Sinopsis My Love Eun Dong Episode 9 Part 1

0

[Sinopsis My Love Eun Dong Episode 8 Part 2]

Akhirnya, Eun Ho tau Jung Eun sudah mengetahui bahwa dirinya adalah Eun Dong. Eun Ho sangat senang walaupun Jung Eun belum bisa mengingat semua kenangan mereka. Lalu apa yang dilakukan Eun Ho untuk mengembalikan ingatan Jung Eun? Yuk ikuti terus…
Sinopsis My Love Eun Dong Episode 9 Part 1

Ketika Eun Ho dan Jung Eun berjalan sambil berpegangan tangan, sekretaris Seo Ryeong memotret mereka dari balik pohon.

Sampai di ujung jalan, Jung Eun melepaskan tangannya dari genggaman Eun Ho.

“Disini tempatnya… Tempat aku dan Eun Dong pertama kali berciuman”. Jung Eun melihat ke tempat itu, tapi tidak ada apa-apa di sana. Eun Ho mengatakan dulunya di sana ada sebuah box telpon umum, tapi sepertinya sekarang sudah tidak ada lagi. Jika orang-orang tau ini tempat Ji Eun Ho dan Eun Dong pertama kali berciuman, mereka pasti tidak akan membuangnya. “Sangat disayangkan…”.

Jung Eun hanya diam, tidak berkomentar.

Lalu Eun Ho melihat ke arah Jung Eun, menggodanya dengan bertanya, tahukah Jung Eun bagaimana miripnya Eun Dong dengan rubah pada waktu itu. Jung Eun memandang Eun Ho tidak mengerti. “Dia merayuku!”.

Eun Ho menggoda Jung Eun. Ia berkata saat itu dia benar-benar polos, jantungnya berdetak sangat kencang ketika ia mencoba meraih tangan Eun Dong. Eun Ho merasa kejadian saat itu sudah direncanakan oleh Eun Dong, ia datang menemuiku.

Jung Eun menjadi sewot, “Itu tidak benar. Jangan menuduh orang yang tidak bersalah melakukan itu…”

Eun Ho senang. Ia bertanya apakah ingatan Jung Eun mulai kembali. Tapi Jung Eun berkata bukan seperti itu. Ia hanya merasa Eun Dong tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Eun Ho tidak mau kalah. Bukannya ia sudah menceritakannya lewat rekaman? Waktu itu Eun Dong berkata :

Oppa, kau boleh mengeluarkan semuanya.

Eun Ho menganggap bahwa perkataan itu sama saja artinya dengan Eun Dong merayunya.

Tapi Jung Eun merasa mungkin itu tidak apa-apa dikatakan di saat itu. “Lalu bagaimana dengan sekarang?”, tanya Eun Ho. Yeee… maunya ya…

Jung Eun terkejut.

“Apa aku tidak boleh mengeluarkan semuanya sekarang?”, tanya Eun Ho lagi.

Jung Eun tidak mau menanggapi ucapan Eun Ho. Menurutnya saat ini yang mereka bicarakan adalah Eun Dong, bukan dirinya.

Eun Ho bertanya apakah Jung Eun merasa lega setelah mengatakan seperti itu. Eun Ho berpikir, walaupun saat ini Jung Eun belum mengingat apa pun, ia ingin mengajak Jung Eun memulainya dengan Jung Eun inisaja, karena saat ini Jung Eun sudah mengetahui bahwa dirinya adalah Eun Dong. Hehe… Eun Ho sudah tidak sabar lagi..

Eun Ho meminta Jung Eun untuk tidak berbicara seperti itu lagi, berbicara seolah-olah ia bukanlah Eun Dong, padahal Jung Eun dan Eun Dong adalah orang yang sama.

“Ah, sepertinya kau belum mengerti situasiku karena itu bukanlah masalahmu. Bagiku, Eun Dong belum begitu familiar. Kau mengerti?”, ucap Jung Eun kesal.

Melihat Jung Eun kesal, Eun Ho malah bertambah menggodanya. “Kau marah? Jangan seperti itu… Aku hanya…”

“Aku tidak marah. Apa kau pikir aku ini kau?”, potong Jung Eun.

Eun Ho mendengus, tertawa, bertanya apa maksud ucapan Jung Eun. Apa menurut Jung Eun ia orang yang mudah kesal?

