Update Sinopsis Drama Korea Terbaru

Sinopsis Madame Antoine Episode 4 Part 2

0

[Sinopsis Madame Antoine Episode 4 Part 1]

 

Sinopsis Madame Antoine Episode 4 Part 2

Soo Hyun bertanya, menurut Hye Rim apa yang pertama kali diajarkan dalam buku Psikologi 101.

Hye Rim menebak, hati manusia.

“Neuron. Atau yang disebut juga sebagai sel otak. Kau akan belajar tentang aktifitas otak. Di dalam psikologi, sesuatu yang terjadi di dalam hati, sebenarnya tidak terjadi di dalam hati melainkan di dalam otak. Dengan kata lain, aktifitas otak mendefinisikan hati seseorang”.

Hye Rim baru mengerti, kenapa banyak istilah yang terkait dengan biologi disebutkan di dalam buku itu (di dalam buku itu banyak gambar tentang otak dan syaraf manusia). Ia tidak tau tentang itu dan bahkan hanya melewatinya saja.

“Hal yang sama juga terjadi pada tipe idealmu. Sekarang ulurkan tanganmu”. Soo Hyun mengulurkan tangannya, memberi isyarat agar Hye Rim memegang tangannya.

Hye Rim menuruti perintah Soo Hyun dan Soo Hyun menggenggam erat tangan Hye Rim…

“Saat momen ini masuk dalam pikiranmu, maka ribuan saraf otak akan menyala. Dan kemudian hormon seperti norephinephrine akan diproduksi. Kemudian, detak jantungmu akan lebih cepat dan nafasmu menjadi tidak teratur. Dan pupil matamu akan menjadi lebih lebar. Semua itu terjadi hanya dalam waktu kurang dari satu detik. Kira-kira seperti itulah yang terjadi padaku…”.

“Apa?”, Hye Rim kaget dan tidak mengerti maksud Soo Hyun.

Soo Hyun mengatakan itulah yang terjadi padanya saat pertama kali ia melihat Hye Rim.

Hye Rim jadi bingung sendiri dan ingin menarik tangannya, tapi Soo Hyun malah mengeratkan genggaman tangannya… Aduuhhh… Soo Hyun, kamu serius ga sihhhhh…

Soo Hyun bertanya hormon apa yang keluar dari tubuh Hye Rim sekarang. Hye Rim berhasil menarik tangannya dari genggaman Soo Hyun dan mengatakan, hormon yang keluar saat Soo Hyun malu dan canggung.

Muka serius Soo Hyun… 😛

Soo Hyun tidak berhenti membuat hati Hye Rim bingung dan goyah. “Apa kau ingat saat aku mengatakan aku menyukaimu?”. Hye Rim meng-iyakan. “Dan sekarang saatnya kau memberi jawabannya”. Soo Hyun… Wajahmu serius amaaat… kamu serius ga sih….

Hye Rim menatap Soo Hyun, begitu juga sebaliknya. Soo Hyun bahkan tidak mengedipkan sedikit pun matanya. Dan apa jawaban Hye Rim? “Aku belum…”.

Soo Hyun langsung memotong ucapan Hye Rim dan langsung pergi… Beneran panik atau pura-pura panik, pak???

Sekembalinya ke rumah, Hye Rim marah-marah sendiri, menyesali jawabannya tadi, seharusnya ia mengatakan iya saja. Hye Rim bahkan memukul mulutnya sendiri.

Hye Rim tiba-tiba teringat saat Soo Hyun bilang menyukainya di restoran, lalu teringat saat Soo Hyun menyuruhnya membersihkan lantai, dan lalu saat tadi di perpustakaan, saat Soo Hyun meminta jawaban darinya.

Hye Rim merasa ia tidak melihat ketulusan sama sekali pada Soo Hyun, semua ini hanya omong kosong.

Di ruang kerjanya, Soo Hyun juga sedang mengomel sendiri, kesal karena tidak tau apa lagi yang harus dilakukan untuk menaklukkan Hye Rim.

Ji Ho yang mendengar kekesalan Soo Hyun, menebak pasti Soo Hyun gagal lagi. “Ini bukan kegagalan. Semuanya belum berakhir sebelum semuanya selesai”, bantah Soo Hyun, yakin.

