Sinopsis My Love Eun Dong Episode 11 Part 1

2

[Sinopsis My Love Eun Dong Episode 10 Part 2]

Sekarang semua ingatan Eun Dong sudah kembali. Apakah Eun Dong mampu tetap berada di sisi Jae Ho? Ataukah ia memutuskan untuk pergi ke sisi Hyun Soo? Ikuti terus ya…
Sinopsis My Love Eun Dong Episode 11 Part 1

Perlahan Jung Eun membuka matanya dan menyadari dirinya sudah ada di rumah sakit. Ia melihat Jae Ho di sampingnya dan teringat lagi ucapan Jae Ho atau lebih tepatnya lagi ancaman Jae Ho sebelum kecelakaan itu terjadi. Di dalam mobil yang melaju kencang, Jae Ho mengatakan padanya bahwa ia akan mengakhiri hidup mereka berdua sekarang juga. Ketika itulah sebuah truk besar menyambar mobil yang ia tumpangi bersama Jae Ho.

Jae Ho baru menyadari bahwa Jung Eun sudah membuka matanya. “Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?”, tanya Jae Ho. Jung Eun memalingkan wajahnya. Jae Ho heran melihat sikap Jung Eun dan bertanya ada apa, dimana dan bagaimana Jung Eun bisa terluka? Tanpa melihat ke arah Jae Ho, Jung Eun berkata ia baik-baik saja. Jae Ho mencoba menyentuh tangan Jung Eun, tapi refleks Jung Eun menarik tangannya, tidak sudi disentuh oleh Jae Ho, “Pergilah. Aku ingin sendiri”.

Akhirnya Jae Ho keluar dari kamar rawat Jung Eun.

=== Flashback ===

Di malam ketika Eun Dong mengepak pakaiannya dan pergi bersama Jae Ho, ternyata sebelumnya Eun Dong mendengar pembicaraan ayah angkatnya di telpon dengan Jae Ho. Pada saat itu ayah menyuruh Jae Ho pergi ke Amerika bersama Eun Dong secepatnya. Tidak terdengar jawaban Jae Ho tapi kemudian ayah berkata ia yang akan bertanggungjawab, jadi Jae Ho pergi saja dengan Eun Dong. “Aku menyuruh kau pergi sebelum sesuatu terjadi, brengs#k!”, desak ayah angkat Jung Eun.

=== Flashback end ===

Jae Ho kembali ke kamar rawat Jung Eun, tapi hanya mendapati tempat tidur Jung Eun sudah kosong. Sementara itu Jung Eun membawa tas yang cukup besar dan pergi dari rumahnya. Ia menyusul Mi Soon yang berlibur di rumah orang tua Dong Kyu.

Eun Ho sedang syuting drama. Setelah sutradara puas, ia menyuruh semua pemain dan kru untuk istirahat. Dong Kyu mendekati dan memayungi Eun Ho, yang kali ini harus syuting di pantai di daerah bagian selatan. Ia memberitahukan Eun Ho bahwa saat ini nona penulis dan sepupunya sedang berada di rumah peristirahatan milik orang tuanya.

“Hanya mereka berdua?”. Hmm, jawab Dong Kyu. Lalu Dong Kyu menceritakan tentang tingkah presiden Cho, ia merasa presiden Cho akan menarik Hyun Bal ke dalam perusahaannya.

Eun Ho tidak begitu tertarik dengan berita tentang Hyun Bal dan Presiden Cho. Ia malah bertanya dimana rumah peristirahatan orang tua Dong Kyu itu. “Di Jebu-do. Kenapa?”, tanya Dong Kyu balik. Eun Ho tidak menjawab.

Hyun Bal sedang di dalam mobil, menunggu staf magang keluar dari tempat les piano. Ia sedang melamun, memikirkan permintaan Seo Ryeong yang ingin ia membantu Seo Ryeong untuk mengoyang yayasan milik Eun Ho. Ia akan memberikan kenaikan gaji 100% jika Hyun Bal mau membantunya. Seo Ryeong ingin melakukan itu karena isi pidato Eun Ho di acara pelantikan Jae Ho tadi. Hyun Bal menghela nafasnya.