Dengan tenang Jung Eun berkata sepertinya ucapannya tadi memang mengganggu Eun Ho. (Artinya memang benar Eun Ho mudah kesal. Buktinya Eun Ho terpancing emosinya karena ucapannya tadi.)

“Mengganggu?”, Eun Ho tertawa, tapi dari nadanya ia memang terdengar kesal. Lalu ia mencoba menjelaskan, sayangnya Jung Eun tidak mau memndengarkannya dan pergi, dengan senyum yang dikulum…

Eun Ho memandang Jung Eun, dan tersenyum senang.

Kemudian Eun Ho membawa Jung Eun ke sebuah restoran. Masih dengan dandanan yang sama, jaket hitam dengan penutup kepala dan kacamata hitam. Walaupun begitu beberapa orang masih bisa mengenalinya dan berbisik-bisik menyebutkan nama Ji Eun Ho.

Eun Ho melihat ke arah yang lain, sambil memberitahukan Jung Eun bahwa restoran itu adalah tempat yang biasa ia dan Eun Dong kunjungi. “Kaldu di sini luar biasa…”. Lalu Eun Ho mengajak Jung Eun duduk di tempat yang kosong.

Setelah makanannya datang, Eun Ho mengatakan pada Jung Eun bahwa ia akan melakukan seperti yang dulu ia lakukan bersama Eun Dong. “Karena itu mungkin akan membantumu mengembalikan ingatanmu”.

“Aku akan memakan semangkuk penuh nasi”, beritahu Jung Eun.

“Aku tahu…”. Eun Ho mengambilkan sup yang masih panas untuk Jung Eun lalu meniup uap panasnya dengan telaten. Jung Eun terpana melihat apa yang dilakukan Eun Ho untuk Eun Dong. Eun Ho melihat sekilas ke arah Jung Eun dan tersenyum lalu kembali meniup sup yang masih panas untuk Jung Eun.

Setelah uap panasnya sudah menghilang, Eun Ho meletakkan sup itu dan semangkuk nasi di depan Jung Eun. “Makanlah sekarang”.

Jung Eun terlihat tersentuh dengan perhatian Eun Ho. Ia bertanya kenapa Eun Ho tidak makan juga.

“Aku akan syuting malam ini”. Karena scene yang akan diperankannya adalah makan di tengah malam, makanya ia harus mengosongkan perutnya, supaya ia bisa syuting dengan baik.

Jung Eun mulai menyendokkan sup dan kemudian nasi ke dalam mulutnya. Eun Ho memperhatikan Jung Eun. Ada kesedihan yang tersirat di dalam matanya. Lalu tiba-tiba Jung Eun terkejut, Eun Ho menyematkan sebuah cincin ke jari manisnya.

“Kau tahu cincin apa ini, kan?”. Jung Eun tertegun melihat cincin itu. “Aku bekerja benar-benar keras untuk mendapatkannya. Dan kemudian kau menghilang begitu saja”.

Jung Eun masih tertegun, tidak menyangka Eun Ho benar-benar menemukannya. Awalnya ketika ia mendengar cerita di rekaman itu, ia berpikir Eun Ho berbohong.

Eun Ho hanya tertawa kecil, dan menyuruh Jung Eun segera menghabiskan makanannya karena akan segera dingin.

Jung Eun menyendokkan kembali sup dan nasinya. Tapi wajahnya terlihat akan tangis. Jung Eun benar-benar tidak menyangka besarnya pengorbanan Eun Ho untuk Eun Dong (untuk dirinya, tepatnya).

Eun Ho tertawa melihat Jung Eun yang menyendokkan nasi besar-besar. Ia menyuruh Jung Eun untuk perlahan saja. “Eun Dongku biasanya akan sakit perut dengan sangat mudah”.

Jung Eun tidak mengatakan apa pun, ia melihat ke arah Eun Ho dan munundukkan lagi kepalanya.

Lalu tiba-tiba ponsel Jung Eun berbunyi. Dong Kyu mengirimkan sms bertanya apakah hyungnya ada bersama Jung Eun. Jika iya, ia memohon agar Jung Eun mau mengirimkannya ke lokasi syuting karena keadaan benar-benar kacau sekarang.

Jung Eun terkejut dan memperlihatkan sms itu pada Eun Ho. Ia menyuruh Eun Ho cepat pergi. “Kenapa bisa kau bekerja seperti ini?”

