Sinopsis My Love Eun Dong Episode 1 Part 1

6

Sinopsis My Love Eun Dong Episode 1 Part 1

Eun Ho sedang bersiap-siap di kamarnya. Seorang wanita, sepertinya seseorang yang bekerja di hotel, memberitahukannya bahwa semua sudah selesai dipersiapkan.

Eun Ho keluar dari kamar, berjalan menyusuri koridor diikuti oleh wanita itu.

Eun Ho masuk ke sebuah ruangan yang sudah dipenuhi oleh para wartawan. Eun Ho berdiri sebentar, memberi kesempatan kepada para wartawan untuk mengambil fotonya. Dan kemudian konpres dimulai. Terdengar salah seorang bertanya apa enaknya menjadi seorang terkenal.

“Lebih mudah mencari seseorang”, jawab Eun Ho singkat.

Lalu wartawan ingin tahu siapa sebenarnya yang ingin dicari oleh Eun Ho.

“Tunanganku”.

“Siapa namanya?”

Eun Ho diam tidak menjawab.

=== Tahun 1995, Chuncheon ===

Beberapa orang anak muda balap liar di jalanan. Di belakang mereka, satu mobil polisi mengejar. Mobil polisi lain muncul tiba-tiba, menghadang mereka. Tapi dengan gesit, mereka dapat lolos. Seorang anak muda sampai lebih dahulu di garis finish. Dia adalah Hyun Soo (Eun Ho di waktu muda). Ia menggepalkan tanda kemenangan, lalu berpisah dari teman-temannya.

Satu mobil polisi masih mengejar Hyun Soo. Di ujung sebuah jembatan, mobil polisi lain kembali menghadang. Hyun Soo membanting stangnya dan terlempar ke rumput yang ada di pinggir jalan. Hyun Soo berusaha kabur, tapi karena kakinya terluka ia berhasil ditangkap polisi.

Ibu Hyun Soo duduk sambil memegang salib di tangannya, disampingnya duduk Hyun Soo. Mereka ada di kantor polisi. Ibu kesal dan memukul Hyun Soo.

Tiba-tiba polisi datang dan berkata sepertinya Hyun Soo akan memukul ibunya. Ibu membela Hyun Soo dan berkata Hyun Soo bukan anak seperti itu. Lalu polisi itu memperingatkan Hyun Soo tidak boleh lagi keluar membawa motor.

Ibu ingin tahu apa sebenarnya kesalahan putranya itu. Polisi menjelaskan bahwa Hyun Soo masih smu dan belum memiliki SIM tapi sudah mengendarai motor Dan satu lagi pencurian. Hyun Soo terkejut. Ia tidak menyangka ia akan dituduh juga sebagai pencuri.

Polisi mengatakan karena Hyun Soo mengendarai tanpa SIM maka ia akan disidangkan. Tetapi menurutnya Hyun Soo tidak perlu terlalu khawatir, karena ini adalah kesalahan Hyun Soo yang pertama kali, mungkin Hyun Soo hanya akan dituntut saja. Hanya masalahnya adalah motor yang dikendarai oleh Hyun Soo adalah motor curian.

Hyun Soo kesal. Ia tidak tahu motor itu motor curian.

Hyun Soo pergi ke sebuah tempat bilyar dan menemui seorang temannya. “Kau menjual motor curian padaku?”, tuntut Hyun Soo.

Awalnya, teman Hyun Soo itu mengalihkan pembicaraan, ia malah memuji Hyun Soo yang selamat dari kecelakaan. Menurutnya ini addalah keajaiban. Hyun Soo bertambah kesal. Ia menuntut penjelasan dari temannya itu.

“Tentu saja”, jawabnya cuek. Ia menjualnya hanya dengan harga 80.000 won, jelas saja itu motor curian.

Hyun Soo kesal dan mendekat ke arah temannya itu. Temannya agak terkejut. Hyun Soo langsung menjedukkan kepalanya ke hidung temannya itu sampai terjatuh.