Ji Ho hanya senyum. Soo Hyun heran kenapa Ji Ho sangat senang melihat kegagalannya. Ji Ho tidak mau cerita dan langsung pamit pergi, tidak mempedulikan perintah Soo Hyun yang menyuruhnya mengatur bahan-bahan eksperimen.

Ji Ho hanya membungkukkan badannya dan mengatakan “Jika kesempatan datang, aku harus meraihnya”. Soo Hyun berusaha menahan Ji Ho tapi Ji Ho tetap tidak pedulidan pergi.

Ji Ho turun ke kafe dan mencari Hye Rim. Dengan wajah datar, Ji Ho mendekati Hye Rim, bertanya apakah Hye Rim suka dengan pria cerdas. “Itu pasti lebih baik daripada pria bodoh, bukan?”, sahut Hye Rim.

Ji Ho memberitahukan kalau IQnya 210 dan mendemonstrasikan keahliannya bermain rubik di depan Hye Rim. He Rim memuji Ji Ho dan menepuk pant*t Ji Ho, seperti ke adiknya sendiri.

Lalu Ji Ho meminta izin untuk memotret Hye Rim dan Hye Rim setuju dan berpose beberapa kali untuk Ji Ho. Tidak sengaja, Ji Ho menanyakan tentang kapan Hye Rim berganti baju dan Hye Rim terlihat seksi…

Hye Rim langsung marah dan melempari Ji Ho, mengusirnya pergi. Terpaksa Ji Ho pergi dan duduk di salah satu sudut kafe.

Ji Ho melihat-lihat hasil jepretannya tadi dan menyesal, seharusnya ia punya video Hye Rim. Lalu Ji Ho mencari informasi tentang drone. Pada saat yang sama, Yoo Rim masuk ke kafe dan melihat Ji Ho sedang duduk sendirian.

Yoo Rim merapikan pakaiannya, ia merasa dandanannya sedikit aneh hari itu. Yoo Rim menanyakan apa Ji Ho melihat perbedaan dalam penampilannya. “Wajahmu terlihat sedikit gemuk”, ucap Ji Ho, datar.

Yoo Rim kesal dan menyuruh Ji Ho mengatakan hal yang lain. “Berat badanmu sepertinya bertambah..”, ucap Ji Ho lagi, sadis.

Yoo Rim mendesah, menyerah. Yoo Rim mengomentari Ji Ho yang sedang mencari info tentang drone. Ji Ho mengatakan itu untuk tugasnya yang penting. Yoo Rim mengingatkan harga drone yang cukup mahal. Dan Ji Ho membenarkannya, dengan ekspresi putus asa.

Dokter yang merawat Profesor Bae memberitahukan bahwa kanker yang diderita Prof. Bae sudah menyebar hingga ke kelenjar getah bening. Ia menyarankan agar Prof. Bae segera melakukan operasi.

Prof. Bae malah menanggapinya dengan tertawa sendiri. Ia tersadar dan meminta maaf pada dokter, dokter itu sepertinya adalah teman Prof. Bae. Prof. Bae hanya merasa sangat aneh, ia merasa seperti mendengar kondisi orang lain, bukan kondisi dirinya sendiri.

Prof. Bae menyebutkan sikapnya saat ini adalah mekanisme pertahanan, yang berkaitan dengan reaksi tubuh saat menghadapi peristiwa yang traumatik.

Dokter berusaha membujuk Prof. Bae untuk melakukan operasi, karena jika tidak, Prof. Bae akan mati. Tapi Prof. Bae dengan tegas menolak, ia sudah memikirkan cukup lama dan merasa ini bukanlah hal yang terlalu serius. Daripada meratapi kehidupan, lebih baik melakukan hal yang ingin ia lakukan dalam sisa hidupnya.

Saat Prof. Bae akan pergi, dokter masih berusaha membujuk tapi lagi-lagi Prof. Bae dengan tegas menolaknya. Prof. Bae bahkan mengajak temannya itu untuk bertemu di klub lain kali, karena ia ingin menari dan bernyanyi seperti gadis muda.

Keceriaan dan ketegaran Prof. Bae hilang saat ia keluar dari ruangan temannya itu. Prof. Bae duduk di kursi lobi dan menangis sendirian. Tangis Prof. Bae terhenti saat mendengar suara tawa anak kecil. Prof. Bae melihat keceriaan seorang anak kecil yang juga sakit kanker dan harus didorong dengan kursi roda oleh ibunya.