Eun Ho hanya tersenyum dan meletakkan kembali ponsel Jung Eun. Eun Ho heran melihat Jung Eun yang kembali makan. “Kenapa kau masih makan? Bukannya kita harus cepat pergi?”

Dengan santai Jung Eun menjawab, “Ini pemborosan. Lagipula aku juga sudah mulai makan…”. Eun Ho tertawa dan menatap Jung Eun sayang.

Seo Ryeong sedang membaca buku di meja kerjanya ketika sebuah sms masuk ke ponselnya. Sekretarisnya mengirimkan beberapa foto yang menunjukkan Eun Ho dan Jung Eun saling berpegangan tangan.

Seo Ryeong menghela nafasnya.

Kemudian ternyata Seo Ryeong mengirimkan salah satu foto itu ke Hyun Ah. Hyun Ah menghela nafasnya, ia terlihat khawatir.

Di rumahnya, Jae Ho mencoba membuka kran air sendiri dan kemudian membasuh wajahnya. Ia terlihat bahagia karena tangan kanannya bisa sedikit digerakkan. Setelah menepukkan pelembab ke wajahnya, ia mencoba meletakkan kembali botol pelembab ke atas bufet dengan tangan kanannya. Ia tersenyum bahagia melihat kemajuan penyembuhan lengan kanannya.

Jae Ho melongok ke kamar Ra Il, ia melihat Ra Il sudah tidur dengan pulas. Dengan perlahan, ia membuka pintu dan keluar dari apartemennya. Ternyata Jae Ho akan pergi ke taman bermain yang ada di dekat apatemennya. Tapi di tengah jalan ia mendapatkan telpon dari Hyun Ah. Hyun Ah menanyakan apa yang akan dilakukan oleh Jae Ho Sabtu besok. Hyun Ah mengajak Jae Ho dan keluarganya berpiknik bersamanya dan Mi Na.

Jae Ho tersenyum senang dan ketika akan menjawab, tiba-tiba ia melihat Jung Eun pulang diantarkan oleh Eun Ho dengan mobil. Wajahnya langsung berubah, terkejut, kecewa. Ia melihat Eun Ho membukakan pintu untuk Jung Eun. Matanya memerah, akan menangis.

Sementara itu di ujung telpon, Hyun Ah berbicara, mengatakan bahwa menurutnya besok cuaca akan cerah dan ia yang akan menyiapkan makanannya.

“Apa anda pikir kami bisa melakukannya?”, suara Jae Ho menjadi sangat pelan, setengah berbisik menahan tangis.

Hyun Ah merasa perubahan suara Jae Ho, “Jae Ho-ssi! Apkah sesuatu terjadi?”

“Dokter…”, bisik Jae Ho gemetar. “Jung Eun bersama dengan pria lain”. Hyun Ah menunduk sambil memejamkan matanya, ia bisa menduga siapa yang dilihat oleh Jae Ho, karena Seo Ryeong baru saja mengirimkan pesan gambar Jung Eun bersama oppanya, Eun Ho. “Tapi… aku merasa aku akan gila. aku tidak bisa membenci Jung Eun”, sambung Jae Ho lagi. Air mata menggenang di pelupuk matanya.

Eun Ho mengantar Jung Eun sampai ke jalan yang tadi Jae Ho berdiri. Eun Ho berkata malam ini ia akan tidur nyenyak. Dan kemudian tertawa kecil, Jung Eun juga tersenyum.

Beberapa saat kemudian, Jung Eun menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Eun Ho, “Pergilah”, ucapnya mempersilahkan Eun Ho pulang.

Eun Ho tersenyum. “Kau masuk lebih dulu”.

“Baik. Hati-hati ya di jalan”. Eun Ho menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Eun Ho memandang punggung Jung Eun yang menjauh beberapa saat, kemudian berbalik pergi. Tidak jauh dari mereka, terlihat Jae Ho yang menangis sambil menutup mulutnya dengan kuat.

Jung Eun sudah tiba di apartemennya. Tanpa mengganti bajunya, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan kran air, dan duduk di toilet sambil mengelus cincin yang tadi dikembalikan oleh Eun Ho. Jung Eun mengatur nafasnya beberapa kali, ia seperti merasa bersalah.