“Darah… Kau memukulku sampai berdarah, bangs*t!”, teriak temannya sambil mendekati Hyun Soo dan akan menyeruduk perut Hyun Soo. Dengan mudah Hyun Soo mengangkat temannya itu dan membantingnya ke lantai.

Tiga orang temannya yang lain langsung mendekati dan mencegah mereka berkelahi terlalu jauh. Hyun Soo merogoh kantong celana temannya itu dan mengambil kunci motornya. “Ini bukan motor curian, kan?”.

Tanpa menunggu jawaban dari temannya itu, Hyun Soo langsung pergi dengan membawa kunci motor itu.

Dengan menahan sakit di kakinya, Hyun Soo mendekati motor temannya itu dan menghidupkannya. Hyun Soo memacu motor itu dengan cepat. Hyun Soo melewati jalan yang di kirinya bukit dan di kanannya laut. Hujan tiba-tiba turun, Hyun Soo tidak mempedulikannya. Ia tetap mengendarai motornya dengan kencang. Sampai tiba di sebuah persimpangan, ia berpapasan dengan dua buah mobil dan berusaha menghindari kedua mobil itu.

Hyun Soo terkejut karena di depannya ada seorang gadis kecil yang sedang menyeberang jalan sambil menutupi kepalanya dengan kantong plastik. Karena kecepatannya yang tinggi, Hyun Soo tidak bisa mengendalikan motornya. Motor agak oleng dan kemudian terjatuh karena jalanan yang licin. Sebelum motornya jatuh ke jalan, Hyun Soo sempat melompat dan kemudian terguling di jalan dan mengenai gadis kecil itu.

Hyun Soo tidak cedera dan melihat gadis itu tidak bergerak. Hyun Soo mencoba menyadarkan gadis itu. Gadis itu tersadar sebentar kemudian pingsan lagi. Hyun Soo panik dan berteriak meminta seseorang untuk menolongnya dan memanggilkan ambulance.


 

Hyun Soo ada di ruang sidang. Karena kesalahannya, hakim memutuskan karena Hyun Soo mengulangi kesalahannya dan menabrak orang, maka ia akan ditahan selama 6 bulan. Hyun Soo menghela nafasnya.

Tiba-tiba gadis yang ditabrak Hyun Soo masuk ke dalam ruangan sidang dan mengatakan bahwa itu bukan kesalahan oppa. Hyun Soo terkejut, melihat ke belakang, ke arah gadis itu. “Aku hanya terpeleset dan terjatuh. Oppa itu menolongku dan membawaku ke rumah sakit. Mohon, jangan hukum oppa”, tambah gadis itu lagi.

Lalu gadis itu keluar dari ruang sidang. Hyun Soo benar-benar heran dengan sikap gadis itu. Ibu juga memandang penuh tanda tanya pada Hyun Soo. Hyun Soo terlihat tersentuh dan matanya sedikit memerah.

=== 2015 ===

Eun Ho sedang berdiri di depan jendela apartemennya, memandangi hujan di luar.

Terdengar narasi Eun Ho yang menceritakan awal pertemuannya dengan Eun Dong.

Hari itu, pertama kali aku bertemu dengan Eun Dong, juga hujan, sama seperti hari ini. Hari itu, Eun Dong berbohong. Setelah beberapa lama, aku baru menyadari bahwa tidak mudah bagi Eun Dong untuk berbohong.

(Untuk selanjutnya, narasi Eun Ho akan saya buat quote dan huruf miring ya…)

Lalu scene beralih ke apartemen yang lain. Jung Eun sedang mengetik sambil mendengarkan rekaman suara Eun Ho melalui headsetnya.

Kembali lagi ke Eun Ho yang masih memandang hujan.

Aku sangat berterima kasih padanya sekaligus khawatir karena mungkin saja ia terluka, jadi oleh sebab itu aku pergi mencarinya.

===1995===

Hyun Soo menunggu Eun Dong lewat. Eun Dong mengenali Hyun Soo dan berhenti sebentar. Hyun Soo melihat Eun Dong.

Dan juga aku ingin tahu kenapa ia menolongku.