Prof. Bae tersenyum tipis. Prof. Bae teringat pujian Seung Chan saat di scooter dan air matanya kembali menetes.

Setibanya di kantor, Prof Bae menuliskan 10 daftar wishlistnya. Yang terakhir adalah melihat aurora dari dalam iglo di Alaska. Dan di nomor 1 adalah dekat dengan Seung Chan.

Prof. Bae memperbaiki harapan nomor 1-nya, menambahkan, menjadi benar-benar, benar-benar dekat dengan Seung Chan. Prof. Bae tersenyum membaca wishlist-nya.

Hye Rim turun dari lantai 3 dan tidak sengaja melihat Seung Chan. Hye Rim tersenyum pada Seung Chan, agak canggung. Seung Chan hanya mengangguk hormat pada Hye Rim. Hye Rim terlihat sedikit kecewa.

Yoo Rim datang dan mengajak Hye Rim nonton pertandingan bisbol karena saat ini semua orang sedang menyaksikannya. Saat menonton pertandingan, Hye Rim teringat perselisihannya dengan Seung Chan dan memutuskan menelpon Seung Chan.

Seung Chan menghela nafasnya, tapi tetap mengangkat telpon dari Hye Rim.

Hye Rim menanyakan apakah Seung Chan nonton bisbol dan siapa yang Seung Chan dukung. Korea pastinya, jawab Seung Chan singkat.

“Kalau aku, aku mendukungmu”, ucap Hye Rim. Seung Chan terdiam. “Aku akan senang kalau kau menang…”, ucap Hye Rim lagi.

Dan Seung Chan pun tersenyum, berjanji akan ikut wawancara dan akan menang.

Mood Seung Chan langsung berubah setelah Hye Rim menelponnya. Ia bahkan memeluk Soo Hyun yang baru keluar dari ruangannya dan memberitahu Soo Hyun kalau barusan Hye Rim mendukungnya.

Soo Hyun tidak mengerti maksud Seung Chan dan bertanya apa maksud Seung Chan. Tapi Seung Chan menolak berbagi cerita, karena adalah hal yang cukup diketahui olehnya dan Hye Rim saja dan Soo Hyun tidak akan mengerti.

Soo Hyun menatap Seung Chan kesal, “Kami? Apa kau keluarkan saja dia dari eksperimen…”, gerutu Soo Hyun.

Ju Ni datang lagi ke klinik dan tidak sengaja bertemu dengan Hye Rim yang sedang membawa ember dan pel, sepertinya Hye Rim berniat akan mengepel lantai kafe.

Hye Rim menyapa Ju Ni, bertanya kenapa Ju Ni datang lebih awal, bukankah jadwal Ju Ni jam sebelas siang.

“Memangnya apa urusanmu”, ucap Ju Ni tidak suka.

“Hei!”, Hye Rim menegur Ju Ni.

“Hei?”, Ju Ni sama sekali tidak senang mendengar Hye Rim tidak sopan padanya. Ju Ni menggertak giginya, siap akan melumat Hye Rim.

Sayangnya, tiba-tiba Seung Chan turun dari klinik dan mengajak Hye Rim untuk ‘bruch’. Ju Ni langsung mengubah cara bicaranya dan ingin ikut makan juga. Ju Ni bahkan menggelayut di lengan Seung Chan, ingin diajak makan juga.

Seung Chan berusaha menarik tangannya dari dekapan Ju Ni, mengatakan bahwa itu hanya untuk staf saja. Ju Ni tidak peduli dan merengek ingin ikut.

Akhirnya Ju Ni berhasil ikut makan bersama yang lainnnya. Soo Hyun melempar pandangan kesal pada Seung Chan, kesal karena Seung Chan mengajak Ju Ni ikut.

Seung Chan tidak mau kalah dan balik melotot pada Soo Hyun, bermaksud mengatakan tidak ada yang bisa ia lakukan karena Ju Ni merengek dan bergelayut di lengannya.

Ju Ni memperhatikan cara Seung Chan dan Soo Hyun bertatapan.