Sekretaris Seo Ryeong masuk ke ruang kerja Seo Ryeong. Seo Ryeong sudah menunggunya. Ia tampak gusar. Begitu sekretarisnya berdiri di depannya, ia langsung menamparnya. “Kau menyukaiku?”. Sekretaris itu diam, menatap Seo Ryeong sesaat lalu menundukkan kepalanya. “Benarkah? Kenapa kau bersikap seperti ini?”.

Sekeretaris itu mengangkat kepalanya, memandang Seo Ryeong. Ia meminta Seo Ryeong membuang pria itu. “Dia tidak mencintai anda”.

“Kau tau saat ini kau sudah melewati batas?”.

Sekretaris itu memberi alasan bahwa ia hanya tidak ingin melihat Seo Ryeong berubah karena pria itu. “Sebagai gantinya aku akan menjadi orang yang jahat. Sebagai gantinya… aku akan menjadi orang yang kotor”. Baginya yang perlu dilakukan oleh Seo Ryeong cukup berpura-pura tidak melihatnya saja.

Seo Ryeong terlihat sedikit terguncang. “Aku kira kau menganggap aku wanita bagimu”.

“Maafkan aku”, si sekretaris itu menundukkan kepalanya.

Seo Ryeong memalingkan wajahnya dan berkata, “Jangan menyukaiku. Hanya karena aku tidur denganmu bukan berarti aku menyukaimu”. Seo Ryeong memutuskan mulai saat ini ia tidak akan menemui sekretaris itu lagi untuk sementara waktu. Ia hanya akan fokus pada pekerjaan saja. “Kau boleh pergi”, perintah Seo Ryeong.

Sekretaris itu menatap Seo Ryeong sekilas lalu berbalik pergi. Seo Ryeong masih terlihat terguncang setelah mendengar pengakuan sekretarisnya tadi. Matanya berkaca-kaca.

Jung Eun dan Jae Ho di tempat tidur, berdampingan, tapi suasana antara mereka sangat canggung dan dingin. Jae Ho bertanya besok Jung Eun tidak pergi bekerja, bukan? Ia mengajak Jung Eun untuk berpiknik ke Lake Park bersama dengan keluarga dokter Hyun Ah.

“Besok?”

“Ya. Besok”.

“Baiklah. Ayo kita pergi ke sana. Ayo kita bermain dengan bahagia tanpa banyak pikiran”, sahut Jung Eun. Lalu Jung Eun berbalik, memunggungi Jae Ho dan berkata, “Sungguh menyenagkan”.


Keesokan paginya, Eun Ho terlihat lesu. Dong Kyu datang memberitahukannya bahwa syuting di Pulau Jeju dibatalkan karena ada topan, pihak sutradara memindahkan lokasi syuting ke daerah pantai di bagian selatan. Tapi sampai sekarang mereka belum menemukan lokasi yang cocok jadi Eun Ho harus menunggu pemberitahuan selanjutnya dari mereka.

Eun Ho tidak bereaksi, hanya diam saja.

Lalu Dong Kyu bertanya apakah Eun Ho bertemu dengan penulis itu. Eun Ho hanya ber-hmmm saja. Dong Kyu meminta Eun Ho untuk berhati-hati. Karena satu foto saja dapat membuat karir Eun Ho berakhir.

Eun Ho tidak menjawab. Tiba-tiba ia menyadari apa arti ucapan Dong Kyu tadi. Artinya hari ini ia libur.

Eun Ho keluar ke balkon apartemennya. Ia merasa senang, cuaca hari ini sangat bagus. Dengan cuaca seperti itu, rasanya enak pergi berpiknik. “Makan kimbap, makan ayam… Andai saja aku bisa berlarian sebanyak yang aku inginkan… Betapa menyenangkan…”, gumam Eun Ho.

Dong Kyu mentertawakan Eun Ho. Menurutnya, Eun Ho kan bukan anak kecil lagi…

Tiba-tiba Eun Ho mendapatkan ide dan berbalik pergi. “Hyung! Kemana kau akan pergi?”, teriak Dong Kyu. “Jangan cari aku ya!”, balas Eun Ho, berteriak juga. “Apa?”, Dong Kyu berlari menyusul Eun Ho.