Mereka saling bertatapan sebentar. Lalu Eun Dong melanjutkan langkahnya, melewati Hyun Soo. Setelah Eun Dong lewat, Hyun Soo baru memanggilnya. Bertanya apakah ia terluka. Eun Dong dengan jujur menjawab bahwa ia masih sedikit merasa sakit. Hyun Soo menyuruhnya pergi ke rumah sakit. Ia mengajak Eun Dong periksa ke rumah sakit bersamanya. Walaupun lukanya tidak terlihat, siapa tahu ada luka di dalam.

Eun Dong menolaknya. Ia merasa akan sembuh dalam beberapa hari ke depan.

Hyun Soo menghela nafasnya. Ia bertanya siapa nama Eun Dong. Eun Dong diam saja, tidak mengatakan namanya. Ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan ia akan pamit pergi.

Hyun Soo masih mencoba membujuk Eun Dong. Ia meminta Eun Dong mengatakan padanya jika Eun Dong merasa sakit. Ia akan menunggu Eun Dong di sana seharian.

Eun Dong bingung, bukannya Hyun Soo sekolah smu? Hyun Soo membenarkannya. Lalu kenapa kau ada di sini? Apa sekolahnya sudah selesai?, tanya Eun Dong lagi. Hyun Soo mengatakan belum. Dan ia mengakui bahwa ia membolos sekolah.

Eun Dong terlihat sedih. Ia berharap Hyun Soo menjadi orang yang baik. Jika kebohongannya tidak berguna (tidak membuat Hyun Soo menjadi orang yang baik), maka ia akan merasa sedih. Hyun Soo terlihat merasa bersalah. Eun Dong pamit dan berbalik pergi.

Hyun Soo memanggil Eun Dong lagi. Eun Dong berbalik. Hyun Soo akan mengatakan sesuatu tapi tidak jadi. Tidak sengaja Hyun Soo melihat sepatu Eun Dong yang usang dan ia agak tersentuh.

Begitulah cara Eun Dong masuk dalam hidupku. Apakah ia makan atau apakah ada orang yang mengganggunya, semua perasaan ingin tahu itu muncul secara bersamaan. Aku mengingat hari itu seperti itu.

Eun Dong menyadari arah pandangan Hyun Soo dan terlihat agak malu. Hyun Soo mengalihkan topik dan malah memarahi Eun Dong karena berbicara informal padanya.

Hyun Soo sedang berada di dalam kelas. Ia terlihat hanya memakai sandal. Guru menutup kelas dan mengingatkan muridnya untuk tidak membolos karena ujian tinggal beberapa hari lagi. Ia mengancam akan memberikan hukuman jika ketahuan ada yang membolos.

Setelah guru keluar dari kelas, Hyun Soo juga mengambil tasnya. Temannya bertanya kemana Hyun Soo akan pergi. Hyun Soo hanya menjawab dia sudah cukup belajar hari ini dan melambai ke arah temannya itu.

Hyun Soo mengintip ke koridor sekolah. Setelah yakin aman, ia melenggang pergi.

Ternyata Hyun Soo pergi ke rumah Eun Dong (g tahu darimana ia tahu alamat Eun Dong) dan mendengar pembicaraan antara pendeta dan suster yang mengatakan sesuatu tentang waktu yang tidak lama lagi dan siapa yang akan mengurus Eun Dong. Suster itu mengatakan mereka harus melalui proses adopsi dan itu cukup sulit.

Tiba-tiba Eun Dong keluar dan memberikan barang milik pendeta yang tertinggal. Pendeta mengucapkan terima kasih pada Eun Dong dan pamit pulang. Suster memanggil Eun Dong dan mengingatkannya untuk tidak lupa memberikan obat pada neneknya.

Setelah Eun Dong masuk dan rombongan pendeta pergi, Hyun Soo keluar dari balik tembok. Di situlah ia mengetahui, ternyata gadis yang ditabraknya itu bernama Eun Dong.