Tidak lama kemudian, si staf wanita itu menghampiri mobil Hyun Bal dan menyapanya. Ketika di dalam mobil, ia berkata ia baru saja mendapatkan gajinya dan ingin mentraktir Hyun Bal makan. Awalnya Hyun Bal menolak karena ia sudah makan, tapi karena si staf itu berkata ia belum makan, akhirnya Hyun Bal mau memenuhi ajakannya. Tiba-tiba ponsel Hyun Bal berbunyi, sebelum mengangkat telponnya, ia erdehem, mengatur suaranya. Ternyata itu dari Seo Ryeong yang memintanya menemui Seo Ryeong besok hari. Hyun Bal menyanggupinya dan menutup telponnya.

Lalu Hyun Bal bertanya pada si staf wanita itu, apa yang akan dipilih olehnya jika ia harus memilih antara teman atau uang. Si staf wanita itu menjawab, ia akan memilih mana yang membuatnya lebih bahagia. Hyun Bal tersenyum, setuju dengan jawaban si staf itu, namun sesaat kemudian ia bingung, bagaimana jika ia tidak tahu pilihan mana yang akan membuatnya bahagia. “Kalau begitu, pilih saja pilihan yang lebih sedikit mendatangkan kekecewaan dan kerugian bagimu”, jawab si staf itu santai.

Hyun Bal memuji si staf wanita itu, sepertinya ia sangat pintar ketika di sekolah dulu. “Bagaimana ya. Sayangnya tidak…”, jawab si staf itu sambil tertawa. Hyun Bal juga ikut tertawa bersamanya.

Jae Ho sudah selesai membacakan cerita untuk Ra Il dan tersenyum pada Ra Il yang sudah tidur. Ia keluar dari kamar Ra Il dan menatap tetesan hujan di jendela kaca.

=== Flashback ===

Eun Dong seperti sedang mencari seseorang di jalan. Tiba-tiba dari arah belakang Jae Ho datang dan memeluknya. Dengan cepat Eun Dong melepaskan pelukan Jae Ho. Jae Ho memberitahukan bahwa ia diterima di LA Dogders. “Itu bagus, Oppa. Selamat”, jawab Eun Dong dingin. Jae Ho merasa kecewa dengan sikap dingin Eun Dong. Ia merasa ini mengenai masa depan mereka berdua.

Eun Dong berkata ini mengenai masa depan Jae Ho yang pemain baseball, bukan dirinya. Jae Ho memegang bahu Eun Dong, bertanya ada apa. Eun Dong berkata ia ingin hubungan mereka berdua tetap seperti kakak-beradik, ia ingin Jae Ho menghentikan kebiasaannya datang ke rumahnya tanpa memberitahukan terlebih dahulu.

Jae Ho terkejut. “Hei, Seo Jung Eun! Kenapa kau tiba-tiba begini?”. (Ternyata bagi Jae Ho, tidak ada Eun Dong tapi Jung Eun). Eun Dong menjawab ini bukan tiba-tiba. Eun Dong pamit masuk dengan alasan ia lelah. Jae Ho kesal dan memanggil, “Jung Eun!”. Tapi Eun Dong tidak mempedulikan Jae Ho lagi.

Di hari Eun Dong dan Hyun Soo bertemu di danau, Jae Ho mengawasi mereka dengan tatapan marah dari kejauhan.

Lalu entah bagaimana, Eun Dong berada di dalam mobil bersama Jae Ho. Eun Dong meminta pada Jae Ho untuk melepaskannya. Jae Ho tidak mempedulikan permintaan Eun Dong. Ia bertanya apakah Eun Dong tidur dengan si brengsek itu. Eun Dong menjawab dengan jujur, iya. Eun Dong berkata saat ini Jae Ho sudah memiliki segalanya, ia bisa mengencani gadis manapun. Jae Ho menahan tangisnya yang akan meledak, ia membentak Eu Dong, menyuruhnya menutup mulutnya.

“Katakan padaku, aku atau si bangsat itu!”, teriak Jae Ho. “Ayo, kita akhiri saja semuanya di sini, kau dan aku”, ucap Jae Ho lagi.

=== Flasback End ===

Jae Ho dan Jung Eun sama-sama sedang mengingat kejadian terakhir itu. Jae Ho meremas pesan yang ditulis Jung Eun di post-it dan membuangnya dengan kesal. Sementara itu, Jung Eun memejamkan matanya, mengingat pembicaraannya dengan Eun Ho di dalam mobil saat ia bertanya kenapa Eun Ho tidak bisa melupakan gadis itu.