Jung Eun duduk merenung di depan cerminnya. Di depannya ada dua cincin, cincin pernikahannya dan cincin dari Eun Ho. Berpikir, cincin mana yang seharusnya ia pakai. Tangan Jung Eun seperti akan memilih cincin pernikahannya, tapi sesaat kemudian ia ragu. Jung Eun menghela nafasnya beberapa kali.

 

Ra Il berlari sambil memainkan gelembung sabun. Ia menyapa ahjussi yang sudah menunggu mereka di depan apartemen. Jung Eun keluar sambil mendorong kursi roda Jae Ho. Ra Il membuat gelembung sabun di dekat ayahnya. “Kau akan mengotori ayahmu”, tegur Jung Eun. Jung Eun menyuruh Ra Il untuk masuk ke mobil terlebih dahulu.

Dari jauh, terlihat mobil Eun Ho tiba. Ia melihat keakraban antara Jung Eun dan Jae Ho. Ia melihat Jung Eun membersihkan gelembung sabun yang terkena di baju dan celana Jae Ho. Wajahnya mengeras, marah.

Eun Ho marah melihat Jae Ho yang tertawa bahagia pada Jung Eun. Lalu Eun Ho menelpon Jung Eun.

Jung Eun mengambil ponselnya dan melihat, Eun Ho yang menelponnya. Ia melihat ke arah Jae Ho yang sedang dimasukkan ke dalam mobil sekilas lalu menjauh.

Jae Ho memperhatikan Jung Eun. Ia merasa aneh dengan sikap Jung Eun.

“Ini aku. Ayo bertemu. Syutingku dipindahkan hari ini”, ucap Eun Ho begitu Jung Eun menerima telpon darinya.

Dengan suara pelan, Jung Eun menolak ajakan Eun Ho. Ia harus pergi ke suatu tempat bersama dengan keluarganya sekarang.

“Pergi denganku!”, desak Eun Ho.

“Aku tidak bisa”.

“Aku… aku perlu bersamamu”.

Jung Eun menghela nafasnya. Ia berkata bahwa ia akan menghubungi Eun Ho nanti.

Eun Ho melihat Jung Eun masuk ke dalam mobil dan mengikuti mobil Jung Eun yang mulai bergerak.

Jung Eun tiba di taman. Ra Il terlihat gembira. Mengajak kedua orang tuanya untuk cepat. Di sisi jalan yang lain, terlihat mobil Eun Ho. Eun Ho membuka jendela mobilnya, menatap Jung Eun dan Jae Ho yang berjalan beriringan dengan pandangan marah.

Eun Ho menelpon Jung Eun lagi.

Jung Eun berhenti untuk mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, sementara Jae Ho terus berjalan mengikuti Ra Il. Setelah mengetahui siapa yang menelponnya, Jung Eun melihat ke arah Jae Ho sekilas. Diam-diam ia menerima telpon dari Eun Ho.

“Halo?”

“Aku ingin bertemu denganmu. Aku ada di tempat parkir. Aku akan menunggumu”.

Jung Eun menoleh ke sekelilingnya. “Jung Eun, cepatlah kesini”, ucap Jae Ho sambil menoleh ke belakang. Wajah Jae Ho berubah, ia melihat Jung Eun menerima telpon lagi.

“Oh, aku harus pergi ke suatu tempat sebentar. Aku akan segera kembali”, jawab Jung Eun sedikit gugup

Jung Eun berbalik dan akan pergi. “Jung Eun”, panggil Jae Ho. Jung Eun berhenti dan berbalik lagi menghadap Jae Ho. Tapi Jae Ho hanya diam saja, tidak tahu mau mengatakan apa. Lalu Jae Ho pun meneruskan jalannya, sambil memanggil-manggil Ra Il.

Eun Ho terlihat tidak sabar menunggu Jung Eun. Begitu melihat Jung Eun keluar dari taman, ia langsung keluar dari mobilnya.

Jung Eun melihat Eun Ho berdiri di depannya, di seberang jalan. Eun Ho menyeberang jalan dan berdiri di depan Jung Eun. Mereka saling bertatapan. Tanpa babibu, Eun Ho langsung menarik tangan Jung Eun. Jung Eun bersikeras, tidak mau ikut.

Eun Ho berpaling, menatap Jung Eun tajam. Dan menarik tangan Jung Eun lagi. Dan Jung Eun pun pasrah, mengikuti keinginan Eun Ho.

