkaca-kaca.

Hye Rim menatap Soo Hyun, lurus, matanya juga mulai berkaca-kaca. “Tapi wanita itu janda…”.

“Tidak apa-apa”, jawab Soo Hyun.

“Dan dia memiliki anak…”.

“Tidak masalah”.

“Tidak… dia memiliki banyak masalah. Dia juga memiliki banyak keraguan. Tidak memiliki rasa percaya diri. Dan dia berusia…”.

Soo Hyun memeluk Hye Rim, dan mengatakan, “Saranghe, Hye Rim-ssi…”.

Bersambung…

Sy sangat menyukai episode kali ini, semuanya terasa manis, apalagi endingnya… Soo Hyun terlihat tulus kali ini… Hanya saja yang sy ragu, apa Soo Hyun benar-benar sudah menghentikan eksperimennya???

Di episode kali ini, seperti biasa kasus psikologinya semakin mengharukan… Baik kisah Yoo Sun maupun kisah Soo Hyun.

Sy juga sangat menyukai closing dari hubungan Yoo Sun dan Sang Wook, sangat romantis… Sy suka saat kelopak-kelopak mawar putih yang beterbangan diantara Yoo Sun dan Sang Wook. Dari tatapannya, Sang Wook seperti masih menyayangi Yoo Sun tapi ia tidak bisa kembali pada Yoo Sun. Karena ia sudah memiliki janji pernikahan dengan wanita yang lain…

Sy merasa sedih untuk Yoo Sun. Berharap Yoo Sun akan bertemu orang yang lain, yang lebih baik lagi dari Sang Wook.

Kisah Soo Hyun membuat sy tiba-tiba teringat anak-anak sy, muncul pertanyaan, apa sy cukup baik di mata mereka, apa sy pernah menyakiti mereka… :-((ย Karena kadang kala, kita tidak sadar dengan apa yang kita lakukan pada anak kita dan mungkin saja itu menyakiti hati mereka… Dan akan terbawa hingga dewasa.

Kita berharap, Soo Hyun bisa mengatasi masalahnya dan penilaiannya terhadap wanita akan semakin baik. Karena itu perlu, agar hubungannya dengan Hye Rim bisa berhasil.

[Sinopsis Madame Antoine Episode 9 Part 1]

Leave A Reply

Your email address will not be published.