Eun Ho juga sedang memikirkan Eun Dong. Ia teringat ketika mereka berdua pergi dan menginap beberapa hari di pantai. Di hubungan mereka mejadi sangat dekat dan membuat Eun Ho sama sekali tidak bisa melupakan Eun Dong.

Eun Ho mengambil ponselnya, membaca kembali pesan-pesan yang pernah Jung Eun kirimkan padanya. Tiba-tiba Jung Eun menelponnya. Eun Ho sempat terkejut dan sesaat kemudian ia mengangkat telponnya dengan perlahan. Eun Ho menjawab telponnya :

“Halo?”

Tidak ada jawaban. Hanya terdengar isak tangis.

“Halo?”

“Oppa. Hyun Soo oppa”.

Eun Ho terkejut. “Eun Dong-a”.

“Oppa. Hyun Soo oppa”.

Eun Ho langsung menutup telponnya dan berlari keluar kamar. Dong Kyu menghalangi Eun Ho yang akan pergi sendiri. Ia yang akan menyetir, desak Dong Kyu. Eun Ho menatap tajam pada Dong Kyu, akhirnya Dong Kyu menyerah dan membiarkan Eun Ho pergi sendirian ke tempat Jung Eun.

Ketika dalam perjalanan menuju tempat Jung Eun, Eun Ho tersenyum tipis. Ia yakin Jung Eun sudah mengingat semuanya, jika tidak bagaimana bisa Jung Eun memanggilnya Hyun Soo oppa. Sementara itu, di rumah peristirahatan orang tua Dong Kyu, Eun Dong menunggu Hyun Soo sambil menangis. Ia memejamkan matanya, mengkhawatirkan Hyun Soo karena di luar hujan turun sangat lebat ditambah lagi dengan petir.

Di rumah, Jae Ho juga terlihat khawatir. Ia sangat gelisah, merasakan sesuatu akan terjadi.

Di tempat lain, Dong Kyu mengkhawatirkan Eun Ho. Ia menelpon Eun Ho tapi ponsel Eun Ho tidak bisa dihubungi. Lalu ia menghubungi ponsel Mi Soon. Mi Soon yang sedang tidur dengan pulas, sama sekali tidak mendengar suara ponselnya.

Sekarang Eun Dong terlihat lebih tenang. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah pintu kamar. Ketika melewati jendela, ia melihat Hyun Soo sudah tiba dan menunggunya di bawah. Eun Dong keluar dan berdiri di balkon lantai dua. Menatap Hyun Soo dan tersenyum lega, begitu juga dengan Hyun Soo. Eun Dong turun ke bawah dan keluar tanpa alas kaki.

Eun Dong berlari dan memeluk Hyun Soo dengan erat. Begitu juga dengan Hyun Soo. Ia memeluk Eun Dong sangat erat dan kemudian menciumnya. Lalu mereka berdua pergi bersama dengan memakai mobil Hyun Soo dan berhenti di suatu tempat. Mereka menghabiskan malam bersama-sama di sana. (Hmmm… ini bahaya. Jangan dicontoh ya… ).

Di rumah, Jae Ho tidur dengan gelisah, ia seperti bermimpi buruk dan terbangun tiba-tiba. Tubuhnya tersentak sampai salah satu kakinya yang lumpuh terjatuh dari atas tempat tidur.


Pagi harinya, Mi Soon baru terbangun. Ia bingung melihat Jung Eun yang tidak ada di sampingnya. Ia membuka ponselnya dan mendapati banyak sekali orang yang menelponnya semalam.

Lalu tiba-tiba sebuah panggilan masuk, Jae Ho menelponnya. Masih setengah mengantuk, Mi Soon menjawab telponnya. Jae Ho bertanya apakah Mi Soon bersama Jung Eun. “Tidak. Sepertinya dia di kamar mandi. Ada apa?”, tanya Mi Soon.

“Seorang suami mencari istrinya, apakah perlu alasan khusus?”, tanya Je Ho tajam. Min Soon tertawa sumbang. Ia berjanji akan memberitahukan Jung Eun. Jae Ho memastikan sekali lagi agar Mi Soon harus memberitahukan Jung Eun untuk menelponnya, karena ia merindukan Jung Eun. Mi Soon berjanji.