Sementara itu, Jae Ho dan Ra Il sudah bertemu dengan Hyun Ah dan Mi Na. Hyun Ah menyapa Jae Ho, berbasa basi tentang cuaca yang bagus dan kemudian Hyun Ah bertanya dimana Jung Eun.

“Dia berkata dia harus pergi ke suatu tempat sebentar”, jawab Jae Ho yang tidak bisa menyembunyikan sedih di wajahnya. Hyun Ah tertegun. “Dia akan datang”, sambung Jae Ho lagi, kali ini wajahnya berubah lebih optimis.

Hyun Ah pun akhirnya tersenyum. Mengambil tikar yang ada di pangkuan Jae Ho dan menyiapkannya untuk keluarga Jae Ho.

Jae Ho dan Hyun Ah duduk bersebelahan. Mereka tersenyum melihat Ra Il dan Mi Na yang bermain bersama. Jae Ho bertanya pad Hyun Ah, tahukah Hyun Ah hal yang pertama kali ingin ia lakukan ketika ia sudah bisa berjalan kembali. Hyun Ah berpaling, melihat ke arah Jae Ho. “Berjalan dengan kaki yang telanjang sepanjang hari”.

“Jae Ho, kau akan bisa berjalan kembali”, ucap Hyun Ah menyemangati Jae Ho sambil tersenyum.

“Jika aku bisa berdiri dan berjalan kembali, apakah Jung Eun akan kembali padaku?”. Senyum di wajah Hyun Ah menghilang. “Jika itu terjadi, aku bahkan akan menjual jiwaku”, sambung Jae Ho.

Lalu Hyun Ah menceritakan ketika pemakaman ayah Mi Na, satu-satunya orang dari keluarganya yang datang hanyalah oppanya saja. Ketika ia menjalani sebuah pernikahan yang ditentang oleh seluruh keluarganya, satu-satunya orang yang mendukungnya adalah oppanya. “Kami bersaudara sangat dekat”.

“Tapi saat ini oppaku itu sedang jatuh cinta yang mendalam. Aku tahu aku harus mendukungnya. Tapi ini tidaklah mudah”.

“Kenapa?”, tanya Jae Ho.

“Karena ini egois”, sahut Hyun Ah. Oppanya terus memikirkan wanita itu tanpa mempedulikan orang lain terluka atau tidak.

Jae Ho merasa begitulah jika seseorang jatuh cinta dan ia sangat mengerti oppanya Hyun Ah itu. Hyun Ah terdiam dan melihat ke arah Jae Ho. “Jung Eun tidak akan kembali lagi, bukan?”. Hyun Ah tidak bisa menjawab. Jae Ho hanya bisa menghela nafasnya.

Eun Ho membawa Jung Eun ke suatu tempat, ke vila miliknya. Mereka duduk di sebuah kursi taman. Eun Ho berkata bahwa ia ingin melakukan banyak hal setelah ia menemukan Eun Dong, mengenggam tangan Eun Dong, berkencan dengannya, dan bepergian dengannya. Namun itu menjadi tidak mungkin karena kepopulerannya semakin besar. Oleh sebab itulah ia membeli vila itu, agar ia dan Eun Dong bisa berdua dengan bebas.

Jung Eun hanya diam, tidak berkomentar. Eun Ho melanjutkan, “Karena Eun Dong, aku menjadi seseorang. Karena Eun Dong, aku menjadi seorang aktor. Karena Eun Dong, aku membeli villa ini. Hidupku segalanya tentang Eun Dong”. Eun Ho berkata ia sudah menunggu selama sepuluh tahun. Baginya menunggu sama sekali bukan hal yang sulit. Masalahnya, setelah menunggu dan menunggu, Jung Eun tidak bisa kembali menjadi Ji Eun Dong. Oleh sebab itulah ia memutuskan, ia akan menemui Jung Eun sebagai Seo Jung Eun. Ia ingin memulai semuanya kembali bersama Jung Eun.

Air mata mulai menetes di pipi Jung Eun. Ia bertanya bagaimana Eun Ho bisa tahu bahwa ia sudah tahu bahwa dirinya adalah Ji Eun Dong.

“Disaat kau menerima uang yang aku berikan tanpa protes”. Lalu Eun Ho juga ingin tahu bagaimana Jung Eun bisa tahu jika dirinya adalah Eun Dong.