Hyun Soo mendekati rumah Eun Dong dan masuk melalui pintu gerbang yang terbuka. Ia berdiri di depan pintu dan mendengar percakapan antara nenek dan Eun Dong. Ia mendengar nenek meminta bantuan Eun Dong untuk membawanya keluar. Ketika melihat ada orang yang akan keluar, cepat-cepat Hyun Soo keluar dan bersembunyi di balik pagar dekat pintu gerbang.

Nenek menanyakan kondisi Eun Dong. Menurutnya seharusnya Eun Dong meminta ganti rugi untuk biaya berobat. Eun Dong menenangkan neneknya dan mengatakan ia tidak apa-apa.

Nenek tidak tahu Eun Dong itu mirip siapa. Karena Eun Dong sangat baik, Eun Dong pasti mirip dengan ayahnya, bukan ibunya yang jahat itu. Eun Dong hanya tersenyum, tidak mengatakan apa pun. Sementara itu, Hyun Soo mendengar semuanya dan menghela nafasnya.

Aku tidak pernah menangis ketika menonton film yang sedih ataupun ketika ada yang meninggal. Aku pikir, aku bukan orang yang seperti itu. Tapi anehnya, hari itu, aku menangis.

Sore itu, Hyun Soo berjalan sambil menghela nafasnya, berulang kali. Menahan rasa sesak di dadanya.

Malam harinya, Hyun Soo masih melamun di kamarnya memikirkan Eun Dong, ia menghela nafas lagi. Tiba-tiba ibu memanggilnya dan membuka pintu kamarnya. Cepat-cepat Hyun Soo berbalik dan menutup wajahnya dengan selimut. Ibu masuk sambil membawa buah untuk Hyun Soo. Karena Hyun Soo hanya diam saja, ibu mengira Hyun Soo sudah tidur dan mematikan lampu belajarnya yang masih menyala.

Setelah ibu keluar, Hyun Soo membuka kembali selimut dan menghela nafas lagi. Tiba-tiba terlintas ide di dalam pikirannya.

Ketika semua orang di rumahnya sudah tidur, pelan-pelan Hyun Soo mengambil semua makanan di dalam kulkasnya, juga sekarung beras, dan kemudian diam-diam meletakkannya di depan rumah Eun Dong.


 

Pagi hari, terdengar suara teriakan ibu membangunkan ayah. Ia mengatakan bahwa mereka semalam kedatangan maling dan maling itu hanya mengambil makanan di kulkas mereka. Awalnya ayah kesal karena pagi-pagi ibu sudah berteriak, tapi sesaat kemudian ia heran kenapa maling itu hanya mengambil makanan di kulkas mereka saja. Ibu memanggil Hyun Ah, adik perempuan Hyun Soo, dan bertanya apakah ia baik-baik saja. Hyun Ah menjawab ia baik-baik saja.

Sementara itu di kamar, Hyun Soo masih tertidur dengan senyum bahagia.

Hyun Soo duduk di depan pintu gerbang rumahnya dan mencoba merusak sepatunya. Hyun Soo terlalu asik menggosok sepatunya ke lantai yang kasar sampai-sampai tidak sadar ibunya sudah berdiri di dekatnya.

“Eomma?”.

Ibu bertanya apa yang dilakukan oleh Hyun Soo. Hyun Soo tidak menjawab dan pelan-pelan memakai kembali sepatunya. Ibu memukul Hyun Soo karena merusak sepatunya yang masih bagus. Cepat-cepat Hyun Soo kabur. Ibu masih saja berteriak, memarahi Hyun Soo. Ia tidak tahu seberapa banyak lagi ia harus berdoa agar Hyun Soo sadar.

Hyun Soo balik dan berkata, “Eomma, mian”. Lalu kabur lagi. LOL.

Pendeta memberikan sebuah kotak pada Eun Dong. Eun Dong keluar dari gereja dan Hyun Soo berjalan tidak jauh dibelakangnya.

Hyun Soo memanggil, “Eun Dong-a”.

Eun Dong berhenti dan berbalik. Melihat Eun Dong membawa kardus yang cukup besar, Hyun Soo langsung mengambilnya dari tangan Eun Dong. Eun Dong menolak bantuan Hyun Soo, ia merasa malu. Hyun Soo memaksa, ia tidak mau lengan Eun Dong menjadi sakit. Lalu ia melihat kertas yang ditempel diatas kardus bertuliskan, “Berbagi untuk Semuanya”.