Jae Ho dan Ra Il sarapan bersama. Ra Il meminta izin pada ayahnya untuk menginap di rumah Mi Na. Jae Ho kurang setuju, sebaiknya Mi Na saja yang menginap di rumah mereka. Ra Il berkata tidak bisa karena saat ini ibu sedang pergi berlibur.

Jae Ho tersenyum tipis, ia bertanya apakah Ra Il begitu suka pada Mi Na. Bukan begitu, jawab Ra Il. Ia hanya merasa sesuatu jika melihat Mi Na. Ia merasa nasib Mi Na jauh lebih menyedihkan dibandingkan dirinya. Saat ini, ayahnya bertambah baik, sedangkan ayah Mi Na sudah tidak ada lagi. Ia hanya ingin bersikap baik pada Mi Na.

Jae Ho tersenyum, ia memuji putranya yang sangat keren. “Anak siapa dulu? Anak dari seorang pitcher yang meraih juara selama 4 tahun berturut-turut Choi Jae Ho, Choi Ra Il”, ucap Ra Il, memuji ayahnya.

Jae Ho tertawa. “Lalu apakah dokter akan menjemputmu?, tanya Jae Ho pada Ra Il. Ra Il berkata ia akan naik subway, jika ia naik jurusan 4 atau 5, ia hanya memerlukan waktu 3 menit berjalan kaki untuk tiba di rumah Mi Na. Jae Ho tidak mengizinkan Ra Il pergi naik subway, belum saatnya Ra Il naik subway sendirian, ia menyarankan Ra Il untuk naik taksi saja. “Ibu bilang aku boleh naik subway. Ibu tidak begitu menyukai taxi. Dia tidak menyukai mobil yang ada kursi penumpang. Itu sebabnya ia selalu naik subway”, jawab Ra Il. Jae Ho tertegun mendengar ucapan Ra Il.

Di dalam mobil, Eun Ho masih tidur sambil mengenggam tangan Jung Eun. Jung Eun menatap Eun Ho dan menyentuh wajah Eun Ho. Eun Ho terbangun dan tersenyum pada Jung Eun, begitu juga sebaliknya. Jung Eun bertanya apakah Eun Ho tidur dengan nyenyak. Eun Ho menganggukkan kepalanya. EJung Eun memberitahukan bahwa ponsel Eun Ho terus berbunyi dari tadi. Ia yakin Eun Ho datang ke tempatnya di tengah syuting, jadi sebaiknya Eun Ho cepat pergi.

“Aku tidak mau bekerja”.

“Cepat pergi”.

Eun Ho tersenyum. “Aku tahu. Haruskan kita pergi bersama?”

Jung Eun tersenyum. “Jangan keras kepala”.

Jung Eun akan bangun tapi Eun Ho menahannya. “Tinggallah 10 menit lagi dan kemudian pergi”. Jung Eun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Kita makan apa ya?”

“Apa kau masih punya waktu untuk itu? Cepat pergi”.

Eun Ho tersenyum, menatap Jung Eun dan memberi ciuman singkat pada Jung Eun.

“Oppa. Terima kasih. Karena telah menungguku begitu lama”.

“Katakan lagi”.

“Terima kasih karena telah menungguku”.

“Bukan itu. Yang sebelumnya…”

Jung Eun berpikir sejenak, lalu berkata, “Oppa…”.

Eun Ho tersenyum bahagia. “O… Aku akan gila. Aku sangat menyukai ketika kau memanggilku ‘oppa'”.

“Seperti biasa kau sangat tampan”.

Eun Ho tersenyum dan mencium punggung tangan Jung Eun. Ia melongok melihat jam yang ada di mobil. “Aku benar-benar tidak ingin pergi bekerja”.

Jung Eun tersenyum menyuruh Eun Ho cepat pergi. Lalu ia bangun dan berkata, “Jika kau seperti ini, aku akan merasa kecewa”.

“Aku tahu. Aku ‘kan tidak bilang aku tidak akan pergi?”.

“Oppa, kau masih sama seperti dulu”.

“Apanya?”

“Kau selalu membuang-buang waktu. Bukankah aku sudah bilang kau harus rajin dan tulus?”

Eun Ho tersenyum dan bangun, “Dan kau masih sama, sok dewasa… Baiklah aku akan pergi”. Eun Ho mencubit gemas pipi Jung Eun. Jung Eun tertawa senang.