Lalu Hye Rim akan mengambil piring kecil dan dengan sigap, Seung Chan membantu mengambilkannya untuk Hey Rim. Soo Hyun memandang Seung Chan, marah. Seung Chan hanya senyam senyum, merasa menang dari Soo hyun.

Sementara Ju Ni memandang mereka tidak suka sambil mengunyah sosis. Bhuahaha…

Soo Hyun beralih pada Ju Ni, bertanya kenapa Ju Ni datang lebih cepat bahkan tidak menelpon lebih dulu. Apa ada yang terjadi?, tanya Soo Hyun.

Tidak, tidak juga, jawab Ju Ni, senang karena merasa diperhatikan.

Lalu perhatian beralih lagi pada Hye Rim saat Seung Chan bertanya pada Ji Ho, apakah Ji Ho yang membeli kue.

Ji Ho membenarkan. Ia membeli kue yang disukai Hye Rim. Ji Ho mengedipkan matanya pada Hye Rim.

“Apa yang kau lakukan?”, tanya Hye Rim tidak mengerti.

“Berkedip…”. Ji Ho mengedipkan matanya lagi. Mata Ji Ho dua-duanya berkedip.

Hye Rim bingung, bukankah seharusnya Ji Ho mengedipkan satu mata saja?

Ji Ho menutup salah satu matanya dan berkedip lagi pada Hye Rim. Hye Rim tertawa, lucu melihat kelakukan Ji Ho. Ternyata Ji Ho tidak bisa mengedipkan satu matanya saja… Bhuahaha… Ji Ho lucu banged… (setelah dua kali nonton, sy baru ngeh maksud dari scene ini… bhuahaha…)

Ju Ni menatap Hye Rim muak. Dan Soo Hyun memperhatikan ekspresi Ju Ni itu. Ju Ni semakin muak saat Seung Chan menawarkan minuman dan menuangkannya untuk Hye Rim. Ju Ni bahkan muntah dan pingsan. Membuat semua orang panik dan mengerumuninya.

Soo Hyun menyuruh Hye Rim memanggil ambulance.

Saat di dorong di koridor rumah sakit, Ju Ni membuka matanya dan melihat Hye Rim. Ju Ni berteriak dan mengusir Hye Rim. Dan Soo Hyun pun menyuruh Hye Rim pergi.

Hye Rim kebingungan sendiri dan merasa bersalah. Hye Rim mondar-mandir di depan kamar rawat Ju Ni. Saat Soo Hyun akhirnya keluar, Hye Rim baru bisa mengetahui keaadaan Ju Ni. Soo Hyun mengatakan tadi Ju Ni pura-pura pingsan untuk mendapatkan perhatian.

Hye Rim merasa itu semua adalah kesalahannya dan ingin berbicara dengan Ju Ni. Tapi Soo Hyun melarang Hye Rim masuk, menurutnya itu bukan ide yang bagus. “Sekarang dia sangat cemburu padamu. Apa pun yang kau katakan, ia tidak akan mau mendengarkan. Jadi tidak akan berhasil”, ucap Soo Hyun.

Ju Ni terbangun dan melihat hanya Ji Ho yang menungguinya dan sedang tertidur. Soo Hyun dan managernya sedang berbicara dengan dokter di ruangan yang lain. Diam-diam Ju Ni mengambil ponsel Ji Ho dan mencari nomor telpon Hye Rim.

Ju Ni mengirimkan pesan melalui ponselnya, seolah-olah pesan itu dari Soo Hyun yang menyuruh Ju Ni membawakan berkas Ju Ni ke parkiran rumah sakit.

Soo Hyun dan Ji Ho pamit pulang. Sebelum masuk lift, Soo Hyun memastikan bahwa Ju Ni sedang tidur. Sang manager membenarkan, dan memberitahukan bahwa ia sudah mengosongkan seluruh jadwal Ju Ni untuk hari itu. Manager berjanji akan memastikan Ju Ni istirahat dengan baik.

Dan Soo Hyun dan Ji Ho pun pulang.

Tiba-tiba sang manager mendapatkan telpon dari direktur dan Ju Ni memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Ju Ni pergi ke parkiran dan menunggu Hye Rim di sana.