Hyun Soo sedikit terkejut. Tapi kemudian ia mengatakan, “Seoang gadis tidak boleh membawa barang yang berat”.

Eun Dong masih mencoba menolak bantuan Hyun Soo. Ia mengizinkan Hyun Soo membawa kotak itu sampai di ujung sana saja.

“Apa rumahmu di sana?”, tanya Hyun Soo.

“Bukan begitu”. Wajah Eun Dong terlihat tidak nyaman.

“Kalau begitu aku akan membawakan sampai ke rumahmu. Tunjukan saja jalannya”.

Sambil berjalan, Hyun Soo memberitahukan bahwa ia tidak membolos sekolah, hari ini sekolahnya memang libur karena memperingati hari ulang tahun sekolah. “Araso”, jawab Eun Dong singkat.

Hyun Soo menanyakan apakah Eun Dong melihatnya sedang berusaha bersikap baik pada Eun Dong. Eun Dong diam tidak menjawab. Hyun Soo meneruskan, ia merasa sangat berterima kasih dan berhutang pada Eun Dong. Jika ia tidak membantu Eun Dong, maka ia akan merasa sangat bersalah. Jadi Hyun Soo mengizinkan Eun Dong menyuruhnya melakukan apa pun yang Eun Dong inginkan.

Eun Dong tersenyum mendengar ucapan Hyun Soo.

Mereka tiba di depan rumah Eun Dong. Eun Dong masih berusaha mencegah Hyun Soo untuk tidak masuk ke rumahnya. Ia berusaha mengambil kotak yang dipegang oleh Hyun Soo. Hyun Soo tidak mau dan langsung masuk ke rumah Eun Dong. Wajah Eun Dong terlihat tidak nyaman.

Hyun Soo masuk ke dalam rumah dan bertanya dimana ia letakkan kotak itu. Eun Dong menyuruhnya meletakkan di lantai dapur. Tiba-tiba dari dalam terdengar suara nenek yang bertanya siapa yang datang.

Eun Dong terdiam. Hyun Soo membuka pintu yang memisahkan antara dapur dan kamar tidur. Ia memberi salam dan membungkukkan kepalanya pada nenek. Hyun Soo terdiam karena mencium bau yang tidak sedap.

Wajah Eun Dong bertambah tidak enak bercampur malu.

Kemudian terlihat Hyun Soo membantu Eun Dong mencuci. Hyun Soo menginjak-injak kain di dalam ember, sedangkan Eun Dong duduk agak jauh sambil menggosok pakaian di atas papan. Hyun Soo terlihat bahagia, ia merasa ini sangat menyenangkan. Hyun Soo tidak sadar Eun Dong terus memperhatikannya sambil tersenyum. Eun Dong langsung mengalihkan pandangannya ketika Hyun Soo melihat ke arahnya.

Hyun Soo keluar dari ember dan berjalan mendekati Eun Dong. Ia mengajak Eun Dong mencuci bersamanya di dalam ember. Jadilah, Eun Dong dan Hyun Soo berdiri bersisian di dalam ember sambil menginjak-injak kain.

“Apakah orang tuamu tidak ada di rumah?”

“Tidak”.

“Dan nenekmu sakit?”

“Hmm”. Eun Dong menganggukkan kepalanya.

Hyun Soo terkejut, jadi selama ini Eun Dong melakukan semuanya sendiri?

Eun Dong tersenyum lalu mengatakan bahwa selama ini ada nyonya pemilik rumah dan unni, juga pendeta dan suster. Eung Dong diam sesaat dan meneruskan, “Sekarang… aku memilikimu juga, oppa”. Eun Dong terlihat malu-malu.

Hyun Soo terkejut mendengar ucapan Eun Dong dan tiba-tiba merasa udara sangat panas… LOL.