Eun Ho mengantarkan kembali Jung Eun sampai ke rumah peristirahatan. Tidak hanya itu ia juga turun dari mobil dan mengantarkan Jung Eun sampai ke halaman depan sambil menggenggam tangan Jung Eun. “Aku akan pergi”, pamit Eun Ho.

“Ya”, jawab Jung Eun, suaranya bergetar menahan tangis. Eun Ho masih belum melepaskan tangan Jung Eun. “Pergilah”. Eun Ho menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, tapi masih belum melepaskan tangan Jung Eun.

Jung EUn membersihkan baju Eun Ho. Ia mengingatkan Eun Ho untuk makan yang baik walaupun ia terlambat syuting. Tidak boleh hanya makan kimbap saja, tapi makan sesuatu yang baik untuk kesehatan, jangan hanya makan makanan yang manis, tapi makan makanan yang asam juga. Eun Ho hanya menganggukan kepalanya dan menjawab ‘Hmmm’ saja. Lalu Jung Eun menyuruh Eun Ho untuk cepat pergi.

Sekarang Eun Ho malah meraih tangan Jung Eun yang satunya lagi. Ia berkata ia takut ini hanyalah mimpi. Jung Eun tersenyum dan berkata tidak, ini bukan mimpi, ia juga baru saja mencubit lengannya sendiri tadi.

Eun Ho tersenyum. Sekarang, giliran Eun Ho yang mengingatkan Jung Eun untuk makan yang baik. Jung Eun menganggukkan kepalanya. Jangan makan terburu-buru, Jung Eun harus mengunyah paling sedikit 15 kali, karena Jung Eun semalam kehujanan, Jung Eun tidak boleh kena angin dingin. Sama seperti Eun Ho tadi, Jung Eun hanya menganggukkan kepalanya dan ber’hmm’ saja. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.

“Aku akan pergi”, pamit Eun Ho lagi. Lalu ia memeluk Jung Eun. “Jangan menghilang lagi, kau mengerti?”. Setelah Jung Eun menganggukkan kepala, Eun Ho baru melepaskan pelukannya dan mengenggam kedua tangan Jung Eun lagi. Ia berpamitan lagi pada Jung Eun. LOL. Kapan perginya nih???.

Eun Ho baru benar-benar melepaskan tangan Jung Eun dan berjalan menuju mobilnya. Namun, Jung Eun kembali memanggilnya. Mengingatkannya supaya menyetir dengan hati-hati. Eun Ho menganggukkan kepalanya.

“Benar-benar berhati-hati ya?”.

“Ya. Benar-benar-benar-benar berhati-hati”.

“Jangan menjawab telpon ketika menyetir, mengerti?”

“Aku mengerti. Benar-benar-benar-benar tidak menjawab telpon”, janji Eun Ho lagi.

Lalu Eun Ho berbalik, berjalan ke mobilnya. Sesaat kemudian berbalik lagi melihat Jung Eun dan melambaikan tangannya. Jung Eun membalas, melambaikan tangannya. Eun Ho berjalan lagi, namun sesaat kemudian berbalik lagi melambaikan tangannya pada Jung Eun. Semakin dekat ke mobilnya, wajahnya semakin keruh, ia terlihat sangat enggan berpisah dengan Jung Eun. Akhirnya Eun Ho masuk ke mobilnya dan benar-benar pergi ke lokasi syutingnya.

Bersambung…

[Sinopsis My Love Eun Dong Episode 11 Part 2]

2 Comments
  1. Alia says

    Mbak, itu kayaknya adegan yang si Jung Eun bobo bareng ama Hyun Soo tuh mimpinya Jae Ho yaaa????
    Soalnya latar belakangnya seprei warna merah gitu dan tempatnya luas banget. Masa iyaaa, mobil yang sesempit itu tiba2 berubah jadi luas :p

    1. kdramastory says

      Hmmm… make sense. Kayaknya bener kata Lia. Sepertinya itu memang mimpinya Jae Ho, soalnya malam itu ‘kan dia bener-bener gelisah, mungkin karena terlalu berpikir macam2 dia jadi mimpi buruk… Thanks Lia. G terlalu merhatiin detailnya kemarin..

Leave A Reply

Your email address will not be published.