Hye Rim tiba di parkiran dan mencari-cari Soo Hyun. Lampu sebuah mobil tiba-tiba menyala ke arahnya dan Ju Ni keluar dari mobil itu. Ju Ni menyindir Hye Rim yang datang secepat kilat begitu Soo Hyun memintanya.

Hye Rim mencoba menjelaskan tapi Ju Ni tidak mau mendengarkan dan langsung memotng ucapan Hye Rim.

Menurut Ju Ni, Hye Rim sangat menyukai apa pun yang tidak memakai rok, Hye Rim sangat suka saat semua pria bersikap baik padanya.

Hye Rim mencoba menjelaskan lagi dengan menggunakan kalimat yang sopan. Tapi Ju Ni yang emosi semakin marah. “Sejak kapan kau bicara formal padaku?”, ucap Ju Ni sampai mendorong bahu Hye Rim ke belakang. “Di dalam hatimu kau pasti merendahkan aku”, ucap Ju Ni dengan nada tinggi, lagi-lagi sambil mendorong bahu Hye Rim.

Hye Rim meminta Ju Ni tenang, ia hanya berharap Ju Ni lekas sembuh. Ju Ni marah karena Hye Rim mengatakan ia sakit dan gila. Lalu Ju Ni mengata-ngatai Hye Rim yang suka menggoda pria dan suka diperlakukan seperti ratu.

Hye Rim meminta Ju Ni berhenti, kali ini dengan kalimat informal. Dan itu juga membuat Ju Ni marah karena Hye Rim tidak hormat padanya. Ju Ni bahkan menampar Hye Rim.

Hye Rim menatap Ju Ni marah. Ju Ni tidak berhenti, menantang Hye Rim untuk menamparnya juga. Dan Hye Rim membalasnya membuat Ju Ni shock. “Kenapa? Kauu pikir aku tidak berani melakukannya!”, ucap Hye Rim marah.

Hye Rim sudah tidak bisa menerima lagi perlakukan Ju Ni padanya. Karena ia bukan dokternya Ju Ni jadi ia akan mengeluarkan semua uneg-unegnya.

Hye Rim mendorong-dorng bahu Ju Ni juga sambil mengatakan, “Siapa yang lebih dulu menyerahkan dirinya pada pria? Kau! Siapa yang berulah dan memancing keributan? Kau!”.

Ju Ni meminta bukti semua tuduhan Hye Rim itu. “Meminta bukti hanya menunjukkan kenyataan bahwa kau belum dewasa. Ada banyak orang saksinya. Apa kau masih perlu bukti?”, tanya Hye Rim marah.

Hye Rim mengungkit masalah Ju Ni yang pura-pura muntah dan pingsan untuk cari perhatian. Ju Ni berteriak marah karena Hye Rim berani padanya.

Hye Rim tidak peduli. Ju Ni yang lebih dulu tidak bersikap sopan padanya padahal ia lebih tua 10 tahun dari Ju Ni. Hye Rim menyuruh Ju Ni berlutut padanya dan meminta maaf.

Ju Ni histeris, tidak mau melakukannya. Hye Rim masih belum puas dan mengungkit kepribadian Ju Ni yang rumit dan bahkan pergi berlibur saat managernya meninggal akibat kecelakaan. Hye Rim terus menyebut tentang manager Ju Ni yang telah meninggal, membuat Ju Ni histeris dan mengatakan bahwa ia mencintai managernya itu.

Alasan ia bersikap seperti sekarang karena ia mencintai managernya itu. “Aku sangat mencintainya. Aku seorang bintang dan ia tidak menyukaiku, itu sangat melukai harga diriku. Jadi aku selalu menggodanya dan melecehkannya sepanjang waktu dan dia bahkan tidak menunjukkan kalau ia menyukai aku! Dia begitu teguh dan tidak peduli apa pun. Dan dia menyukai lagu-lagu lama bodoh seperti John Denver. Jadi harga diriku semakin tersakiti dan aku semakin melecahkannya, tapi…”.

“Si bodoh itu meninggal dalam kecelakaan hari itu…”, ucap Ju Ni, terduduk sambil menangis. “Dia meninggal sebelum aku bisa mengakui perasaanku padanya…”. Hye Rim terdiam, manatap Ju Ni yang terus menangis, meratapi kepergian managernya dan menyesali apa yang terjadi antara dirinya dan managernya itu.