Selesai mencuci, Hyun Soo makan ramyun bersama Eun Dong dan nenek. Eun Dong memberikan kimchi untuk Hyun Soo dan menyuruhnya memakannya juga. Hyun Soo berdehem canggung.

Eun Dong menanyakan bagaimana rasa kimchi itu. Hyun Soo mengatakan kimchinya terasa seperti kimchi. Eun Dong merasa rasa kimchi itu familiar. Nenek juga merasa rasa kimchi itu sangat enak. Hyun Soo tersenyum, mengangguk canggung. Ya iyalah, itu kan kimchi dari rumahnya sendiri… Hehe…

Hyun Soo dan Eun Dong duduk di depan sebuah toko sambil memakan es krim. Sesekali mereka saling melirik, tersenyum satu sama lain. Tidak sengaja, Eun Dong melihat ke arah sepatu Hyun Soo, dan refleks menggeser kakinya sendiri.

Hyun Soo menyadarinya. Ia memberitahukan Eun Dong bahwa keluarganya sedang mengalami masalah keuangan. Jadi, mereka tidak memiliki cukup uang membeli sepatu untuknya. Lalu Hyun Soo menambahkan, baginya berasal dari keluarga yang miskin bukanlah sesuatu yang memalukan. “Aku berlari lebih cepat daripada anak yang memiliki sneaker yang lebih bagus. Aku benar-benar bisa berlari dengan cepat”, tambah Hyun Soo lagi.

Eun Dong tersenyum mendengar ucapan Hyun Soo. “Jadi, kau tidak boleh kehilangan semangatmu, ya?”.

Eun Dong mengangguk, “Kau juga, oppa”.

Lalu Hyun Soo menanyakan apa impian Eun Dong.

Eun Dong mengatakan ia ingin menjadi aktris.

“Aktis? Kau harus bisa berakting dengan wajah seperti itu”.

Eun Dong tersenyum. Ia mengatakan bahwa menjadi aktris akan membuatnya terkenal dan jika ia terkenal, maka ia bisa mengikuti acara pencarian orang hilang di televisi. Dengan begitu, ia akan bisa mencari ibunya yang hilang. Hyun Soo terdiam mendengar alasan Eun Dong menjadi aktris.

Tiba-tiba seseorang memanggilnya brengsek. Hyun Soo refleks bergeser, melindungi Eun Dong. Mereka adalah orang yang menjual sepeda motor curian pada Hyun Soo. Mereka marah karena Hyun Soo yang melaporkan mereka pada polisi tentang motor curian itu.

Hyun Soo kesal karena mereka mengkhianatinya dengan menjual motor curian padanya. Seharusnya dalam keluarga, tidak boleh mengkhianati. Sekarang bagaimana bisa ia mempercayai mereka lagi. Oleh sebab itulah, ia memutuskan hubungannya dengan mereka. Baginya, mereka itu hanyalah sampah.

“Tapi bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?”, tanyanya lagi, memelas. “Kau tahu kan siapa di atasku?”.

Hyun Soo tertawa dan berdiri menghadap mereka. “Jadi kau melakukan ini karena No Suk Young menyuruhmu?”. Hyun Soo mengatakan jika demikian, ini benar-benar sudah berakhir. Ia meminta temannya itu mengatakan pada Suk Youn untuk berhenti menghisap darah anak-anak. Lalu Hyun Soo memasukkan sisa ice creamnya ke dalam mulut temannya itu dan menarik Eun Dong pergi.

Temannya itu menjadi kesal dan membuang ice cream yang ada di mulutnya. Salah satu dari mereka bertanya siapa anak perempuan yang bersama Hyun Soo.

Setelah agak jauh Hyun Soo memperingatkan Eun Dong untuk berhati-hati jika bertemu dengan mereka lain kali. Dan sebaiknya Eun Dong menghindar dan berlari jika bertemu dengan mereka. “Semua laki-laki itu anjing kecuali aku, mengerti?”.

Eun Dong menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum senang mendengar Hyun Soo mengkhawatirkannya.

Malam hari, Hyun Soo bersama keluarganya sedang nonton drama bersama-sama sambil makan buah. Ibu memuji aktris yang main di drama itu sangat cantik. Hyun Soo membantahnya. Ia bertemu seseorang yang lebih cantik.