“Hatiku… hatiku selalu bergetar ketika aku melihatmu”. Eun Ho terlihat akan menangis. Kamera memperlihat cincin yang dipakai Jung Eun. Jung Eun memakai cincin pernikahannya. “Tapi, Ji Eun Ho-ssi, bertemu dan berbicara denganmu seperti ini, aku ingin menghentikannya”. Jung Eun ingin ia dan Eun Ho berhenti melakukannya. Bahkan jika Eun Ho adalah orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengannya, ia sudah mampu membuat hatinya bimbang. Ingatannya bisa kembali atau tidak, yang pasti ia adalah istri suaminya dan ibu dari anaknya.

Eun Ho terlihat emosi mendengar ucapan Jung Eun. “Apa kau… mencintai suamimu?”

Jung Eun terdiam sesaat, menyentuh cincin pernikahannya dan menjawab, “Ya. Dan ini adalah akhir dari kita berdua”. Jung Eun meminta Eun Ho untuk tidak menghubungi ataupun menemuinya lagi. Setelah mengatakan itu, Jung Eun langsung berdiri dan pergi.

“Hei! Kau selalu seperti ini!”, kemarahan Eun Ho menghentikan langkah Jung Eun. “Jika memang seperti ini, seharusnya dari awal kau tidak menunjukkan siapa dirimu. Dan kalau dipikir-pikir lagi, kau mempermainkanku waktu itu. Kau menggoyahkan hatiku dan kemudian menghilang dengan tiba-tiba!”.

“Aku minta maaf”, sahut Jung Eun, tanpa membalikkan badannya. Air mata menetes di pipinya.

“Atau… Hiduplah dengan baik. Hiduplah dengan baik hingga aku bisa menyerah padamu!!”, marah Eun Ho lagi. Jung Eun berbalik. Eun Ho masih emosi. Ia bertanya Jung Eun meninggalkannya untuk hidup seperti itu. Jung Eun menghancurkan hatinya dan sekarang apa? ‘Jangan bertemu ataupun menghubungiku?’

“Jadi apa maumu?”, Jung Eun mulai emosi juga.

“Apa?”

“Jadi apa maumu sekarang? Apa kau ingin berkencan denganku sekarang? Apa kau ingin berkencan diam-diam dengan aku yang sudah memiliki saumi dan anak?”, ucap Jung Eun dengan perasaan yang bercampur aduk. Eun Ho tidak bisa menjawab. “Tidak ada jalan”, putus Jung Eun dan kemudian langsung pergi.

Eun Ho masih marah. Ia berteriak, meminta Jung Eun menghadapi kesulitan seperti dirinya juga. Jung Eun harus melihat padanya, berjuang dan merasa seperti akan mati sepertinya. Jung Eun tidak menanggapi lagi. Ia meneruskan langkahnya sampai ke tepi jalan raya dan memanggil taksi yang kebetulan lewat. Jung Eun sempat menoleh ke belakang sebentar sebelum benar-benar masuk ke dalam taksi.

Jae Ho melihat ke arah pintu taman, menunggu Jung Eun.

Sementara itu, Eun Ho masih duduk terpekur di kursi taman, memikirkan Jung Eun. Tiba-tiba ia terkejut, merasakan ada seseroang yang mendekat. Wajahnya terlihat penuh harap. Sayangnya itu hanyalah seorang pria yang sudah berumur, sepertinya pria itu adalah orang yang menjaga villa miliknya.

Pria itu menyapa Eun Ho. Dengan agak canggung, Eun Ho hanya ber-iya saja dan menundukkan kepalanya.

Jung Eun sudah sampai di taman. Sebelum mendekati Jae Ho dan Hyun Ah, ia mengatur nafasnya sejenak dan lalu memanggil Ra Il. Jae Ho yang tidak melihat kedatangan Jung Eun terkejut. Wajahnya terlihat lega. “Kau datang?”.

“Aku sudah bilang aku akan datang”, sahut Jung Eun sambil tersenyum tipis. Jae Ho tersenyum bahagia. Lalu Jung Eun menemani Ra Il makan, menawarinya jeruk, dan juga untuk Mi Na. Hyun Ah juga terlihat lega dan senang melihat Jung Eun kembali.

Bersambung…

[Sinopsis My Love Eun Dong Episode 9 Part 2]

Leave A Reply

Your email address will not be published.