=== Flashback ===

November tahun lalu, Ju Ni mengalami kecelakaan dengan managernya. Ju Ni menangis, meronta-ronta saat petugas menarik tubuh managernya dari dalam mobil yang terbalik. Saat itu, managernya masih hidup. Ju Ni hanya sempat menggenggam tangan managernya sebentar, sebelum managernya meninggal dan dibawa pergi.

Ju Ni menangis histeris.

Di dalam mobil yang terbalik, masih terdengar lagu John Denver yang berjudul Annie’s Song.

=== Flashback End ===

Setelah pertengkarannya dengan Hye Rim dan Hye Rim berhasil membuat Ju Ni melepaskan bebannya, Ju Ni baru mau berterus terang pada Soo Hyun.

Saat sesi konsultasi selanjutnya, Ju Ni menceritakan alasan kenapa ia tidak menyukai bulan november. Karena sejak kecelakaan tahun lalu di bulan november, saat bulan november datang, seluruh tubuhnya terasa sakit dan jika mendengar lagu Annie’s Song, ia selalu kehilangan kesadaran.

Ju Ni merasa seharusnya kematian managernya itu tidak memberi pengaruh apa pun padanya, toh, dia hanya seorang road manager. “Dia sangat norak dan tidak sepadan denganku…”.

Soo Hyun menatap Ju Ni dan terlihat simpati pada Ju Ni. Soo Hyun bahkan memberikan Ju Ni sapu tangannya.

Sambil meneteskan air mata, Ju Ni kembali menceritakan sikapnya yang sangat kejam pada managernya itu. Ia bahkan mencium pria lain di depan managernya itu dan tidak mau mengakui pada dirinya sendiri kalau ia sebenarnya sangat menyukai managernya itu.

Soo Hyun menatap Ju Ni, matanya sedikit berkaca-kaca… Sukaaaa bgt liat ekspresi Sung Joon di sini…

Ju Ni menangis, menangisi managernya yang sekarang sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Soo Hyun menyentuh pundak Ju Ni, untuk sedikit membuat Ju Ni tenang.

Hye Rim yang mendengarkan semua cerita Ju Ni dari dalam ruang cermin satu arah, ikut menangis.

Do kyung-a, terlepas dari diriku, aku merasa cemburu akan fakta kalau nona Ju Ni benar-benar sangat mencintai seseorang. – Hye Rim

Soo Hyun menjelaskan sesuatu tentang psikologi pada Hye Rim tapi Hye Rim hanya fokus pada Soo Hyun saja.

Apa menurutmu, aku juga bisa? Bisakah aku meninggalkan semuanya dan hanya menyukai seseorang? – Hye Rim

Soo Hyun selesai menjelaskan dan mengagetkan Hye Rim dengan cara menyentuh punggung tangan Hye Rim dengan jarinya, sangat lembut.

Hye Rim terkejut dan mengalihkan rasa malunya dengan menawarkan kopi untuk Soo Hyun. Tapi Soo Hyun menolaknya dengan alasan ia sudah terlalu banyak minum.

Saat Soo Hyun akan pergi namun sebuah email masuk ke laptop Hye Rim dan Soo Hyun tidak jadi pergi, ikut membaca email bersama Hye Rim.

Ternyata email itu dari Do Kyung. Do Kyung menanyakan kabar Hye Rim dan mengirimkan fotonya bersama ayah dan ibu tirinya.

Hye Rim sempat terdiam sebentar saat melihat foto itu.

Do Kyung juga mengatakan ia banyak memikirkan Hye Rim, apakah Hye Rim kesepian setelah mengirimkannya tinggal bersama ayah. Do Kyung menyuruh Hye Rim untuk tidak mengatakan ia baik-baik saja, karena bahkan saat masih tinggal bersama, Hye Rim akan menonton drama melodrama sendirian.

Hye Rim tiba-tiba sadar kalau Soo Hyun ikut membaca emailnya dan menyuruh Soo Hyun pergi. Soo hyun mengomentari Doo Kyung yang mirip dengan Hye Rim, ia berharap kepribadian Do Kyung tidak mirip dengan Hye Rim.