“Siapa?”.

“Seseorang…”. Lalu Hyun Soo bangkit dan mengucapkan ‘terima kasih atas buahnya’ dan masuk ke kamarnya.

Hyun Ah heran melihat kakaknya mengucapkan terima kasih, biasanya tidak pernah. Ibu juga heran melihat perubahan Hyun Soo. Ayah tertawa, ia merasa sekarang Hyun Soo sudah semakin dewasa. Ibu merasa sangat bahagia, akhirnya doa yang ratusan kali ia lakukan berhasil. Ibu juga memberitahukan ayah bahwa selama sebulan ini, Hyun Soo tidak pernah membolos sekolah. Ayah tertawa senang.

Di rumahnya, Eun Dong sedang menulis sesuatu. Nenek mengatakan ia tidak bisa tidur dan meminta Eun Dong membacakan cerita untuknya. Eun Dong mengambil buku cerita dan membacakan cerita tentang Nero dan Patra yang tinggal di sebuah tempat bernama Entwoff. Di suatu hari di musim salju, orang-orang di entwoff menemukan Nero dan Patra mati kedinginan di dalam gereja.

Cerita yang mengharukan dan ternyata Hyun Soo juga mendengarkan Eun Dong bercerita dari luar kamar. Ia terlihat tersentuh mendengar cerita itu. Lalu terlihat sneaker baru ada di depan pintu rumah Eun Dong.


Di dalam kelas, Hyun Soo mendengar pelajaran dengan baik. Setelah kelas selesai, guru memuji Hyun Soo karena tidak mengantuk di dalam kelas ataupun membolos. “Apa kau sudah sadar sekarang?”.

Hyun Soo menganggukkan kepalanya canggung. Teman-temannya menertawakannya.

Dengan memakai sepatu barunya, Eun Dong menunggu Hyun Soo di depan gerbang sekolah. Eun Dong merasa malu ketika melihat Hyun Soo berjalan di kejauhan. Hyun Soo belum melihat Eun Dong. Eun Dong menundukkan kepalanya, menunggu Hyun Soo menyapanya.

Setelah dekat, Hyun Soo baru melihat Eun Dong di sana. “Apa kau datang untukku?”

Eun Dong mengangkat wajahnya, dan tersenyum malu-malu. “Wah, aku tersentuh”, ucap Hyun Soo lagi. Eun Dong berterima kasih atas sepatu yang diberikan oleh Hyun Soo. Hyun Soo mengatakan Eun Dong tidak perlu datang sejauh ini hanya untuk mengucapkan terima kasih padanya.

Eun Dong berjanji ia akan terus memakai sepatu itu sampai umurnya 20 tahun.

Hyun Soo tertawa. Apa Eun Dong berharap ia tetap menjadi anak kecil di usia 20 tahun? “Kau harus tumbuh juga”. Eun Dong tersenyum. Lalu Hyun Soo mengajak Eun Dong pergi. Hyun Soo melihat pin rambut Eun Dong dan memuji pin itu cantik.

Eun Dong menyentuh pin rambutnya dan tersenyum malu.  Dan kemudian mengikuti langkah Hyun Soo.

Bersambung…

[Sinopsis My Love Eun Dong Episode 1 Part 2]

6 Comments
  1. himachan says

    Lanjut terus ya

    1. kdramastory says

      Siip. Gidaryeo…

  2. Mutskyyy says

    Ceritanya bagus. Ditunggu kelanjutannya. Fighting eonni!

  3. fifienherawati says

    Mksh sdh bikin sinopsisnya

  4. marchia agma says

    Asiikk ada yg buat sinopsis ini, lanjut yaaa eonni sampai akhir makasihh

    1. kdramastory says

      Tdnya agak ragu nulis sinop drama ini, sepertinya ceritanya akan datar aja. Smoga banyak yg suka ya… Biar semangat nulisnya… Ikuti terus ya… gomaweoyo..

Leave A Reply

Your email address will not be published.