Setelah Soo Hyun pergi, Hye Rim meneruskan membaca email. Kali ini Do Kyung menanyakan pria yang datang bersama Hye Rim. Ia mendengar dari ayah, Hye Rim datang bersama seorang pria ke bandara. Ayah bilang pria itu sangat keren. Do Kyung ingin tau hubungan Hye Rim dengan pria itu dan seperti apa pria itu. Do Kyung malah ingin Hye Rim mengirimkan foto pria itu padanya karena ia ingin melihatnya…

Do Kyung-a, aku juga ingin tau. Orang seperti apa dia. – Hye Rim

Hye Rim menatap ke arah Soo Hyun pergi.

Ji Ho datang ke ruangan Soo Hyun dengan membawa sebuket bunga mawar merah. Soo Hyun melihat sebuah amplop dan membukanya. Sebuah tiket nonton pentas musik.

Soo Hyun datang lebih dulu ke tempat pertunjukan. Hingga penonton hampir penuh, orang yang ditunggu Soo Hyun belum juga datang. Soo Hyun menoleh ke sana sini, mencari keberadaan orang yang ditunggunya itu.

Lampu mulai dimatikan, dan Soo Hyun terlihat sedikit kecewa karena orang yang ditunggunya belum datang.

Tidak lama seseorang datang. Awalnya karena menunduk, Soo Hyun hanya melihat sepatunya saja. Saat pandangannya beralih ke atas, ternyata orang yang datang adalah Hye Rim…

Hye Rim tersenyum, “Aku tidak akan membiarkan orang nonton sendirian…”. Hye Rim duduk di samping Soo Hyun.

Soo Hyun tersenyum. Awalnya cuma sedikit tapi lama kelamaan makin kelihatan… Hehehe…

Setelah selesai menonton pentas, Soo Hyun menanyakan alasan kenapa Hye Rim tiba-tiba nonton pentas musik. Hye Rim beralasan karena pemain utamanya adlaah adik kelasnya dulu, walaupun dulu ia lebih sukses dari adik kelasnya itu. “Aku mendapat peran ratu, dia mendapat peran pembantu”, jelas Hye Rim lagi.

Soo Hyun menebak Hye Rim pasti berperan sebagai Marie Antoinnete. “Bagaimana kau tau?”, tanya Hye Rim, senang karena Soo Hyun bisa menebaknya.

“Jadi kau hanya terus memainkan satu peran dari saat itu, ya?”, sahut Soo Hyun, candaan Soo Hyun sadis ya… 😛

Soo Hyun menawarkan makan malam perancis dan menyuruh Hye Rim memilih dari tiga menu yang ia tawarkan. Hye Rim tersenyum dan membuat angka tiga dengan jarinya, tapi agak ditekuk.

Ternyata Hye Rim ingin makan ceker ayam… Hye Rim berusaha membujuk Soo Hyun yang tidak mau makan ceker ayam. SOo Hyun beralasan, ia merasa kaki ayam berjalan di dalam kerongkongannya.

Hye Rim tidak memaksa dan memutuskan untuk menghabiskannya sendiri. Ia sudah memesan dua porsi, jadi mubazir jika tidak dihabiskan. Soo Hyun hanya menatap Hye Rim dengan pandangan aneh dan memilih hanya minum saja.

Hye Rim sangat bersemangat menghabiskan semua ceker ayam hingga kepedasan dan sausnya belepotan di sudut bibirnya.

“Lihat! Ayam-ayamnya membalas dendam padamu…”, ucap Soo Hyun. Hye Rim tidak mengerti maksud Soo Hyun. “Ayam-ayam meninggalkan jejak kaki mereka di seluruh mulutmu…”, ucap Soo Hyun sambil menunjuk sudut bibirnya sendiri.

“O… Ada saus di bibirku?”. Hye Rim menghapus saus dengan tangannya tapi malah membuatnya tambah belepotan.

“Kau hanya membuatnya lebih buruk. Jangan lakukan itu…”, ucap Soo Hyun dan mengelap sudut bibir Hye Rim dengan jarinya.

Soo Hyun terkejut sendiri dengan sikapnya itu.

26 Desember, jam 10.30 malam. Akhirnya percikan api mulai terbang dalam pikiranku – Soo Hyun

Hye Rim juga terkejut, menatap Soo Hyun.

Bersambung…

[Sinopsis Madame Antoine Episode 5 Part 1]

Leave A Reply

Your email address will not be published.